
"Apakah kalian beristirahat dengan nyaman?" tanya Marine ketika melihat Hera dan teman-teman keluar dari kamar tersebut.
"Sangat nyaman! Rasanya aku ingin tidur sepuasnya," celetuk Jose.
Marine tersenyum. "Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya. Kalian boleh beristirahat lagi,"
Hera tersenyum. "Kami sudah cukup beristirahat, Marine."
"Bolehkah aku berbicara dengan kalian?" tanya Marine.
Hera mengangguk. "Silahkan, kami juga ingin bertanya banyak denganmu," ungkap Hera.
"Mari mengobrol, tetapi bukan di sini, ayo ikuti aku."
Tiba-tiba aura di sekitar sini semakin gelap, tidak nyaman. Dan hal tersebut dirasakan oleh semua yang berada di sana.
"Ada apa ini?" tanya Marina.
Seekor mermaid datang dengan raut cemas.
"Carlos apa yang terjadi?"
"Perisai mulai melemah, Marine. Serangan Marianta sudah hampir membuat kita kehilangan banyak penduduk," jawab Carlos yang merupakan mermaid man.
Marine merenung. Pasti para penduduk murka karena kosongnya kepemimpinan Aquamarine Kingdom ini. Marine hanya bisa berdoa semoga dewa Neptunus bisa dengan cepat mempertemukan Putri Mahkota dengan matenya.
"Ada apa, Marine? Mungkin kami bisa menolong kalian," ucap Hera. Karena ia juga merasakan kekalutan berada dalam wajah Marine.
"Hera, aku tidak tau apakah kalian adalah sang penolong yang telah diramalkan. Tetapi meskipun kalian bukan orangnya, kami mohon bantulah kerajaan kami,"
"Kami akan membantumu sebisa kami, tetapi dimana Ratu dan Raja? Mereka harus tau keadaan kerajaan saat ini." Dari mereka datang ke sini sampai sekarang, Hera belum pernah melihat raja dan ratu Aquamarine Kingdom ini.
Marine menghela nafasnya. "Mereka sudah musnah di tangan Marianta, sekarang singgasana kosong, para rakyat memberontak karena kekosongan itu. Dan hal tersebut di manfaatkan oleh Marianta untuk merebut kerajaan ini, ia menghasut para rakyat agar menyetujui agar ia menjadi penguasa kerajaan ini," jawab Marine ia menjelaskannya tanpa ragu sedikitpun.
"Apa tidak ada yang bisa memimpin kerajaan untuk sementara ini? Seperti putra mahkota?"
"Tidak ada putra mahkota, raja dan ratu hanya memiliki putri mahkota yang bisa menggantikan raja dan ratu. Tetapi, putri mahkota belum menemukan mate nya, karena bagi kaum mermaid seorang ratu ataupun raja harus memiliki pasangannya ketika mereka memimpin kerajaan," jelas Marine.
"Siapa putri mahkota itu? Mungkin kami bisa membantunya dalam menemukan mate."
"Putri mahkota adalah Merliah,"
__ADS_1
Merliah maju memandang Hera. Ia menggeleng pelan. "Tidak perlu, Hera. Kalian tidak perlu membantuku mencari mate karena aku sudah menemukannya," jawab Merliah, sebenarnya ia sudah lama menemukan mate hanya saja matenya tidak mau membuka rahasia itu hanya karena perbedaan kasta yang mereka miliki.
Marine terkejut mendengar pengakuan cucunya. "Mengapa kau tidak mengatakannya padaku? Siapa dia?" tanya Marine.
Merliah menatap Carlos, laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Tidak, kali ini Carlos tidak bisa menghalanginya lagi. "Carlos, mateku adalah Carlos,"
Carlos memejamkan matanya, terkutuklah dirinya yang hanya merupakan pengawal pribadi matenya sendiri.
∆∆∆
"Vampir sialan itu ternyata dalang dari semua ini!" desis Alpha Zeus.
"Sudah ku bilang, kalian tidak akan bisa melawanku!" kata Rydoch. Laki-laki itu sudah dipenuhi banyak darah namun tidak sedikitpun kejahatan luntur darinya.
Lagi-lagi Rydoch dan para vampir menyerang Alpha Zeus dan Gamma Eric beserta para warrior yang masih tersisa. Mereka tertawa pongah ketika melihat ketidakberdayaan Alpha Zeus beserta Gamma Eric.
Rydoch menintingkan pandangannya ke Alpha Zeus, dalam sekali kejaran ia sudah sampai di depan serigala itu.
"ALPHA!"
Alpha Zeus memejamkan matanya, hal yang ia ingat sekarang hanyalah senyum menenangkan milik istrinya, Luna Meghan.
Namun hingga seperkian detik tidak ada yang terjadi kepadanya, ia hanya merasakan percikan darah yang mengenai serigalanya itu.
"Ares?!"
