
"Sialan!" umpat Alves ketika harus dipertontonkan pemandangan mengerikan di hadapannya.
Sejumlah petir dengan variasi warna dari merah, biru, ungu, hingga putih, menyambar kamar tidurnya dengan penuh aura dominan. Satu per satu menyelusup masuk lewat jendela dan berbelok dengan akurasi penuh untuk menerobos ke dalam kamar targetnya.
Hingga hanya dalam waktu beberapa detik, pintu kamarnya tercabik gosong dan roboh menjelma menjadi seonggok serpihan kayu. Barulah Alves dapat melihat isi kamarnya dari kejauhan.
Bahwa peristiwa gila ini disebabkan oleh orang yang sedang terbaring tak sadarkan diri di dalam kamarnya. Pemicu dari perubahan cuaca secara drastis ini, bahkan teror dari langit yang menyemburkan sekumpulan petir dengan tingkat bahaya yang berbeda-beda, asal muasalnya adalah orang itu.
Lu Feng.
"Yang benar saja!" Alves melesat ke dalam kamar tidurnya sembari menghindari serangan petir yang bertubi-tubi. Namun tidak lama ia langsung menyadari bahwa petir-petir itu malah yang menghindarinya, karena petir tersebut hanya memiliki satu target yang dituju.
Zzapp!
Salah satu petir berwarna merah menghantam tubuh Lu Feng. Disusul dengan petir kuning pada bahu, petir biru tertuju ke lengan, dan petir ungu mendarat di betis kaki. Hingga petir berwarna putih mengkilap dengan ukuran yang lebih besar lima kali lipat, memasuki lewat jendela kamar dan melesat ke arah dada Lu Feng.
Perhatian Alves begitu terpikat pada adegan di luar nalar itu, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa secercah petir mungil keluar dari jari kelingking Lu Feng dan menyentuh kaki Alves tanpa memberikan rasa kejut apapun.
Ketika petir-petir dari langit itu telah turun dan menghantarkan kekuatan besarnya, kondisi tubuh Lu Feng mulai memanas sampai meloncat mencapai suhu tertinggi yang tidak bisa dicapai oleh manusia normal. Bekas tembakan dari petir pula tidak meninggalkan luka pada sekujur tubuhnya, hanya menimbulkan asap akibat gaya gesek antara petir dan kulitnya. Meski itu pakaian yang membalutnya menyisakan jejak bolong dengan bau gosong di sekitarnya.
Tidak butuh waktu lama setelah sekumpulan petir menyambar dirinya, tiba-tiba tubuh Lu Feng memproduksi petir itu sendiri yang berkeliaran secara liar di sekelilingnya.
Zzappp!
Krak!
Berbagai petir putih kecil mengelilingi tubuhnya seolah berfungsi sebagai perangkap, dan satu per satu mulai terlepas kendalinya dan mengenai nakas di sebelah tempat tidur. Nakas itu hancur dalam sekejap, menyisakan abu yang beterbangan di udara.
"Orang gila!" Tidak henti-hentinya perlakuan Lu Feng yang membuatnya sebal dari membatalkan rencana Alves sampai menghancurkan apartemennya, Alves kini tidak bisa tinggal diam. Masa bodoh dengan kekuatan destruktif petir itu, Alves menghunuskan pedang dari sarungnya kemudian menggunakan gagang pedangnya untuk memukul kepala Lu Feng.
Buk!
Seketika petir-petir yang tercipta dari tubuh Lu Feng tertarik masuk kembali dan hilang dalam sekejapnya. Seperti mematuhi perintah, sekumpulan petir dari langit musnah begitu saja dan langit mulai kembali menjadi normal. Seakan kejadian barusan tidak terjadi dan hanyalah ilusi semata.
__ADS_1
Namun tentunya tidak bagi Alves. Mendapati kondisi kamarnya seperti kapal pecah, Alves memijat keningnya yang mulai pusing.
Di dalam kamarnya, satu-satunya barang yang masih utuh tidak tersentuh adalah tempat tidurnya. Kasur tempat Lu Feng berbaring dengan damai dan tenteram. Jika seseorang mengabaikan benjolan merah di dahinya.
Alves mendengus melihat Lu Feng yang nampaknya masih tertidur nyenyak dan bukan seperti orang yang baru saja melalui banyak hal lalu jatuh pingsan.
"Ah, merepotkan sekali. Habis kejadian barusan, pasti banyak mutan yang bakal datang ke sini. Mana apartemen seberang juga ada mutan kepompong itu. Siapa namanya itu... ah, Christian! Dia nggak bakal ngetuk pintu lagi, kan?" Alves langsung berbalik dan berjalan menuju pintu lalu mengintip keadaan koridor lewat lubang intip.
"Untungnya aman. Tapi..." Lantai yang ditapaki oleh Alves mulai mengeluarkan getaran kecil yang nampaknya berasal dari lantai terbawah gedung.
Alves melirik ke arah Lu Feng dari jauh, sedang merenungkan tindakan selanjutnya yang akan diambilnya.
"Apa aku tinggalin dia saja terus pergi jemput Joy?" gumam Alves.
...----------------...
Joy, Tang Jingyi, dan Xu Zhaoyang tengah berlari menaiki tangga. Ketika petir-petir besar itu mulai menerjang gedung apartemen, mereka yang berada di bunker bawah tanah segera bertindak cepat. Membagi menjadi dua tim, yakni Anna dan Hao Zixin tetap menetap di bunker mengingat kaki Anna sedang terluka dan energi kemampuan Hao Zixin mulai memudar, sedangkan sisanya yang masih dapat bergerak cepat pun memiliki misi untuk bertemu kembali dengan Alves dan Lu Feng.
