Psychic X Apocalypse

Psychic X Apocalypse
Bab 15 [Mutan Berkecepatan Kilat]


__ADS_3

Tubuh Alves terhempas ke tembok akibat sentakan mendadak dari mutan. Rasanya ada beberapa tulang rusuknya yang patah akibat hantaman yang keras mengenai di antara bagian dada dan perutnya. Darah mulai mengalir dari bibirnya ketika Alves menggigitnya dengan kuat untuk menahan rasa sakit nyeri.


Belum sempat Alves berbuat apa-apa setelah tubuhnya tersandar lesu pada tembok, sebuah mutan dengan kecepatan kilat menghampirinya dan melayangkan tongkat berwarna hitam ke arah kepala Alves.


Buru-buru Alves menghindar. Tongkat hitam itu lalu tertancap pada tembok tempat kepala Alves sebelumnya berada. Puing-puing tembok putih yang keropos pun berjatuhan di dekat kaki mutan itu. Sebelahnya adalah sepasang kaki yang dibaluti celana panjang hitam, menuju ke atas terdapat ikat pinggang hitam melingkari tubuhnya, seragam warna krem berkancing, disertai topi hitam yang mendekorasi kepalanya.


Sosok itu berdiri tegap membelakangi Alves. Kemudian kepalanya berputar 180 derajat bersamaan terpelintirnya leher. Netranya yang gelap sepenuhnya menatap lurus Alves, disertai seringai kejam terulas pada wajahnya.


Ia yang nampaknya seperti manusia normal, tetapi aslinya ialah mutan yang berlindung di balik kulit manusia.


Awalnya Alves sempat terkecoh. Ketika ia mencari jejak Joy di koridor lantai satu itu dan mendengar suara langkah kaki yang menghampirinya dari belakang, ia langsung mempersiapkan senjata di tangannya. Ia bersiap siaga bertemu dengan pemilik suara tersebut. Dan ternyata seorang satpam yang dikenalinya muncul dari persimpangan jalan. Satpam baik hati yang selalu melakukan patroli seputar apartemen pada malam hari.


Saat itu Alves kembali menyembunyikan senjatanya. Ia mencoba menyapa satpam itu untuk memastikan apakah yang ditemuinya adalah mutan atau manusia. Walau begitu ia masih berhati-hati, tetapi tidak disangkanya kalau satpam tersebut ternyata menjawab teguran dari Alves.


Satpam itu bertanya, "Ada keperluan apa malam-malam begini?


"Saya sedang mencari adik saya. Sepertinya dia terbangun dan tidak bisa tidur lagi sehingga dia pergi mencari udara segar di luar," jawab Alves memicingkan matanya. Ia memandang lekat-lekat satpam yang berdiri agak jauh darinya. Memindai apakah ada tanda-tanda proses bermutasi menjadi mutan.


"Oh," satpam itu melangkah ke depan, "Saya tidak pernah melihat adikmu. Perawakannya seperti apa, ya?"


Alves terdiam sejenak. "Perempuan, pendek, dan arogan," ujarnya.


"Hmm..." Satpam itu hanya mengangguk-angguk sembari terus melangkah menuju Alves.


Genggaman Alves pada senjatanya dikencangkan. "Apakah Bapak melihat adik saya?"


"Ah, adikmu? Yang mana?" Satpam itu menghentikan langkahnya. Kepalanya sedikit dimiringkan dan tatapan terarah tajam pada Alves. Melihat sorotan mata yang tampak kosong tertuju padanya, Alves tanpa sadar mengusap ibu jari dengan jari telunjuknya.


"Anak perempuan yang pendek," jawab Alves sekali lagi.


"Oh, maaf. Ahahaha, orang tua ini sering lupa banyak hal," ucap satpam itu seraya tertawa menyengir. "Kalau anak perempuan itu, sepertinya saya melihatnya pergi ke ruang karyawan di dekat meja resepsionis," tuturnya.


"Baik, terima kasih." Setelah berkata demikian, Alves langsung bersiap untuk berbalik dan melanjutkan pencariannya.


"Tunggu sebentar!" seru satpam itu menahan gerakan Alves. Ia lalu berjalan menghampiri Alves.


"Ada apa?" Alves mulai kembali was-was.

__ADS_1


Satpam itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Selain karyawan, tidak ada yang boleh masuk ke ruang di dekat meja resepsionis itu. Jadi sepertinya saya perlu mengantarmu untuk menemukan anak perempuan itu."


