Psychic X Apocalypse

Psychic X Apocalypse
Bab 20 [Alves & Lu Feng VS Mutan Bola]


__ADS_3

Alves bergegas menyusuri koridor dengan napas memburu. Mengikuti memorinya, Alves berlari sampai ke pojok koridor di mana terdapat sebuah ruangan berukuran sedang.


Ketemu.


Pintu usang itu terlihat tidak jauh dari pandangannya, dan Alves cepat-cepat meraih serta memutar kenop pintu.


Pintu ruangan terbuka. Debu-debu beterbangan dan bau kardus tua yang meresap menyerbu hidung Alves. Sebelum dirinya terbatuk-batuk, Alves menutupi hidungnya dengan punggung tangannya. Dikibaskannya tangan yang bebas untuk menepis udara pengap yang kotor dari ruangan tersebut.


Sebetulnya daripada disebut ruangan, lebih tepatnya adalah gudang. Gudang yang sudah lama ditelantarkan dan menyimpan barang-barang tak berguna yang sesekali dilempar oleh pekerja di apartemen ini.


Alves sebenarnya tidak yakin kalau terdapat barang yang diinginkannya dari gudang itu, tapi ia tidak bisa memikirkan tempat lain di koridor sempit itu. Maka terpaksalah Alves mencoba menantang peluang yang ada.


Segera tangannya menyibak dan mengacak-acak isi sejumlah kardus dan barang lain yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Tak lama kemudian ia menemukan sebuah lighter yang menyisakan sedikit cairan di dalamnya. Namun lighter saja tidak cukup.


Apa tidak ada bensin atau sisa minyak di sini?


Memikirkan hal tersebut, Alves ragu-ragu akan fakta bahwa ada seseorang yang membuang minyak yang berharga di kala harga minyak sedang naik drastis pada bulan ini.


"Mungkin ada minyak yang sudah kedaluwarsa dari dapur?" Alves mengobok-obok tumpukkan barang yang berdebu hingga dari ujung matanya, ia menjumpai botol kecil yang berisi cairan kekuningan di balik lemari kayu.


Aha, dapat.


Kaki Alves mengejar ke belakang lemari kayu tersebut dan meraih botol minyak itu. Tak diduganya bahwa memang ada yang menaruh botol minyak di tempat terpencil itu, entah apa itu alasannya. Alves merasa sangat janggal, karena botol minyak itu seakan muncul ketika ia memerlukannya.


Tidak memusingkan fakta aneh yang tebersit dalam pikirannya, Alves segera menggenggam kedua benda penting itu dan buru-buru keluar dari gudang.


Kembali lagi Alves berlari ke tempat Lu Feng dan mutan bola itu berada dengan persiapan penuh. Ia memutar tutup botol, dan jari lainnya bersiaga menekan tombol lighter.


Dari kejauhan, Alves bisa melihat Lu Feng bergerak dengan lincah ke sana kemari dengan pedang di tangannya yang ditebas kepada mutan bola, sesekali memasang pertahanan untuk mengelak serangan maut dari mutan bola.


Mendapati salah satu batang berkulit berhasil menyerempet bahu Lu Feng yang awalnya berusaha menembus kepala lelaki itu namun Lu Feng cepat-cepat menghindar, Alves semakin mempercepat langkah kakinya dan berteriak.


"Menyingkir!"

__ADS_1


Mutan bola itu lantas bereaksi dan melancarkan batangnya pada Alves. Tetapi Alves bergerak lebih cepat. Ia menyiram mutan bola itu dengan botol minyak di tangannya yang mengejutkannya sehingga menghentikan gerakannya beberapa saat. Namun batang yang menyerang sudah terlanjur melesat menuju wajah Alves.


Alves pun menangkap batang itu dengan kedua tangannya. Tangannya yang di dalam sarung tangan hitam terasa pedih akibat tergores oleh batang berkecepatan penuh. Meski itu Alves tidak melupakan tujuannya.


Ia lalu menarik batang mutan bola itu yang masih tercengang. Lantas si mutan bola tersadar dan tidak membiarkan Alves melukainya begitu saja. Mutan bola mengeluarkan beberapa batang tajam yang diarahkan pada Alves, tetapi lelaki itu sudah menanti serangan tersebut.


Tubuh Alves spontan menunduk dan berguling ke belakang mutan bola itu. Tangannya yang memegang lighter segera memencet tombolnya dan keluarlah api menyala-nyala yang langsung diarahkan pada batang pada pegangannya.


Wush!


Api itu dengan cepat menggerogoti batang berkulit kemudian merambat menuju tubuh utamanya, yakni si bola daging. Alves lalu melepaskan pegangannya dari batang yang tengah dibakar oleh api membara dan berlari menuju Lu Feng.


