
"Kau--!"
Crash!
Ketika Alves baru saja ingin menolak permintaan sekelompok manusia asing yang merepotkan, mutan kucing yang berada di radar penglihatannya tiba-tiba meloncat jauh dan menembus tembok kaca yang berjarak 15 meter dari pintu masuk gedung apartemen. Kaca yang cukup tebal itu hancur pecah dengan bolongan di tengahnya. Serpihan dan beling-beling kaca pun terlempar akibat gaya dorong dari mutan kucing itu dan tergeletak berserakan di lantai.
"Well, mau kerja sama?" tanya lelaki yang menjadi pemimpin kelompok kecilnya.
Alves melemparkan tatapan dingin kepada lelaki itu dan memilih untuk mengunci mulutnya daripada menghadapi orang yang menyebalkan itu. Tangan Alves menggengam erat-erat pada pedangnya dan tubuhnya bersiap memasang kuda-kuda. Diarahkannya bilah pedang tajam itu pada mutan kucing seolah akan langsung diayunkannya ketika mutan kucing itu memasuki area serangnya.
"Omong-omong, pedangmu bagus juga. Apa kamu belajar bela diri? Fencing?" cerocos pemimpin lelaki itu. Ia dengan handal mengeluarkan pistol dari tas kecil yang tergantung di pinggangnya dan menyiapkan senjatanya. Tangannya yang memegang pistol tampak asal-asalan diulurkan ke depan, namun postur tubuhnya terlihat sangat standar layaknya anggota veteran militer.
Sayangnya Alves tidak melihat tindakan pemimpin lelaki itu dan malah berfokus pada mutan kucing yang tampaknya sedang mengobservasi segerombolan makhluk berkaki dua.
"Tsk. Aku nggak yakin bisa menembak kucing yang gerakannya sangat lincah. Tapi sepertinya pedangmu bisa. Bagaimana kalau kamu menyerang duluan?"
Sedetik setelah pemimpin lelaki itu berkata demikian, mutan kucing itu kembali melompat dan menerkam manusia yang paling berisik.
"Lu Feng, awas!" Salah seorang teman pemimpin lelaki yang bernama Lu Feng itu berteriak memberi peringatan.
"Ah..." Lantas Lu Feng seperti masuk dalam kondisi konsentrasi penuh yang tidak akan terganggu oleh apapun. Mancung pistolnya cepat sekali diarahkan ke samping dan tanpa ragu-ragu jarinya menarik pelatuk beberapa kali.
Dor! Dor! Dor!
Tiga kali tembakan, satu tepat sasaran dan sisa dua peluru menembus lantai dan sofa. Salah satu pelurunya menggores badan mutan kucing itu, menimbulkan jejak luka merah panjang yang terbentang dari kaki kanan depannya menuju punggung belakang.
Bukannya mengeong, mutan kucing itu menggeram kasar setelah tubuhnya melanda di atas lantai. Matanya berkilat-kilat berwarna merah terang dan dua taring runcingnya mencuat keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Wah, sepertinya aku membuatnya marah," komentar Lu Feng dengan santai. Ia segera kembali memperbaiki posturnya dan mengambil ancang-ancang untuk menembak.
"Lu Feng, ini bukan waktunya main-main," ucap wanita dingin di kelompoknya.
Alves yang sedari tadi hanya menjadi penonton di pinggiran, lantas mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui ucapan wanita dingin tersebut.
"Tang Jingyi, apa aku terlihat sedang main-main?" Lu Feng lekas menarik pelatuk lagi. Pelurunya melesat cepat menembus bagian perut mutan kucing itu dengan sempurna hingga menancap pada kaki meja di belakangnya.
Sebenarnya Lu Feng berencana menembak jantung mutan kucing itu agar mati seketika, tetapi mutan tersebut bergerak terlalu cepat menghindari ancaman yang mendatang sehingga pelurunya hanya terkena bagian perut.
"Teman yang pakai pedang, aku lupa memberitahumu satu hal. Mutan kucing ini bisa menyembuhkan lukanya jadi aku sarankan kamu cepat-cepat memenggal kepalanya karena peluruku tidak akan bisa membunuhnya," pesan Lu Feng, walau agak telat.
Saat itu pula, goresan terkena peluru di tubuh mutan kucing itu maupun lubang kecil yang terbentuk pun pelan-pelan pulih kembali menjadi seperti semula. Kulit yang halus dan bulu lebat tumbuh begitu cepat yang dapat dilihat oleh mata telanjang.
