
Dini hari menjelang, Hera dan teman-teman sudah bersiap untuk mendaki. Hera dan Manuwella sudah dibekali mantel tebal oleh sang pemimpin klan, Robert.
Robert memiliki tingkatan api yang paling tinggi yaitu putih. Tingkatan tertinggi dari fire witch. Sebenarnya ada yang lebih tinggi yaitu hitam. Warnanya segelap malam, tetapi api itu hanya dimiliki oleh sang pencipta. Di dunia ini tingkatan yang paling tertinggi dari yang paling tertinggi hanyalah dimiliki sang pencipta. Pencipta yang menciptakan alam semesta ini.
"Berhati-hatilah Luna, ada nyawa lain yang harus kau lindungi,"
Ucapan Robert membuat kening Hera berkerut bingung. Hera hanya tersenyum menanggapi meskipun ia tidak mengerti ucapan sang pemimpin fire witch itu.
"Joselyn, kau harus melindungi Luna. Kekuatan apimu sudah dianggap senior, maka dari itu hanya mendaki gunung tidak akan sulit bagimu," ucap Robert pada Jose.
"Aku akan selalu melindungi Hera, itu adalah janjiku. Robert, terima kasih sudah membekali kami mantel ini," ucap Joselyn.
Robert tersenyum menanggapi.
Lalu pandangan Joselyn mengarah pada Marion. "Marion, terima kasih sudah mau menampung kami semalaman ini,"
"Joselyn, anggap--"
"Anggap saja rumahku adalah rumahmu, ya ya sudah ku anggap rumahku," potong Joselyn cepat.
Hera menggeleng, ia menatap Marion. "Marion aku ingin berterima kasih, meskipun Joselyn sudah mengucapkannya tetapi tetap saja masih kurang bagiku. Terima kasih sudah membiarkan kami menginap dan memakan persediaan makananmu, aku berjanji jika aku berhasil dan pulang dengan selamat maka aku akan menggantinya," ucap Hera.
"Luna, saya tidak meminta imbalan apapun, cukup kalian pulang dengan selamat dan tujuan kalian tercapai itu sudah membuatku senang," ucap Marion.
Kini pandangan Hera beralih pada Robert. "Robert, terima kasih mantelnya, ini akan sangat berguna untuk kami,"
Robert tersenyum. "Berhati-hatilah, Luna. Joselyn, ingat pesanku tadi,"
Mereka mengangguk lalu mengundurkan diri untuk pamit pergi ke gunung Everest.
***
Hanya memakan waktu satu setengah jam mereka sampai ke kaki gunung, hawa dingin langsung merasuki tubuh mereka hingga rasanya sampai menusuk tulang.
Beruntung Jose membawa obor hingga rasa hangat juga menghampiri mereka. Obor Jose berisi api yang berwarna kuning, dan katanya itu merupakan tingkatan dari kekuatan yang ia miliki. Kekuatan Jose dibawah kekuatan milik Marion.
"Rasanya gigiku bergemelatuk," ucap Hera, giginya memang sudah bergemelatuk.
"Ini belum seberapa, kita akan mendapatkan yang lebih dingin lagi dibanding ini," ucap Jose.
__ADS_1
"Apakah kita akan bertemu dengan Olaf dan Elsa?" canda Hera.
"Olaf? Elsa? Siapa mereka?" tanya Manuwella bingung.
Hera dan Jose tertawa sehingga membuat Wella semakin bingung.
"Mereka adalah kartun dari dunia manusia, Olaf adalah boneka salju hidup yang ingin merasakan musim panas sedangkan Elsa adalah ratu es yang menciptakan Olaf," jelas Hera.
Manuwella hanya membulatkan mulutnya tanda mengerti.
"Aku tidak ingin bertemu dengan monster es yang dibuat Elsa itu," ucap Hera. Ia bergidik jika mereka benar-benar bertemu dengannya.
Jose menggeleng. "Tidak ada yang seperti itu di sini, kita hanya akan menemukan burung hantu salju dan spesies lain yang tahan akan dingin," jelas Jose. "Ah iya, aku ingin lihat petanya," ucap Jose.
Hera mengambil petanya lalu membuka peta tersebut.
"Rintangan kita tersisa dua lagi, titik merah ini aku berani bertaruh adalah kekuatanmu, dan merah identik dengan api, aku rasa kau memiliki kekuatan api nantinya," ucap Jose. Hera mengangguk, ia membenarkan ucapan Jose.
