
Di dalam sebuah ruangan kamar, seorang gadis duduk termenung dengan pandangan terus menuju ke pintu masuk, berharap orang yang ia tunggu selama empat hari ini datang menemuinya. Namun sudah hampir semalaman ia menunggu tetapi orang yang ditunggu tidak juga memunculkan batang hidungnya.
Hera menghela nafas lelah, ia sudah mencoba bertanya pada Luna Meghan namun Luna Meghan sama sekali tidak tau menau tentang keberadaan Ares. Hera takut terjadi sesuatu yang buruk kepada matenya itu, ia takut ucapan Luna Meghan tempo hari menjadi kenyataan. Hera sudah memutuskan bahwa ia sendiri yang akan mencari Ares besok.
"Ya, aku harus mencarinya."
∆∆∆
"HA HA HA HA!" suara tawa terdengar nyaring saat orang itu memasuki sebuah ruangan yang tak layak disebut ruangan.
"Grrrr ... apa yang kau lakukan?!"
"Alpha, tolong pikirkan keadaan Anda. Anda perlu tanda itu, Alpha." Mohon orang yang baru masuk itu, ia merupakan Beta dari Alpha tersebut.
"Aku tidak ingin menyakiti mate ku,"
"Tapi, Anda akan menyakiti diri Anda--"
"AKU TAK PERDULI!!" teriak Alpha itu.
"Ares! Ku mohon--"
"Grrrrrrr! Aku Blacky, bukan Ares!" geramnya. Matanya pun sudah berubah menjadi hitam pekat.
"Grrr, pergi atau aku akan membunuhmu!" lagi-lagi Blacky menggeram.
Tanpa menunggu lama Beta Jack pun pergi meninggalkan ruangan dimana Ares atau Blacky itu terikat, tentu saja ia membungkuk hormat terlebih dahulu.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa Ares berada di dalam ruangan dengan keadaan mengenaskan. Jadi, ketika klan serigala sudah bertemu dengan pasangannya maka seharusnya pasangan laki-laki secepatnya akan memberi sebuah tanda yang akan memperkuat ikatan batin antara keduanya. Jika tidak dilakukan dengan cepat maka pasangan laki-laki akan merasakan sakit yang melanda tubuhnya.
Dan hal tersebut berlaku juga kepada seorang Alpha. Bahkan rasa sakit seorang Alpha akan beribu kali lipat lebih sakit daripada serigala biasa. Bahkan rasa sakit itu perlahan bisa membunuhnya. Disaat itu pula kekuatan mereka tidak terkontrol, beruntunglah mereka yang memiliki serigala yang tidak ganas. Jika mereka memiliki serigala yang ganas maka mereka akan menjelma menjadi monster bagi semua orang bahkan monster untuk dirinya sendiri. Makin ganasnya seekor serigala semakin sulit pula untuk human mengontrol serigala dan kekuatannya. Dan itu sama halnya seperti Ares yang memiliki serigala yang sangat ganas, tentu saja hal itu membuatnya menjelma menjadi monster yang menyeramkan.
Selama empat hari berturut turut, tidak ada asupan makanan maupun minuman. Percuma saja, ketika omega memberikannya maka mereka keluar ruangan hanya tinggal nama saja.
∆∆∆
Hera berjalan cepat ketika seorang warrior mengatakan bahwa Beta Jack menyuruhnya pergi ke taman pack, Hera penasaran apa yang membuat Beta Jack ingin menemuinya.
"Pelan-pelan, Luna. Anda bisa terjatuh," tegur Manuwella pada Hera yang berjalan cepat dengan dress panjang yang ia kenakan.
"Cepatlah, Wella. Kau berjalan sangat lamban," kata Hera.
Manuwella hanya bisa menggaruk pipinya yang tak gatal, bukan ia yang lamban tapi Luna Hera lah yang berjalan sangat cepat.
__ADS_1
Hera langsung mengedarkan pandangannya untuk menemukan keberadaan Beta Jack.
"Salam, Luna Hera," ucap seseorang dibelakangnya seraya membungkuk hormat.
Hera membalikkan tubuhnya. "Jack? Kenapa kau ingin menemuiku?" tanya Hera to the point kepada Jack.
"Apa kau tau dimana Ares?" tanya Hera lagi, pasalnya ia selalu melihat Jack sendirian berkeliaran di mansion ini.
Jack nampak menghela nafasnya, lalu memandang mate dari Alpha nya itu. Semoga saja Luna Hera bisa menyelesaikan masalah ini, seperti itulah kira-kira di dalam pikiran Jack saat ini.
