
"AAAAAAAAAAAAAAA!!!"
Suara jeritan wanita menggema di koridor apartemen tersebut.
Di saat yang bersamaan, Alves menangkap suara ledakan keras di depan pintunya. Bunyi retakan keramik menyusul.
Alves spontan membuka pintu dan melangkah keluar.
Sepanjang hidupnya, Alves telah menyaksikan eksperimen manusia brutal dan keji. Tetapi tidak pernah dipungkirinya ia akan melihat pemandangan di hadapannya yang terlalu mustahil untuk terjadi. Namun nyatanya sekarang tampak di depan matanya.
Figur itu, atau yang disebut mutan, semulanya adalah manusia. Hal itu tampak dari mukanya yang masih mempertahankan ciri-ciri seorang manusia. Tetapi entah karena virus misterius atau penyakit genetik yang menginfeksi tubuhnya sehingga menyebabkan terjadi mutasi dalam dirinya. Yang menciptakan sosok menyeramkan mirip monster.
Mutan itu berwarna krem kehijau-hijauan. Punggungnya membengkak besar layaknya tempurung kura-kura. Telapak kakinya membesar dan memiliki selaput di antara kakinya. Kedua tangan yang sebelumnya mulus bersih, kini memanjang sampai satu setengah meter dengan ujung kuku yang runcing tajam.
Dan dalam genggaman cakaran tangan mutan itu, terdapat seorang wanita paruh baya dengan muka penuh tangisan putus asa. Matanya sembab kemerahan, melempar tatapan memelas. Bibir pucatnya pun ikut bergetar hebat.
Wanita itu mendapati sosok Alves dari kejauhan dan memekik lirih, "To-tolong..."
Krak.
Dor!
Bersamaan dengan remuknya tubuh wanita paruh baya itu, Alves menembakkan pistolnya ke arah mutan hijau.
Peluru emas melesat begitu kencang dan menancap pada lengan mutan hijau.
Detik itu Alves mengumpat dalam hati.
Si mutan hijau tampak tidak merasakan apa-apa. Seakan tembakan peluru yang menembus kulitnya hanyalah gigitan semut kecil. Dia menatap lengan di mana peluru itu tertancap, lalu melirik pada Alves.
Lantas mutan hijau menyeringai lebar, menampilkan deretan gigi tumpulnya.
Saat itu juga Alves tahu bahwa si mutan hijau akan beraksi.
Sepersekian detik kemudian, si mutan hijau melepaskan cengkramannya dari tubuh wanita paruh baya yang tidak lagi berdetak jantungnya. Ia berjongkok, mengambil ancang-ancang, dan melompat dari ujung koridor.
Alves segera menghindar dari tumbukan mutan hijau yang terlihat sangat berat.
Kedua kakinya cepat-cepat digerakkan ke belakang, tetapi Alves menemukan tubuhnya oleng.
Dia akan terjatuh.
Bodoh!
__ADS_1
Dalam penglihatannya, Alves melupakan bahwa tubuhnya berdiri tegak di atas lantai keramik yang sudah pecah berkeping-keping. Sehingga dalam keadaan genting seperti itu, naasnya kakinya harus tersandung karena serpihan keramik yang letaknya tak beraturan.
Alves lalu menoleh ke depan dan menemukan mutan hijau berada di atasnya.
Tanpa berpikir panjang, Alves mengulurkan lengannya ke atas dan tangannya dikepalkan sekuat mungkin.
Bam!
Tubuh mutan hijau itu berdentam keras dengan lantai keramik. Saking kerasnya, lantai itu hampir tidak bisa menahan bobot tubuh mutan hijau yang tak terhingga dan jebol ke lantai di bawahnya.
Sementara Alves masih dengan tangan terjulur dan dalam posisi tersungkur ke belakang, memandang si mutan hijau itu dengan napas sedikit terengah-engah.
"Apakah sudah mati...?"
Baru saja Alves berkata demikian, matanya menangkap jari-jari si mutan hijau itu bergerak pelan.
Sekali lagi telapak tangannya dibuka dan dikatupkan kembali. Gerakan itu diulangnya berkali-kali sampai ia memastikan bahwa si mutan hijau tidak sanggup bergerak lagi.
Hingga tubuh si mutan hijau tampak kejang-kejang sejenak, sebelum berhenti sepenuhnya.
Beberapa menit kemudian barulah Alves berani mendekati si mutan hijau yang tampak gepeng. Kakinya menapak perlahan seiring berjalan, tidak ingin kecerobohan bodohnya terulang kembali.
Sampai Alves berdiri tepat di hadapan mutan hijau itu, ia baru menyadari ukuran mutan hijau itu berbanding jauh dari manusia normal.
Tubuh si mutan hijau kira-kira dua meter lebihnya. Kedua lengan bergantung bebas dari bahu lebarnya. Tungkai kakinya benar-benar panjang dengan paha kakinya tampak berotot kekar. Kulit kakinya pula terlihat sedikit tebal dan berlendir.
Lantas Alves menoleh ke samping kanan dan kiri. Ia baru saja merasa lega ketika tidak ada yang menonton kebodohannya yang telah dilakukannya malam itu untuk kedua kalinya.
