Psychic X Apocalypse

Psychic X Apocalypse
Bab 19 [Rencana Alves dan Lu Feng]


__ADS_3

"Hei, kamu yakin jalurnya lewat sini?" tanya Lu Feng seraya berjongkok. Sejak dari tadi ia telah mengais lubang kecil di tengah puing-puing tersebut. Namun semakin lama Lu Feng menggali lebih dalam, semakin ia ragu tumpuan rongsokkannya tidak akan bertahan dan malah jatuh menimpa dirinya.


"Memangnya aku bilang di situ?" tanya Alves balik dengan tidak peduli.


Lantas Lu Feng menoleh pada Alves dengan tanda tanya besar seolah tergambar di wajahnya. "Lah, bukannya kamu yang nunjuk di sini?" Lu Feng balas menunjuk pada galiannya yang baru sepertiga dilakukan.


Alves hanya melemparkan lirikan pada pekerjaan Lu Feng sebelum fokus pada galiannya sendiri yang terlihat stabil.


Kembali lagi Lu Feng menghela napasnya. Meski ia merasa telah dipermainkan oleh Alves, Lu Feng harus tetap menahan amarahnya dan menganggap perbuatan kecil Alves sebagai lelucon anak-anak yang masih kecil.


"Ck ck ck. Kamu bertindak seperti adik perempuanku saja. Suka iseng dan masih belum dewasa," komentar Lu Feng dengan sengaja untuk memanas-manasi Alves.


Namun Alves tidak menerima umpannya, melainkan menaruh atensi penuhnya untuk membuka jalan ke lobi utama. Sapu tangan hitamnya yang melapisi sepasang tangannya kini tertempel debu-debu beserta kerikil kecil. Di satu sisi, Alves sudah berusaha menyingkirkan tumpukan puing material tersebut tanpa mengubah titik tumpuan tengahnya, tetapi ia sekarang ikut merasa ragu.


Karena terdapat lemari besar yang entah kenapa ikut terlempar dan terperangkap di bagian paling atas menara tumpukkan material.


Sebelumnya Alves juga sudah menimbang apakah lebih baik untuk memanjat hingga ke atas dan menyeberanginya menuju lobi utama, tetapi harus diurungkannya niat tersebut mengingat rentannya menara tumpukkan material agar terjatuh.


"Tanganmu berhenti juga. Berarti kamu salah mengambil jalur, kan? Makanya lebih baik ikut ucapanku--" Tiba-tiba Lu Feng menghentikan perkataannya. Di saat yang bersamaan, Alves juga menyetop gerakannya.


Keduanya bergeming seraya memasang telinganya erat-erat.


Tes, tes, tes.


Bunyi tetesan air nyaring terdengar di koridor sepi.


Perlahan Lu Feng merangkak mendekati sisi Alves. Lu Fent mengeluarkan pistolnya dan jarinya sudah siap menarik pelatuk. Sementara tangan kanan Alves meraih gagang pedangnya untuk berjaga-jaga jikalau perlu mengeluarkannya dari sarung pedang.


Tes, tes, tes.


Entah mengapa suara tetesan air tersebut terus terdengar menciptakan suatu ritmik yang bernada. Kian lama dalam kondisi tegang, Alves sepintas mengingat pengalamannya dengan mutan bola yang ditemuinya di lift.


Jangan-jangan...? Tapi seharusnya mutan itu sudah kubunuh.


Alves merasa bingung, namun distraksi itu tidak mengurangi kewaspadaannya. Malahan Alves menjadi lebih berhati-hati, menunggu kejutan dari mutan yang seharusnya telah tewas.

__ADS_1


Dengan pandangan tertuju lurus ke depan, Lu Feng mengajak bicara dalam suara kecil. "Kau pikir ada mutan lain?" tanyanya setelah menimbang bahwa Alves yang tampaknya penghuni apartemen ini lebih mengetahui keberadaan mutan di gedung itu.


"Mungkin, tapi aku tidak yakin mutan itu masih hidup. Soalnya sebelumnya aku sudah--"


"Awas!" Lu Feng berteriak lalu menghindar ke samping sampai punggungnya menyentuh dinding. Alves refleks mematuhi peringatan Lu Feng dengan bergerak ke arah yang berlawanan.


Swish!


Dari kubangan yang terbentuk dari tetesan air tersebut, tiga batang tipis berkeriput mencuat keluar dan memanjang ke arah posisi awal Alves dan Lu Feng. Jika saja keduanya tidak segera menyingkir, kini tubuh mereka akan penuh dengan luka akibat tertusuk batang berkeriput tersebut.


Ketika Alves mengingat suara tetesan air barusan dan serangan tusukan batang yang familiar, Alves langsung menyadari betapa berbahayanya situasinya sekarang. Ia lantas bergerak menarik lengan Lu Feng ke salah satu ruangan di dekatnya, memanfaatkan situasi di saat mutan bola itu masih berbentuk air.


Setelah pintu tertutup, Alves tidak membuang banyak waktu untuk memberitahu Lu Feng terkait pengalamannya di lift.


