
Keesokan harinya, Alves bangun pagi dan segera menyalakan komputer untuk bekerja. Ia mencari, mengumpulkan, dan mengelompokkan seluruh informasi yang dapat diperolehnya dari berbagai macam media terkait kejadian yang diceritakan oleh Joy kemarin. Efisiensi kerjanya cepat dan tidak bertele-tele. Setelah dua jam Alves sudah memberesekan dan mengurutkan tiap file dalam folder-nya secara teratur, kemudian mematikan komputernya.
Ia terdiam sejenak, tengah merenungkan dan mengatur pikirannya dan segala informasi di dalam otaknya. Tak lama Alves bangkit berdiri dan memutuskan untuk pergi ke dapur.
Ia berencana untuk mengambil setangkap roti dengan selai stroberi sebagai sarapannya di pagi hari itu. Sembari menggigit roti tersebut, tangannya bergerak untuk menelepon nomor yang tertera di daftar kontak baris pertama.
"Halo, Alves. Apa ada masalah?" Suara serak yang familiar terdengar di ujung telepon. Alves lantas mengerutkan keningnya.
"Apa ... tidak, obatmu sudah diminum rutin seminggu ini?" Alves berhenti di tengah perkataannya dan berubah pikiran sebelum menanyakan hal lain.
"Sudah. Kamu punya urusan, ya." Dia mengatakannya dengan pasti. Tentu saja ia mengenali Alves sangat dekat dan sudah terbiasa dengan sifat Alves sehingga bisa menebak pikiran dan tindakan yang akan dilakukannya.
"Ya. Kemarin saat makan malam, Joy tiba-tiba mendapatkan oracle," ujar Alves.
Suara di seberang berubah menjadi serius. "Jelaskan."
"Dia tidak bisa melihat apa-apa. Sekitarnya gelap tanpa cahaya sedikit pun. Ditambah lagi ada kekuatan opresif yang melawannya. Joy menggambarkannya sampai ia sulit untuk bernapas dan bergerak," tutur Alves.
"Untuk lebih detailnya, aku akan kirimkan lewat e-mail. Aku juga sudah coba cek informasi yang dapat kutemukan," tambahnya. Hanya butuh beberapa klik dan file yang telah dikompilasinya telah ditransfer ke ponsel yang berada di jarak jauh sana.
Orang yang menerima berkas itu, Eliot, menelusurinya satu per satu secara perlahan. Sehingga dalam beberapa menit ke depan, komunikasi tidak terputus tetapi dalam keadaan sunyi. Ketukan jari pada meja secara ritmik terdengar dari sisi Eliot, sementara suara gigitan Alves yang sedang menelan rotinya mengiringi kesenyapan tersebut.
Dua puluh menit kemudian, Eliot kembali bersuara. "Apa pandanganmu tentang oracle ini?" Ia bertanya.
"... Tidak banyak yang dapat disimpulkan dari sekilas kejadian ini. Tapi satu hal yang pasti, ada sosok makhluk lain yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi dari kita. Ia bisa saja menjadi penyebab langsung ataupun tidak langsung dari fenomena gelap itu dan mengisolasi manusia sepenuhnya," ungkap Alves.
"Apa kau pikir dia adalah makhluk dari dunia lain?"
"Alien? Sedikit meragukan. Instingku berkata--"
"Do you think He is a God?"
Terkaan Eliot kurang lebih selaras dengan asumsi yang dibentuk Alves. Meskipun tidak memungkiri bahwa bisa jadi sekumpulan alien dapat menginvasi Bumi, tetapi dari segala hal yang tercipta di Bumi lebih mengarah pada eksistensi kuasa yang lebih tinggi yang derajatnya di atas posisi manusia. Seperti dari mana asalnya kemampuan supernatural yang dimiliki psychic ini. Bukankah berarti Dia yang menyediakan dan menurunkan kemampuan di luar nalar tersebut pada sejumlah manusia tak berdosa?
