Queen Of The Earth

Queen Of The Earth
QotE 51 ∆Zeusares Comeback∆


__ADS_3

"Wow aku sangat tersanjung mendengar itu, Alpha. Ternyata kehadiran ku di sini di sambut baik oleh kalian," ucapnya. "Jadi, bisakah kita memulainya sekarang?"


Splash!


Arghhh!


Peeter langsung menyerang Alpha Zeus. Alpha Zeus yang tidak fokus langsung tepental akibat serangan Peeter.


"Bermainlah, ha ha ha,"


Para penduduk pack yang sudah terpengaruh itu langsung menyerang para warrior yang sudah berkumpul.


Alpha Zeus bertukar shift dengan serigalanya, ia langsung menerjang Peeter. Tetapi karena Peeter merupakan seorang vampir jadi sangat mudah ia menghindar.


"Aku tidak akan kalah seperti dulu lagi, Zeus!" ucap Peeter. Semua ini ia lakukan untuk membalas dendam sang kakak dan juga matenya.


Grrrrrr!


Alpha Zeus kembali menjadi manusia normal, ia tidak mengenakan baju sehelai benangpun.


Ia mengacungkan pedang perak yang ditakuti klan vampir maupun klan serigala.


Dengan lihai Alpha Zeus memainkan pedangnya.


Sring


Sring


Sring


Dengan sekali tebasan, para vampir liar itu langsung menjadi abu.


Para warrior juga banyak yang gugur karena para penduduk pack yang memihak pada Peeter.


Alpha Zeus murka melihat para penduduk yang berkhianat itu, ia kembali mengacungkan pedangnya pada siapapun yang berani menghalangi langkahnya.


"Apa yang akan difikirkan alpha Ares jika penduduknya habis dibantai oeh ayahnya sendiri? Semoga saja alpha Ares tidak membenci Anda, Alpha," ucap Peeter.


Grrrr


"Jangan banyak bicara, Peeter! Selesaikan pertarungan ini!"


Kembali Alpha Zeus menyerang Peeter. Dengan lihai Peeter memainkan pedangnya.


"Aku punya pilihan, kalian mati dan pack ini untukku, atau kalian hidup dan pack ini untukku?"


"Jangan bermimpi!" Alpha Zeus menyingkirkan pedang yang berada tepat di depan wajahnya. "Sampai kapanpun, pack anakku tidak akan jadi milikmu!"


Peeter tertawa, saat ia tertawa itulah Alpha Zeus langsung menggores dada Peeter.

__ADS_1


"Shh, luka seperti ini hanyalah seujung kuku ku saja, jadi jangan berharap aku bisa mati," ucapnya. Kini Peeter mulai membalas serangan Alpha Zeus.


Lama kelamaan halaman mansion yang luas ini berkumpul Alpha, Beta, maupun Gamma.


"Mengapa kalian ke sini?! Siapa yang menjaga perbatasan?!" sentak Alpha Zeus. Masih dengan menyerang beberapa vampir.


Tadinya ia menyerang Peeter tapi pangeran vampir itu mundur digantikan dengan bawahannya.


"Kita di jebak seperti kemarin, Alpha! Semua vampir ini hanyalah ilusi, mereka akan bertambah banyak jika kita membunuhnya!" ucap Beta Jack.


"Kita bisa melawan semua ini jika sumber dari ilusi tersebut musnah," sambung Gamma Eric.


"Black witch!" desis Alpha Zeus.


∆∆∆


Mariana, Manos--pemimpin klan elf, Trixsy--pemimpin klan peri, beserta Orlando bergabung untuk membuat sebuah perisai yang diperuntukkan untuk para wanita dan anak-anak. Di sana sudah ada Luna Meghan yang memimpin perjalanan mereka menuju tempat rahasia selama perang dilakukan.


"Aku melihat adanya kejanggalan pada pangeran vampir itu," ucap Mariana.


"Matanya hitam, bukan bening tapi lebih ke pekat," ucap Orlando.


"Kau juga menyadarinya?" tanya Mariana.


"Kami para malaikat selalu tau sifat alami yang berubah dari setiap makhluk," jawabnya.


"Kalian benar, energi pangeran itu sebenarnya baik, tapi aku juga merasakan energi yang lain," kata peri kecil Trixsy.


"Hanya kita yang percaya bahwa Peeter adalah orang baik yang tersakiti,"


"Black witch belum muncul, aku khawatir mereka akan datang ketika pasukan sudah habis dan kelelahan," ucap Trixsy.


"Mariana! Gawat, para vampir membuat ilusi lagi seperti kemarin," ucap salah satu warrior yang ditugaskan untuk memanggil Mariana.


"Tenanglah, Alpha Zeus tidak bodoh, dia tau bagaimana cara melawan ilusi itu," jawab Mariana.