Kala trio tersebut melewati lobi utama, beruntungnya mutan tanaman itu sudah hilang dari pandangan dan hanya menyisakan lubang besar pada dinding serta puing-puing material yang berserakan di lobi.
Tidak ada rencana matang sebelum misi itu ditetapkan. Tang Jingyi tergesa-gesa melangkah, Xu Zhaoyang menampilkan ekspresi kekhawatiran yang berlebihan, dan Joy cuma ingin bertemu kembali dengan Alves.
Joy akhirnya menyuarakan pendapatnya. Kemungkinan besar melihat situasi dan perilaku Alves, Joy dapat memprediksi bahwa Alves akan membawa Lu Feng ke kamar apartemennya untuk berlindung sejenak setelah menghindari mutan tanaman itu.
Maka kini trio tersebut baru saja menempuh sampai lantai empat.
'Huft, kalau aku sudah ketemu sama Alves-ge, bakal aku tinggalin mereka secepatnya,' batin Joy menoleh pada Tang Jingyi dan Xu Zhaoyang yang berada di belakangnya.
Brak!
Atensi trio tersebut lantas teralih pada pintu menuju koridor lantai empat yang baru saja mereka lewati. Pintu kayu itu hancur dalam sekali sentakan, dan engselnya terlempar ke arah Xu Zhaoyang. Tang Jingyi langsung bergerak dan berdiri di depan Xu Zhaoyang lalu menangkis engsel pintu yang melayang tertuju padanya.
Dari koridor lantai empat tersebut, sebuah kaki berwarna hitam menapak masuk ke tangga darurat. Diikuti dengan kain semacam perban belang hitam putih yang menyelubungi sekujur tubuhnya nampak di area pandangan trio tersebut. Kepalanya berbentuk oval dengan wajah mulus yang cukup memiliki sepasang mata sangat sipit hampir tak terlihat dan mulut yang dijahit.
__ADS_1
Mutan itu menatap ketiga mangsa lezat di hadapannya sembari memberikan seringai sampai jahitan pada mulutnya tampak akan terlepas.
Bulu kuduk Joy dan Xu Zhaoyang lantas berdiri. Melihat pemandangan menyeramkan itu, mereka membeku di tempat.
Mutan itu lalu mengangkat tangan kanannya. Perban kain yang menyelimuti tubuhnya dengan rapi pun membebaskan dirinya dari rekatan itu dan melayang di udara. Masih terkoneksi dengan tubuhnya, perba kain itu membentuk garis panjang yang lurus di udara, kemudian tanpa peringatan apapun, perban kain itu menerjang ke arah Tang Jingyi.
Di saat yang bersamaan, Tang Jingyi mengeluarkan belatinya dan menghadapi serangan mendadak tersebut. Belatinya yang tajam ditebasnya untuk memotong perban kain itu, tetapi hanya bunyi keras seperti berbenturan dengan logam yang terdengar.
Klang!
"Kalian berdua cepat lari duluan!" seru Tang Jingyi sebelum menyentakkan kedua kakinya dari lantai dan mempersempit jarak di antaranya dengan si mutan yang kelihatannya mengadopsi serangan jarak jauh saja.
Mendengar perintah tersebut, tubuh Joy lekas bereaksi. Joy buru-buru menaiki anak tangga dengan menarik lengan Xu Zhaoyang yang masih terguncang merasakan tekanan dari mutan perban itu.
Napas Joy mulai tak beraturan, ditambah lagi muatan pikirannya terlalu berat. Otak Joy bekerja sangat cepat ketika krisis melanda tak henti-hentinya. Melalui pengamatannya, Tang Jingyi seharusnya tidak mempunyai kemampuan yang setara untuk melawan mutan perban itu. Kemungkinan besar wanita dingin itu hanya bisa menahan mutan perban selama beberapa menit sebelum ia tewas.
Dan Joy tidak suka dengan fakta tersebut. Walaupun ia sangat ingin berpisah dengan geng Tang Jingyi yang mengganggu itu sekarang juga, Joy sangat benci harus mengutang terhadap orang lain atas nyawanya.
Maka satu-satunya cara adalah mencari dan meminta tolong pada Alves.
Tiga puluh detik berlalu. Joy segera membuka pintu tangga darurat lantai tujuh dan berlari menuju apartemen 703. Tak memedulikan Xu Zhaoyang yang langsung menjatuhkan dirinya di lantai koridor ataupun situasi penghuni di lantai tujuh itu, Joy tak segan-segannya menggedor pintu apartemen Alves.
"Ge!" ucap Joy.
Pintu apartemen 703 lalu terbuka seakan penghuninya sudah menunggu kedatangan seseorang. Alves membuka lebar pintunya dan mengambil selangkah keluar.
"Joy?"
"Ge, di bawah ada mutan-- bentar, apa yang terjadi di sini?" Joy terkesiap memandang isi apartemen yang baru ditinggalinya selama beberapa hari langsung berubah menjadi kamar yang tak dikenalinya.
Bekas gosong akibat sambaran petir dapat terlihat di lantai, atap, maupun furnitur di dalam apartemen tersebut. Bahkan televisi jatuh hancur dengan layar pecah-pecah di atas lantai, dan sofanya sampai terbelah menjadi dua.
Alves yang tampak tidak terkejut, menjawab dengan datar, "Apa lagi kalau bukan kerjaan orang gila?"
__ADS_1
Sebuah suara bariton lantas menghardiknya. "Alves, bukannya kamu terlalu kejam sampai menyebutku sebagai orang gila?"