Alves mengambil satu langkah ke samping dengan punggungnya menghadap tembok. "Kalau begitu, silakan pimpin jalannya," kata Alves memberikan jalan bagi satpam itu.


Mereka saling bertukar tatap dalam kesunyian selama beberapa detik. Waktu yang berlalu begitu cepat, namun terasa cukup lama di tengah atmosfer ketegangan yang membungkus. Kemudian dipecahkan oleh kekehan pelan satpam itu.


"Ayo, ikuti saya," ajak satpam itu memimpin jalan di depan Alves. Sementara Alves mengekornya dari belakang, tetapi masih menjaga jarak beberapa meter.


Perjalanan melewati koridor disertai keheningan. Saking heningnya bahkan suara jarum jatuh pun akan terdengar jelas. Sampai mereka memasuki area lobi yang lebih luas, penerangan tentunya bertambah cerah menyinari sofa-sofa tempat tunggu tak berpenghuni dan meja resepsionis yang kosong.


Mendekati ruang karyawan di samping meja resepsionis, satpam itu mulai merogoh sakunya dan mengeluarkan sejumlah kunci yang tercantol pada gantungan gelang berwarna silver.


Alves yang memperhatikan gerak-gerik satpam itu sedari tadi, membelalakkan matanya sebelum tangannya spontan meraih pistol di sakunya. Namun sebelum jarinya menyentuh badan pistol, satpam itu langsung lenyap dari pandangan Alves.


Sekejap Alves kehilangan targetnya, dan saat itu si satpam mendadak muncul di hadapannya. Kaki kanannya tertekuk serta paha kanannya membesar memunculkan otot yang kuat dari balik celana panjangnya. Lutut kerasnya lalu dilayangkan begitu cepat dan kencang ke arah tubuh bagian depan Alves. Menghantamnya seketika hingga terbang ke seberang tembok.


Satpam---atau mutan itu kini berjalan mendekati Alves dengan sebuah seringai menghiasi mukanya yang kelihatan seram setelah serangan keduanya berhasil dihindari Alves.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Suara serak mutan itu bertanya.


"Adikku ... tidak akan masuk ke ruangan yang terkunci," jawab Alves tertatih-tatih sembari menahan rasa sakit yang menjalar bagian perutnya.


Leher mutan satpam itu terpelintir dan kepalanya berbalik sempurna selaras dengan posisi punggungnya, sedangkan sepasang matanya masih utuh terlihat hitam tanpa setitik terang putih pun tertuju pada Alves seorang.


Menandakan bahwa satpam itu adalah seorang mutan.


Mutan yang masih mempunyai kemampuan untuk diajak berbicara, berpikir, bahkan merencanakan perangkap bagi Alves.


Meski Alves menemukan beberapa kecacatan dalam waktu singkatnya menghabiskan waktu dengan satpam itu, Alves tidak menyangka mutan ketiga yang ditemuinya memiliki kesadaran seperti itu. Berbanding terbalik dengan mutan hijau pertama yang masih dalam proses mutasi dan mudah untuk dibinasakan, mutan satpam ini tampaknya sudah menyelesaikan proses mutasi yang sempurna.


Lalu bagaimana dengan mutan yang telah berevolusi mencapai tingkatan transenden? Apakah mutan itu mempunyai akal sehat seperti manusia namun berwujud layaknya mutan?


Pemikiran itu sekilas terbesit dalam otak Alves sesaat ia berguling menghindari sergapan mutan satpam itu. Serpihan-serpihan tembok itu terurai dalam udara, menyebabkan Alves harus terbatuk-batuk sejenak.


Namun ia segera beranjak berdiri, disusul dengan pukulan telak mutan satpam itu ke arah wajahnya.


Alves lantas menunduk, memasang kuda-kuda dengan cepat, dan melayangkan tinju pada perut mutan satpam. Akibatnya mutan satpam itu terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri, dan perutnya meninggalkan bekas pipihan melengkung. Muka mutan satpam itu lantas memerah marah. Suara geraman keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Melihat mutan satpam yang bersiap menyerangnya kembali, Alves bimbang memikirkan apakah ia harus menggunakan kemampuan telekinesisnya lagi. Tetapi ia masih dalam proses penyembuhan dan pemakaian energi psychic-nya sudah dibatasi oleh Eliot. Ia bahkan telah melanggar janjinya dengan melewati limitasi sesuai aturan yang berlaku ketika melawan mutan bola di lift.


