Queen Of The Earth

Queen Of The Earth
QotE 48 ∆Mengendalikan Api∆


__ADS_3

"Benar, My Queen. Hamba adalah kekuatan Anda, Restvefire Controller. Kekuatan pengendali api, kekuatan ini muncul karena penyihir api yang mencoba untuk menyelamatkan Anda meskipun sebenarnya kekuatannya tidak mampu. Berkat ketulusan dan kegigihan yang ia miliki, saya mengijinkan dia untuk  mencapai level biru dengan cepat."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Restvefire Controller langsung berubah menjadi api. Ia masuk ke dalam liontin yang Hera miliki. Liontin tersebut sudah penuh, tidak ada lagi lubang liontin yang tersisa yang artinya kekuatan Hera berdasarkan liontin tersebut sudah terkumpul.


Tubuh Joselyn yang awalnya menghilangkan sekarang sudah kembali ketika Restvefire Controller masuk ke dalam liontin Hera.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Hera, mereka sudah mendekati Joselyn yang tampak linglung itu.


"Apa? Mengapa aku seperti bangun tidur? Apa yang terjadi?" tanya Joselyn beruntun, terakhir Jose ingat adalah dia melawan badai dengan api biru.


"Astaga! Aku melihat dengan jelas bahwa api yang ku keluarkan adalah biru!" seru Jose.


"Ya, karena kekuatan Luna yang mempercepat kenaikan tingkat untukmu. Berterima kasihlah karena kau tidak perlu untuk menunggu hingga berpuluh tahun lagi," jawab Manuwella.


Mulut Jose terbuka. "Benarkah?" tanyanya takjub.


"Aku tidak tau, tapi Restvefire Controller mengatakan persis seperti Jose bilang," ucap Hera.


Jose langsung menerjang Hera dengan pelukan. "Terima kasih, Hera! Kau memang yang terbaik!" serunya disertai kecupan di akhir kalimat.


"Jose aku merasa mual mencium aroma mu, bisakah kau tidak memelukku?" tanya Hera tak enak hati. Pasalnya rasa mual itu tiba-tiba datang sendiri, ia tidak tau mengapa rasanya mual ketika Jose memeluknya. Padahal aroma Jose berbau buah-buahan.


Ngomong-ngomong mengapa Hera rasanya kepingin makan buah apel? Apel seperti di panti dulu, apel hitam.


Astaga! Dia sangat merindukan ibu panti dan adik pantinya. Tanpa terasa air mata Hera mengalir. Sudah lama dia berada di sini, pasti orang-orang di dunia manusia mencarinya apalagi ibu panti yang setiap minggu selalu menelpon. Dan juga pasti banyak pelanggannya di St*rbucks yang merindukan kopi racikannya.


"Hera maafkan aku, aku hanya terlalu senang tadi, aku tidak bermaksud memelukmu," ucap Jose menyesal. Ia tidak marah, bahkan Jose tau bahwa Hera sedang dalam masa sensitif jadi dia memaklumi hal tersebut.


"Hiks, aku tidak marah hanya saja aku ingin makan apel hitam di panti hiks, aku juga rindu mereka terutama ibu panti hiks," ucap Hera disertai isakan yang ia keluarkan. Entah mengapa tangis itu semakin kuat yang awalnya hanya isakan sekarang tambah menjadi.


Manuwella mengernyit bingung, ia menatap Joselyn yang sedang memandang Hera dengan tatapan bengong.


'Jose, apa yang terjadi? Mengapa Luna jadi seperti ini? Apakah pengaruh dari kekuatannya yang baru masuk itu?' tanya Wella melalui mindlink.


'Kau harus tau sesuatu, Hera sedang mengandung--'


"Apa?! Luna sedang mengandung?! Mengapa kau tidak memberitahu ku, Jose?! Dengan begitu aku bisa lebih ketat menjaganya!" kata Manuwella tanpa melalui mindlink yang pastinya akan terdengar oleh Hera.


Hera mendongak, Wella bilang apa? Dia sedang mengandung?


"Apa maksudmu, Wella? Aku sedang mengandung? Benarkah?" tanya Hera, kembali matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


Jose menelan ludahnya, ia mengutuk dirinya yang telah menyembunyikan kehamilan Hera. Sebenarnya dia ada alasan mengapa tidak memberitahukan hal tersebut, dia hanya tidak ingin Hera menjadi lemah hanya karena bayi yang ia kandung.


"Benar, Hera. Tapi aku mohon jangan jadikan alasan untuk kau menjadi lemah, jadikanlah kehamilanmu sebagai penyemangat untuk menyelesaikan semua ini," saran Jose.


Hera mengangguk dengan air mata yang mengalir, dia tidak percaya ini, dia tidak percaya bahwa ada makhluk lain yang berada di dalam tubuhnya selain Berry. Ia tidak percaya bahwa buah cintanya bersama Ares kini sudah terbentuk dalam rahimnya. Ia harap Ares akan senang mendengar berita ini.


Namun tiba-tiba Hera dirundung kegelisahan, apakah tidak apa-apa memiliki anak sebelum menikah? Apakah tidak apa-apa memiliki anak tanpa status pernikahan? Bagaimana dengan anak mereka nantinya?