"Luna Hera," kata Jack.
Her masih menunggu ucapan yang keluar dari Beta Jack.
"Tolong bantu Alpha," kata Jack.
"Bantu? Bantu apa?" tanya Hera bingung. "Kemana Ares? Aku ingin menemuinya," katanya lagi.
"Luna, seorang manusia serigala akan menandai matenya ketika mereka bertemu." Hera mengernyit bingung mendengar ucapan Jack.
"Pasangan laki-laki akan merasakan sakit yang jika mereka menunda penandaan tersebut, apalagi bagi seorang Alpha, mereka akan menyakiti tubuhnya sendiri," sambung Jack lagi dan kali ini Hera mengerti arah pembicaraan Jack.
"Dimana Ares sekarang?" tanya Hera, sebenarnya air mata gadis itu sudah mulai keluar namun ia masih bisa menahannya.
"Mari ikut saya,"
"Masuklah, Luna. Saya yakin tanpa bantuan Mariana pun Anda bisa membuka pintu itu," kata Jack.
Dengan tergesa Hera membuka pintu itu, Manuwella menunggu diluar bersama Jack.
Hera menutup mulutnya, air mata pun langsung keluar tanpa bisa ia tahan ketika melihat orang di depannya ini dalam keadaan mengenaskan.
Kaki tangannya terikat rantai, darah kering menghiasi tubuh orang itu. Tangan kaki yang terikat rantai mengeluarkan darah karena ia terus mengamuk.
"Ares ... " lirihnya, Hera tak kuasa lagi ia langsung berlari menerjang Ares dengan pelukannya.
"Hiks, Ares ... kau kenapa? Kenapa terikat seperti ini?" isak Hera dengan masih memeluk Ares yang menutup matanya sambil berdiri. Entah pingsan atau tidur Hera pun tidak tau.
"Ares, bangun hiks," kata Hera sambil berusaha melepaskan rantai yang mengikat Ares.
Grrr
Hera mendengar geraman keluar dari mulut Ares.
__ADS_1
"Ares,"
"Grrrr pergi," kata Ares disertai geraman.
Hera menggeleng lalu memeluk Ares lagi. "Tidak, aku tidak akan pergi," Hera masih menangis di dalam pelukan Ares.
"Pergi," lagi-lagi Ares mengatakan kata yang sama. Dan lagi lagi Hera menggeleng.
Grrrr
"Pergi!"
"Argh!" Hera memekik kala punggungnya terlempar ke dinding.
"A-res?" Hera tak percaya dengan orang yang sudah mendorongnya ini. Lagi-lagi air mata itu keluar yang sendirinya.
Mata Ares berubah-ubah. "Pergilah sweety mate, aku ... aku tidak ingin menyakitimu lagi," kata Ares lemah karena kekuatan nya habis melawan Blacky yang sulit dikendalikan.
"Tidak, Ares--"
"Aku bukan Ares, grrrrr," kata Ares.
Hera mengernyit, memang benar ini bukan suara Ares. Suara ini lebih berat dari suara Ares biasanya. "Si-apa?"
"Grrr ... Blacky."
"Blacky, aku, aku ingin berbicara dengan Ares,"
"Mate tidak menyukaiku?!" geramnya.
"Bukan, bukan seperti itu, aku --Argh!"
Lagi-lagi Hera memekik kala tubuhnya menghantam dinding keras itu, entah bagaimana Blacky melakukan itu padahal tubuhnya sedang terikat.
"ARGHHHH!!" Blacky meraung merasakan tubuhnya seperti terbakar dan tertusuk ribuan anak panah, rantai yang mengikat tubuhnya pun kini terlepas.
"ARGHHHHHHHHH!! Sa-kit!" kata Blacky yang sudah mengelinjang di lantai. "Per-gi! " katanya pada Hera yang masih syok dengan apa yang barusan terjadi.
Hera menggeleng lalu berlari lagi memeluk tubuh Ares atau Blacky yang kesakitan.
"Tidak, aku tidak akan pergi hiks, tandai aku, tandai aku," kata Hera sambil memeluk tubuh besar Ares
"Mate? Sungguh, mate ingin?" tanya Blacky yang sepertinya sudah melunak. Dan sepertinya jugw rasa sakit yang dirasakannya juga menghilang.
__ADS_1
Hera mengangguk, ia mengelus wajah tampan Ares yang dihiasi darah kering itu. "Tandai aku, tapi aku ingin Ares melakukannya." kata Hera sambil mengelus rahang Ares.
Blacky menggeram. "Aku benci mate! Mate tidak suka aku! Grrrrr!"