
"Hmm, ini kiriman dari Ketua Eliot?" Joy memungut paket tersebut dan menyerahkannya pada Alves.
Mata Alves menyapu sekilas pada lambang familiar di sudut kotak. "Ya," sahutnya singkat sebelum merogoh kunci dari sakunya, membuka pintu, lalu masuk ke dalam apartemen.
Joy mengekornya dari belakang sampai ke meja di ruang depan. Ia memandang Alves mengambil cutter untuk membuka bungkus paket itu, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu jati darinya. Rasa penasarannya bangkit dan Joy ikut duduk di sebelah lelaki itu.
Alves membuka kotak kayu itu pelan-pelan. Suara khas reyot terdengar sembari tutup kotak tersingkap.
Di dalamnya, tergeletak topeng mata yang bercorak hitam putih dengan bentukan simbol yang saling terkait. Kerajinan indah dengan sentuhan nuansa tradisional dari timur. Tak lupa sehelai kain satin merah membungkus sekitar kotak kayu bagian dalam, menjadi tumpuan bagi topeng yang menutupi wajah bagian atas itu.
"Woah. Ini topeng Dark Eye itu, Ge?" tanya Joy terkagum-kagum.
Ia sering mendengar tentang banyak harta karun yang dimiliki organisasi ketika ia masih ikut serta dalam pelatihan menjadi anggota dan mengasah kemampuannya. Gosip-gosip dari teman seperjuangannya yang suka membesar-besarkan sejumlah barang berharga yang disimpan di tempat tersembunyi. Dan salah satu harta karun yang paling menarik perhatiannya adalah Dark Eye.
Karena pemiliknya adalah Alves, sang pemimpin organisasi di balik layar.
Tokoh yang dihormati dan disanjung oleh seluruh psychic yang pernah mendengar namanya, tidak kalah tenarnya dengan Ketua Eliot. Alves yang diduga merupakan psychic terkuat dan batasan kemampuannya tidak terlimitasi, berbeda dari psychic pada umumnya.
Sosok Alves pula yang dipenuhi akan masa lalu tragis dan menyayat hati bagi para pendengar kisahnya. Dan masa lalunya yang menyebabkan seorang petinggi organisasi mengambil inisiatif untuk mengorbankan separuh kemampuannya dan menciptakan topeng mata dengan pola yang terukir indah. Dark Eye.
"Jangan sebut namanya," tukas Alves sedikit kasar.
Alves bergidik ngeri ketika Joy mengucapkan dua kata itu. Ia masih tidak habis pikir mengapa kakek itu menamakan topeng itu dengan sebutan yang klise dan terdengar menjijikan? Maksudnya apa itu Dark Eye? Ingin menegaskan bahwa matanya benar-benar buta atau merujuk pada kondisi lubang matanya yang pernah kosong selama beberapa bulan?
Selera kakek tua itu memang tidak pernah ditebak oleh Alves.
"Maaf, Ge." Joy menunduk merasa bersalah.
Alves langsung merasa seperti ia baru saja membuli anak kecil berumur 13 tahun itu. Buru-buru ia berkata, "Tidak perlu dipikirkan hal itu."
"Ya," Joy menengadahkan kepalanya sambil menatap topeng mata yang dipegang Alves dengan penuh rasa ingin tahu, "Ge, bukannya topeng ini katanya rusak?"
"Mhmm. Kakek tua itu sudah memperbaikinya."
Alves mengingat insiden pengeboman setengah tahun yang lalu, ketika mukanya hampir terbakar jika saja tidak ada topeng tersebut yang melindunginya. Namun tentunya sebagai harga yang harus dibayar untuk melindungi wajahnya, topeng itu hampir saja hancur berkeping-keping untuk pertama kalinya jika Alves tidak mengeluarkan jurus kemampuannya.
Tetap saja sesampainya ia di markas organisasi, kakek tua itu menarik telinganya sampai merah karena telah menghancurkan penemuannya yang berharga. Beruntung saja Eliot berada di markas saat itu dan Alves menggunakannya sebagai tameng.
__ADS_1
"Ah, benda ini bisa juga diperbaiki?" Joy termenung dalam pikirannya. Beberapa saat kemudian ia mengalihkan pandangan pada wajah Alves lalu pada topeng mata itu secara bergantian. "Ge, coba pakai topeng ini, please?"
"Tidak." Alves menjawab dengan tegas, tidak ada ruang untuk membujuknya.
"Kenapa?" timpal Joy tidak habis pikir.
"Topeng ini hanya digunakan saat jam kerja. Sekarang masih liburan, jadi tidak perlu." Sembari berbicara demikian, Alves memasukkan kembali topeng tersebut ke dalam kotak kayu dan menyimpannya baik-baik.
Lantas Joy cemberut. Mukanya datar tapi aura negatif yang terpancar darinya menandakan suasana hatinya yang kurang baik. Alves pura-pura tidak melihatnya dan memilih pergi ke dapur untuk memasak beberapa porsi makanan.
Joy yang merasa terbaikan, tidak bisa berkata-kata melihat sikap apatis lelaki itu. Mendapat jawaban bahwa ia memang dicampakkan, Joy merengut dalam hatinya. Tangannya meraih remot di depannya dan menyalakan televisi dengan sekali tekan. Berharap kekesalannya dapat berkurang lewat menonton tayangan yang bermanfaat dan seru.
Di lain sisi, Alves sedang menyiapkan peralatan dan bahan masak.
