Psychic X Apocalypse

Psychic X Apocalypse
Bab 23 [Realization, Crisis, and Plan]


__ADS_3

Lantas Alves mencibir. "Sejak kapan kita menjadi dekat sampai kamu berkata santai denganku seperti itu?"


Lu Feng memegang dagunya dengan jari seolah sedang berpikir. "Hmm, sejak kita pertama kali bertemu?"


"Enyahlah." Jawaban yang singkat, jelas, dan padat keluar dari mulut Alves yang berasal dari lubuk hatinya karena ia sangat mengharapkan kemusnahan eksistensi Lu Feng saat itu juga.


"Lu Feng?" Xu Zhaoyang yang jatuh terduduk lantas bangkit ketika mendengar suara familiar itu.


Lu Feng mengalihkan pandangannya dan menemukan sosok memalukan Xu Zhaoyang yang berkeringat. "Wah, Xu Zhaoyang. Kau kenapa datang ke sini?" tanyanya dengan intonasi ringan sembari berjalan menghampiri temannya.


Lu Feng menampakkan dirinya dari dalam apartemen yang lampu remang-remangnya kurang memancarkan cahaya yang cukup. Selubung bayangan hitam tersingkap dari tubuhnya. Terlihat figur atletis nan tegap muncul dibaluti kemeja hitam dengan kain lengannya tergulung sampai siku. Dilengkapi bersama celana panjang berwarna abu-abu tua.


"Lu-- kapan kamu ganti pakaian? Bentar, maksudku sekarang itu lebih penting. Tang Jingyi lagi menahan mutan perban itu di tangga!" seru Xu Zhaoyang dengan penuh kecemasan.


Dahi Lu Feng mengerut. "Alves, boleh kupinjam pedangmu?" tanyanya tanpa memberikan lirikan pada Alves. Malahan tangannya langsung mencuri pedang itu dari atas meja kemudian Lu Feng berlari kencang seolah ingin kabur sebelum menghadapi kemurkaan Alves.


"Thanks!" Lu Feng meninggalkan satu kata sebelum melompat ke arah tangga darurat dengan Xu Zhaoyang yang menyusulnya dari belakang.


"Bedebah sialan...!" geram Alves mengepalkan tangannya dengan kesal. Ingin sekali ia menarik kerah orang itu dan menonjoknya tepat di hidung.


Sementara Joy tampak takjub melihat Alves untuk pertama kalinya berkata kasar di hadapannya, sama sekali tidak menduganya. Joy pikir pemimpin organisasi Psychic di balik tirai itu mempunyai karakter yang terhormat dan tidak banyak omong. Namun ternyata Alves bisa memiliki sisi seperti itu juga.


Padahal Joy ingat sekali saat Alves datang pada pelatihan yang diikutinya beberapa tahun yang lalu. Sosoknya yang mengerikan dan seakan bisa membantai seseorang ketika bertatap mata dengannya. Bahkan kehadiran Alves ketika mengawasi pelatihan membuat semua peserta harus merinding seharian karena atmosfer yang terlalu mencekam.


Memang seseorang tidak bisa menilai orang lain hanya dari observasi eksternalnya saja.


"Ge, apa yang terjadi selama aku nggak ada di sini?" tanya Joy kembali berfokus pada masalah di hadapannya.


Gemuruh petir yang besar, kamar apartemen yang hancur seolah baru saja diterpa oleh angin topan, dan bau gosong menyengat yang menyebar, Joy tidak bisa membayangkan secara jelas apa yang menyebabkan tempat apartemen yang terasa seperti rumah pertamanya langsung hilang begitu saja.


Satu-satunya sumber yang terpikirkan olehnya adalah petir.


"Apa orang itu mendapatkan kekuatan untuk mengeluarkan petir?" gumam Joy terlarut dalam pikirannya seraya memegang dagunya.

__ADS_1


Telinga tajam Alves menangkap gumaman Joy. "Jelaskan lebih detail," perintahnya.


"Saat Gege lari bersama Lu Feng, aku bertemu dengan Hao Zixin yang membawa kita untuk berlindung di bunker. Dan dia, Hao Zixin, menyelamatkan kita dari mutan tanaman itu ... dengan mengeluarkan api dari tangannya," cerita Joy serius.


Ekspresi wajah Alves menegang. "Seorang psychic tersembunyi?"


Joy menggeleng. "Ini memang sulit dipercaya, tetapi kekuatan api itu ada kaitannya dengan beberapa kejadian belakangan ini."


Joy lalu mengulang kembali cerita yang disampaikan Hao Zixin saat di bunker bawah tanah secara rinci tanpa melupakan satu kata pun.


"Singkatnya setelah terjadinya fenomena kegelapan, muncul sebuah virus misterius yang menyebar dan menginfeksi sejumlah orang sehingga mereka mengalami demam yang bervariasi dari tingkat rendah sampai tinggi tergantung orangnya. Lalu saat itu juga mereka bisa memperoleh kemampuan supernatural seperti kita?"


