
"Jadi monster hijau ini adalah mutan berbahaya dan ibu di sana adalah korbannya?" tanya Joy memastikan kembali sembari menunjuk bangkai si mutan hijau lima meter darinya.
"Ya," sahut Alves.
Lelaki itu sedang sibuk mengambil kain putih bersih dari kamarnya dan menyelubunginya pada tubuh kaku wanita paruh baya. Dia berlutut lalu berbisik pelan.
"Semoga jiwa Anda hidup tenang di alam sana."
Untuk terakhir kalinya Alves menatap wajah wanita paruh baya itu sebagai tetangga yang baru ditemuinya dua kali. Meski itu ia masih mengingat betapa ramahnya wanita tersebut ketika ia baru pindah, sampai membawakannya masakan rumahan yang lezat.
Ingatannya bersama wanita itu memanglah sudah berlalu lama, tetapi Alves tetap menyimpannya baik-baik dalam memorinya.
Makanya sebisa mungkin Alves ingin memberikan tempat peristirahatan terakhir yang damai dan tenteram, walaupun hanya sepotong kain putih yang membalutinya.
Karena situasi tenang ini masih jauh dari tragedi sebenarnya.
Alves menarik kain putih dan menutup kepala wanita paruh baya itu, kemudian bangkit berdiri dan malah menemukan Joy sedang mengambil foto akan si mutan hijau dengan gestur-gestur aneh layaknya fotografer profesional.
"Apa yang kamu lakukan?" Alves merasa anak itu terlalu unik. Karena siapa juga yang berpikir untuk berfoto ria di tengah krisis ini?
Tentunya orang itu adalah Joy.
"Pastinya buat mendokumentasi mutan pertama yang kita temui. Lagipula foto ini bisa masuk ke koleksi Dr. Carl," jawab Joy ringan.
Anak gadis itu lanjut memotret tubuh si mutan hijau yang sudah gepeng itu lalu berjongkok untuk menginspeksinya sejenak.
Segera Alves menghentikan tindakannya. "Tidak perlu dicek lagi. Aku sudah melakukannya barusan. Dan sekarang lebih baik kita masuk kembali ke apartemen. Situasi sekarang terasa sangat janggal," desaknya.
Joy mengangguk menandai bahwa ia paham maksud Alves.
Keduanya tak membuang waktu dan lekas masuk ke dalam apartemen, tidak lupa memungut kembali pistol yang sempat terlempar saat konfrontasi Alves dengan si mutan hijau.
Ketika mereka duduk dengan nyaman, Joy langsung membuka topik pembicaraan.
"Ge, mutan itu awalnya manusia, kan?"
"Menurut asumsiku begitu. Mutan itu keluar dari apartemen sebelah kiri," ujar Alves. Salah satu tangannya memainkan liontin merah yang mengalungi lehernya.
Joy menyadari gerakan kecil yang dilakukan Alves tetapi ia mengabaikannya. Malah ia berterus terang. "Lantai 7 yang kita tempati memiliki lima kamar apartemen. Apartemen Gege adalah nomor 703. Kalau mutan itu berasal dari apartemen sebelah kiri, berarti dia adalah penghuni apartemen nomor 701 yang menghadap ke lift. Dan ibu yang menjadi korban kalau tidak salah merupakan penghuni di sebelah kanan kita, yaitu apartemen 705," tutur Joy.
"Jadi setelah munculnya mutan yang menimbulkan kerusakan parah hingga memakan korban jiwa, mana mungkin tidak ada yang terbangun dari kegaduhan itu?"
Di mana penghuni apartemen 702 dan 704?
Sebenarnya selama Alves bertarung dengan si mutan hijau, ia sudah menyadari hal yang diungkapkan Joy. Dengan segala keributan yang disebabkannya, Alves berekspektasi ada satu penghuni tersisa yang keluar dari apartemennya dan menjadi korban jiwa selanjutnya.
__ADS_1
Karena lubang intip pada pintu apartemen menghalangi penglihatan seseorang, hanya menyisakan jarak pengamatan tepat di depan pintu.
Dan setiap manusia secara kodratnya mempunyai rasa keingintahuan besar. Sehingga tidak aneh jika ada yang meloncat keluar, entah karena ingin menghentikan keributan yang dibuatnya, ataupun bertanya apa yang sedang terjadi.
Alves mengangguk setuju.
Joy menambahkan. "Hal ini aneh sekali. Karena itu aku pikir bahwa terdapat tiga situasi yang terjadi. Satu, kalau mereka adalah tipikal orang yang tidak ingin ikut campur. Dua, mereka cepat menebak keadaan di luar yang berbahaya dan memilih untuk bersembunyi. Atau yang ketiga..."
"Mereka juga berubah menjadi mutan. Atau sedang dalam 'proses' bermutasi," timpal Alves.
Joy langsung menangkap kata kunci dari ucapan Alves. "Proses mutasi?" ulang Joy.
"Ini baru hipotesis sementaraku. Mutan tadi memiliki fungsi tubuh yang lengkap dari kaki sampai kepala. Sehingga terasa ganjil saat aku lihat ada sedikit cacat di bagian tempurungnya yang kelihatannya belum terbentuk sepenuhnya," jelas Alves.
"Hmm, kupikir mutan itu memang lemah sampai Gege bisa membunuhnya dengan meremukkan tubuhnya saja. Tapi ternyata itu jenis mutan yang belum menyelesaikan proses mutasinya, ya," gumam Joy memegang dagunya.
Saat itu mendadak terdengar suara ketukan penuh urgensi pada pintu apartemen.
