
"Tidak!!!" Penghuni apartemen 702 itu menyentak keras.
Di sela-sela kekagetan Alves dan Joy yang tidak menduga ia akan berteriak sekencang itu, si penghuni 702 mendorong Alves jauh-jauh dari kepompong itu. Kedua lengannya dilebarkan bermaksud untuk melindungi kepompong itu dan raut wajahnya berubah menjadi garang tak karuan, siap menghardik siapapun yang mendekat dan akan menyakiti kakaknya.
"Kalian tidak akan membunuh kakakku!" serunya sekali lagi.
Alves hampir saja melongo.
Hei, memangnya aku terlihat sekejam itu? Aku cuma ngasih saran!
Jika Eliot kini berada di sampingnya, lelaki itu akan segera menimpali pertanyaan Alves.
'Lihat saja muka tak bersahabatmu itu meski ditutupi topeng. Siapapun akan menyingkir darimu yang selalu memasang aura yang tidak bisa didekati.'
Joy cepat-cepat menenangkan si penghuni 702 sebelum suasana semakin tegang. "Tenang saja, kami sudah janji sebelumnya kalau kami tidak akan menyakiti atau membunuh kakakmu. Kamu tak perlu khawatir. Meski kakakku di sini itu mukanya kecut dan kelihatan galak, sebenarnya dia punya hati paling lembut di dunia. Jadi kakakku tidak akan punya nyali membunuh manusia yang tidak bersalah," terang anak itu.
Alves lantas berdeham keras. "Perkataan adikku ... memang benar," ujarnya dengan berat hati.
Dari mananya!
Sekarang situasi berbanding terbalik, dan Alves lah yang tengah mencoba menenangkan dirinya sendiri dari rasa malu setelah mengatakan kalimat tersebut.
Rasanya Alves hanya ingin mengucilkan diri di ujung ruangan saja sambil memeluk kedua lututnya.
Masih dengan telinga sedikit memerah, Alves lanjut menjelaskan, "Aku tidak menyuruhmu untuk membakar kepompong ini sekarang, tetapi kamu harus ingat kalau pilihanmu untuk membiarkan atau membunuh kakakmu saat ini akan menentukan nasib semua penghuni apartemen ini."
Warna pada muka penghuni 702 memudar. Penuh kengerian.
"A-apa maksudmu?" tanyanya terbata-bata.
Joy mengambil alih. "Artinya kamu tidak tahu apakah kakakmu akan berubah menjadi mutan dan mulai membantai seisi apartemen. Kamu sudah lihat mutan hijau di koridor, bukan? Jadi kamu bahkan tidak bisa memastikan kalau saat kakakmu keluar dari kepompong ini, apakah yang muncul kakakmu atau makhluk dengan perawakan kakakmu tanpa kesadaran untuk mengenalimu?"
Kedua tangan si penghuni 702 yang terbentang mulai melemah. Perkataan Joy tampaknya menekan telak keteguhan hatinya. Ia menurunkan tangannya, tertegun dalam dilemanya.
Sementara Alves mengambil kesempatan untuk keluar dari kamar mandi untuk mengeksplor apartemen 702. Ia memberikan gestur singkat pada Joy untuk menjelaskan tujuannya.
Joy mengangguk dan mengembalikan isyarat tangan Alves.
Tenang saja, ge. Aku akan mengawasi dia.
Alves diam-diam membuka pintu dengan suara sekecil mungkin agar tidak didengar oleh penghuni 702. Sampai pintu berhasil ditutup, lelaki itu segera beraksi.
Ia menyelusuri ruang depan yang dipenuhi pajangan-pajangan yang berjejer sejajar. Piala dan medali dari berbagai kompetisi dan gelar berdiri megah menghiasi lemari. Menemukan tidak ada yang terlihat janggal, Alves beralih ke salah satu kamar tidur di pojok.
Ia menginspeksi seluruh sudut ruangan dan menemukannya hanya sebagai salah satu kamar normal pada umumnya. Barulah ketika Alves memeriksa satu kamar tersisa, ia merasa terkadang ia tidak bisa memahami manusia. Dan mungkin untuk pertama kalinya ia tidak bisa menggambarkan perasaan yang dialaminya sekarang.
Kamar itu terkesan normal. Paling tidak dalam hal furnitur dan perabotan. Alves jalan mengitari kamar dengan saksama, mendekat pada lemari kayu dan meja yang ditata bersebelahan.
Ia memicingkan matanya, meneliti tiap bingkai foto yang mungkin berjumlah sekitar tiga puluhan tertata rapi. Sejumlah foto tersebut banyak yang menayangkan dua sosok lelaki yang mempunyai paras kurang lebih mirip, menandakan kemungkinan besar mereka adalah saudara.
Jika saat itu Alves berpikir bahwa tali persaudaraan kakak-adik di apartemen 702 sangatlah erat, ia benar-benar tidak ingin memercayai pengamatannya lagi.
Alves melewati meja dan lemari kayu yang terhias penuh dengan foto-foto, memilih untuk beranjak membuka tiap laci di dalamnya.
