
"Ge, kita nggak akan mengecek apartemen 704?" tanya Joy memalingkan mukanya ke arah pintu di ujung koridor.
"Aku tidak kenal dengannya." Implikasi Alves adalah mereka tidak perlu bersusah payah membuang waktu untuk mengetuk dan memeriksa keadaan penghuni apartemen 704 yang tidak dikenalnya. Karena sekarang mereka harus memanfaatkan waktu di mana tragedi ini masih berada di tahap awal untuk buru-buru kembali ke markas organisasi.
"Oh. Aku harap dia tidak berubah menjadi mutan dan muncul di hadapan kita," tukas Joy.
Sekarang mereka sedang menuruni lantai menggunakan lift. Kotak logam luas itu membawa mereka ke bawah, berjalan pelan. Melewati lantai per lantai.
Alves bersandar pada dinding lift dengan ransel yang disampirkan pada pundaknya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Sepasang matanya dipejamkan dan dibingkai oleh topeng Dark Eye terkemuka. Di sampingnya, terletak sebuah tas biola yang tampak terisi penuh.
Zzzzt...
Joy tengah membenarkan letak pistolnya di sabuknya karena kurang terasa nyaman. Ekspresinya sedikit tidak sabaran.
Zzsst!
Lampu yang menerangi lift itu mendadak mati dan nyala kembali. Kondisi cahaya lampu yang tidak beraturan itu terulang terus-menerus.
Alves dan Joy pun lantas menyentuh senjata mereka masing-masing dengan pandangan yang tersapu pada sekitar mereka. Begitu fokus. Seolah menanti makhluk yang akan mendatangi mereka.
Selama beberapa menit, lampu itu tetap dalam keadaan mati nyala hingga berhenti di tengah-tengah. Hanya remang-remang cahaya yang menerangi seisi dalam kotak logam itu.
Suasana menjadi tegang, dan setiap detik yang terlewati di dalam lift itu terasa sangat lama dan berat.
Sunyi. Cuma napas Alves dan Joy yang terdengar. Bersama rotasi mesin lift itu.
Lift masih berjalan meski dalam kondisi penerangan yang tidak memadai. Angka yang tertera pada papan elektronik menunjukkan angka empat. Lalu perlahan bergerak menuju lantai tiga.
Zzzztt!
Sret!
Alves baru saja menangkap suara yang daritadi muncul seperti suara kabel malfungsi terkena air, ketika bunyi tali putus terdengar kencang.
Bam!
Mendadak satu-satunya penerangan di lift itu hilang dan gravitasi menarik Alves dan Joy terjatuh ke lantai.
"Ge!" seru Joy.
Tanpa peduli tubuhnya yang tersungkur sembarangan, Alves segera mengumpulkan fokusnya dan menempelkan tangannya pada dinding lift. Ia mengeluarkan energi kemampuannya untuk melapisi luar lift itu.
Suara gesekan antarlogam yang merusak gendang telinga menggema dalam area sempit. Gesekan tersebut juga menimbulkan percikan api di sekujur badan lift.
Namun semua itu hanya terjadi dalam empat detik. Empat detik yang bisa menentukan hidup atau matinya seseorang.
__ADS_1
Alves dengan sekuat tenaganya berhasil menghentikan lift sebelum jatuh bertabrakan dengan tanah di bawah. Setetes keringat mengalir dari keningnya. Tangannya yang menempel pada dinding belum terlepas untuk menjaga kontak kekuatannya agar lebih kuat.
"Joy?" panggil Alves.
"Ugh, ya. Aku tidak apa-apa," sahut Joy mengeluh kesakitan. Pasalnya saat lift tiba-tiba terjun bebas menuju maut dan sekitarnya gelap, Joy terlempar ke depan dan pistol yang sudah sukses diposisikan pada sabuknya dengan segala usahanya akhirnya terlempar ke lantai. Mana kepalanya sempat terbentur pada papan elektronik yang tertempel di hadapannya.
Kini Joy pelan-pelan mendekati Alves sambil memperhatikan sekitarnya jika ada yang tiba-tiba meloncat ke arahnya.
"Ge, apa kita bertemu mutan lagi? Yang menyerang kita bukan orang dari apartemen 704, kan?"
Alves baru saja akan menjawab, ketika telinga tajamnya mendengar sebuah suara.
Tes, tes, tes.
Salah satu tangan Alves yang tidak terpakai lekas meraih pistol di pinggangnya. Matanya bergerak ke sana kemari agar bisa langsung menemukan sumber dari pemilik suara itu.
Joy juga ikut membungkam mulutnya. Kedua tangannya terjulur memegang pistol yang sudah siap untuk menembak. Posturnya tegap dan mukanya nampak was-was.
Tes, tes, tes.
Meski penglihatannya gelap total, mata Alves dibuka lebar-lebar dan terfokus ke depan. Telinganya ditajamkan untuk mengikuti sumber suara itu.
Dari atas. Alves menengok pada langit-langit lift. Ia baru tersadar bahwa suara air menetes itu muncul dari atap lift yang seharusnya tertutup.
Suatu makhluk aneh atau mutan telah masuk lewat celah yang ada dan menyusup ke dalam lift.
Alves menodongkan mancung pistol itu ke atas, sebelum kepalanya perlahan diturunkan mengikuti jatuhnya suara tetesan tersebut. Air itu, yang diterkanya, berlinangan membasahi lantai lift di bagian tengah.
