Psychic X Apocalypse

Psychic X Apocalypse
Bab 2 [Alves]


__ADS_3

Alves menapakkan kakinya ke dalam sebuah kedai kopi terlaris di minggu belakangan ini. Seketika bel yang tercantol pada pintu berkerincing seakan menyambut kedatangan pria jangkung itu meski tak butuh waktu lama untuk suara itu teredam di tengah kegaduhan isi kedai yang dipenuhi dengan perbincangan campuran berbagai bahasa asing.


Lelaki berambut abu-abu itu lantas tidak menghiraukan pengunjung-pengunjung di sekitarnya dan segera menuju si pemilik kedai kopi di sebuah meja terpencil yang terletak di sudut ruangan yang ditemukannya hanya dengan pandangan sekilas.


Melihat figur yang tidak asing menghampirinya, si pemilik kedai kopi yang bertubuh besar bangkit berdiri dan menyapa pria jangkung itu.


“Welcome to my humble place, Milord,” sambut si pemilik kedai kopi sembari menyeringai disertai sedikit maksud mengolok.


Si pemilik kedai kopi ini mempunyai figur yang besar mirip beruang, kulit kehitaman, serta kumis yang menghiasi wajahnya bagaikan trademark. Namun parasnya tidak kalah menakjubkan dari pebisnis-pebisnis bijaksana lain di usia setengah baya yang penuh dengan vitalitas.


“Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan leluconmu. I came here to talk about business, Jeff.” Alves berkata demikian dengan wajah serius dan intonasi yang monoton seraya menarik kursi dan duduk di hadapan si pemilik kedai kopi yang bernama Jeff.


Jeff mendengus pelan melihat sifat Alves yang dikenal jelas di kalangannya sehingga Jeff langsung tahu betul untuk tidak mencoba-coba menyanggahnya, sesuai apa yang ia tangkap dari pengalaman sebelumnya ketika berhubungan dengan Alves.


“Baik, baik. Tujuanmu datang ke sini karena mengikuti petunjuk pesan itu untuk mengambil Oracle, kan?” Jeff melontarkan pertanyaan tersebut, tetapi cara pengucapannya terdengar sebagai sebuah pernyataan yang sudah pasti.


Tanpa menunggu konfirmasi dari mulut Alves, Jeff melambaikan tangannya dan seorang pelayan dengan fitur wajah sangat lembut serta penurut yang bergegas berdiri di samping Jeff, patuh menunggu perintah dari tuannya. Tetapi jika dipandang lebih lanjut, sorotan kedua mata pelayan itu tampak dalam, seolah meneriakkan keobsesiannya yang selalu dipendam.


“Bawakan aku Joy,” perintah Jeff tanpa menoleh sedikit pun terhadap pelayan.


“Baik, Bos,” jawab pelayan tersebut.


Alves melirik selintas punggung pelayan itu yang semakin menjauh sebelum menarik atensinya kembali. “Anak buahmu sepertinya semakin berani, Jeff,” Alves berkomentar dengan nada mengkritik.


Jeff tertawa sebagai balasannya. “Aku terlalu memanjakan dirinya sehingga ia sekarang sudah mencoba untuk berdiri dengan kedua kakinya. Lain kali akan aku ajari dia lagi dari dasarnya bagaimana untuk melayani tuannya dengan benar.” Alves lantas memberikan tatapan merendahkan bercampur muak mendengar makna tersirat dari perkataan Jeff.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan saat ini?” Topik berganti semudah membalikkan kertas. Merespon terhadap pertanyaan Alves, Jeff ingin memuntahkan banyak keluhan yang sudah ditahannya sejak


“Kau tahu, karena Amerika dan sejumlah negara lainnya di Eropa dan Asia melegalkan peraturan pemerintah itu beberapa tahun yang lalu, banyak negara lain kini mengikuti aksi mereka dan sekarang turis asing yang masuk sudah tidak bisa dikontrol lagi. Ah! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran para pejabat munafik itu. Bisa-bisanya mereka percaya dengan persuasi orang-orang bejat itu!”


Alves tidak bereaksi apa-apa, tapi diam-diam ikut mengumpat dalam hatinya, tanda bahwa ia setuju dengan Jeff.


Dari tahun ke tahun, bumi sudah mengalami banyak transformasi seiring era terus menerus berubah. Dunia tidak lagi dipenuhi dengan perang atau konflik antarnegara, tetapi mengutamakan perdamaian mutlak sedunia.


Maka, reformasi dunia dimulai sejak saat itu.


Sejumlah negara mulai bekerja sama satu sama lain dan membentuk suatu federasi yang besar dan kokoh. Ada pula yang menyatukan beberapa negara dan menjadikannya sebagai kekaisaran yang sentralisasi.


Meski itu, masih tersisa negara-negara yang memilih untuk berdiri sendiri, seperti Tiongkok dan Amerika.


Namun, mereka tetap mendukung kebijakan tersebut dan mulai memperbarui regulasi sekitar tujuh tahun yang lalu. Banyak peraturan yang direkonstruksi dan dilonggarkan, termasuk dalam hal hak kewarganegaraan dan keleluasaan masuknya turis asing.


