Queen Of The Earth

Queen Of The Earth
QotE 33 ∆Sang Penolong∆


__ADS_3

Dari kejauhan, sebuah kubah istana sudah terlihat jelas. Dan anehnya istana tersebut dikelilingi oleh air berwarna gelap yang terlihat seperti merambat. Suasana di daerah sini masih seperti Hera temui tadi, tanaman laut di sini seakan layu dan merana, hidup segan mati tak mau.


"Itu adalah istana kami," tunjuk Merliah pada kubah itu. "Awalnya keadaan di sini sangat indah, tidak seperti sekarang, menyeramkan." Ungkap Merliah. Hera dapat menangkap kesedihan dalam mata biru sebiru samudra itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Hera.


"Seseorang yang tidak bertanggung jawab membuatnya seperti ini," jawab Merliah seadanya. Ia tidak bisa memberitahu keadaan sebenarnya kepada orang asing, meskipun Hera dan teman-temannya sudah menolongnya, tetap saja mereka adalah orang asing.


Sadar akan mereka tidak perlu bertanya jauh, Hera tidak melanjutkan pertanyaannya meskipun masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.


"Joselyn, apa kau melihat samurai ku?" terdengar suara pertanyaan dari belakang Hera. Ia menoleh dan mendapati Manuwella sedang mencari sesuatu.


"Ada apa, Wella?" tanya Hera menangkap raut kecemasan dari pengawal pribadinya itu.


"Luna, maafkan saya. Saya kehilangan samurai milik saya," jelas Manuwella. Padahal samurai itu selalu berada di sabuk pinggangnya.


Astaga!


Bukankah ia tidak mengenakan celana lagi? Lalu kemana hilangnya samurai itu?


"Ada apa?" tanya Merliah.


"Manuwella kehilangan samurainya," jawab Hera.


Kening Merliah mengerut dalam. "Samurai?" beonya.


Mereka mengangguk, dahi Merliah semakin mengerut. "Bukankah samurai hanya dimiliki makhluk darat saja?" kata Merliah bingung. Lalu sedetik kemudian Merliah menjauh dari mereka, lalu mengacungkan sebuah tombak yang entah kapan sudah berada di tangannya.


"Siapa kalian?!" tanya Merliah, raut gadis itu tidak menunjukkan keramahan sedikitpun. "Kalian bukan klan mermaid!"


Manuwella dan Joselyn langsung maju guna melindungi Hera yang menjadi sasaran Merliah. "Jauhkan tombakmu dari Lunaku!" desis Manuwella.


Hera menyentuh bahu Manuwella, lali tersenyum padanya. "Tidak apa, Wella. Aku akan bicara padanya,"


"Tapi Luna,"


Hera tersenyum memotong ucapan Wella. Ia lalu mendekati Merliah yang masih mengacungkan tombak itu. "Merliah," ucap Hera. Lagi-lagi Hera tersenyum. "Kami memang bukan berasal dari klan mermaid, kami berasal dari klan werewolf,"


"Werewolf?" keningnya berkerut. "Kami tidak mengundang klan werewolf untuk ke istana, lantas apa yang kalian lakukan di sini? Mengapa kalian juga memiliki ekor?" tanya Merliah beruntun. Karena meskipun klan selain mermaid bisa bernafas dalam air berkat bantuan para penyihir dan peri, tetap saja mereka tidak akan bisa mempunyai ekor seperti Hera dan teman-temannya ini.


"Kami juga tidak tau mengapa kami memiliki ekor, dan tujuan kami ke sini hanyalah mengikuti peta yang kami miliki," ungkap Hera, lalu ia membuka peta tersebut dan menunjukkannya pada Merliah.


Perlahan tombak yang di acungkan Merliah tadi mulai mengecil dan menjadi sebuah permata yang melekat pada tiara Merliah.


"Gunung Everest? Kalian ingin ke sana?" tanya Merliah ketika melihat simbol gunung Everest di peta itu.


Hera mengangguk. "Aku ingin menemukan ibuku di sana," jawab Hera.


Merliah menatap Hera, ia meneliti wajah ini. Jika dilihat, wajah Hera seperti tidak asing, rasanya ia pernah melihat wajah ini, tapi di mana?

__ADS_1


"Siapa kau? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Dia adalah Hera, Luna kami, mate dari Alpha Ares, Blood Dark pack"


Mendengar penuturan Joselyn, Merliah langsung membulatkan mata nya.


Ia langsung membungkuk. "Maafkan tingkah saya tadi, Luna. Sejujurnya saya tidak begitu mengenali Anda, karena waktu pengangkatan Anda saya tidak bisa hadir, dan saya hanya diberi lukisan tentang wajah Anda saja. Sekali lagi, maafkan saya, Luna."


"Merliah, sudahlah. Aku tau kau hanya berusaha melindungi istana mu, kau tidak berniat menyakiti kami," kata Hera.


"Bangunlah dan bersikap seperti teman, aku tidak ingin membuka identitas ku karena ini, kau akan bersikap lain pada kami," lanjutnya.


"Tapi Anda adalah Luna."


"Benar, aku adalah seorang Luna. Tapi Luna bagi klan werewolf, bukan klan mermaid, maka dari itu perlakukanlah kami sebagaimana tadi pada saat kau belum mengetahui identitas kami."


∆∆∆


"Merliah! Kemana saja kau? Kami sangat khawatir padamu," ucap seseorang yang mungkin kerabat Merliah.


Merliah membalas pelukan orang itu. "Aku menjatuhkan tiaraku, Nek."