Alves dan Joy sama-sama mengambil satu langkah ke belakang sampai kedua punggung menyentuh dinding lift.
Tes!
Tetesan air terakhir terdengar memenuhi seisi lift sebelum kembali menjadi hening.
Posisi Alves dan Joy tetap membeku di tempat, menunggu waktu mutan itu melancarkan serangan.
Namun waktu berlalu begitu lambat, sampai Alves bertanya-tanya jika mutan itu berada di dalam lift atau pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Kemudian suara kretek kretek muncul selama beberapa saat.
Alves dan Joy segera fokus dan gerakan tangan mereka mengikuti sumber suara.
Suara tersebut lalu padam kembali. Seakan ketegangan yang dibangun oleh mutan itu menginginkan Alves dan Joy terpuruk dalam kepanikan dan mempengaruhi kondisi psikologis mereka.
Trang!
__ADS_1
Detik selanjutnya, mutan itu bergerak. Hempasan angin kencang menerpa kulit wajah Alves terlebih dahulu. Insting bahayanya langsung bekerja dan benar saja, ia dapat merasakan sesuatu terbentang menuju kepalanya dalam kecepatan tak terbayangkan.
Alves refleks melepaskan genggamannya pada pistol miliknya dan mengangkat tangannya.
Saat itu juga Alves menggunakan kemampuannya untuk menghentikan gerakan yang dilakukan mutan itu. Seketika sesuatu yang menuju ke arahnya terhenti, dan Alves benar-benar bisa merasakan bahaya yang hampir mengakhiri nyawanya detik itu.
Tanpa perlu melihat pun, Alves tahu. Sesuatu yang mungkin runcing hanya beberapa sentimeter tidak jauh dari matanya. Bersiap untuk menusuk mata, menembus isi kepalanya, hingga menancap pada dinding lift di belakangnya.
Alves menarik napasnya lalu berteriak pada Joy, "Cepat lari!"
Begitu memerintah demikian, Alves sekali lagi mengeluarkan kemampuannya untuk membuka paksa pintu lift, di saat yang bersamaan ia harus mengambil alih beban lift yang berat dan menghentikan pergerakan mutan yang ingin membunuhnya.
Joy yang terbebas dari serangan mutan itu lantas bergerak mematuhi perintah Alves. Beruntungnya laju lift yang sempat dipercepat karena listrik yang menghubungkannya padam, berhenti tepat di depan lantai tiga. Joy pun lari keluar. Ketika kakinya menapak pada lantai keramik yang familiar, Joy menengok ke belakang dengan ekspresi khawatir.
Namun ekspresi wajahnya berganti pesat. Dengan penerangan koridor yang terang, Joy kini bisa melihat mutan jenis apa yang menyerang mereka.
Matanya membulat tidak menyangka pertemuan keduanya dengan mutan akan diawali dengan penemuan jenis mutan yang sangat berbeda dari imajinasinya.
Tidak ada lagi mutan yang berbentuk manusia meski dilengkapi dengan fitur-fitur aneh.
Yang dilihatnya detik ini adalah segumpalan bola daging yang dibalut kulit kasar yang berkeriput dengan beberapa tonjolan hitam di sekujurnya. Bola daging tersebut yang berukuran sebesar kepala orang dewasa, memancarkan batang-batang berkulit mirip yang ditusukkan ke semua arah. Dan salah satu batang berkulit itu berada tepat di depan mata Alves yang hampir menerobos tulang kepalanya.
Joy segera menodongkan pistolnya pada bola daging itu, bersiap menarik pelatuk.
"Cepat pergi! Kita akan bertemu di lantai satu!" sergah Alves sebelum Joy melanjutkan tindakannya dan malah mengejutkan mutan itu.
"Tapi, ge...!"
"Ikuti perintahku, Joy," tegas Alves. Ia mengulas senyuman tipis, menyembunyikan trik licik di baliknya.
Tanpa memberikan waktu untuk Joy membalas perkataannya, Alves melepaskan kendali atas lift yang dinaikinya.
Sekali lagi lift itu melaju cepat jatuh ke lantai terbawah, menghilang dari pandangan Joy.
Joy menggertakkan rahangnya dan cepat-cepat bergerak sesuai yang dititahkan Alves padanya. Sepasang kaki pendeknya berlari menyusuri koridor lantai tiga. Ia melihat dari kejauhan, papan bertuliskan 'emergency' dengan pintu di bawahnya yang menuju tangga darurat.
Joy segera mempercepat langkah kakinya, sementara tangannya masih memegang erat pistol.
Beberapa meter lagi tangannya akan meraih pintu tangga darurat, ketika ia mendengar suara pecahan kaca jendela tepat di belakangnya.
Tubuh Joy sertamerta terguling ke samping. Pegangan pada pistolnya terlepas dan pistol itu terlempar tidak jauh darinya. Joy lalu mengangkat kepalanya dan menemukan batang berduri hijau tertancap dalam pada keramik tempatnya ia berdiri sebelumnya.
Jika sedetik saja Joy tidak cepat menghindar, batang berduri itu akan menyerbu dan menembus tubuhnya. Dan dia akan menjadi mayat di tempat.
Batang berduri hijau itu perlahan ditarik dan berbelok mengarah pada tubuh mungil Joy.
__ADS_1
Joy menatap horor batang berduri hijau di depannya, kemudian meneguk ludahnya.
Kemampuanku tidak memprediksi kematianku hari ini...