Psychic X Apocalypse

Psychic X Apocalypse
Bab 8 [Aftermath]


__ADS_3

Hari berikutnya, headlines di seluruh berita dalam berbagai media menampilkan informasi terkait fenomena kegelapan yang berlangsung selama sepuluh menit pada malam sebelumnya. Judul bermacam-macam berkisar dari "Sungguh Tidak Dipercaya! Apakah Dunia Akan Kiamat?", "Mari Kita Lihat Konspirator di Balik Fenomena Gelap Sepuluh Menit Itu?", hingga salah satu judul yang paling menonjol adalah "Fakta Tersingkap: Perputaran Matahari yang Menyebabkan Fenomena Ini".


Dalam media berita itu, juru bicara menghadirkan beberapa ilmuwan ternama di kalangan umum untuk membicarakan tentang fenomena mendunia.


Dijelaskannya bahwa arah revolusi matahari bergerak melintas keluar dari jalur aslinya hanya sepintas sebelum kembali pada jalurnya. Pergerakan pendek inilah yang menyebabkan seluruh dunia mendadak gelap gulita untuk sepuluh menit. Untuk pemicu gerakan tersasar ini, para ilmuwan kini masih mencoba menelitinya dan baru dapat menuliskan hipotesis awal bahwa kemunculan benda-benda luar angkasa yang menginterupsi di jalur matahari yang menjadi akibatnya.


Tayangan berita tersebut ditonton oleh Alves, dan lelaki itu hanya berpikir satu hal.


Omong kosong.


Ia mematikan televisi, bangkit berdiri, dan masuk ke kamar Joy.


Anak perempuan berumur 13 tahun itu terbaring di atas kasur dengan muka pucat yang cukup mengkhawatirkan. Sejak fenomena kegelapan malam kemarin, setelah anak itu jatuh tak sadarkan diri, Joy masih dalam kondisi yang sama dan kian waktu semakin memburuk sampai-sampai Alves ingin membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa. Jika saja lelaki itu tidak mengingat bahwa membawa Joy ke rumah sakit umum akan membahayakan bagi Joy.


Alves meraih kain yang dicelupkan dalam baskom berisi air panas dan memerasnya. Lalu ia lebarkan kain itu di sekitar dahi Joy, berharap upayanya dapat membuahkan hasil.


Tiga puluh menit lalu, sebelum Alves menonton berita tanpa kredibilitas itu di televisi, ia sempat menelepon Eliot. Ditekannya layar ponselnya berkali-kali, tetapi telepon tidak tersambung sedetik pun. Alves kira ia dapat bertanya pada Eliot, otak dari organisasi Psychic, mengenai kondisi misterius yang dialami Joy.


Namun Eliot sepertinya sedang sibuk, terpaku pada berkas-berkas yang memenuhi meja kerjanya dan mengurung dirinya tanpa makan dan minum dalam ruangannya.


Atau, kejadian yang persis dialami Joy juga terjadi di sisi Eliot.


Alves buru-buru menepis pemikiran negatif itu, supaya imajinasinya itu tidak terjadi dalam kenyataan. Ia kembali memeriksa apakah ada telepon masuk dari ponselnya, dan sekali lagi menghela napas panjang.


Kenapa sekarang aku jadi babysitter?


Sedetik kemudian, ponsel Alves tiba-tiba berdering. Jarinya langsung menekan tombol terima.


"Eliot."

__ADS_1


"Ada masalah dengan Joy, begitu?"


"Kau tahu?"


"Hmm, hanya tebakkan kecil-kecilan saja. Joy tidak akan kenapa-napa. Kemungkinan besar karena kemampuan oracle-nya membuatnya tidak sengaja terkena kontak dengan entitas tinggi yang menyebabkan fenomena kegelapan itu."


Alves merenung sejenak. Jari-jemarinya memainkan liontin merah yang tersampir di lehernya selagi berpikir. "Sejak semalam Joy pingsan dan belum siuman sampai sekarang," ujar Alves.


Jadi bagaimana kau bisa memprediksi situasi yang menimpa Joy?


Alves akhirnya menelan pertanyaan yang ingin diajukannya. Ia tahu Eliot sangat pintar, mungkin salah satu manusia tercerdas di dunia. Tetapi terkadang Eliot seolah bisa membaca masa depan, menerka apa yang terjadi di waktu berikutnya. Padahal kemampuan yang dimilikinya tidaklah berkaitan dengan masa depan.


Walaupun Alves lama-lama sudah terbiasa dengan kecerdikan Eliot, ia tidak pernah tahu bagaimana Eliot melakukannya.


