
"Bagaimana kamu bisa mengeluarkan api sebesar itu tanpa alat apapun?"
Ketika Tang Jingyi melontarkan pertanyaannya, Joy merasa jantungnya hampir berhenti berdetak. Meski tak tampak dari ekspresi wajahnya, Joy sangat panik dan khawatir di saat yang bersamaan.
Joy mengira Hao Zinxi merupakan bagian dari kaumnya. Seorang psychic dengan kemampuan memproduksi api. Psychic yang tidak tahu-menahu soal konflik dingin antara kaum psychic dengan manusia normal. Sehingga ia tidak berniat untuk menyembunyikan kekuatan abnormalnya.
Bahkan mengeksposnya di depan manusia normal.
Joy melirik diam-diam ke arah Tang Jingyi. Wanita dingin itu tidak menunjukkan ekspresi apapun, wajahnya tetap datar meski tatapannya menusuk.
Namun Joy dapat menganalisis dari pancaran mata wanita dingin itu yang sangat jeli bahwa ia mencurigai Hao Zixin, paling tidak Tang Jingyi terlihat bersikap benar-benar waspada terhadap eksistensi kemampuan mengeluarkan api tersebut.
Apalagi mengingat momen pertarungan singkat Tang Jingyi dengan mutan tanaman barusan, Joy semakin yakin bahwa kelompok manusia normal yang ditemuinya adalah orang-orang yang tergolong bahaya.
Gerakannya yang lihai dan terstandar, postur tubuhnya yang sudah terlatih mengikuti memori ototnya secara spontan, dan penerapan strategi yang handal dalam waktu pendek, Joy hanya memerlukan sedikit pengamatan untuk menarik kesimpulan bahwa Tang Jingyi adalah seorang profesional dalam bertarung dan sudah menerima pelatihan sejak kehidupan dini.
Yang berarti Tang Jingyi mungkin adalah seorang atlet bela diri yang ternama, atau merupakan anggota militer. Dalam kata lain, kubu militer yang disangka-sangka ialah komplotan dari musuh kaum psychic.
Keringat dingin mulai mengalir dari tubuh Joy, dan telapak tangannya menjadi basah.
"Ah, api ini?" Hao Zixin dengan berani kembali memperagakan adegan yang dianggapnya keren ketika menyelamatkan Tang Jingyi dan kawan-kawan.
Lengannya diulur ke depan dan diperlihatkannya telapak tangan miliknya. Kemudian sebuah api dengan diameter seukuran bola sepak muncul dari telapak tangannya, menerangi wajahnya dan seisi bunker bawah tanah dengan lampu remang-remang.
Kali ini tidak hanya Joy yang terkejut, Tang Jingyi, Anna, dan Xu Zhaoyang kini membelalakkan matanya.
"Wow..." Anna sontak berucap.
"I-ini ... mustahil terjadi," tukas Xu Zhaoyang terbata-bata sembari menyetel posisi kacamatanya yang sempat bergoyang.
Sementara tubuh Tang Jingyi menegang. Sorotan matanya menjadi lebih tajam, memeriksa sekitar telapak tangan Hao Zixin dan mengecek pakaian lelaki itu lewat tatapannya.
"Bagaimana kamu bisa melalukannya?" tanya Tang Jingyi terlihat tenang.
"Uhm, sebenarnya aku juga kurang tahu," terang Hao Zixin lalu tertawa canggung.
Hao Zixin memadamkan api di atas telapak tangannya dan membenarkan posisi duduknya agar menyandar pada dinding bunker.
__ADS_1
"Apa kalian ingat kejadian blackout beberapa hari yang lalu?" Hao Zixin memulai ceritanya dengan mengeluarkan pertanyaan.
"Blackout, fenomena kegelapan total yang terjadi pada tengah malam di pergantian hari menuju tahun baru. Fenomena tersebut meliputi seluruh penjuru dunia dan berdurasi tepat sepuluh menit," jelas Tang Jingyi melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Hao Zixin mengangguk. "Betul. Tapi sehabis fenomena blackout itu, masih ada kejadian yang mungkin berkaitan erat dengan fenomena tersebut," lanjutnya.
Kini Xu Zhaoyang ikut menimbrung pembicaraan. "Maksudmu kejadian demam sangat tinggi itu? Menurut berita, kalau tidak salah demamnya disebabkan oleh virus yang belum diidentifikasi dan penyebarannya pun acak, artinya bisa menginfeksi siapapun," timpalnya.
"Jangan-jangan kamu salah satu pasiennya? Ah, tapi kalau dilihat dari kondisi tubuhmu, kamu tidak terlihat sakit..." Anna kembali merenungkan ucapannya.
"Terus apa masalahmu?" Tang Jingyi terdengar tidak sabaran.
"Uh, jadi setelah fenomena kegelapan itu, aku merasa nggak enak badan. Awalnya aku juga mengalami demam tinggi itu, tapi pikiranku terasa segar sehingga kukira hanya demam biasa. Lagipula aku cuma merasakan demam selama satu hari saja, setelahnya aku bisa melakukan aktivitas seperti biasa," cerita Hao Zixin.
"Apa kamu nggak ngerasa tubuhmu sangat panas? Kenapa tidak pergi ke rumah sakit?" potong Anna.
