Psychic X Apocalypse

Psychic X Apocalypse
Bab 21 [Kaitan Antara Demam dan Kekuatan]


__ADS_3

"Hah, gila. Kupikir aku bisa berlindung di gedung ini sebentar, tapi malah diserbu banyak mutan berbahaya," komentar Lu Feng masih mengatur napasnya yang memburu. Mukanya tampak merah entah mungkin karena terkurasnya banyak energi setelah bertarung dengan mutan dan mencoba melarikan diri.


Alves melirik ke arah Lu Feng sejenak, namun tidak menegurnya. Dirinya sibuk mengecek perlengkapan yang dibawanya. Isi tasnya masih lengkap, dan senjatanya masih di tempat. Melihatnya masih dalam keadaan utuh, Alves mengembuskan napas lega.


"Omong-omong kita belum berkenalan," kata Lu Feng.


"Alves," jawabnya pendek.


"Well, namaku Lu Feng," ucapnya beranjak berdiri dan mencoba berjalan. Entah tumpuan kakinya lemah atau tidak stabil, Lu Feng hampir jatuh sempoyongan. Spontan Alves menghampiri dan memapah Lu Feng.


Tangan Lu Feng segera mencari bantuan dan menopang pada bahu Alves. Sedangkan wajahnya semakin memerah sampai-sampai Alves dapat merasakan suhu panas ketika mendekat pada Lu Feng. Tidak berlama-lama, Alves melepaskan sarung tangan hitamnya, membawa tangannya, dan menempelkannya pada kening Lu Feng.


Lantas rasa panas yang membara merayap masuk dalam pori-pori kulit Alves dan serentak terasa membakar kulitnya. Tidak hampir sedetik kemudian, Alves cepat-cepat menarik telapak tangannya.


"Kau..."


Napas Lu Feng kian berantakan. Tidak beraturan, seperti kondisinya kini yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.


"Ughh... hahh... sepertinya, aku... butuh istirahat... sebentar. Tolong bangunkan... aku... kalau ada hal... yang darurat." Setelah berpesan demikian, Lu Feng memejamkan matanya dan jatuh tak sadarkan diri.


"Ah...? Oi, bangun!" Alves menepuk-nepuk pipi Lu Feng. Sehabis berusaha membangunkan lelaki itu selama beberapa menit, akhirnya Alves menyerah dan membiarkan Lu Feng tergeletak di atas lantai.


"Hah..." Alves menghela napas panjang. Ia tidak habis pikir ada cobaan apa lagi yang akan menghampirinya. Padahal ia baru saja selesai membunuh mutan-mutan menyebalkan itu yang tidak berhenti mengikutinya. Alves kira setelah masuk ke kamar apartemen kesayangannya, ia bisa beristirahat sejenak, tetapi kini orang asing di sebelahnya tiba-tiba berada dalam kondisi kritis?


Alves memandang telapak tangan kanannya yang barusan disodorkan pada kening Lu Feng. Rasa panas yang meluap-luap menjalar masuk melewati kulitnya, menembus daging dan tulang di dalamnya. Seolah rasa panas itu ingin membentuk api dan meledakkan tangannya dari dalam.


"Ini penyakit demam tinggi itu? Mana mungkin bisa separah itu..." Alves merenungi perkataannya sebelum mulai mengacak-acakkan rambutnya karena pikirannya semakin bercabang dan menemukan pernyataan yang lebih gila lagi.


Sepuluh menit kemudian, Alves terlihat sedang menyeret tubuh berat Lu Feng ke kamar tidurnya.


...----------------...


"Tidak!!!" Hao Zixin langsung berdiri dan menutupi tangga di belakangnya yang mengarah ke pintu besi keluar di atas dengan tubuhnya.


"Kau cepat minggir!" sergah Tang Jingyi berlari ke arah Hao Zixin. Ia mengangkat belati dan mengarahkannya pada Hao Zixin untuk mengintimidasinya.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, Anna menarik lengan Tang Jingyi yang memegang belati itu dari belakang.


"Tang-jie! Jangan gegabah!" seru Anna berusaha untuk menenangkan Tang Jingyi. Melihat kekasihnya yang berupaya sekuat tenaga, Xu Zhaoyang mau tidak mau membantu menahan Tang Jingyi sebelum wanita dingin itu melayangkan belatinya pada seorang mahasiswa.


"Tang Jingyi, kalau kita keluar pun tidak ada gunanya. Memangnya kita bisa melawan mutan tanaman sebesar itu?" ucap Xu Zhaoyang dengan kepala tenang.


"Terus kamu bisa mempercayai orang itu?" Tang Jingyi menunjuk ke arah Hao Zixin menggunakan belatinya.


"Walaupun begitu, perkataan dan tindakannya selaras dengan logika," jawab Xu Zhaoyang.


"Benar," timpal Joy yang sedari tadi menjadi penonton akhirnya angkat bicara. Meski Joy tidak ingin menyetujui pernyataan Xu Zhaoyang yang bersikap kasar dan bermusuhan dengannya, Joy memiliki pendapat yang sama dengan lelaki itu.


"Perkataan Hao Zixin memang tidak masuk akal, tetapi setelah bertemu mutan, bukannya tidak lagi aneh jika seseorang tiba-tiba bisa mempunyai kemampuan seperti mengeluarkan api?" Joy berpikir hal itu bisa saja terjadi. Dengan manusia yang berubah menjadi mutan, tentunya manusia juga bisa berevolusi menjadi manusia dengan kemampuan super, bukan?


Lalu bagaimana dengan posisi kaum psychic yang sudah mempunyai kemampuan supernatural dari awal?