Mengingat segala kelalaiannya, Alves memutuskan untuk tidak menggunakan kemampuannya untuk sementara waktu. Sehingga yang dapat dilakukannya sekarang, yaitu berharap senjatanya paling tidak dapat meninggalkan luka pada tubuh mutan satpam yang bergerak lebih pesat daripada kecepatan cahaya.


Mutan satpam itu lagi-lagi mendaratkan kepalan tangannya pada bagian dada Alves. Alves menangkisnya dengan kedua lengan, membungkuk, dan mengeluarkan stik dari sakunya. Dipencetnya tombol pada stik itu. Seketika stik itu memanjang berkali-kali lipat dari ukuran sebelumnya. Stik itu mirip sekali dengan bentuk tongkat putih merah teruntuk tunanetra, tetapi ketika Alves melepaskan bungkus ujung stik itu, sebuah bilah pedang tajam tersembunyi di baliknya. Menampilkan kilatan dan cerminan diri yang begitu jelas.


Alves menebaskan pedang itu pada tubuh mutan satpam. Sayangnya mutan satpam itu sangat cepat menyingkir dari situasi yang mengancamnya. Tak lama kemudian mereka saling beradu serangan. Yang satu melayangkan pedangnya dengan lihai dan terampil. Satu lainnya melancarkan bela diri tingkat dasar dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi disertai kecepatan yang tak tertandingi.


Sekarang Alves merasa hampir kehabisan napas. Dadanya cukup terasa sesak terus berlari ke sana kemari. Namun yang paling melelahkan adalah mempertahankan konsentrasinya agar selalu bersiap menerima serangan dari mutan satpam itu.


Entah sudah ke berapa kalinya Alves berguling-gulingan di lantai, menghindari pukulan maupun tendangan maut dari mutan satpam itu. Ia lalu mendekat ke pojokkan, berupaya untuk menutupi kelemahannya dari belakang.


Seakan mutan satpam itu telah mengantisipasi gerakan Alves, mutan itu seolah berteleportasi ke belakang Alves sebelum lelaki itu dapat berpikir ke mana mutan itu pergi, dengan kaki mutan satpam siap menerjang tubuh lawannya.


"Awas!!!" Seruan penuh kekhawatiran merobek suasana genting itu.


Alves lantas menyadarinya. Penglihatannya yang sempat kabur menjadi sangat fokus. Ia refleks mengayunkan pedangnya dan memancung kepala mutan satpam dalam irisan yang bersih lurus. Lebih cepat dan cekatan daripada kecepatan melebihi cahaya milik mutan satpam itu.


Baru ketika Alves mengumpulkan kesadarannya, kepala mutan satpam itu telah bergulung di atas lantai dan tubuh mutannya jatuh sembarang dalam kondisi tak berdaya. Sementara Alves menyesali perbuatannya dan mengomel dalam hatinya.


Ah, aku nggak sengaja pakai kekuatannya lagi. Mampus aku! Eliot nggak akan tahu, 'kan?


Kala Alves masih berkutat dalam alam imajinasinya, sebuah suara yang sedikit familiar membangunkan Alves.


"Hei! Kalau kau sudah selesai menghadapi mutan itu, tolong bantu kami!" Teriakan itu memiliki rasa urgensi. Meski Alves merasa enggan untuk menolong pemilik suara tersebut, Alves tidak bisa meninggalkan mutan berbahaya yang masih berkeliaran di sekitar apartemen.


Tak berlama-lama lagi Alves berlari menuju pemilik suara itu yang tampak dari pandangannya. Ia berdiri di depan pintu lobi apartemen dan lekas masuk bersama sekelompok orang yang mengikutinya dari belakang.


Pemilik suara itu nampaknya menjadi pemimpin grup kecil tersebut. Aura heroiknya menyelimuti figur sang pemimpin, walau kondisinya sedikit memalukan dengan kotoran di mana-mana. Dia, lelaki jangkung yang tampan itu, melambaikan tangannya ke arah Alves.


"Hei, apakah kamu bisa membantu kita melawan mutan kucing itu?" Lelaki itu menunjuk pada sosok mutan mungil yang mengejarnya.


Mutan kucing yang dimaksud adalah seekor kucing rumahan yang tengah berlari secepat kilat menuju pintu apartemen. Kucing menggemaskan dan gendut itu dari kejauhan terlihat menggerakkan dua pasang kaki berbulunya dengan sangat cepat menghampiri mereka dalam beberapa detik lagi.


"Please?" Lelaki tampan itu memohon, meski intonasinya berkata lain.


Alves hanya tersenyum dalam hatinya.

__ADS_1


Sialan kau.


__ADS_2