
Joy sedang duduk di sofa sembari mengulum lolipop yang dibelikan Alves setelah anak itu sempat merengek meminta di pagi hari. Atensinya tertuju ke televisi di depannya, menyimak berita hari itu.
"Selamat sore, pemirsa sekalian. Kembali lagi dengan berita ByNews membawakan kabar mengkhawatirkan. Tiga hari sejak fenomena kegelapan terjadi, sekitar 467 warga dilarikan ke rumah sakit karena menderita demam sangat tinggi yang melebihi suhu tubuh manusia normal. Kejadian ini tidak hanya terjadi di Federasi Stellar saja, melainkan di seluruh penjuru dunia. Penyebab penyakit demam tinggi sampai saat ini masih ditelusuri oleh para ahli. Tenaga medis juga berusaha menyembuhkan warga yang terkena demam tinggi sampai waktu yang tidak ditentukan. Untuk saat ini--"
Alves meraih remot di atas meja, menekan tombol merah, dan seketika layar televisi padam. Selagi itu ia duduk di sebelah Joy, melamun dalam kekosongan.
"Ge, apa kiamat sudah dekat?" tanya Joy penasaran.
"Memangnya kamu tidak bisa lihat masa depan lewat kemampuan oracle?" Alves bertanya balik.
Joy mengeluarkan lolipop dari mulutnya. "Semenjak fenomena kegelapan itu, kemampuanku nggak bekerja lagi," lirihnya. Anak itu meluruskan lengannya dan menggenggam tangannya. Lalu menghela napas. "Huft. Mungkin efek samping bertemu dengan entitas tinggi itu?" gumamnya.
"Apa perlu dicek oleh Dr. Carl?"
Joy menggeleng. "Aku masih merasa energi kemampuan itu ada di tubuhku. Cuma dalam keadaan tidak bisa dipakai untuk sementara waktu," jelasnya.
"Mhmm."
Tiba-tiba Joy berbalik dan menatap Alves. "Ge, apa kita harus bersiap-siap? Misalnya seperti menyetok makanan untuk jatah dua tahun."
Alves membuka matanya dan menolehkan kepala ke arah Joy. "Apa itu firasatmu atau cerita-cerita yang kamu baca dari novel?"
"Tapi bukannya sekarang ini seperti cerita yang terpapar di novel zombie apocalypse? Dari awal dunia juga sudah terasa fiksional. Kaum kita mempunyai kekuatan supernatural yang tidak bisa dibayangkan manusia normal," tukas Joy kembali menggigit lolipopnya. Rasa manis ngilu langsung terasa dalam mulutnya.
"Tunggu saja panggilan dari Eliot." Alves menjawab tanpa mengekspresikan pandangannya terkait usulan Joy. Ia hanya berpikir, kalau waktu liburannya terbuang sia-sia karena harus bersikap was-was terhadap kelanjutan fenomena kegelapan dan dalang di baliknya.
Bosan sekali. Aku mau jalan-jalan ke luar, makan es krim, pergi ke kafe retro di ujung kota, beli boba milk tea...
Alves memejamkan matanya dan merasa lelah harus mengurung diri dalam apartemennya serta menjalankan rutinitas yang sama berulang kali.
Satu-satunya yang bisa menyelamatkannya dari situasi sekarang adalah telepon dari Eliot.
Seakan doanya dijawab, ponselnya berdering. Cepat-cepat Alves menyalakan layar ponselnya. Di sebelahnya, Joy ikut menggeser posisi duduknya agar semakin dekat dengan Alves.
Namun yang muncul di layar ponselnya bukanlah panggilan telepon, tetapi notifikasi munculnya pesan.
Lantas Alves merasa patah semangat, tetapi tetap membuka pesan dari Eliot. Di layar ponselnya tertera pesan singkat dan dokumen yang terlampir. Alves membuka dan mulai membaca dokumen tersebut.
"Isinya apa, Ge?" Joy ikut menyembulkan kepala untuk melihat teks dokumen tersebut.
"... Penjelasan tentang kasus setelah fenomena kegelapan itu." Alves berfokus pada beberapa kata kunci yang sudah ditandai dengan warna berbeda.
"Banyak pasien yang terkena demam sangat tinggi. Bahkan ada yang mencapai hingga 60 derajat celcius, tetapi tubuhnya secara medis tidak dapat dideklarasikan dalam kondisi kritis. Selama demam, pasien selalu dalam keadaan setengah sadar tetapi tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun maupun berbicara. Eliot mencantumkan ratusan kasus sebagai referensi."
Setelah selesai membaca dokumennya sepintas, Alves melempar ponselnya ke tangan Joy. Joy menangkapnya dan mulai membaca dari awal.
__ADS_1
"Jadi ... ini awal mula zombie apocalypse?" bisik Joy pada dirinya sendiri.
Pendengaran Alves yang tajam menangkap apa yang diungkapkan Joy, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya.
Sehabis menangkap inti dari ratusan kasus yang tercantum, Joy mengembalikan ponsel tersebut. "Ge, sebelum akhir dunia tiba, aku mau makan ayam kecap malam ini," pinta Joy memberikan tatapan serius seperti sedang membicarakan keputusan penting terkait hidup matinya.
Muka Alves speechless. Apa Joy dicuci otaknya oleh entitas tinggi yang menyerangnya beberapa hari lalu? Terus bagaimana anak itu benar-benar yakin bahwa zombie apocalypse akan muncul?
Meski kurang percaya akan imajinasi Joy yang dianggapnya terlalu berlebihan, Alves akhirnya menuruti permintaan Joy. Membeli bahan makanan lewat aplikasi online. Dan pesanannya datang begitu cepat untuk disambut ceria oleh Joy yang segera menyeretnya ke dapur.