"Mutan itu membutuhkan waktu untuk membentuk tubuhnya menjadi bola yang bisa terbang di udara. Dia biasanya menyerang dengan mengeluarkan sejumlah batang seperti yang tadi dengan ujungnya yang sangat tajam. Terakhir kali mutan itu mengeluarkan paling banyak sembilan batang," tukas Alves dalam ritme yang cepat.


"Tunggu, tunggu. Kamu pernah melawannya?" Lu Feng langsung menangkap poin penting dari penjelasan Alves.


Alves mengangguk. "Lebih tepatnya aku pernah menghancurkannya. Aku pastikan mutan itu seharusnya sudah mati, tapi entah kenapa sekarang dia muncul lagi," balasnya.


"Tidak mungkin. Aku pernah memotong batangnya tapi mutan itu tidak memunculkan tanda-tanda meregenerasi bagian tubuhnya. Apalagi tubuh mutan itu terbuat dari..." Alves berhenti berbicara. Tatapannya terarah lekat-lekat dengan tatapan Lu Feng yang saling beradu.


"Air," ucap mereka bersamaan.


"Aku tidak tahu bagaimana mekanisme tubuh mutan itu yang seharusnya berisi daging yang dilapisi kulit, tapi pada dasarnya tubuh asal mutan itu dari air," ujar Alves semakin yakin dengan hipotesisnya.


Sudah dua kali Alves bertemu dengan mutan bola itu dan sudah dua kali mutan bola itu selalu muncul dimulai dengan tetesan air. Baru mutan tersebut bisa membentuk bola daging berkulit yang berasal dari kumpulan air.


"Sebentar, deskripsimu bikin orang mau muntah," sela Lu Feng ketika mendengar kata "daging" dan "kulit" dari mulut Alves.


Alves mengabaikan ucapan Lu Feng dan berkata, "Berarti untuk membunuh mutan itu, tidak cukup dengan menghancurkan tubuhnya saja."


Lu Feng mengangguk. "Kalau melawan air, tentunya kita perlu api," jawabnya.


"Kamu punya api?" tanya Alves.

__ADS_1


"Nggak. Memangnya kamu tidak punya?"


Alves lantas memijat keningnya kala mendengar Lu Feng bertanya balik padanya.


"Yak, tamatlah kita," timpal Lu Feng dengan enteng.


Lu Feng lalu bangkit berdiri dan merenggangkan tubuhnya yang kaku. Pistolnya kembali disematkan pada pinggangnya, dan tangannya merampas pedang dari genggaman Alves.


"Apa yang kamu lakukan?!"


Lu Feng menempatkan jari telunjuknya di depan bibirnya. "Kalau tidak ada api, kita tinggal mencari api saja. Kamu yang tinggal di apartemen ini pastinya tahu letak-letak kamar yang ada, kan? Carilah api atau alat yang bisa mengeluarkan api di sekitar sini. Sementara itu, aku akan mendistraksi perhatian mutan itu selagi kamu pergi mencari. Mudah bukan?" Lu Feng menyinggungkan senyuman penuh percaya diri.


"Kau pikir semudah itu? Dan pedang ini satu-satunya senjata di tanganku," tegur Alves.


Lu Feng tersadar. "Ah, sepertinya kamu punya senjata lain di tasmu yang tertinggal di lobi. Ya, tapi aku tetap butuh pedang ini. Jadi kamu cepatlah pergi dan temukan api yang dibutuhkan sebelum aku mati di tangan mutan bola itu."


Lu Feng meraih gagang pintu, bersiap membukanya hanya tinggal menunggu konfirmasi dari Alves.


"Kau--"


"Aku hitung sampai tiga. Satu, dua, tiga!"


Ketika Lu Feng menyelesaikan hitungannya, ia langsung membuka pintu. Mau tidak mau Alves harus mengikuti rencana Lu Feng dan keluar terlebih dahulu dari ruangan itu sebelum melesat lari menuju kamar yang ditebaknya menyimpan alat yang dapat memancarkan api.


Sementara Lu Feng menyusul keluar dari pintu dan lekas berhadapan dengan mutan yang sudah berbentuk bola itu. Mutan bola itu melayang di udara dan tak berlama-lama melancarkan batang-batang tajamnya ke segala arah.


Lu Feng cepat-cepat melindungi Alves dari serangan mutan bola itu. Kedua tangannya memegang pedang yang diangkatnya sampai kepala untuk menangkis tusukan batang yang berencana mengenai Alves.


"Jangan berlama-lama!" pesan Lu Feng.


Ketika Alves sudah hilang dari pandangannya, Lu Feng kembali memfokuskan dirinya pada mutan bola itu seorang. Pedangnya ditodongkan ke arah mutan tersebut, sebelum kakinya menapak satu langkah ke depan. Kedua tangannya mengayunkan pedang dan menghardik mutan bola itu. Sukses memotong salah satu batang berkulit yang dilempar si mutan bola.


Lagi-lagi Lu Feng melemparkan senyuman, namun kali ini terasa sekali rasa arogan dari pesonanya.


"Come at me, you weak bastard."

__ADS_1


__ADS_2