Lelaki itu pun melampiaskan kekesalannya dengan menginjak bagian tubuh mutan hijau yang sekiranya lunak, yaitu bagian perut.
Dan sekali lagi Alves menyesal parah, karena kini sendal dan jari kakinya menyentuh lendir yang keluar dari kulit si mutan hijau ketika bersentuhan.
Kenapa malam ini nggak beruntung banget? Tadi udah hampir ketindih, nendang baja, dan sekarang kena lendir?!
Untuk menghindari situasi sial yang akan terjadi selanjutnya, akhirnya Alves memilih untuk berjongkok dan menginspeksi tubuh si mutan hijau yang sudah mati sepenuhnya.
Punggungnya sedikit membungkuk dan tubuhnya condong ke depan. Sebelumnya ia telah mengambil sarung tangan hitam yang selalu dibawanya ke mana-mana dari saku celananya yang dipakaikan pada kedua tangannya. Tangannya lalu terulur dan menyentuh dada mutan hijau itu.
Sekujur badan si mutan hijau dijamah dan diperiksanya oleh Alves.
Rabaan dan tiap sentuhan pada tubuh si mutan hijau menyadarkan betapa naifnya Alves.
Ia kira dengan kemampuan supernaturalnya, meremas dan meremukkan tubuh si mutan hijau sampai mati merupakan hal yang tergolong mudah. Untuk seukuran mutasi manusia yang terlihat menyeramkan dan besar, disangkanya tidak akan menguras banyak energi.
__ADS_1
Namun setelah Alves mengecek tubuh si mutan hijau, dugaannya salah besar.
Tubuh si mutan hijau ternyata memiliki kulit yang kuat dalam artian tidak mudah robek. Ditambah pula lendir yang diproduksi dari dalam kulit akan mencuat keluar jika kulitnya bersentuhan dengan benda asing. Sehingga apapun yang menyentuhnya akan tergelincir dan mengalami kesulitan untuk menusuk kulit tersebut.
"Menjijikan sekali..." komentarnya ketika sedang memeriksa tubuh si mutan hijau.
Ia juga menemukan celah pada bagian punggung. Tempat yang ia tendang sebelumnya sudah terbentuk utuh sekeras baja. Namun di bagian tulang ekor bawahnya, Alves dapat merasakan lunaknya kulit yang melapisi daging dan seolah belum mempunyai waktu untuk mengeras sempurna.
Dan titik lunak tersebut menjadi salah satu kelemahan si mutan hijau untuk mudah dibunuh.
Apa struktur tubuhnya memang seperti ini atau jangan-jangan mutan ini belum selesai bermutasi?
Satu detail terakhir yang terlewatinya adalah pada bagian mulut.
Di sela-sela gigi tumpul si mutan hijau, mengalirlah cairan gelap yang bergumpal. Awalnya Alves berspekulasi bahwa gumpalan cairan itu adalah darah manusia yang digigitnya. Namun setelah dipikir-pikir, gigi mutan hijau itu tumpul dan wanita paruh baya yang sempat ditangkap si mutan hijau tidak mempunyai bekas gigitan apapun.
Setelah Alves mencoba mengeksperimen kegunaan cairan tersebut, barulah ia menyadari bahwa pada malam itu, ternyata keberuntungan berada di pihaknya.
Cairan gelap bergumpal itu adalah cairan asam sulfat yang bersifat korosif.
Ketika cairan itu jatuh di atas keramik, lantai itu langsung meleleh.
Ketika membayangkan cairan itu mengenai kulit Alves, ia lantas bergidik dan refleks mengusap telapak tangannya.
Buru-buru Alves kembali mengulurkan tangannya ke arah mulut si mutan hijau. Detik selanjutnya, terlihat butir-butir air dari cairan asam itu bergetar perlahan. Alves mengompres dan menekan cairan asam itu selama beberapa menit. Keringat mulai tercucur dari dahinya dan mukanya pelan-pelan memucat.
Hingga kemampuan supernatural Alves tidak lagi mendeteksi kehadiran cairan asam itu, ia menjatuhkan tangannya dan mengumpulkan napasnya yang memburu.
"Hah... hah... hah..."
Beruntungnya ia sudah memusnahkan cairan asam itu sebelum berubah menjadi uap dan meracuni seisi koridor apartemen itu.
Namun sebagai imbalannya, Alves merasa denyutan perih di sekitar area mata butanya.
Baru saja ia melepaskan sarung tangan hitamnya yang penuh akan lendir dan ingin menyentuh sepasang mata yang terlapisi topeng bercorak hitam putih tersebut, telinganya menangkap deritan suara kayu dari belakangnya.
Ada mutan lagi?
Alves lekas membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok Joy yang baru saja terbangun.
Anak itu, Joy, berdiri di depan pintu apartemen dan memandang kondisi koridor yang berantakan. Atau lebih tepatnya setengah hancur.
Matanya melirik pada sebuah pistol silver tidak jauh darinya, lalu berpindah pada Alves yang terduduk di depan figur gepeng berwarna krem kehijauan yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, serta memandang tubuh wanita paruh baya yang tak lagi bergerak dari kejauhan.
__ADS_1
Sampai atensi Joy terfokus balik pada Alves dengan tatapan tidak percaya.
"Ge, kamu membunuh dua penyusup malam-malam?"