
"Selamat datang di St*rb*cks, Tuan. Silahkan! Mau pesan minuman apa?" tanya karyawan St*rb*cks dengan senyum ramah.
"Si Pirang?"
Karyawan itu mengernyit. "Maaf, maksud Anda, Tuan?"
"Si Pirang di mana?" tanya pria itu lagi
"Ahh mungkinkah yang Anda maksud Hera?"
"Ya."
"Maaf, tuan. Saya belum melihat Hera hari ini," ucapnya.
"Yasudah, pergi sana!" usir pria itu.
"Anda bisa mengatakan kepadaku, Tuan. Pasti aku akan mengatakan pada Hera jika bertemu dengannya," tawar karyawan itu.
"Tidak perlu," pria itu menolak mentah-mentah tawarannya.
Karyawan itu tersenyum kikuk ketika mata para pengunjung mulai memperhatikan mereka. "E-eum ba-baiklah, saya permisi dulu," ucapnya.
Setelah berlalu dari sana, karyawan tadi mendengus kesal dengan umpatan kecil keluar dari mulutnya. "Shit! Selalu Hera, apa yang istimewa dari anak pungut itu?! Jelas aku lebih unggul darinya! Menyebalkan!" gerutunya.
"Kenapa?" tanya seseorang yang memakai seragam yang sama seperti wanita tadi.
"Tidak bisakah satu hari saja si Jalang itu tidak dicari laki-lak? Tadi pria jelek, sekarang pria tampan! Nanti pria apa lagi?!" kesalnya.
"Haha, bilang saja kau iri,"
"Jelas aku iri, bodoh! Dia selalu jadi primadona di sini. Aku muak sekali melihat muka sok polosnya itu! Tidak tau saja dia itu jalang,"
"Shutt, kecilkan suaramu. Kenapa kau bicara seperti itu? Kau bisa dipecat jika terdengar oleh bos, dia kan karyawan kesayangannya,"
__ADS_1
"Cuih, biar saja! Aku berbicara sesuai fakta, coba kau fikir dengan baik, mana ada gadis yatim piatu bisa berkuliah di kampus elit seperti itu. Dan lagi kenapa setiap hari para pria selalu mencarinya kalau bukan untuk bermain ranjang?"
"Ah kau benar, dia pasti menjual tubuhya pada orang tua berdompet tebal," si temannya itu terkikik kecil membenarkan
"Nah aku bilang juga apa," kemudian mereka melanjutkan kembali aktivitasnya dengan sedikit menggosipkan siapa saja yang menurut mereka bisa menjadi bahan gosip. Yang pastinya nama Hera selalu menjadi yang pertama dalam topik gosip mereka.
Tanpa mereka sadari seseorang menguping pembicaraan mereka dengan mata tertuju pada pria yang mencari Hera itu, mata dan mulutnya terbuka lebar. Tangannya mencengkram erat apron hijau yang di kenakannya.
'Bukankah dia pria yang meminta Hera mengantarkan minuman kemarin? Pria itu pria yang di takuti Hera, mengapa dia mencari Hera? Hera bukan wanita jalang! Aku tau itu, Pasti ada yang tidak beres disini,' batin orang itu, ia segera berlalu dari sana sebelum dia kepergok oleh karyawan yang mengatai Hera itu.
∆∆∆
Hera membulatkan mata ketika dia tiba-tiba berada di ruangan seperti rumah sakit. Seingat Hera, dia tadi berada di kamarnya tetapi mengapa dia berada disini? Aneh.
Di ruangan itu dia tidak sendiri, melainkan ada seorang wanita yang sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan bayi dalam perutnya. Ia juga bisa melihat dokter dan suster yang membantu proses persalinan itu. Di samping wanita itu ada seorang pria yang tampan yang senantiasa mengelap keringat wanita itu dan tak henti-hentinya mengucapkan kalimat cinta.
Dapat Hera pastikan mereka adalah sepasang suami istri yang sedang menantikan kehadiran buah hati mereka. Di sana ada juga dua orang bocah laki-laki lucu yang sedang duduk anteng memakan permen tanpa menghiraukan jeritan wanita melahirkan itu. Tanpa Hera sadari setetes air matanya jatuh ketika melihat perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya. Hera rasanya mengenal sepasang suami istri itu, tapi siapa?
kenapa ini?
Kenapa dia tidak bisa memegang cambuk itu?
Sekali lagi, Hera mencoba menangkap tangan berbulu makhluk mengerikan itu namun hasilnya masih sama dengan yang tadi. Lagi-lagi Hera menatap tangannya, dia baru sadar ternyata dirinya ini hanya berupa bayangan semu. Wajar saja dia tidak bisa menyentuh apapun. Hera mulai berfikir apakah ini mimpi? Tapi, mengapa dia bermimpi seperti ini?