"Mungkin." Meski begitu, Alves masih belum bisa mengonfirmasi seratus persen asumsinya jika tidak ada bukti kuat yang mendukungnya.
"Kalau begitu tidak perlu dipikirkan lebih lanjut," cetus Eliot dengan santai, "Jika ada eksistensi yang mempunyai kuasa lebih tinggi dari kita, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Yang hanya kita bisa lakukan cuma menunggu waktu itu datang dan berusaha semaksimal mungkin mengurangi kerugian pada organisasi."
"Kau sangat pesimistik," komentar Alves.
Eliot mendengus. "Ini namanya realistik," sanggahnya.
__ADS_1
Omong kosong dengan ucapan realistismu, batin Alves.
"Kalau tidak ada urusan lagi, aku matikan teleponnya," kata Eliot dari seberang sana.
"Apa masih ada banyak pekerjaan di tempatmu?"
"Aku masih perlu menyortir beberapa berkas tersisa."
"Oke. Bye."
"Selamat berlibur, Alves."
Klik. Sambungan telepon akhirnya terputus.
Alves meletakkan ponselnya di atas meja dan melanjutkan sarapannya sembari terlarut dalam pikirannya. Entah apa yang ada di dalam otaknya sekarang.
Pemandangan itulah yang ditemui Joy ketika ia menapakkan kakinya ke dapur. "Pagi, Ge," sapa anak itu mengucek matanya.
Alves mengangguk. "Kau ambil roti dan makanan lain seadanya saja," ujarnya.
"Apa kita tidak punya persediaan makanan di rumah?" tanya Joy sambil tangannya meraih gagang pintu dan membuka kulkas. Angin bersuhu rendah lantas menerpa kulit Joy yang membuat anak itu menggigil kedinginan sebagai akibatnya. Lain cerita dengan isi kulkas itu. Bahan makanan bisa dihitung dengan jari dan tiap rak serasa terdapat jarak lebar yang kosong.
Pasalnya ia baru saja membeli apartemen di Federasi Stellar ini dengan harga yang cukup mahal karena lokasinya yang strategis, dan yang terpenting adalah letak apartemen yang dekat dengan toko kue yang didambakannya.
Joy akhirnya pasrah dengan keadaan rumah barunya dan memilih untuk mengoleskan selai stroberi yang sama pada rotinya. "Kapan kita akan berbelanja ke supermarket?"
"Nanti saja. Besok tahun baru jadi pasti jalanan penuh akan kemacetan."
"Uhm. Malamnya kita tidak akan merayakan tahun baru?"
Alves menoleh ke arah Joy. "Kau merayakan tahun baru?"
"Ya?" Joy memiringkan kepalanya.
Alves menghela napas. "Baiklah. Kau klik saja mana yang mau dipesan biar kurir akan mengantarkan bahan makanannya di sore hari." Alves menyodorkan ponselnya sebelum beranjak dari dapur.
"Kamu bisa lakukan apa saja asal jangan ke luar dari apartemen. Kalau butuh apa-apa, panggil aku di kamar." Alves meninggalkan pesan tersebut kemudian masuk ke kamarnya untuk melanjutkan urusannya yang belum terselesaikan.
Waktu di hari itu terasa berlalu dengan cepat. Meski keramaian yang meriah di luar menghidupkan kota tersebut, kegembiraan yang dirasakan khalayak tidak menyentuh sosok lelaki di balik layar komputernya yang menyala. Begitu pula dengan Joy tengah bermalas-malasan di sofa sambil menonton film dokumenter.
Sebelumnya matahari terik bertengger tanpa henti menyinari semua aktivitas manusia di bawah siang hari itu, kini sang surya kembali terlelap pada kediamannya dan tergantikan oleh si bulan yang mungil dan terlihat sendirian.
__ADS_1
Sore hari itu kurir sudah datang tepat waktu untuk mengantarkan bahan makanan yang telah dibeli lewat aplikasi online. Seperti biasa Alves mengeluarkan keahlian memasaknya untuk menciptakan makan malam yang berbeda dari malam sebelumnya, yakni lebih mewah dan bervariasi. Tentu saja atas pintaan Joy.