Hanya lima detik yang diperlukan bagi mutan kucing itu untuk meregenerasi ulang daging dan kulitnya yang sempat hilang akibat peluru pistol.
Detik itu Alves cuma ingin menarik kerah baju Lu Feng dan meneriakinya tepat di telinga. Bagaimana bisa lelaki bajingan itu tidak memberitahu informasi yang paling penting? Sekarang Alves harus kehilangan kesempatan emas untuk membunuh mutan kucing itu.
Alves melirik pada tangannya yang memegang pedang, berpikir ia tidak boleh menggunakan kemampuan psychic-nya lagi hari ini.
Hah... Baru saja masuk ke tahap akhir penyembuhan, tapi aku malah melewati batas dalam pemakaian energi psychic-nya.
Alves mengepalkan tangannya. Pedangnya siap diayunkan dan Alves pun membungkukkan badannya sedikit lalu berlari ke arah mutan kucing. Di saat yang bersamaan, Lu Feng mengeluarkan tembakan yang akurat. Dia memanfaatkan waktu regenerasi mutan kucing itu yang harus berdiam di tempat.
Ketika peluru Lu Feng tertancap pada kaki mutan kucing yang membuatnya pincang, Alves langsung muncul di belakang mutan kucing tersebut. Alves menebaskan bilah pedangnya ke arah kepala mutan kucing itu.
Namun suara jeritan nyaring yang sangat familiar ditangkap oleh telinga Alves dan membuat gerakan lelaki itu sedikit tersendat. Mutan kucing itu melihat celah yang ditampilkan Alves dan segera bergantian menerkam Alves yang ingin mencelakainya.
__ADS_1
Dari sudut yang tidak bisa dilihat Lu Feng dan teman-temannya, cakar kucing itu menikam dan meninggalkan goresan kecil pada kulit lengan dalam Alves. Dirinya spontan menggigit bibir bagian bawahnya. Meski itu, beruntungnya Alves cepat-cepat menghindar mengikuti instingnya.
Melihat usaha penyerangan dari Alves gagal, Lu Feng sekali lagi menarik pelatuk. Tetapi kali ini peluru itu hanya mengenai lantai sebelah tubuh mutan kucing itu. Sementara mutan kucing tersebut langsung meloncat jauh karena dikejutkan oleh serangan mendadak.
"Cepat lari, ge! Itu akan datang!" Pemilik suara itu, Joy, kembali meneriakkan hal yang sama.
Joy lari terbirit-birit dengan napas yang tak karuan dari arah pintu tangga darurat.
"Joy?"
"Ge! Mutan tanaman itu ... akan menyerang kita!"
Setelah Joy menyelesaikan kalimatnya, sebuah getaran hebat mengguncang gedung apartemen itu. Tak henti-hentinya, sesuatu yang besar tampak sebentar lagi akan menerobos paksa melalui tembok di seberang tempat Alves dan lainnya berada.
Krak!
Teman-teman Lu Feng menatap horor pada tembok besar yang mulai retak, bahkan ada yang meneguk ludahnya dalam ketakutan.
Krak!
"Menghindar!" teriak Lu Feng langsung berlari dan menyingkir secepatnya.
Kala itu jejak retakan yang sudah menjalar di sekujur tubuh tembok perlahan mulai merenggang hingga hancur begitu saja. Sesuatu yang besar menerobos masuk tanpa peduli puing-puing dinding tembok yang menempel pada tubuhnya.
Batang berduri hijau itu membengkak besar dengan batang-batang kecil lainnya terjuntai dari akarnya mulai merambat masuk satu per satu, menampilkan kegagahannya yang meneror tiap manusia kecil di hadapannya.
Ukurannya tampak berkali-kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan tubuh orang dewasa normal. Dan sebuah kuncup bunga mawar berdiri kokoh di bagian kepala batang tersebut.
__ADS_1
Di tengah kepanikkan orang yang berlari ke sana kemari tanpa arah, Alves bergegas menjemput Joy. Namun sebelum ia sempat mengambil satu langkah mendekat, batang hijau berduri itu mulai bergoyang dan menyapu lantai satu gedung apartemen itu. Meluluhlantakkan semuanya dalam sekejap.
"Alves-ge!"