Namun bukan kecurigaan yang muncul di benak Alves, melainkan rasa penasaran saja. Alves ingin menjadi seperti Eliot, bisa melakukan banyak keajaiban dengan otak cemerlangnya.


"Begitu, ya. Kamu bisa tunggu saja sampai Joy siuman. Mungkin malam ini dia akan sadar."


Eliot termangu sesaat. "Ada sedikit kerusuhan. Dr. Carl sedang mencoba mencari tahu tentang fenomena kegelapan itu," tukasnya.


"Oracle yang diterima Joy benar-benar menjadi kenyataan. Bagaimana rencana selanjutnya?"


Ketukan ritmik jari menyentuh meja terdengar dari ujung telepon. "Kupikir kita bisa menghentikan semua agenda dulu sebelum memastikan bahwa fenomena kegelapan dan penyebabnya tidak akan membahayakan bagi kaum kita. Saranmu, Al?" Eliot bertanya balik.


"Okay. Jadi liburanku akan diperpanjang?"


"Maksudnya kamu ada urusan di ibukota Federasi Stellar, Lumens? Setahuku kediaman 'dia' bukan di sana."


Alves berdiri dan berjalan menuju jendela.

__ADS_1


Pemandangan kota Lumens terbentang lewat kaca tipis yang terpasang. Jalan raya tampak dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang, dan pejalan kaki mengitari sekitar jalanan. Pohon-pohon tertanam kokoh, membuat udara terasa lebih segar dan asri. Namun kentara dengan kedamaian ibukota Lumens seperti kota-kota pada umumnya, terdapat rumor yang beredar di kalangan mafia bahwa Lumens mengandung rahasia yang dikubur dalam-dalam tanpa sepengetahuan orang yang datang berkunjung.


Dan Alves mengincar rahasia itu, bermaksud untuk membongkarnya.


"Kabar burung yang kuterima tidak seratus persen valid," tandas Alves terdengar sedikit defensif.


Helaan napas terbetik. "Aku tidak melarangmu. Tapi jangan sampai kamu membangunkan siapapun yang menjadi targetmu," terang Eliot.


"Aku tidak sebodoh itu," cetus Alves. "Kalau begitu, kamu urusi urusanmu sana. Aku masih harus memeriksa keadaan Joy dulu," tambahnya.


"Sejak kapan kamu bisa mengurusi--"


"Bye." Alves memutuskan sambungan telepon sekaligus memotong perkataan Eliot. Ia memijat keningnya perlahan sehabis selesai mendengar cerocosan Eliot yang pendek tapi menyebalkan.


Sesudahnya Alves menarik tirai untuk menutup jendela kamar dan beranjak menghampiri kasur tempat Joy tengah berbaring. Ia memberikan satu lirikan terakhir untuk memeriksa keadaan Joy sekilas. Kemudian pergi ke ruang depan dan melanjutkan mengecek berita-berita yang bermunculan di televisi.


Waktu terasa berlalu begitu cepat. Namun topik fenomena kegelapan yang menimpa dunia malam lalu masih menggemparkan dunia dan mencapai puncak diskusi di malam ini. Media sosial tak henti-hentinya membagikan sejumlah notifikasi yang memenuhi layar ponsel. Percakapan intens antara netizen pun semakin dahsyat, memikat pecinta teori konspirasi dan sebagainya.


Setelah membaca sekian informasi tak berfaedah di internet, akhirnya Alves mematikan penuh ponselnya, bersumpah tidak akan lagi membuka aplikasi media sosialnya selama orang-orang masih mendiskusikan tentang fenomena kegelapan dengan segala teori memuakkannya.


Alves benar-benar merasa ia telah menghabiskan seharian ini dengan sia-sia.


Ia berbaring sejenak di sofa, mengumpulkan dan mengorganisirkan pikirannya.


Selang beberapa waktu, Alves melangkah ke dapur dan mulai memasak makanan untuk malamnya. Mengingat ucapan Eliot bahwa Joy sebentar lagi kelihatannya akan siuman, Alves memutuskan untuk membuat porsi makanan untuk dua orang.


Sampai Alves meletakkan piring berisi makanan di atas meja, Joy belum memiliki tanda-tanda akan tersadar dalam waktu dekat. Sehabis kembali dari kamar Joy, Alves mulai meraih sendok dan garpu, siap menyantap makan malamnya.


Baru saja mulut Alves terbuka untuk menelan nasi, telinganya menangkap suara langkah kaki sayap-sayap. Sendal beradu dengan lantai keramik secara perlahan.

__ADS_1


Tepat saat Alves menoleh ke arah pintu, sebuah figur pendek keluar dan muncul dari baliknya dengan muka pucat.


"Ge, makan malam hari ini apa?"


__ADS_2