Mereka berdua kembali duduk di kursi meja makan yang sama, menyantap makan malam spesial itu, dan menikmati malam di hari khusus itu. Menunggu hari berganti 'tuk menyambut tahun baru.
Menjelang tengah malam, kota semakin gaduh. Kegirangan terdengar di segala pelosok. Tiada jalan yang tak dipenuhi gerombolan makhluk berkaki dua. Kala pergantian hari semakin mendekat, teriakan maupun jeritan semakin heboh.
"10, 9, 8, 7--"
Tiap gedung kini sudah menyalakan lampu dan menampilkan ornamen yang terhias didedikasikan untuk perayaan tahun baru tersebut.
"6, 5, 4--"
Berbondong-bondong manusia saling mendekat, ekspresi wajah mereka terlihat sangat ceria. Seolah gembira terukir pada wajah, dan tampil gerakan tubuh yang tidak sabaran menunggu detik itu.
"3, 2, 1! Happy new year!" Suara sorak-sorai memenuhi kota yang bersinar terang dibarengi dengan bunyi lonceng berdentang yang menggema. Kembang api dinyalakan tepat pada detik ke-1 yang segera melambung ke langit dan menghiasi lautan malam dikerubungi bintang-bintang indah.
Namun di detik itu pula, siapapun tidak menduga fenomena aneh itu akan terjadi.
Sepersekian detik setelah kembang api meledak di atas langit, dunia padam.
Gelap gulita mengelilingi Bumi tanpa terkecuali. Seketika kerumunan di ibukota Federasi Stellar itu membatu dalam kesunyian. Baru salah seorang tersadar dari keterkejutannya dan berteriak panik. Tidak ada sepercik cahaya pun menerangi sekitar dan tak lama kericuhan terjadi.
Tetapi Alves sama sekali tidak memedulikan kerusuhan yang terjadi di luar sana. Di dalam kamarnya, ketika fenomena kegelapan itu terjadi, Alves tidak menebak bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan oracle yang diterima Joy.
Ia pikir saat itu hanya mati lampu atau kacamata hitam yang membantunya untuk melihat kembali sudah kehabisan energi. Namun sesaat ia membuka pintu kamarnya dan mendengar ringisan Joy di dekat televisi, Alves langsung tersadar.
Oracle itu menjadi nyata.
Tanpa berpikir panjang, Alves segera membantu Joy untuk duduk di sofa setelah sedikit kesulitan berusaha mencari jalan untuk mencapai ruang depan.
Entah mengapa keadaan yang digambarkan Joy tidak dialami Alves. Tetapi kondisi Joy saat ini jelas lebih parah dibandingkan ketika Joy menerima oracle kemarin. Tanpa melihat pun, Alves dapat menerka bahwa Joy hampir tidak dapat bernapas dan keringat mengucur dari sekujur tubuh anak itu.
"Joy, apa kamu bisa mendengarku?" Alves mencoba membangunkan dan mengalihkan fokus Joy terlebih dahulu.
Sayangnya Joy tidak menggubris perkataan Alves. Pikirannya terasa berantakan seakan buku-buku yang seharusnya tersusun rapi di rak perpustakaan malah berserakan tak beraturan, bahkan rak tersebut juga ikut tumbang menimpa satu sama lain.
Usaha Alves selama beberapa menit ke depan tidak membuahkan hasil. Nihil respon yang didapatkan Alves. Kendati itu lelaki tersebut masih mencari berbagai cara sampai mencoba memberikan segelas air yang ditumpahkan di kepala Joy.
Hingga upaya terakhir dilancarkan, Joy baru saja berhasil menyebutkan sepatah kata sebelum jatuh tak sadarkan diri. "Ge..."
Fenomena janggal itu berlangsung selama sepuluh menit penuh.
__ADS_1