
“Joy? Sang Oracle?” Anak perempuan mungil itu mengangguk sebagai jawaban. Alves kembali memperhatikan Joy sejenak dan mendapati anak kecil ini sama sekali tidak menunjukkan rasa takut di wajahnya, melainkan ekspresinya tampak netral.
Tatapan Alves tertuju persis pada sepasang mata elok milik Joy dan lantas aura opresif yang menyesakkan seolah keluar dari diri Alves.
Joy yang pertama kalinya mengalami serangan intimidasi kuat dari seseorang pun tersentak sesaat sebelum langsung mengumpulkan kembali keberaniannya serta memperbaiki tampang mukanya.
Still an immature child though, batin Alves.
Alves memutuskan untuk bertanya singkat mengenai laporan evaluasi Joy. “Berapa umurmu?” sebutnya.
“13 tahun,” jawab Joy.
“Keluarga?”
“Yatim piatu.”
“Edukasi dasar hingga komprehensif?”
“Lulus dengan nilai penuh.”
“Tes fisik?”
“Level menengah ke bawah.”
Pandangan Alves menetap di wajah Joy seakan ingin menyingkap sesuatu di baliknya. Dari balik kacamata hitamnya, seakan memancarkan pancaran gelap yang menyembunyikan banyak rahasia misterius.
Di saat yang bersamaan, Joy membayangkan tengah berhadapan dengan sosok hewan buas yang waspada menjaga semua hal di belakangnya dan memberikan peringatan akan menyerang orang jika melewati perbatasan.
Joy berusaha tidak bergetar di hadapan Alves sembari mengingat-ingat perkataan dari atasannya untuk tetap bersikap sopan dan tangguh karena ‘pemimpin’ organisasi di balik layar, Alves, membenci seseorang yang mudah takut dan bermental kaca.
“Bagaimana penilaian dari Dr. Carl?”
“Masuk ke dalam persyaratan agen spesial dan anggota level tiga dalam bagian intelijensi,” jawab Joy.
“Hmm.” Alves mengetuk-ngetuk jari ke meja lalu pandangannya berpindah tempat ke kursi di sebelahnya dan memberi perintah, “Duduk.”
Joy mematuhi instruksi Alves dan kini tengah duduk manis. Sementara Jeff hanya melongo sedari tadi melihat interaksi antara kedua kaumnya yang berbeda jauh dari dugaannya. Lekas Jeff berdeham untuk mencairkan suasana tegang di sekitarnya.
__ADS_1
“Ehm, Alves. Apakah selama ini kau selalu melakukan interogasi seperti ini?”
Lawan bicaranya hanya memberikan tatapan dingin sekilas seterusnya memandang Joy lagi. “Apa Dr. Carl memberikanmu kiriman dokumen untukku?” Alves bertanya dan bersiap untuk menerima dokumen yang di maksud dari tangan Joy. Joy mengangguk spontan dan segera menyerahkan sebuah file yang cukup tebal.
Alves hanya perlu membaca isi dokumen dalam waktu singkat dan sudah dapat menyimpulkan keseluruhan teks. Ia mencerna sejenak, setelah itu memutuskan untuk melanjutkan misinya yang belum sepenuhnya selesai.
“Tugasmu berakhir di sini, Jeff. Kau tunggu pesan dari Eliot untuk perintah berikutnya,” Alves menoleh ke Joy, “Ayo pergi.”
Jeff ikut beranjak dari tempat duduknya. “Kau tidak perlu istirahat sebentar? Pesan minum atau makanan? Bagaimana dengan pakaian dan barang Joy?”
“Tidak perlu. Kau tinggal buang saja. Aku akan membelikan yang baru bagi Joy,” jawab Alves tanpa berbalik badan. Ia mengisyaratkan Joy untuk mengekor di belakangnya, kemudian melangkah pergi meninggalkan kedai kopi tersebut.
“Apa kau sudah diberitahu oleh Dr. Carl mengenai misi pertamamu ini?” Menyadari Joy yang sedikit tertinggal dalam perjalanan, Alves mau tidak mau harus memelankan gerak kakinya dan menyamakan dengan langkah Joy.
Kala itu Joy merasa bahwa Alves tidak seseram seperti yang disebutkan dalam rumor yang tersebar di lingkaran pergaulannya.
Perbedaan tinggi Alves dan Joy cukup jauh. Joy hanya mencapai di bawah dada Alves sehingga ia perlu menengadahkan kepalanya untuk bertemu pandang dengan Alves.
Joy menjawab, “Pergi ke Federasi Stellar dan mengikuti susunan rencanamu.”
Alves mengangguk dan bertanya sekali lagi, “Apa ada yang ingin kamu beli sekarang?”
Ketika mendengarkan jawaban Joy, Alves sempat menghentikan gerakannya. Namun sepersekian detik selanjutnya, tubuhnya kembali normal dan tampak tidak kaku sama sekali. Alves kemudian berdeham pelan, tidak habis pikir akan kejadian barusan.
Ia merasa aneh, saat Joy memanggilnya dengan sebutan "Gege". Kalau tidak salah Joy memang keturunan Tiongkok dari sisi ibunya, tetapi apa Joy seberani itu sampai memanggilnya "Gege"? Bukankah ada panggilan lain, seperti "Sir" atau "Chief"?
Alves berpikir, ini pasti ulah Dr. Carl untuk membuat hubungannya dengan Joy lebih familiar dan tidak terlihat seperti anak kecil dan seorang penculik tampan.