Meski begitu, spekulasi tetaplah spekulasi. Joy mendeteksi pernyataan Hao Zixin bisa saja mengeksplanasikan keterkaitan antara fenomena kegelapan dan penyakit demam tinggi yang terjadi beberapa hari ini. Meski yang dirasakan Hao Zixin hanyalah demam biasa, seharusnya masih bisa dikategorikan sebagai penyakit demam akibat infeksi virus tak dikenal, kan?


Joy merentangkan tangannya yang pegal kemudian mengubah posisi duduknya. "Lagipula Hao Zixin telah menyelamatkan kita dari mutan tanaman itu dengan bayaran, yaitu mengekspos rahasianya. Dia juga menghalangi kita agar tidak keluar karena memang tidak ingin terluka maupun mati, yang berarti paling tidak ia peduli dengan kita. Dan ini agak subjektif, tapi apa kalian pikir orang seperti Hao Zixin bisa berbohong?"


Beberapa detik kemudian, Tang Jingyi menurunkan belatinya dan kembali ke tempat duduknya. Xu Zhaoyang berdeham pelan untuk mencairkan suasana dan Anna memberikan sapu tangan pada Hao Zixin sebelum balik ke kursi masing-masing.


"Tapi," Xu Zhaoyang mengangkat tangannya, "Maksudnya berarti kalau orang yang terkena demam bisa memperoleh kekuatan seperti itu?" Ia menoleh ke arah Joy.


"Entahlah," Joy mengangkat bahunya, "Kalau merujuk pada cerita Hao Zixin, begitulah alurnya."


"Tang Jingyi, apa kamu ingat apa yang dilakukan Lu Feng sebelum kita masuk ke bar?" Nada Xu Zhaoyang berubah menjadi serius.


"Maksudnya saat Feng-ge minum obat?" Anna balik bertanya.


Di saat itu, muka Tang Jingyi ikut menjadi serius. "Apa Lu Feng mempunyai kekuatan itu juga?"


"Bentar, Lu Feng itu teman yang ingin kalian selamatkan?" Setelah menyeka wajahnya yang berantakan, Hao Zixin menginterupsi pembicaraan yang sedang berlangsung.


"Iya. Sebelum kamu datang, mutan tanaman itu sempat menghancurkan lobi dan akhirnya Lu Feng harus terkurung di antara reruntuhan di koridor," jawab Xu Zhaoyang membetulkan kacamatanya.

__ADS_1


Kini muka Hao Zixin yang menjadi sangat serius. "Aku tidak menceritakan hal ini sebelumnya, tetapi sebenarnya temanku mengalami hal yang sama."


"Sudah kubilang dia menyembunyikan sesuatu, kan!" Tang Jingyi berusaha bangkit berdiri, namun Anna dengan cekatan menahannya di tempat.


Hao Zixin melanjutkan, "Waktu aku lagi demam, kekuatanku muncul secara mendadak dan aku hampir membakar dapurku. Sementara temanku juga merasakan demam yang lebih intens sampai dia tidak bisa bergerak di kasurnya. Saat itu aku mau mengecek kondisinya, tapi ketika aku membuka pintu, seluruh isi kamar kosnya dilapisi es yang runcing di setiap sudut!"


...----------------...


"Huh?" Alves menutup buku dan meletakkannya di atas meja di depannya. Ia lalu beranjak menuju jendela dan membuka tirai sampai ia bisa melihat kondisi cuaca di luar.


"Kenapa tiba-tiba mendung?" gumam Alves heran.


Langit yang sebelumnya hitam tanpa ada angin mendadak menggelap menjadi warna hitam yang lebih pekat. Angin ikut berembus kencang menerpa pohon-pohon dan membuat sedikit kericuhan. Tanpa ada yang menyadari, tepat di atas gedung apartemen, sebuah pusaran tercipta di atas langit yang mulai bergulung. Awan abu-abu terbang mengitari pusaran tersebut disertai kilatan cahaya yang tampak dari kejauhan.


Zrrssszzt!


Mengamati cuaca yang kian memburuk, Alves menduga hujan deras akan datang. Dirinya kembali menghela napas sembari mengomel.


"Tsk. Kalau orang-orang itu nggak datang, seharusnya aku sekarang ada di dalam perjalanan menuju markas," gerutu Alves membuka laci lemari di ruang depan. Ia merogoh isinya dan mendapati jas hujan yang dicarinya.


"Mana ponselnya nggak ada sinyal. Nyalain TV saja, nggak ada saluran berita yang jalan." Alves memasukkan beberapa jas hujan ke dalam tasnya.


Zzrssstt!


"Itu suara berasal dari mana?" Alves baru tersadar akan suara familiar itu, seperti suara yang didengarnya di dalam lift sebelum bertemu dengan mutan bola itu.


Namun belum sempat Alves mencari asal suara tersebut ataupun mencabut senjata dari pinggangnya, sebuah suara gemuruh yang sangat kencang terdengar dari luar sana.


Boom!


Sebuah petir besar menghantam keras kamar tidur milik Alves melalui jendela-jendela apartemen. Tidak peduli tembok maupun pintu yang menghalanginya, petir itu tak segan-segan memaksa masuk ke kamar, seolah mengincar sesuatu yang terkurung di dalamnya. Bahkan jendela di ruang depan yang dipakai Alves untuk melihat kondisi di luar, hancur berantakan akibat melesaknya petir dari langit.


Alves hanya bisa membeku dengan ekspresi tidak percaya memandangi kondisi apartemennya yang tidak cukup digambarkan dengan kata "berantakan".


"Apa yang..." baru saja terjadi?

__ADS_1


__ADS_2