Mau dipikirkan terus menerus sampai kepalanya botak pula, Alves tentunya tidak dapat mempercayai teori tersebut. Bukan, lebih tepatnya ia tidak ingin menganggap bahwa hipotesis itu benar.


Untuk apa kaumnya, para psychic, harus melewati berbagai rintangan maut sejak mereka lahir hanya karena memiliki kekuatan spesial di dunia ini hingga diperlakukan sebagai subjek penelitian yang sangat keji dan tidak manusiawi itu.


Kalau pada akhirnya manusia normal akan memperoleh kekuatan yang sama.


Dan kekuatan itu bangkit dari dalam diri manusia normal itu di waktu yang sangat tidak adil.


Sebagai gantinya, para ilmuwan dan petinggi negara korup yang terlibat dalam eksperimen manusia psychic, akan mengambil kesempatan ini untuk memperluas kekuasaan mereka dengan mengumpulkan dan melatih para manusia normal yang sudah memperoleh kekuatannya di bawah pimpinannya untuk satu tujuan.


Yakni menghapuskan kaum psychic dari bumi.


Kaum psychic yang dalam manipulasi orang-orang tamak itu dicoreng nama dan digambarkan sebagai penjahat bengis 20 tahun lalu karena hampir menenggelamkan sebuah pulau dan menggangu kesejahteraan masyarakat.


Kaum psychic dengan kemampuan supernatural yang tiada tara kini menjadi legenda yang ditakuti seluruh manusia.


Mungkin sebentar lagi dunia memang akan hancur seutuhnya.


Alves tergelak ketika menyebutkan pemikirannya.


"Betul. Walaupun beberapa poin masih tetap harus dipertanyakan, kita dapat menemui manusia lainnya dan melakukan verifikasi atas teorinya," ujar Joy. Anak perempuan itu lalu melirik ke belakang Alves, menatap lekat-lekat isi apartemen yang membuatnya hatinya serasa tersayat. Jelas-jelas raut mukanya mengatakan kesedihan akan rumah pertama yang ditinggalinya.

__ADS_1


Alves menyadari maksud Joy. "Dia, Lu Feng, sepertinya merupakan salah satu manusia yang membangkitkan kekuatannya," jawabnya.


Setelah dipikir-pikir kembali, orang itu mungkin bisa dijadikan bidak oleh organisasi psychic. Kelihatannya ia berasal dari kemiliteran, dan sejauh informasi yang telah diakumulasinya, sepertinya orang-orang korup itu belum berani menyentuh organisasi militer nasional sepenuhnya.


Baiklah. Mari kita coba manfaatkan dia.


"Lu Feng mempunyai kekuatan petir," ungkap Alves.


Detik itu titik-titik pertanyaan dalam otak Joy terhubung satu sama lain dan Joy dengan cepat dapat menyimpulkan kejadian apa yang menimpa apartemen itu.


"Petir itu muncul karena Lu Feng membangkitkan kekuatan di dalam dirinya? Terdengar mustahil, tapi kalau begitu seberapa kuat potensi kemampuannya sampai bisa memanggil petir dari langit?" tanya Joy pada dirinya sendiri.


Alves menggeleng. "Bukan potensi lagi, tetapi dia sudah kuat. Bahkan petirnya sampai turun menyambar tubuhnya. Entah keberuntungan sedang memihak pada kita, dia belum bisa mengontrol kekuatannya karena dia sampai menghancurkan apartemen ini," timpalnya.


Joy langsung menangkap arti dari ucapan Alves. "Jadi kita mau menggunakannya?" tanya Joy memastikan.


"Hmm, apa kamu sudah liat orang-orang yang dibawanya?"


"Tidak salah lagi, mereka sepertinya berasal dari faksi netral."


"Oke. Jangan memberitahu mereka apapun," pesan Alves.


Joy mengangguk. "Oh ya, omong-omong kenapa Lu Feng berpakaian seperti itu?" Pertanyaan Joy mengacu pada kemeja dan celana panjang yang dikenakan Lu Feng.


"Ah, itu?"


Joy kira sekilas ia melihat Alves tersenyum.


"Cuma balas dendam kecil," ujar Alves enteng.


'Balas dendam kecil? Sampai segitunya?' Joy mengangkat sebelah alisnya.


Mungkin pria tampan yang memakai kemeja memang terlihat menawan dan memikat perhatian banyak orang. Tetapi, pakaian itu ... terlihat sangat bodoh pada Lu Feng. Karena kemejanya tampak sempit, tidak bisa membungkus otot kencang miliknya yang sudah dilatih selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Seperti gorila yang dipaksa mengenakan baju berukuran kecil.


Untuk pertama kalinya Joy merasa kasihan pada calon korban Alves itu.


__ADS_2