"Kau lama sekali," ucap Lu Feng memegangi bahunya yang terluka. Meski batang itu hanya menyerempet bahunya dan menimbulkan sedikit rasa ngilu, entah ia merasa ada sensasi lain yang mengacaukan pikirannya. Beberapa kali Lu Feng mengerjapkan matanya sebelum fokus kembali hadir.


"Sini kembalikan pedangku." Alves merenggut pedang kesayangannya dari tangan Lu Feng.


"Hah, kau posesif sekali," cerca Lu Feng yang merasa tangannya kosong. Ia lalu mengambil pistol dari pinggangnya dan baru merasa puas.


Mereka menonton adegan pembakaran mutan bola itu dalam kesunyian, ketika sesuatu tak terduga terjadi.


Alves hampir tidak memercayai hal itu akan terjadi jika tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


"Bagaimana..."


Bang!


Lu Feng menembak mutan bola itu dengan peluru satu-satunya yang tersisa. Bukannya terluka, mutan bola itu tampaknya marah besar dan lagi-lagi melabcarkan sekitar tujuh batang sekaligus pada sekujur tubuh Lu Feng.


Tidak mau kalah dengan Lu Feng, Alves beranjak dan mencegah serangan itu dengan pedang miliknya. Terus mengayunkan bilah tersebut untuk memotong batang-batang yang berkeliaran.


Sembari memangkas ke depan, jarak antara Alves dengan mutan bola itu menciut. Segera saja Alves sekali lagi menyalakan lighter dan mengarahkannya pada sisa minyak yang berlumuran di tubuh mutan bola itu.


Tanpa sepengetahuan siapapun, diam-diam Alves menggunakan sedikit energi psychic-nya untuk memobilisasi oksigen di sekitarnya pada tubuh si mutan bola. Akibatnya api kecil itu lantas membakar hebat tubuh mutan itu dari sebelumnya, ******* habis sampai seolah-olah menciptakan ledakan kecil.

__ADS_1


Untung saja Alves sudah menghindar terlebih dahulu memunggungi tumpukkan puing-puing material sebelum api tersebut membakar wajahnya.


"Huh? Kenapa apinya tiba-tiba membesar?"


Sedetik sehabis Lu Feng mengutarakan pertanyaan yang ada di dalam pikirannya, sebuah getaran terasa pada tumpuan kaki mereka.


Belum sempat keduanya berdiskusi, getaran pada gedung itu menguat.


Boom!


Tumpukkan material satu per satu mulai berjatuhan. Alves dan Lu Feng lekas menghindar dan mencari tempat berlindung yang aman, ketika sesuatu menembus tumpukkan material tersebut dan mengguncangnya sampai rata berserakan di lantai.


Beberapa batang hijau berduri bergeliat merayap masuk setelah menghancurkan tumpukkan material tersebut. Seakan mempunyai mata pada tanduknya, batang itu mengarahkan kepalanya pada Alves dan Lu Feng.


"Lari!"


Keduanya menendang lantai dan berlari menuju lobi utama lewat jalur yang sudah terbuka. Tidak tanggung-tanggungnya Alves memungut tasnya yang tertinggal dan mengikuti Lu Feng dari belakang.


Sementara Lu Feng yang berlarian tanpa arah di lobi utama yang sudah hancur berantakan, akhirnya memilih untuk pergi ke tangga darurat di koridor dekat meja resepsionis dan menaiki tangga tanpa melihat lantai yang ditujunya.


"Hei! Sekarang kita ke mana?" teriak Lu Feng.


Tanpa berpikir panjang, Alves menjawab, "Lantai tujuh!"


Keduanya tanpa henti menapak pada anak tangga hingga mencapai pintu tangga darurat di lantai tujuh. Alves lalu mengambil alih garda depan dan segera menuju ke kamarnya yang bernomor 703.


Ketika Lu Feng berjalan melintas ke apartemen Alves, ia sempat melihat tubuh mutan hijau gepeng tidak jauh darinya dan sesuatu yang tertutup oleh kain putih.


Kondisi koridor itu yang terakhir dilihatnya sebelum ia menutup pintu dan tubuhnya merosot ke bawah. Lu Feng menyandarkan berat badannya pada pintu seraya menstabilkan napasnya yang terengah-engah.


Di satu sisi, keadaan Alves tidak jauh berbeda dengan Lu Feng. Alves menarik kursi dan mendudukinya sambil menyentuh topengnya yang menutupi sepasang mata yang mulai berdenyut akibat kemampuan psychic yang dikeluarkannya tadi.


Lu Feng melirik pada Alves lalu bertanya, "Apa kau baik-baik saja?" Rasa khawatir terdengar dari intonasinya.

__ADS_1


"Ya," sahut Alves pendek, tidak ingin berbicara lagi.


Keduanya kemudian terdiam dan terlena dalam pikirannya masing-masing untuk mencerna kejadian barusan selama beberapa saat.


__ADS_2