Hao Zixin tampak menggaruk sisi samping keningnya sembari memberikan senyuman tipis. "Aku nggak berpikir bahwa itu masalah besar. Toh, sebagai mahasiswa dengan beban tugas yang berat, sakit demam seperti sudah menjadi bagian dari rutinitasku," ujarnya terdengar ironis.
Tang Jingyi menyela, "Lalu sehabis kamu mengalami demam tinggi, maksudmu kamu memperoleh kemampuan untuk mengeluarkan api?"
"Habis demam tinggi, aku merasa tubuhku menjadi agak lemas tapi cuma bertahan sebentar. Selebihnya hidupku normal-normal saja setelahnya. Sampai ketika aku sedang memasak di apartemenku, ugh, cerita ini agak bodoh, tapi aku tidak sengaja menendang kaki meja lalu terjatuh. Di saat itu aku mencoba menggapai sesuatu, tapi tanganku malah mengenai kompor yang apinya sedang menyala."
"Apa kau tidak terluka?" sergah Xu Zhaoyang.
Hao Zixin lantas menggeleng. "Bukan terluka, malahan aku tidak merasakan panas apapun padahal tanganku jelas-jelas menembus api itu. Nggak cuma itu, yang bikin aku benar-benar kaget, tanganku ikut mengeluarkan api yang semakin memperbesar api kompornya. Jadinya api itu membakar gosong bagian bawah lemari di atasnya," ungkap Hao Zixin terdengar sedikit sedih ketika mengucapkan kalimat terakhir.
"Berarti kamu bisa mengeluarkan api setelah melewati fenomena kegelapan dan proses demam tinggi?" Kali ini Joy mengomentari kisah Hao Zixin yang terdengar sangat konyol.
"Benar! Rasanya tidak masuk akal, kan? Tapi itu benar-benar terjadi padaku!" sebut Hao Zixin berusaha meyakinkan yang lain.
Tang Jingyi menimpali, "Kalau kamu tahu itu tidak masuk akal, bagaimana kita bisa mempercayai ceritamu itu?"
Mendengar pendapat Tang Jingyi, Xu Zhaoyang dan Anna ikut mengangguk-anggukan kepalanya yang menandakan bahwa mereka menyetujui pernyataan tersebut.
"Tapi aku benar-benar tidak berbohong," sahut Hao Zixin dengan suara lemas.
"Benarkah?" sanggah Tang Jingyi sekali lagi. Hao Zixin semakin menampakkan keraguannya di wajahnya.
__ADS_1
Joy mencibir dalam hatinya, namun di saat yang bersamaan memberi tepukan tangan yang lantang untuk tindakan Tang Jingyi. Menonton wanita dingin itu terus menyudutkan Hao Zixin, Joy merasa kasihan pada lelaki tersebut. Namun kini mereka semua bisa mengambil kesimpulan yang berkredibilitas. Bahwa Hao Zixin memang telah jujur menceritakan pengalamannya.
Hanya satu hal yang Joy tidak menduga, kalau Hao Zixin bukanlah seorang psychic, melainkan manusia normal yang tiba-tiba mempunyai kekuatan mengeluarkan api.
Lantas bagaimana Hao Zixin bisa memperoleh kemampuan supernatural tersebut dari kaitannya dengan fenomena kegelapan dan demam tinggi?
Padahal seorang psychic seharusnya sudah mempunyai kekuatan tersebut sejak lahir.
"Baiklah, kita setengah percaya dengan ucapanmu," kata Tang Jingyi. Matanya yang tertuju pada Hao Zixin kemudian berpindah pada Joy.
"Omong-omong, apakah kamu adik dari laki-laki yang menggunakan pedang itu?"
Joy meneguk ludahnya. Inikah saatnya ia akan diinterogasi?
"Ya, aku adiknya," jawab Joy tenang.
Tang Jingyi berdiam sejenak, meski tatapannya jelas-jelas menelusuri Joy sampai ingin menyibak rahasia yang dipendam pada tubuh mungil tersebut.
"Namaku Tang Jingyi. Dia Anna, dan yang berkacamata itu Xu Zhaoyang," tutur Tang Jingyi seraya menunjuk pada kedua orang di sebelahnya.
Anna melambaikan tangannya pada Joy, sementara Xu Zhaoyang memalingkan mukanya.
Joy terpaksa menampilakan senyumannya. "Namaku Joy," balasnya pendek.
"Joy. Sepertinya kamu dan kakakmu itu sudah melawan beberapa mutan sebelum sampai ke lobi apartemen, ya," ucap Tang Jingyi tajam melirik pada bekas kotor pada pakaian Joy, "Bahkan kakakmu membawa pedang sungguhan. Pekerjaan kakakmu apa?"
Uh oh.
Sambil memasang senyuman, Joy mencoba menjawab. "Uhm, kakakku kerjanya sebagai--"
Boom!
Mendadak guncangan keras terasa sampai bunker bawah tanah bergoyang. Menandakan bahwa terjadi sesuatu di atas sana.
Tang Jingyi spontan berdiri dan memegang belatinya dengan erat.
"Kita harus kembali ke lobi. Lu Feng dalam bahaya."
__ADS_1