Dicucinya sayur sampai bersih dan dipotongnya sama rata di atas talenan bersama dengan daging ayam yang diambilnya dari kulkas. Keterampilannya menggunakan pisau terlihat pula dari caranya mengiris tiap potongan yang berukuran sama dengan cepat. Tidak lama ia menuangkannya pada panci, menumpahkan air, serta menyendokkan sejumput perasa seperti garam dan sebagainya.
Waktu pun berlalu. Terlihat asap putih mengepul keluar dari sela-sela tutup panci. Alves segera mematikan kompor dan membawa panci tersebut ke meja makan menggunakan sapu tangan. Tidak lupa ia membuka penanak nasi dan memindahkan isinya ke dalam dua mangkok.
Di depan televisi, Joy telah mencium wangi semerbak yang terkuak dari masakkan sedap buatan Alves.
"Selamat makan, Ge!" Joy menggerakkan sendoknya dan melahap tiap kunyahan dalam mulutnya.
Alves membalas dengan anggukkan. Mulutnya ikut melahap dan menelan masakkan makan malam itu.
"Oh iya, Ge. Rencana untuk minggu depan sudah ditentukan?" tanya Joy di sela-sela kunyahannya.
"Ya. Cukup menghadiri pelatihan dan mengantarkan pesanan pada target. Selebihnya tinggal menunggu instruksi selanjutnya dari Eliot. Tapi mungkin aku ada sedikit keperluan sebelumnya--"
Tring!
Tiba-tiba sendok logam di tangan Joy terjatuh begitu saja, menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Alves lantas mengobservasi Joy dan mengawasinya. Gerakan tangan lelaki itu juga terhenti, memberikan perhatian penuh pada anak di hadapannya.
Kini ekspresi Joy terlihat sangat monoton dan pucat. Ia tidak bergerak satu sentimeter pun seakan tubuhnya membatu.
Jika ditelusuri lebih detail, seseorang akan mendapati betapa menyeramkannya tatapan mata anak itu sekarang. Pupil matanya hilang, menyisakan warna hitam saja yang mewarnai netranya. Rasa hampa yang muram terasa ketika beradu pandang sejenak. Mulutnya juga sempat komat-kamit, terkatup berulang kali.
Alves menunggu sekitar sepuluh menit. Keadaan tubuh Joy berangsur-angsur membaik, hingga warna pada matanya kembali normal. Keringat mengalir perlahan dari dahinya, dan Joy mendadak bernapas terengah-engah seolah baru saja mendapatkan kesempatan untuk menghirup udara.
__ADS_1
Alves masih menunggu, membiarkan Joy untuk menenangkan dirinya. Beberapa menit setelahnya Joy menatap Alves dengan serius.
"Ge, aku baru saja mendapat oracle baru."
"Apa isinya?"
"Uhm, tidak ada."
"Maksudnya?"
"Aku tidak melihat apa-apa, Ge. Sekitarku hanya kegelapan. Aku coba jalan mengitari areanya, tetapi tidak ada sinar yang terlihat."
Kening Alves mengerut. "Selain itu?" Ia mencoba mengorek hal lain yang dapat ditemukan dari ramalan tersebut.
Joy ragu-ragu untuk mengatakannya. Hal yang ingin diberitahukannya terkait dengan oracle itu, tetapi mengandung perspektif subjektifnya pula. Seolah menebak kebimbangan Joy, Alves mendorongnya untuk tetap berbicara.
"Katakan saja."
"Itu ... aku merasa tidak nyaman berada di tengah kegelapan. Tubuhku terasa berat, sulit bernapas, dan pikiranku cukup kacau. Seperti ada eksistensi tinggi lain yang sangat mengintimidasi dan menekan diriku," cerita Joy.
"Hanya itu saja?" Alves kembali memastikan. Ia belum berkomentar mengenai pengalaman Joy yang cukup mengkhawatirkan.
Joy mengangguk.
"Baiklah. Cepat selesaikan makananmu dan setelahnya istirahat yang cukup. Kamu baru saja menggunakan kemampuannya sehingga energimu kini terkuras banyak," saran Alves kembali melahap makan malamnya.
Joy mengikuti perkataan Alves. Meski ia belum sepenuhnya pulih dari situasi barusan, Joy berusaha untuk tampil baik dan terkesan tidak terpengaruhi olehnya. Namun kini mereka makan dalam keadaan diam, hanya tersisa dentingan suara logam dan piring kaca yang saling beradu.
Entah apa yang dipikirkan Alves detik itu. Tentu ia tidak bisa menilai ramalan Joy yang baru saja dihibahkan tanpa menelitinya lebih lanjut. Masalahnya, tidak ditemukan informasi yang cukup untuk menentukan kesimpulan atau dugaan sementara yang dapat menggambarkan isi ramalan tersebut.
Hanya satu hal yang dapat diketahui. Oracle tidak pernah bohong. Jika begitu, Alves yakin bahwa kejadian yang dijelaskan Joy akan terjadi di kehidupan nyata. Ia akan merasakan rasanya dibaluti oleh kegelapan dan kekuatan yang mendominasi dirinya. Kontrol terhadap tubuhnya akan semakin longgar menyebabkan dirinya akan sulit untuk bergerak maupun berpikir jernih.
Jelas Alves tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Namun takdir tidak terelakkan, dan yang bisa dilakukannya ialah meminimalkan kerugian dari peristiwa itu dan menebak kapan kejadian itu akan terjadi.
Alves menoleh pada kaca jendela, memandang langit gelap yang dipenuhi sejumlah titik bintang yang menerangi malam itu.
Besok adalah tanggal 31 Desember.
__ADS_1