Lalu, ruangan penyiksaan itu berganti dengan sebuah tempat seperti kamar tidur dengan nuansa hitam dan merah. Hera dapat merasakan aura menyeramkan disini. Tidak ada jendela atau ventilasi udara sehingga membuat tempat ini pengap.
Pencahayaan nya pun minim sekali, hanya ada tiga lilin aroma terapi yang menerangi kamar itu. Di dalam tempat yang bisa disebut kamar ini terdapat sebuah ranjang berukuran King Size dengan kayu jati dan juga berlian yang menghiasi ranjang itu. Seprai, selimut serta bantal dan gulingnya berwarna hitam pekat.
Tiba-tiba saja tubuh Hera spontan mendekat ke arah ranjang itu. Hera membelalak kaget, ternyata ranjang itu tidak kosong. Melainkan ada penghuninya, seorang pria berwajah pucat namun masih terlihat tampan terlelap disana. Meskipun pria itu terlelap, aura mematikan sangat melekat padanya.
Tangan Hera tanpa terkendali membelai wajah pucat pria itu, Hera saja terkejut dengan perbuatannya ini. Hera menarik kembali tangannya. Gerakan tangan Hera berhasil membuat pria itu membuka matanya. Lagi-lagi Hera terkejut, yang membuat Hera lebih terkejut adalah bola mata pria itu, bola mata pria itu hitam pekat tidak ada warna putihnya. Hera masih membatu dengan meta terbelalak. Aneh, mata pria itu berangsur-angsur kembali normal seperti mata manusia dengan iris berwarna hijau seperti rerumputan. Pria itu memandang lekat Hera, Hera yang di pandang seperti itu menundukkan wajahnya ketakutan.
Eh, bukankah dirinya tidak terlihat seperti di ruangan penyiksaan tadi?
__ADS_1
Hera kembali mengangkat wajahnya, ternyata pria tadi masih memandang lekat Hera tanpa berkedip. Hera juga membalas tatapan pria itu, untuk kesekian kalinya Hera membelalakkan matanya ketika melihat pria itu tersenyum sangat manis padanya seraya membelai wajah Hera, lalu bibir pucat pria itu nampak bergerak seperti ingin mengucapkan sesuat,
"Sas periméno ..."
Setelah mengucapkan kalimat itu pandangan Hera memburam, lalu semuanya menjadi gelap. Hera berusaha berlari dari kegelapan, kata-kata yang diucapkan pria tadi masih terngiang-ngiang dikepalanya hingga Hera terjatuh dengan sendirinya. Hera berteriak meminta pertolongan.
"TOLONG!!"
"Selamatkan aku!" hanya gema suara Hera saja yang terdengar.
"TOLONGG!!"
Hera terbangun dengan nafas terengah-engah, peluh yang keluar dari badannya pun sudah sebesar biji jagung. Hera mengatur nafasnya kemudian bangun untuk mencari air putih di dapur. Hera menuangkan air ke dalam gelas kemudian meminum air itu. Dia memegang dadanya yang bergemuruh,
Mimpi apa tadi?
Dan siapa pria itu?
Siapa orang yang diruangan bersalin itu?
Hera memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Entah kenapa semenjak keluar dari ruangan rahasia itu Hera sering mendapati hal-hal yang aneh. Hah apalagi setelah mendengarkan cerita makhluk halus itu tentang siapa Hera sebenarnya.
'Hei! Kau masih mengataiku makhluk halus?! Grrrr,' nah suara itu datang lagi dengan geraman seperti hewan.
Aku masih belum bisa mencerna kata-kata makhluk itu, bisa saja dia berbohong padaku. Bisa saja dia salah satu jampi-jampi kiriman orang yang sengaja ditujukan padaku agar aku jadi gila. Bisa saja-
'Grrr, terus saja mengataiku yang aneh-aneh! Terserah kau mau percaya atau tidak! Aku tak perduli, yang penting aku sudah mengatakan kebenaran tentang dirimu!' ketus suara itu.
"Hei kenapa kau marah padaku? Aku kan tidak mengataimu," elak Hera, dia juga Heran bagaimana suara itu mengetahui apa isi hatinya. Eh, bukankah suara itu pernah bilang padanya jika dia mengetahui apa saja yang di fikiran Hera? Oh ya ampun, Hera semakin gila dibuatnya. Bagaimana ini? Apakah ia harus percaya kebenaran tentang dirinya? Tentang siapa dirinya sebenarnya?
***
Sas periméno \= Aku menunggumu
__ADS_1