Dibukanya satu per satu.
Hasilnya hanya benda sehari-hari dan koleksi hobi.
__ADS_1
Setelah lama mengacak-acak, Alves menggumam, "Tidak ada yang aneh...?"
Mungkin Alves berkata terlalu awal.
Di bagian bawah dalam lemari kayu, Alves menemukan sebuah kotak berukuran sedang dengan gembok yang menguncinya.
Tanpa berlama-lama lelaki itu mendekatkan tangannya pada gembok tersebut dan menggunakan kemampuan supernaturalnya.
Perlahan logam yang melingkari lubang tertekan dari yang utuh sampai berbentuk lempeng. Kemudian berubah menjadi garis lurus hingga terdengar suara terjatuh.
Tring!
Logam itu terbelah dengan kedua ujung pipih yang membentuk jembatan yang patah. Dan gembok emas itu pun terjatuh ke lantai.
Alves tidak segan-segan membuka tutup kotak tersebut, tak sabar melihat rahasia di baliknya.
Tepatlah dugaannya. Rahasia di dalam kotak sedang itu terungkap, dalam hal yang membuahi lidah kelu bagi Alves.
Ini bukan yang diharapkannya.
Wow.
Intuisinya tidak pernah berkata ia akan menyingkap rahasia semacam ini.
"Aku tidak menyangka, kalau kakaknya ... brocon," komentarnya sedikit tersandung dalam perkataannya.
Isi kotak tersebut menyimpan sekumpulan foto adik atau penghuni apartemen 702 yang memintainya tolong. Foto itu umumnya menampilkan sisi wajah samping si adik, punggung belakangnya, maupun sebuah figur dari kejauhan.
"Apa ini ... semacam stalker?"
Ini bukan rahasia yang diinginkannya.
Ia mempunyai teori, jika manusia mempunyai probabilitas masing-masing untuk berubah menjadi mutan. Maka seharusnya terdapat faktor yang kuat, misalnya obsesi, yang mendorong virus atau suatu hal diperkuat dan akhirnya mengubah individu menjadi mutan.
Dan Alves kira ia dapat mencoba mencarinya dari jejak-jejak kehidupan mutan yang sebelumnya manusia itu.
"Apa obsesinya terhadap adiknya begitu kuat sehingga membuatnya berubah menjadi mutan?" tanya Alves pada dirinya sendiri.
Apakah masuk akal?
Setelah berdiam lama di kamar yang diasumsikannya milik kakak si penghuni 702, Alves akhirnya keluar dari berjalan menuju dapur. Ia mengambil bilah pisau tajam yang dilihatnya sebelumnya, tidak lupa bersama sekotak korek api yang ditemukannya dalam laci.
Saat Alves kembali ke kamar mandi, Joy masih berusaha menyadarkan si penghuni 702 yang masih terlena dalam kebimbangannya sampai ia terduduk bersandar pada tembok dengan lesu. Dagunya diletakkan di atas kedua lututnya, meringkuk.
Alves menghampiri si penghuni 702 dan meletakkan pisau serta kotak korek api yang diambilnya pada sisi orang itu. Ia berkata, "Jika kamu memutuskan untuk mengakhiri kakakmu, pakailah ini. Kalau nggak, kamu bisa menggunakannya sebagai pertahanan diri."
Mendengar suara Alves yang menenangkan, penghuni 702 itu mengangkat kepalanya. "K-kau akan ke mana?" tanyanya terbata-bata.
"Pergi ke luar," sahut Alves pendek.
Mata penghuni 702 itu membulat. Tangannya langsung meraih ujung baju Alves untuk kedua kalinya, tetapi Alves langsung menghindar. Gapaiannya gagal.
Kedua tangan penghuni 702 itu terjatuh pada lantai, namun sepasang matanya masih tertuju lekat-lekat pada sosok Alves.
"Ka-kalian akan pergi? Di luar seharusnya berbahaya! Bukannya lebih baik menetap di apartemen yang jelas-jelas lebih aman!" seru si penghuni 702.
Mengikuti ucapan orang itu, Joy menoleh ke arah Alves.
__ADS_1
"Aku harus mencari keluargaku," jawab Alves tenang.
"Ah," penghuni 702 itu tersadar, "Maafkan aku. Aku pikir ... ternyata untuk bertemu dengan keluargamu kembali, ya. Sementara kakakku..." Ia mengalihkan pandangan pada kepompong tepat di sebelahnya. Matanya sayu melihat balutan selimut putih itu, dengan curahan tatapan rindu.
Joy memberikan tatapan penuh kasihan pada penghuni 702 itu. "Pikirlah matang-matang demi kakakmu. Aku harap kamu bisa menentukan pilihan yang tidak akan kamu sesali di kemudian hari," pesan Joy untuk terakhir kalinya. Diam-diam ia merasa bangga bisa memberi nasihat yang bijak pada orang yang membutuhkan.
Penghuni 702 itu mengangguk pelan. "Terima kasih telah menepati janjimu," bisiknya. Ia kembali menatap pada Alves dan Joy.