Alves tidak menanyakan hal lain lagi pada Joy. Sebagai gantinya, ia membawa anak perempuan itu ke beberapa toko guna membeli kebutuhan selama di pesawat, baru memesan layanan taksi menuju bandara.
Mereka melewati pemeriksaan satu per satu yang diawasi oleh petugas bandara. Sebelumnya Dr. Carl sudah menyiapkan paspor milik Joy yang disimpan di antara kertas-kertas dokumen itu sehingga keduanya tak butuh waktu lama untuk duduk bersebelahan di dalam pesawat.
Sembari menunggu pesawat lepas landas, Alves merenungkan pembicaraannya dengan Jeff di kedai kopi beberapa jam yang lalu.
Memang benar perkataan Jeff tentang kaumnya yang semakin sulit untuk berbaur di tengah masyarakat sekarang ini. Karena Alves, Jeff, Joy, dan sesama mereka itu berbeda dari orang normal yang sesungguhnya.
Perbedaan antara kaumnya dan manusia normal tidak terlihat secara fisik, namun dalam hal fisiologi tubuh terdapat suatu perubahan.
__ADS_1
Sehingga kaum Alves dapat dikatakan spesial.
Sebab mereka adalah seseorang yang memiliki kekuatan supernatural dan seringkali dipanggil orang pada umumnya sebagai psychic.
Sebut saja telekinesis, teleportasi, terbang di udara, kecepatan sonik, elektromagnetik, dan kekuatan lainnya seperti dalam film-film superhero.
Menyembunyikan kekuatan tersebut dari massa tidaklah sulit, asalkan seorang psychic tidak menggunakan kekuatannya di depan orang normal. Intinya, hidup seorang psychic bisa terselamatkan. Dalam premis bahwa tidak ada yang mengetahui identitasmu sebagai psychic di masa lalu.
Sayangnya baru-baru ini para pemerintah telah memasang sembunyi-sembunyi sebuah alat identifikasi baru yang dapat membedakan manusia normal dan seorang psychic yang terlihat dari perbedaan fisiologis tubuh menggunakan fitur monitor otomatis berbasis inteligensi komputer.
Dengan revolusi ini, penangkapan para psychic akan terlaksana lebih mudah karena banyak negara persatuan kembali mengiisukan kartu tanda pengenal penduduk yang baru di mana di waktu yang sama, mereka melakukan screening cepat pada tiap penduduknya. Tentunya mereka bisa mudah menemukan ketika alat identifikasi mendeteksi orang itu adalah seorang psychic.
Keleluasaan masuk-keluar dari suatu negara memang tampak menguntungkan bagi para psychic, tetapi juga membantu mereka yang ingin menculik seorang psychic sebagai bahan eksperimen untuk bergerak lebih bebas dan tidak terikat dengan peraturan ketat.
Memikirkan skenario terburuk yang dapat terjadi, Alves merasa sakit kepala. Ia hanya dapat mempersiapkan rencana dan jalan keluar terbaik jikalau mengambil salah langkah yang membuat kaumnya musnah.
Setelah dipikir-pikir kembali, Alves merasa tanggung-jawab sebagai pemimpin organisasi psychic di balik layar ternyata sangat sulit. Entah sudah berapa kali Alves bolak-balik dari wilayah A sampai wilayah Z.
Harusnya aku minta Eliot untuk mengurangi tugasku dan menyuruhnya untuk melatih anggota-anggota organisasi lain agar menjadi lebih kompeten lalu bisa mengambil alih beban ini.
Walau itu, tak ada gunanya mengeluh. Alves menghela napas lelah menghadapi semuanya. Diam-diam Alves memutuskan untuk meminta Eliot, pemimpin organisasinya, untuk memberikannya liburan paling tidak dua minggu setelah menyelesaikan misi kali ini.
Dan harus kucari kembali petunjuk baru mengenai keberadaan 'orang' itu.
Alves memijat keningnya yang mulai berdenyut. Ia lalu mendengar napas Joy yang di sebelahnya semakin halus dan stabil. Alves menoleh dan mendapati Joy tengah tertidur nyenyak.
Anak kecil itu di saat-saat ini tampak seolah kucing mungil yang kelelahan sehabis banyak bermain. Joy meringkuk seraya memeluk ranselnya dan terkadang mulutnya termangap. Temperatur dingin pun menusuk kulit Joy, membuatnya semakin meringkuk masuk ke dalam.
Alves termenung melihat keadaan Joy. Muncul keraguan untuk berbuat baik atau tidak, akhirnya Alves melepaskan jaketnya kemudian menggunakannya untuk menyelimuti tubuh Joy.
Perlahan ia menyaksikan Joy yang tampak lebih nyenyak dalam tidurnya dan tidak lagi menggigil kedinginan. Rasa puas timbul dalam batinnya. Namun ekspresi Alves sama sekali tidak berubah yang komplemen dengan sikap dinginnya.
Menatap Joy sekali lagi, Alves teringat akan pujian Jeff mengenai betapa lucu dan gemasnya anak kecil ini. Alves kurang lebih dapat setuju dengan pernyataan itu.
Pembawaannya mirip kucing siam.
Tangan Alves pun terangkat dan mengusap pelan kepala Joy sebelum menariknya kembali.
__ADS_1
Semoga ke depannya tugas akan berjalan lebih lancar dengan kehadirannya.
Alves memutuskan untuk menyimpan energinya dan memejamkan matanya. Kesadarannya perlahan-lahan semakin kabur. Ia lalu terlelap cukup nyenyak, sebelum terbangun sepuluh menit sebelum pesawat mendarat di bandara di ibukota Federasi Stellar.