Manusia dengan mudah memasuki berbagai daerah, meski sedikit yang memperketat keamanannya. Sehingga tidak heran jika seseorang tengah berjalan di lokasi yang ramai, menjumpai sesamanya yang beragam dalam penampilan dan bahasa-bahasa yang bervariasi.


Jeff menghela napas panjang. “Sekarang ini jadi semakin sulit bagi kaum kita untuk hidup berbaur dengan orang-orang di sekitar. Apalagi kamu, Alves. Aku yakin kamu sudah tercatat di daftar hitam petinggi-petinggi maupun peneliti-peneliti itu. Beruntungnya wajahmu tidak terekspos dan orang yang terakhir kali melihatmu sudah tidak lagi bernapas.”


“Ada satu orang yang tersisa,” gumam Alves.


“Apa?” Jeff tidak mendengar ucapan Alves yang halus. Alves menggeleng yang mengisyaratkan bahwa perkataannya tidak relevan. Jeff tidak menganggap Alves dengan serius dan mengabaikan keanehan sikap lawan bicaranya.


“Berbicara tentang Oracle, kau tahu, waktu pertama kali dapat tugas kiriman ini, aku sama sekali nggak percaya kalau Oracle adalah seorang anak kecil yang lucu sekali! Untuk seukuran orang yang seharusnya manipulatif karena bisa melihat masa depan, dia manis banget dan cepat tanggap. Dia bahkan menurut pada setiap omonganku dan sesekali bantu bekerja sebagai pelayan.” Jeff berbicara dengan bangganya seperti ibu-ibu yang memuji tinggi anak kandungnya.

__ADS_1


Alves lantas menangkap poin pentingnya. “Sepertinya Oracle ini dapat menjadi rekan yang baik,” komentarnya.


“Tentu saja!” sahut Jeff.


“Omong-omong, kau memperlakukan anak kecil sebagai pelayan di kedai kopimu?” Alves mengingat bahwa kedai kopi milik Jeff ini bukanlah kedai kopi biasa.


Di mata umum, kedai kopi ini hanyalah toko yang sedang naik daun di semua kalangan karena perpaduan rasa produk maupun desain interior yang memiliki daya tarik unik. Di satu sisi yang terselimuti dalam kegelapan, kedai kopi ini menjadi tempat untuk bertransaksi antara berbagai mafia atau sindikat ternama di dunia bawah.


Jeff sendiri membuka kedai kopi ini bukan sebagai perantara untuk urusan Alves, tetapi juga memperluas koneksinya di dunia bawah yang korup itu. Jeff juga mempunyai tali persaudaraan erat dengan beberapa mafia yang berkedudukan tinggi.


Jeff menyengir. “Kenapa tidak? Itung-itung untuk menambah pengetahuan tentang dunia kehidupan bermasyarakat bagi anak kecil itu.” Alves hanya mencibir ketika mendengar jawaban Jeff yang seteru dengan kepribadiannya.


Pelayan yang sebelumnya diminta Jeff untuk memanggil Joy datang menghampiri meja terpencil itu yang serta-merta mengakhiri pembicaraan antara Alves dan Jeff. “Bos, saya sudah membawa Joy.”


Jeff tampak puas dan mencubit bokong pelayan itu sambil tersenyum penuh makna. “Kerja bagus. Kau tunggu nanti malam untuk pelajaranmu selanjutnya,” bisik Jeff tepat di depan telinga pelayan itu.


Wajah pelayan itu menjadi tidak terkontrol karena kegirangan mendadak yang dirasakannya. Bisikan Jeff yang terdengar ambigu seakan membangkitkan rasa gairah pelayan itu yang sudah dikubur dalam-dalam di lubuk hatinya. Buru-buru pelayan itu menjawab, “Siap, Bos!” dan lekas menuju ke ruangan belakang kedai.


Alves yang sedari tadi menyaksikan tontonan tidak senonoh di hadapannya, melancarkan rasa ketidaksukaannya terhadap Jeff.


Dasar orang mesum. Mendingan aku nonton Upin Ipin daripada melihat mereka.


Fokusnya lalu berpindah ke sosok anak perempuan mungil yang berdiri tak jauh darinya. Anak perempuan itu tampak sesuai dengan deskripsi Jeff; penurut, cerdik, dan pendiam.


Alves mengamati anak perempuan itu secara terang-terangan, dan menemukan aura di sekelilingnya terasa berbeda, seolah memiliki sentuhan pancaran kewibawaan dan keagungan seorang raja.

__ADS_1


Wajah Alves yang tidak kunjung berubah sejak masuk ke kedai kopi kini mengalami perubahan. Sepintas ujung garis bibirnya terangkat, walaupun kembali membentuk suatu garis lurus pada detik berikutnya.


Tampaknya dugaannya kali ini tepat sasaran. Alves sangat menantikan kerjasamanya di masa mendatang bersama sang Oracle.


__ADS_2