"Namaku Christian. Aku harap aku bisa bertemu dengan kalian lagi," ucapnya tulus. Tatapannya terlihat letih karena telah melewati tengah malam yang terjadi banyak hal, tetapi keyakinannya masih terpancar dari matanya.
"Kalau begitu, kami pergi sekarang." Setelah berkata demikian, Alves segera keluar dari kamar untuk mempersiapkan barang-barangnya perlu dibawa dalam perjalanan ke luar.
"Ah, namaku Joy. Sampai bertemu nanti!" Joy cepat-cepat menyusul Alves dari belakang seraya meninggalkan tatapan terakhir pada penghuni 702. Tangan Joy terlambai singkat.
Keduanya pun kembali pada apartemen mereka dan langsung masuk ke kamar masing-masing untuk membereskan isi tas.
Alves mengambil dan memasukkan beberapa senjata yang tersimpan rapat dalam brankasnya, berkas-berkas penting, makanan kering yang tersisa sedikit di kulkas dan lemari penyimpanannya, pakaian seadanya, serta beberapa hal lainnya yang muat di dalam tasnya. Senjata-senjata miliknya pula disembunyikan pada bagian pakaian maupun tasnya yang mudah untuk diraih ketika bertemu musuh.
Di ruang depan, Joy bertanya, "Ge, kita langsung pergi ke markas organisasi?"
"Tidak. Aku butuh pergi ke suatu tempat dulu," jawab Alves masih sibuk mempersenjatai Joy.
Anak itu membiarkan beberapa senjata dipasangkan pada tubuhnya. "Untuk mencari apa?" balasnya kembali.
Alves menengadahkan kepalanya, bertemu pandang dengan Joy. "Ocean blue. Aku harus mendapatkannya," ujarnya penuh ketegasan.
Ketika mereka sudah siap menghadapi tragedi yang akan ditemuinya di luar, mereka beranjak keluar dari apartemen.
Untuk terakhir kalinya Alves memandang langit malam yang benar-benar gelap dari jendela kamarnya. Di tengah itu cahaya-cahaya kecil tampak dari kejauhan menyilaukan kota Lumens pada pukul dua. Mendandani kegelapan dengan terangnya sinar indah.
Entah apa yang dipikirkan Alves saat itu. Tampak ia merenung sejenak sebelum akhirnya bergerak.
Diperbaikinya topeng bercorak hitam putih yang sedikit oleng terpasang pada wajahnya. Mata butanya memandang lewat topeng itu, melihat angka 703 pada plat di depan pintunya.
Petualangan Alves dan Joy yang penuh dengan ancaman berbahaya akan dimulai sekarang.
Sementara itu, di suatu toko musik, segerombolan orang terlihat beradu pendapat. Lebih tepatnya dua orang sedang berdebat dan sisa dua orang lainnya menonton pertunjukan mereka.
"Makanya kubilang sudah benar kita pakai rute lewat gang kecil itu! Lihat Anna! Dia jadi terluka, kan!" hardik seorang lelaki berkacamata. Mukanya penuh kekhawatiran ketika matanya menyapu goresan panjang pada lengan gadis yang bernama Anna.
"Aku tidak apa-apa kok," imbuh Anna. Gadis itu tersenyum di tengah-tengah rasa sakit yang menjalar.
"Aku sudah bilang maaf. Aku tidak mengira akan bertemu mutan kucing yang lincah itu," tukas wanita lain yang tampak tegas dan dingin.
"Kau--!"
"Sudah, sudah. Yang sudah terjadi biarkan berlalu. Sekarang ini tujuan kita adalah kembali ke rumah terlebih dahulu. Tapi kita harus melewati apartemen Sunrise yang dihuni banyak orang sehingga kita harus berhati-hati. Kemungkinan besar kita akan bertemu mutan lagi, entah berapa jumlahnya," potong lelaki lain. Figurnya menjulang tinggi tegap layaknya model, bahunya lebar dan tubuhnya berotot, wajahnya tampan dengan rambut hitam pekat dipotong pendek, serta terdapat anting khas yang terpasang pada telinga kirinya.
Ciri-ciri lengkap yang menentukan sebuah protagonis dalam novel.
"Arghh! Ini semua salahku. Aku seharusnya tidak mengusulkan untuk berpesta hingga pagi. Dan harusnya sekarang kita tidak akan menghadapi situasi hidup dan mati seperti ini!" gerutu lelaki berkacamata.
"Nasi sudah menjadi bubur," tutur wanita dingin itu. "Lu Feng, kapan kita akan pergi?" lanjutnya bertanya.
Lu Feng, lelaki beranting itu, memeriksa jam tangannya sebelum memberikan jawaban. "Sekitar sepuluh menit lagi kita akan jalan. Setelah luka Anna membaik, kita harus cepat-cepat pergi sebelum situasi semakin memburuk."
Lu Feng memandang jalan raya yang kosong, tanpa tahu-menahu jalan tersebut akan dipenuhi dengan darah ketika matahari terbit.
__ADS_1