Ares menggeram atau lebih tepatnya Blacky, ia maju menuju Rydoch yang masih berdiri dengan seringaian yang melekat padanya.
"Kenapa, Alpha? Apakah aku-Arghhh!"
Blacky menyerang Rydoch tanpa ampun, pertarungan itupun kembali terjadi dengan bantuan Alpha Ares dan Beta Jack beserta pasukan yang di bawa Alpha Ares.
"Kau akan menanggung akibatnya karena sudah berani menapakkan kakimu di sini!" Ancam Blacky.
Rydoch berdecih. "Sebelum kau--"
Blacky langsung menghantam leher Rydoch ke batu besar di sana, ia yang masih geram dengan Traitor itu kembali menghajarnya. Blacky yang sudah menjadi monster itu menginjak leher Rydoch yang masih tergeletak di batu. Seketika itu pula Rydoch gugur di peperangan.
"AUUUUUU!!!" Mendengar auman kemenangan milik Blacky membuat para traitors lari menyelamatkan diri.
Peperangan masih berlanjut dengan Vampire yang terus saja berdatangan dan menyerang kawanan Alpha Ares.
__ADS_1
"Di mana raja kalian!" geram Blacky.
"Bukankah terlalu pengecut jika hanya mengandalkan para cecunguknya ini?" lanjut Blacky agar sang raja vampire menampakkan dirinya.
Peeter tidak muncul melainkan hanya vampir lain saja yang terus berdatangan. Ares kewalahan karena vampir itu semakin dibunuh semakin menggandakan dirinya, sehingga pasukan vampir itu semakin banyak. Ini pasti sihir yang membuat ilusi optik bagi kawanan serigala. Sial!
"ARGHHHH!" Blacky meraung kala sebuah pedang menancap di dada sebelah kirinya. Dan sialnya juga pedang ita dalah pedang perak dengan racun wolfsbone berada ada mata pedang itu.
Blacky hampir tewas jika saja tidak ada kawanan malaikat yang turun dan mengamankan serigala yang tersisa. Alpha Zeus beserta Gamma Eric pun dibawa serta oleh para malaikat tersebut.
Peperangan berhenti karena para serigala itu sudah menghilang dibawa malaikat. Peeter yang sedari tadi hanya menyaksikan hanya bisa memandang geram pada klan bersayap itu.
"Awas kau Ares! Aku takkan membiarkanmu begitu saja!"
∆∆∆
"Mengapa kalian tidak memberitahuku?!" sentak Marine ketika Merliah mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia dan matenya tutupi itu.
"Tuan putri tidak bersalah, Marine. Aku yang pantas disalahkan di sini, karena aku yang menyuruhnya agar tetap diam."
Marine mengembuskan nafasnya. "Sudahlah, kita harus cepat melakukan upacara pernikahan dan pemindahan kekuasaan, sebelum Marianta menguasai semuanya."
Mereka mengangguk. Namun beberapa saat kemudian sesosok mermaid hijau langsung mendatangi mereka diikuti para monster laut, bahkan hiu Megalodon yang katanya sudah punah itu pun turut menjadi pengawal wanita itu.
"Kalian kurang cepat Mariana ha ha ha,"
"Marianta!" desis Marine tajam.
"Wow sudah lama aku tidak mengunjungi kerajaan anakmu ini, saudariku." Ia mulai berenang mendekati Marine. "Bukankah terlalu awal jika aku datang bertamu lalu menjadi pemimpin kerjaan ini?"
"Dalam mimpimu Marianta! Selama kami masih memiliki batu Aquamarine, kau tidak akan bisa mengambil alih kerajaan ini! Meskipun kau memusnahkan segalanya!"
"Ha ha ha, benarkah? Ah aku ingin tahu seperti apa bentuk batu Aquamarine itu,"
"Kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya! Dan kau tidak akan bisa menemukannya!" lagi-lagi Marine berkata tajam. Emosi wanita itu benar benar benar sudah di ujung tanduk melihat saudari kembarnya yanh selalu rakus dan serakah akan kekuasaan.
"Sayang, apakah kau melihat batu yang kubeli hanya dengan satu sisik ikan Tuna itu?" tanya Marianta pada seekor mermaid man tua yang Hera yakini adalah pasangan Marianta ini.
"Bukankah kau menyimpannya di salah satu tiaramu, Sayang?" jawab laki-laki itu.
"Oh iya," Marianta mengambil batu yang ia maksud itu. "Apakah ini batu yang kalian maksud?" Marianta mengangkat batu yang berukuran seperti ujung jempol yang memiliki warna sebiru lautan itu. Bukan batu, tetapi lebih ke logam mulia, itulah yang bisa Hera tangkap.
__ADS_1
Marine, Merliah dan Carlos dibuat terkejut dengan batu berwarna biru lautan itu sudah berada di tangan Marianta.
"Batu Aquamarine,"