Psychic X Apocalypse

Psychic X Apocalypse
Bab 4 [Rencana]


__ADS_3

"Tsk." Suara decakkan lidah yang keras hampir mengagetkan Joy yang baru saja mendapat kesempatan untuk berbaring di atas tempat tidur barunya sehabis membereskan barang miliknya. Joy kembali duduk tegak di ujung kasur dengan kerutan pada wajahnya.


Apa yang membuat Gege marah? tanya Joy dalam batinnya.


Pasalnya setelah pesawat mendarat di bandara ibukota Federasi Stellar, Alves membawa Joy ke pusat perbelanjaan untuk membelikannya kebutuhan pokok dan alat khusus lainnya. Di tengah jalan-jalan, mereka mendapati semua toko penuh dengan nuansa natal dan tahun baru. Suasana meriah di akhir tahun membuat banyak toko dibanjiri pengunjung yang saling bertukar kegembiraan. Rasa sukacita pun menular dalam seisi pusat perbelanjaan.


Joy bahkan sempat meminta sebuah boneka kepada Alves yang dituruti pemuda itu. Hal ini menandakan bahwa Alves dan Joy sama-sama menikmati atmosfer harmonis itu.


Saat Alves dan Joy sampai di apartemen mewah milik Alves, senyuman samar-samar terukir pada wajah mereka. Namun selepas Joy memasuki kamar barunya dan menata barang-barang yang barusan dibelinya, tiba-tiba ia mendengar dan merasakan kekesalan Alves dari jauh.


Joy lalu pelan-pelan melebarkan pintu kamar yang tidak sempat ditutupnya, menyembulkan kepalanya di balik pintu, dan fokusnya mencari figur Alves di ruang depan.


Di ruang depan, Alves kini menatap layar ponselnya dengan ekspresi tak percaya. Lagi-lagi ia menghela napas dalam frustasinya.


Beberapa saat yang lalu, ia mengirimkan pesan ke Eliot untuk memberikannya liburan selama dua minggu. Sembari memainkan liontin merah yang dikalungkan pada lehernya, Alves menunggu balasan yang dinantinya. Tetapi pesan yang masuk pada ponselnya lima menit kemudian, berisi berita yang menjatuhkan suasana hati baiknya.


"Sesuai dengan rencana awal tahun, aku hanya bisa memberikan waktu liburan selama seminggu. Setelah itu, kamu harus pergi ke Kekaisaran Indiana untuk pelatihan berikutnya." Alves membaca setiap kata yang tertera. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa seraya menatap langit-langit apartemen dalam kekosongan.


Cuma seminggu...


Padahal Alves sudah membayangi dan menyusun rencana untuk libur akhir tahun dan menyambut awal tahun baru dengan rapi.


Dalam pikirannya, ia akan mengunjungi toko kue ternama yang baru viral akan strawberry cheesecake-nya yang lembut dan segar di dua blok samping bangunan apartemennya. Kemudian ia berjalan santai menyusuri Sungai Eden yang berkilauan dan jernih, serta menghabiskan waktu di taman dekat sungai sembari membaca novel favoritnya. Dan terakhir, ia hanya ingin berleha-leha di atas tempat tidurnya sambil menonton televisi atau bermain game selama sisa waktu liburannya.


Namun semua imajinasinya kini retak begitu saja.


Memang realita selalu menghancurkan ekspektasi.

__ADS_1


Alves kembali menghela napas. Ia membuka mata dan dari ujung matanya, ia mendapati Joy sembunyi-sembunyi mengintipnya dari kejauhan.


"Ada apa?" tanyanya segera melirik ke arah Joy.


Joy yang ketahuan mengintip lantas memperbaiki postur tubuhnya menjadi tegap. "Uhm, itu ... kapan kita akan melakukan rencananya?" tanyanya seraya berjalan mendekati Alves dan menduduki sofa di sebelah lelaki itu.


"Tidak di dalam waktu dekat ini."


Simbol tanda tanya seolah muncul di atas kepala Joy yang sangat menggambarkan perasaannya sekarang. Ia bertanya-tanya dalam hati, bukannya Ketua Eliot menyuruhku untuk cepat-cepat pergi menemui Alves-gege? Dari intonasinya yang sedikit terburu-buru, artinya rencananya harus segera dilaksanakan, bukan?


Menatap ekspresi kebingungan Joy, Alves langsung tahu perintah sesat apa yang diberikan Eliot kepada Joy. "Seminggu ini adalah hari libur. Kamu boleh pergi ke mana saja dan minggu depan kita baru pergi ke Kekaisaran Indiana," jawab Alves.


Bibir Joy spontan membentuk huruf "O". Roda gigi dalam otaknya pun bekerja dengan cepat. Joy tampak memikirkan beberapa hal dalam kurun waktu yang pendek itu, tetapi malu-malu untuk mengatakan keinginannya.


"Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" Alves mengambil inisiatif untuk bertanya.


Lantas Alves sudah dapat membayangkan apa yang akan dilakukannya selama seminggu ke depan. Pergi ke taman bermain, mengasuh anak 13 tahun ini dengan repot, melayaninya untuk pergi berbelanja ke sejumlah toko, dan yang terpenting adalah jumlah digit angka pada buku tabungan banknya tampaknya akan menurun drastis. Dahinya berkedut ketika memikirkan hal itu.


Alves akhirnya memutuskan untuk pasrah. Hitung-hitung, Joy adalah rekan kerjanya untuk beberapa waktu ke depannya dan dia hanyalah anak kecil. Sebagai orang dewasa, tentunya Alves tidak bisa menelantarkan anak berumur 13 tahun itu bukan?


"Di mana?"


Joy langsung menjawab dengan sedikit kegirangan terdengar di suaranya, "Aku mau ke Taman Elysium. Aku dengar tamannya indah dan ada banyak varietas bunga yang dipajang di sana. Terus kelihatannya pergi ke Sungai Eden yang letaknya cuma beberapa kilometer dari Taman Elysium juga tidaklah buruk. Terakhir, aku mau mencoba kue terkenal itu di Venice Bakery. Apa tidak masalah?"


Alves membulatkan matanya.


Bagus, rekan kerja barunya tampaknya memiliki selera yang sama dengannya.

__ADS_1


Dari segi kepribadian yang penurut dan menggemaskan, pemikiran yang konform dengan pandangannya, serta pilihan target hiburan yang hampir dikatakan sama persis dengannya. Alves mengangguk-anggukkan kepalanya dan merasa sangat puas dalam hatinya.


"Oke. Besok kita bisa langsung pergi mengeksplor tempat-tempat yang mau kamu kunjungi itu. Kita bisa mulai pergi ke Venice Bakery pagi-pagi untuk menghindari kemacetan, siangnya kita akan jalan-jalan di sekitar Taman Elysium, baru kita akan balik ke apartemen lewat rute yang melewati Sungai Eden pada sore harinya." Semakin lama Alves memikirkan rencana esok harinya, semakin ia tidak sabar menunggu pergantian hari.


Begitu pula dengan Joy. Mukanya berseri-seri disertai matanya yang tampak berbinar-binar, mengandung hasrat yang tidak dapat ditekannya. "Oke!"


"Hmm. Kalau begitu, hari ini gunakan waktu istirahatmu dengan baik. Apa kamu mengalami jet lag?"


Joy menggeleng. "Tidak, aku bisa mengatur waktu istirahatku sendiri. Gege tidak perlu khawatir," jawabnya.


Siapa yang khawatir? Alves meringis dalam batinnya.


"Ya sudah. Kamu bisa balik ke kamarmu," usir Alves. Ia lalu berdeham pelan. "Jangan lupa minum air putih yang banyak," tambahnya dengan suara rendah.


Joy mengerjapkan mata. "Iya, Gege juga jangan begadang terus. Ketua Eliot menyuruhku untuk memastikan agar Gege mendapat istirahat yang cukup. Dan ... biar penyakit lama Gege tidak muncul lagi." Setelah mengatakan demikian, Joy langsung berlari masuk ke kamarnya seakan mengetahui bahwa ia akan mendapat omelan dan cibiran dari Alves.


Alves tidak sempat membantah ucapan Joy. Dan kalau pun ia punya waktu untuk menyangkalnya, perkataan anak itu memanglah tidak dapat disebut salah. Alves seringkali tidur lewat tengah malam, seolah tidak ingin menutup matanya dalam kurun waktu yang lama.


Meski itu, Alves paham dengan kecemasan Eliot dan Joy. Ketidaksukaannya terhadap kegelapan harus diredamnya. Ia masih butuh istirahat yang cukup layaknya seorang manusia normal perlu tidur dalam jangka waktu tertentu.


Menjelang malam, Alves memutuskan untuk tidur lebih cepat dari biasanya. Untuk menyambut hari esok yang akan menguras banyak energi, Alves dengan enggan membaringkan tubuhnya di atas kasur sembari menatap kosong. Ia lalu melepaskan kacamata hitam dari wajahnya dan diletakkan di atas nakas.


Seketika penglihatannya padam. Seonggok sinar terang pun tidak terlihat dari perspektif Alves. Bahkan bayang-bayang yang memudar tak muncul. Seolah kacamata hitam tersebut merupakan satu-satunya sumber cahaya dan ketika benda itu terlepas dari tubuhnya akan membuat Alves berjalan tanpa arah.


Namun Alves tahu. Sekelilingnya masih dalam keadaan terang-benderang sebab lampu kamar tidak ia matikan.


Hanya ia yang kehilangan cahaya.

__ADS_1


__ADS_2