Sekarang baru jam lima lewat tiga puluh menit...
Alves dengan sangat enggan menarik tubuh malasnya ke dapur untuk mempersiapkan makan malam.
Mereka berdua menghabiskan makan malam dengan penuh selera. Berleha-leha di sofa sambil menonton film serial di televisi. Menyeduh teh di malamnya dengan menikmati pemandangan indah yang terbentang dari jendela apartemen.
Hingga pukul sepuluh malam. Alves dan Joy masuk ke kamarnya masing-masing dan tidur terlelap tidak lama kemudian.
Malam itu begitu sunyi. Kicauan serak milik burung gagak menggema sekitar kota Lumens. Angin sepoi-sepoi mengajak daun di dahan pohon untuk ikut melambai. Tenteram dan damai.
Malam itu tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Jika saja di tengah keheningan kota itu tidak dipecahkan oleh jeritan nyaring dari salah satu perumahan.
Ia meraba sekitarnya sembari melangkah menuju dapur. Sengaja ia tidak menggunakan kacamata hitamnya karena sama saja saat menyusuri apartemennya dalam keadaan lampu mati. Lagipula Alves sudah terbiasa dengan kegelapan sejak kecil.
Alves mengambil dan meminum dengan cepat. Ia berdeham beberapa kali hingga suaranya kembali normal dan tak terdengar separau sebelumnya. Gelasnya lalu diletakkan di bawah tudung saji dan kedua kakinya bergerak keluar dari dapur untuk menuju kembali ke kamarnya.
Suara langkah kakinya berderap nyaring di tengah senyapnya apartemen di malam itu.
Tap, tap, tap.
Alves belok ke kanan untuk menghindari menabrak lemari pendek di depannya.
Tap, tap, tap.
Bam!
Bunyi bedebam mendadak merebak dari apartemen sebelah. Telinga Alves lantas menangkap suara mengagetkan itu dan tubuhnya bersiap siaga.
Jika Alves mendengarnya saat siang hari, dia tidak akan memedulikannya sepeser pun. Tetapi saat itu tengah malam sudah berlalu dan seharusnya para penghuni sedang tidur nyenyak.
Alves menjadi waspada dan gerakan tubuhnya tidak lagi lesu. Perlahan ia berjalan ke tembok yang membatasi apartemen miliknya dengan apartemen sebelah kiri tempat munculnya suara keras seperti benda berat terjatuh.
Lelaki itu menempelkan telinga pada tembok, menguping ruangan sebelahnya.
__ADS_1
Grr...
Alves mengernyitkan dahinya. Suara di seberang yang ditangkapnya terdengar aneh. Seperti suara geraman binatang buas yang pernah ditemuinya di hutan belantara.
Krak!
Tap, tap, tap.
Dari posisi jongkok, Alves segera bangkit berdiri dan pelan-pelan menyusuri suara itu. Tangannya ikut sibuk mencari gagang laci. Ketika jarinya bertemu dengan kayu familiar itu, Alves membuka laci dan mengambil kotak kayu jati dari dalamnya. Dibukanya kotak kayu dan lekas memakaikan topeng Dark Eye itu pada wajahnya.
Sinar samar-samar langsung terpancar dalam penglihatannya. Alves kembali mengikuti sumber suara aneh itu dan dapat memanuver jalan di apartemennya lebih lancar.
Derapan kaki yang berat di apartemen sebelah mendekati pintu keluar. Sesaat suara itu berhenti, digantikan dengan seperti suara derit kuku menjamah pintu dan sekitarnya. Disusul dengan bunyi benda berjatuhan ataupun suara pecahan.
Alves memasang telinga tajam-tajam. Tangannya meraih pistol dari balik laci meja dekat pintu apartemennya. Ia melepaskan safety pin dan memasang silencer sebelum mengambil posisi yang nyaman untuk bersiap menembak.
Kakinya melangkah perlahan.
Tampaknya siapapun makhluk di seberang telah berhasil mencapai gagang pintu dan membuka pintu apartemen. Suara itu terdengar melangkah keluar menuju koridor dengan lambat.
Alves mengikutinya dan berjalan menuju pintu apartemennya. Langkah kaki berat itu kembali terdengar. Melintasi koridor dengan suara derit kuku yang sama menggores tembok seiring berjalan.
Tap, tap, tap.
Suara itu semakin dekat menghampiri ke depan apartemen tempat Alves berada.
Tap.
Suara ngilu goresan kuku hilang. Langkah kaki senyap.
Tok, tok, tok.
Sesuatu mengetuk pintu apartemen Alves. Di balik pintu Alves lantas mengambil posisi. Salah satu tangannya memegang pistol. Sementara tangan lainnya menggenggam gagang pintu, bersiap membukanya.
Lambat laun Alves mengangkat kepalanya. Ia melihat dari balik topengnya, fokusnya terarah pada lubang intip yang terpasang pada pintu.
Di luar tampak gelap gulita. Hanya secercah cahaya lampu sayup-sayup tampak. Atensinya dipusatkan ke sisi lain, mencari sosok si pemilik suara yang sedari tadi membuat kebisingan.
Satu detik kemudian Alves berhenti mencari. Titik fokusnya terarah pada figur di samping. Figur yang dapat dikatakan sebagai manusia, tetapi bukan manusia.
Jika Alves masih memiliki sepasang mata, kini matanya akan membesar terbelalak.
Mutan...?
"AAAAAAAAAAAAAAA!!!"
__ADS_1