"Tapi Alpha menyuruhku untuk memanggilmu,"


"Itu hanya akal-akalan Alpha saja,"


∆∆∆


"Bagaimana ini? Bulan sudah menampakkan dirinya, sedangkan kita belum menemukan ibuku," ucap Hera khawatir. Bulan memang sudah muncul, hanya saja ia belum bersinar dikarenakan masih ada matahari.


"Kita harus berpencar! Kita bisa menggunakan mindlink jika menemukan batu itu," ucap Manuwella memberi saran.


"Tapi kita tidak tau seperti apa batu semedi!" ucap Jose. "Dan kita akan memakan waktu yang sangat lama! Kita hanya memiliki waktu sekitar satu jam dari sekarang sebelum matahari benar-benar tenggelam dan bulan purnama biru akan bersinar," lanjutnya.


Tubuh Hera meluruh, air matanya langsung mengalir. Ia menatap bulan purnama yang sudah muncul, bagaimana ini? Apakah kali ini ia tidak berhasil? Apakah ibunya akan selamanya menyatu dalam tanah? Dan alam semesta ini akan hancur? Apa lagi yang harus ia lakukan? Rasanya ia sudah pasrah akan keadaan, ia sudah berusaha semampunya untuk sampai pada titik ini.

__ADS_1


Hera menyatukan kedua tangannya, selama ini ia memang belum meminta hal besar kepada sang kuasa, dan kali ini ia berharap permintaannya terkabulkan.


'Tuhan, Moon Goddess, aku mohon bantulah aku untuk menemukan titik terang jalan ini, jangan biarkan dunia ini dikuasai oleh makhluk serakah. Selama ini aku tidak pernah sekalipun meminta sesuatu yang besar, aku tidak pernah mengeluh akan hidupku yang begitu menyulitkan. Tapi kali ini, ku mohon kabulkan doaku,'


"Hera, aku tidak tau ini gagal atau tidak, yang jelas ayo kita berusaha semampu kita," ucap Jose.


"Jose benar, Luna. Meskipun kita tidak tau batu semedi seperti apa, tetapi saya yakin batu semedi itu merupakan batu yang besar dan tinggi, kita harus mencarinya," sambung Wella.


Hera menghapus air matanya, ia berdiri. "Aku akan berusaha semampuku, bantulah aku," ucap Hera.


Jose dan Wella berpandangan lalu mengangguk.


Mereka berpencar untuk mencari batu semedi itu. Hera terus merapalkan doa agar diberi petunjuk oleh sang pencipta.


'Nak,'


Suara itu muncul lagi, Hera sangat yakin ini bukan khayalannya. Sedikit terbesit dalam benaknya itu adalah suara sang ibu.


'Anakku,'


Hera memejamkan matanya, benar ini suara ibu.


'Jika suara ini benar suara ibu, kumohon, bantulah aku menemukan ibu, berikan aku petunjuk,' batin Hera.


Angin salju menyapu lembut anak rambut Hera. Hera pun membuka matanya.


'Pergilah ke Utara, temukan aku. Kita akan menaklukkan para penjahat di dunia ini,'


∆∆∆


Halaman Mansion utama,


'Perhatikan matanya, jika mata itu tidak memandang kita artinya itu hanyalah ilusi, jangan diserang karena akan percuma,' mindlink Alpha Zeus pada Beta, Gamma, beserta warrior lainnya.


Mereka mulai menyerang kembali, saat ini pasukan Peeter mulai mengurang, para penduduk pack yang berkhianat mulai berjatuhan. Hal ini membuat semangat Alpha Zeus dan yang lainnya semakin tinggi.


Peeter yang melihat jumlah mereka sudah berkurang, langsung menghubungi Rexi dan juga pasukan vampir lainnya yang masih tersisa.


Tidak berapa lama, pasukan baru kembali datang, dan hal itu membuat Peeter tersenyum miring.


"Jangan senang dulu, Alpha. Aku masih memiliki pasukan yang akan menghabisimu," ucap Peeter.


Alpha Zeus berdecih. Mereka kembali mendentingkan pedang, Alpha Zeus yang seharusnya tidak berperang lagi kini sudah kelelahan. Luka sayatan di tubuhnya sudah membanyak. Melemahnya Alpha Zeus dimanfaatkan oleh Peeter untuk membalikkan serangan.


Lagi-lagi Peeter tersenyum miring melihat keadaan Alpha Zeus yang melemah, ia bergerak cepat ke belakang pria itu. Dengan cepat ia menancapkan pedang pada jantung Alpha Zeus jika saja sebuah pedang lainnya tidak menangkis pedang yang ia gunakan.


"Kita bertemu lagi, Peeter," ucap orang itu. Aura perang dalam tubuhnya sangat pekat, tatapan tajamnya yang menusuk serta seringaian yang ia keluarkan membuat siapapun bergidik ngeri.


Peeter berdesis, ia menatap nanar orang itu. "Ares!"

__ADS_1


∆∆∆


Welcome back, Ares🤗🤗🤗


__ADS_2