"Kenapa Hera? Apa kau tidak senang?" tanya Jose yang menangkap kegelisahan yang berada di gerak-gerik Hera.


"Aku sangat senang, bahkan aku tidak bisa mendeskripsikan perasaan ini. Tapi aku merasa takut," Hera memandang Jose dan Wella bergantian, "apa tidak apa-apa memiliki anak tanpa status pernikahan yang jelas? Apa tidak berpengaruh pada anakku nanti?" tanya Hera. Ia mengelus perutnya yang masih sangat rata itu.


Tiba-tiba terdengar suara tawa yang berasal dari Joselyn. "Astaga, Hera. Apa kau sedang bercanda?" Lagi-lagi Jose tertawa, ia merasa lucu mendengar ucapan Hera itu.


"Hera, dengarkan aku. Dunia ini tidak seperti dunia manusia. Dunia ini dimana kau menemukan mate maka kau sudah dianggap menikah seperti di dunia manusia. Makanya ada pengangkatan Luna, selain pengangkatan Luna kau juga sudah melakukan ritual pernikahan tetapi berbeda dari pernikahan yang berada di dunia manusia," jelas Jose.


"Tapi, pengangkatan Luna hanya bagi mereka yang berpasangan dengan Alpha, lalu bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Hera.


"Mereka juga melakukan ritual, dan ritual tersebut mereka lakukan pada bulan purnama pertama mereka bertemu sebagai mate," jelas Jose lagi.


Hera mengangguk mengerti, rasanya hatinya mulai sedikit lebih baik mendengar penjelasan dari Jose.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan ini," ucap Hera, ia berjalan mendahului Jose dan Wella.


Hera berhenti, ia menatap Joselyn.


"Apalagi?" tanya Hera.


"Apa kau sudah bisa mengendalikan api milikmu?" tanya Jose.


Hera menggeleng. "Bagaimana caranya?"


"Aku akan mengajarkannya," Joselyn mendekati Hera. "Yang pertama kau harus berkonsentrasi, lalu arahkan tanganmu pada sesuatu yang akan kau bakar,"


Hera lalu mengarahkan tangannya ke salah satu pohon tumbang yang diselimuti salju tebal.


"Setelah itu kau harus mengucapkan sebuah mantera,"


"Mantera apa? Restvefire Controller tidak mengatakannya padaku," kata Hera bingung.


"Ah atau mungkin kau tidak perlu mantera? Mengingat kau selalu menggunakan kekuatanmu dengan apa yang kau fikirkan saja,"

__ADS_1


Hera mengangguk dengan penuturan Joselyn.


"Kalau begitu kau hanya perlu membayangkan akan seperti apa jadinya."


Lagi-lagi Hera mengangguk, ia membayangkan sebuah api merah melingkupi batang pohon tersebut. Lalu tak berapa lama pohon tersebut langsung dikelilingi api merah.


Hera membayangkan lagi apinya seperti api yang dikeluarkan oleh Jose tadi, lalu sama seperti tadi api tersebut berubah menjadi berwarna biru.


Jose memandang takjub, perubahan api merah ke biru secara langsung adalah pemandangan yang sangat indah. Hanya orang yang memiliki kekuatan api putih yang bisa melakukan hal tersebut.


Api putih? Apakah Hera juga memiliki api putih?


'Hera, cobalah bayangkan api putih,' kata Jose melalui mindlink.


Lagi-lagi Hera membayangkan perubahan api biru menjadi putih seperti perkumpulan sebuah cahaya.


Dan seketika itu pula api itu berangsur berubah menjadi sebuah cahaya putih yang bersinar.


Mata Jose membulat sempurna, ia rasanya tidak bisa bernafas melihat pemandangan yang sangat langka ini, dimana api putih bisa ia lihat secara dekat.


Lagi-lagi ia merasa takjub dengan kombinasi api putih, biru, dan merah yang dibuat oleh Hera.


Hera membuka matanya, api itu masih menyala. Ia tersenyum, ternyata ia bisa membuat api yang sama seperti Jose. Tapi, kenapa ia merasa seperti ada seseorang yang berada dibelakangnya.


Hera menoleh ke belakang dan ia mendapati Wella sedang berdiri di belakangnya dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.


Seketika itu Hera mematikan apinya. "Astaga, maafkan aku, Wella."


Hera berbalik untuk melihat Wella. Pakaian yang dipakai wanita itu sudah basah karena keringat, rambut pendeknya juga sudah lepek.


"Tidak apa-apa, Luna. Tidak usah meminta maaf kepada saya," kata Wella.


Hera menggeleng, ia lalu mengeluarkan Toftairox Controller untuk menyejukkan Wella. Hanya angin sepoi-sepoi yang ia keluarkan, dan hal itu membuat Wella menjadi ingin tertidur karena angin itu sangat menyegarkan.


"Jangan tertidur, Wella," kekeh Jose.


Seketika itu Wella membuka matanya yang sudah terpejam, ia tersenyum malu. "Ah angin Luna sangat menenangkan, hingga rasanya saya ingin tertidur,"


Mereka tertawa mendengar ucapan Wella.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan ini, aku yakin sebentar lagi kita akan menyelesaikan semua ini,"

__ADS_1


∆∆∆


Jempol dan komentarnya jangan lupa ya :)


__ADS_2