"Dan titik ini seperti gambar burung phoenix, mengapa burung ini ada dalam peta?" tanya Wella bingung. "Mungkinkah ini adalah guardian Anda lagi, Luna?"
Hera mengangguk, ia juga berfikiran seperti itu. "Mungkin saja, karena jika kekuatanku maka lambang itu akan berbentuk titik bercahaya."
"Daripada memusingkan itu lebih baik kita bergegas," ucap Jose.
Hera menghapus air matanya, tinggal sedikit lagi mereka akan sampai pada titik terang nya.
Semakin keatas langkah mereka semakin berat karena salju yang lumayan tebal.
"Sial! Kita sepertinya akan mendapatkan musibah!" decak Jose. Ia memandang pada satu titik di kejauhan.
"Apa?" tanya Hera.
"Kau lihat kabut di atas itu?"
Hera mengangguk.
"Kau melihat pepohonan bergoyang?"
Lagi-lagi Hera mengangguk.
__ADS_1
"Badai! Kita akan melewati badai salju! Dan kau tau, bagi penyihir api ujian ini adalah ujian yang paling terberat. Banyak dari fire witch gagal pada tahap ini," jelas Jose.
"Apa kau pernah melewatinya?" tanya Wella.
Jose menggeleng. "Belum, aku belum pernah melewati ujian ini. Ujian melawan badai hanya untuk mereka yang ingin naik level ke biru," ucap Jose. "Dan level apiku baru kuning, jadi seharusnya dua puluh atau empat puluh tahun yang akan datang lagi aku baru bisa naik level dan menghadapi badai ini,"
"Jadi kita tidak akan bisa menghadapi badai?" tanya Manuwella.
"Bisa, kita pasti bisa. Aku akan berusaha semampuku agar apiku bisa menembus badai salju itu,"
"Aku berharap ini adalah rintangan terakhir kita," ucap Wella.
"Ya akupun berharap seperti itu--Hera!!" pekik Jose saat melihat tubuh Hera hampir jatuh akibat terpaan angin salju.
Tubuh Hera memucat, bibirnya sudah membiru. Ternyata sedari tadi Hera menahan dingin yang menghantam tubuhnya.
"Luna, pakailah mantel saya," Wella memasangkan mantelnya pada Hera.
"Ta-tapi ka-kau akan kedingi-nan," ucap Hera terbata karena giginya bergemelatuk.
"Saya masih bisa menahan dingin ini, Luna."
"Pakailah mantel milikku, Wella. Aku merasa kegerahan," ucap Jose, ia menyerahkan mantel miliknya. "Jangan khawatir, aku adalah penyihir api, dingin seperti ini akan mencair karena apiku. Dan Hera bawalah obor ini, semoga bisa menghangatkan tubuhmu,"
Hera langsung mengambil obor itu dengan tangan gemetar.
"Aku akan mencari goa atau lubang pohon untuk kita menghangatkan tubuhmu, aku takut kau akan membeku di sini," ucap Jose.
Hera menggeleng. "Ti-tidak, aku tidak apa-apa. Kita ha-harus melanjutkan perjalanan ini, wa-waktu kita tidak banyak lagi," ucap Hera. Ia takut jika mereka banyak beristirahat maka waktu akan terbuang percuma.
"Tidak Hera, jika diteruskan maka kau akan membeku," ucap Jose lagi.
"Aku baik-baik saja, Jose. Ayo kita lanjutkan lagi, waktu kita tinggal satu hari lagi dan semuanya akan hancur jika kita tidak menemukan ibuku. Tolong mengerti aku, Jose ... " lirih Hera.
Jose menghela nafas, baiklah ia hanya bisa mengikuti kemauan Hera dan ia akan berusaha membuat Hera tidak membeku seperti ucapannya.
∆∆∆
Maaf ya gaes updatenya lama banget, soalnya nyari inspirasi buat cerita fantasi itu sulit, ide juga kadang2 enggak nemu :(
__ADS_1
Mohon maaf juga kalau feelnya enggak dapet atau apa, saya katakan lagi bikin cerita fantasi itu sulit :( kita harus bisa menempatkan diri kita sebagai karakter tokoh yang ada dalam cerita, kalau enggak ceritanya bisa amburadul dan kalian enggak bisa menikmati kehidupan fantasy nya.
Jadi sekali lagi, saya minta maaf :(