"Lalu apa kau menemukannya? Nenek akan menyuruh Carlos menemukannya untukmu," kata Nenek Merliah.


"Tidak perlu, aku sudah menemukannya berkat temanku," kata Merliah. Lalu ia memberi jarak untuk mengenalkan teman-teman barunya itu.


Nenek Merliah tersenyum kepada Mereka. "Aku Mariana Melusina, kalian bisa memanggilku Marine."


"Aku juga memiliki kenalan bernama Mariana," jawab Hera. "Tetapi dia tetap dipanggil Mariana,"


"Benarkah? Apakah usianya sudah tua?"


"Iya sepertinya begitu."


"Memang para tetua seperti kami pasti selalu ada nama Mariana di setiap klan maupun sesama klan," jawab Marine. "Baiklah karena kalian teman cucuku, dan kalian juga telah membantu cucuku ayo masuk. Jangan sungkan," ajak Marine lalu mereka masuk ke dalam istana tersebut.


Sebenarnya tempat ini begitu indah, sama seperti istana-istana sering Hera tonton semasa ia hidup di dunia manusia, tetapi Hera bisa merasakan aura tak nyaman di sini. Seperti, tempat ini sudah bukan menunjukkan sifat alamiah dari sebuah istana mermaid, melainkan sudah ada campur tangan dari pihak lain sehingga tidak menunjukkan khas dari sebuah kepemimpinan.


"Kau juga merasakannya?" tanya Marine.


Hera mengangguk samar meskipun ia kurang mengerti maksud dari Marine merasakannya itu.


"Ini adalah kamar kalian, silahkan beristirahat. Aku ingin berbicara banyak bersama kalian, tapi istirahat saja dulu," kata Marine menunjukkan sebuah ruangan yang disebutnya kamar.


Hera, Jose dan Manuwella masuk ke dalam kamar tersebut. Ada sekitar lima kasur yang terdapat di sana. Kasur itu membentuk setenga lingkaran.


Tidak seperti kamar pada umumnya, kamar di istana mermaid sangat berbeda. Jika di darat kasurnya terasa empuk dan nyaman namun di sini adalah kasur yang terbuat dari batu yang memiliki ukiran yang unik disertai mutiara sebagai hiasannya. Disertai bantal yang terbuat dari kerang mutiara.


Meskipun begitu, Hera sangat mengagumi kamar ini, sangat cantik dengan hiasan hiasan cangkang kerang dan juga beberapa kulit hewan keras yang melekat pada dinding kamar. Jangan lupakan mutiara yang yang menjadi ciri khas klan mermaid.

__ADS_1


Hanya saja kekurangan tempat ini adalah kasur dan juga bantal. 


"Melihat dari wajahmu aku yakin kita memiliki pemikiran yang sama, Hera," ujar Joselyn, ia juga memikirkan apakah mereka bisa beristirahat dengan nyaman dengan beralaskan batu ini.


"Wella, apa kau memiliki pemikiran yang sama?"


Manuwella menggeleng. "Tidak, Jose. Aku sudah sering tidur dengan beralaskan batu atau bahkan tidur di atas pohon," jawab Manuwella.


"Tentu saja, kau kan seorang tarzan," celetuk Jose.


"Tarzan?" Beo Wella.


"Manusia hutan, Wella. Itu adalah sebutan dari dunia manusia," jelas Hera.


Manuwella mengangguk. "Saya hanya terlatih untuk hidup di dalam hutan, Luna."


"Ya, aku percaya. Baiklah ayo kita beristirahat, aku merasa lelah karena berenang hampir satu hari ini," kata Hera.


Mereka pun menaiki kasur yang sudah tersedia, Hera di pimpin untuk menaiki kasur yang berada di tengah, sedangkan Jose dan Wella berada di sisi kiri dan kanan Hera.


Hera terkejut merasakan bukan sakit yang ia rasakan, melainkan rasa nyaman seperti di ranjang yang empuk. Mungkinkah karena ia tidak memiliki kaki jadi ia juga memiliki kebiasaan yang berbeda? Ya mungkin saja.


"Jose, bukankah ini nyaman--" ucapan Hera terhenti kala melihat Jose yang sudah tertidur dengan meringkuk nyaman di atas kasur itu.


Hera menggeleng, lalu memandang Wella. "Istirahatlah, Luna. Kita masih memiliki perjalanan yang panjang," ucap Manuwella.


Hera mengangguk lalu memejamkan matanya dengan perlahan.


∆∆∆


"Merliah, apakah kau merasakan sesuatu yang lain dari Hera, si pirang itu?" tanya Marine, ia merasa ada sesuatu yang lain dari teman baru cucunya itu.


"Sesuatu yang lain? Seperti apa?"


"Aku tau mereka bukan berasal dari klan mermaid, bukan itu yang ingin ku bicarakan tetapi kekuatan yang di miliki Luna werewolf itu," jawab Marine.


"Nenek tau dia seorang Luna?"


"Siapapun akan tau dia seorang Luna karena aura yang dimilikinya,"


"Lantas, apa yang ingin Nenek bicarakan padaku?" tanya Merliah lagi.


"Dia memiliki Natthy Controller, sama sepertiku,"


"Lalu?"


"Bukankah ramalan mengatakan bahwa akan ada penolong yang dapat membantu Aquamarine Kingdom, dan ia memiliki kekuatan yang sama seperti tetua sepertiku," jelas Marine.


Seketika itu mata Merliah membola. "Mungkinkah Hera adalah sang penolong itu?"

__ADS_1


__ADS_2