Alves langsung mengambil posisi, tangannya menyentuh pistol yang disematkan di pinggangnya.
Sementara Joy masih menggoyangkan kedua kakinya yang tidak menyentuh lantai dengan santainya. "Mari kita tebak. Apakah dia mutan, atau salah satu penghuni apartemen?" ucapnya.
Joy melompat dari sofa, mengikuti Alves yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju pintu.
Alves melihat keluar dari lubang intip, dan menemukan sosok manusia normal yang utuh. Tidak ada tanda-tanda seperti figur mutan yang sempat ditangkapnya sebelumnya.
Alves lalu membuka pintu dan sosok yang telah menunggunya sedari tadi langsung meloncat meraih lengan Alves.
"To-tolong! Kakakku...!" Orang itu menatap Alves sambil menangis sesenggukan.
"Kakakmu kenapa?" sela Joy.
"Aku nggak tahu! Tiba-tiba dia berubah saja! Aku mencarinya di mana-mana dan menemukannya di kamar mandi... Kau! Aku lihat kamu membunuh mutan hijau itu! Seharusnya kamu mengerti tentang mutan dan bisa menyembuhkan kakakku! Kau bisa mengembalikannya seperti semula, kan?!" Ia berteriak histeris.
Orang itu kemudian jatuh terduduk dengan lemas, meraung dalam kesedihannya yang pahit.
"Tolong aku..." sebutnya lirih.
Joy lantas merasa kasihan pada orang itu. Ia menarik ujung baju Alves dan berbisik, "Ge, gimana kalau kita lihat keadaan kakaknya dulu?"
Alves menatap orang itu lalu beralih pada Joy.
"Tolong singkirkan dia dulu dariku," cetus lelaki itu yang sudah tidak tahan disentuh seenaknya oleh orang asing.
Joy membungkuk sampai tingginya sejajar dengan orang itu dan berkata, "Sebelumnya kami tidak janji dapat 'menyembuhkan' kakakmu. Tetapi kami bisa melihat keadaan kakakmu dulu lalu membantumu sebisa mungkin."
__ADS_1
Orang itu menengadahkan kepalanya dengan harapan terpancar dari matanya. "Kamu nggak akan menyakiti kakakku?" tanyanya dengan suara bergetar.
Joy menggeleng. "Kami berjanji tidak akan menyakiti kakakmu. Jadi apa boleh kami menjenguk ke apartemenmu?"
Orang itu cepat-cepat mengangguk, takut-takut jika Alves dan Joy akan berubah pikiran.
"Te-terima kasih!" Ia segera berdiri dan mengarahkan ke dalam apartemennya.
Alves dan Joy memandang satu sama lain, lalu menyusul orang itu dari belakang. Mereka berjalan ke seberang depan dan masuk ke dalam apartemen 702 yang berlokasi di sebelah lift.
Sampai pada pintu kamar mandi, orang itu tampak ragu-ragu untuk membukanya. Ia menarik napas panjang dan berusaha menenangkan dirinya, sebelum akhirnya tangan gemetar miliknya dengan berat hati memutar kenop pintu tersebut.
"Di-di sini..."
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan bungkusan kulit putih tebal berbentuk oval panjang yang menggantung dari plafon. Pada sekujur tubuh kokon itu, terpampang aliran saraf-saraf merah yang menjalar dari atas sampai bawah.
Sesuatu telah terperangkap dalam balutan selimut putih yang hangat. Dan 'sesuatu' itu adalah kakak dari penghuni apartemen 702.
Alves pun menghampiri kepompong itu dan menyentuhnya.
Deg!
Mata Alves membulat.
Ketika jarinya menyentuh kokon putih, ia dapat merasakan sesuatu dari dalam kepompong itu yang berdetak keras. Rasa denyutan seolah jantung tengah memompa untuk mendapatkan oksigen terasa jelas pada jari-jemarinya. Degupan ritmik menyadarkan Alves bahwa kepompong itu 'hidup'.
Dalam jarak dekat itu pula, Alves mendengar irama debaran jantung yang begitu kencang.
"Bagaimana dengan kakakku? Dia baik-baik saja, kan?" Penghuni apartemen 702 itu bertanya tergesa-gesa. Sedari tadi ia tidak berani untuk menginterupsi aksi orang yang dimintai tolong olehnya. Tetapi semakin lama ia merasa semakin gelisah, ingin mendengar pernyataan pasti mengenai kondisi kakaknya.
Alves berbalik dan menatap penghuni apartemen 702 itu.
"Seharusnya kakakmu masih hidup," ucap Alves.
Penghuni apartemen 702 itu lantas bernapas lega dan bermaksud untuk mengatakan 'terima kasih' ketika Alves memotongnya lebih dulu.
"Tapi aku tahu dengan pasti bahwa kakakmu akan berubah seperti mutan hijau itu," lanjut Alves.
Ekspresi si penghuni apartemen 702 mengeras dan senyum penuh syukur itu hilang seketika. "Apa?" Ia tak percaya.
"Kubilang kakakmu yang berada di kepompong ini bisa keluar kapan saja. Namun yang keluar bukanlah manusia yang kamu kenal dekat sebelumnya, melainkan sebuah mutan berbahaya seperti mutan hijau di koridor yang dapat membunuhmu hanya sekali tebas," tukas Alves tak terburu-buru. Suaranya terdengar kalem dan tidak berfluktuasi.
"Jadi, aku sarankan agar kita membakar kepompong ini sebelum kakakmu berubah menjadi mutan dan memakanmu."
__________
__ADS_1
Bagi yang kebingungan letak kamar apartemen di lantai 7 ini, berikut adalah denah sederhananya.