Queen Of The Earth

Queen Of The Earth
QotE 28 ∆Perjalanan Dimulai∆


__ADS_3

"Wow Edward, ternyata kita mendapatkan tamu besar hari ini,"


"Siapkan jamuan yang paling spesial buat mereka, aku tidak mau tamuku kecewa dengan pelayanan yang kurang menyenangkan."


"Tidak usah berbasa-basi Peeter!"


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," kata Peeter.


Ares menggeram. Vampir ini benar-benar menyulut emosinya.


"Tidak usah berpura-pura, aku tau kau yang ingin mencelakai mateku!"


"Mate mu? Luna? Hm ya aku ingat," Peeter terkekeh. "Aku hanya ingin mengunjungi Luna baru klan kalian, mengingat tidak ada undangan untukku saat pengangkatan Luna, apakah aku salah?"


Lagi-lagi Ares menggeram.


"Luna ternyata cantik, andai saja Luna adalah mateku," Peeter terkekeh, oh maafkan aku mateku, sungguh aku hanya ingin bermain-main saat ini, ucap Peeter dalam hatinya. "Bisa saja aku mengambilnya darimu," lanjut Peeter masih dengan kekehan nya.


Ucapan Peeter lagi-lagi membuat murka Ares. 


"Jangan pernah menyentuh mi.lik.ku sedikitpun! Aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawamu!" desis Ares tajam. Ia tidak akan membiarkan siapapun mengambil Hera darinya.


"Wow, aku sangat takut,"


"Apa yang kau inginkan, sialan?! Tak cukup puaskah kau membantai habis klan ku waktu itu?!" tanya Ares murka. Sungguh ia tidak tau rencana busuk apa lagi yang akan dilakukan vampir satu ini. Ia sudah cukup bersabar dulu tidak menghabisi nyawa vampir ini, tapi jika sekarang mate jadi taruhannya demi apapun dia bersumpah untuk membantai siapapun itu!


Mata Peeter menyalang. "Kau bilang tidak cukup? Ya, Ares! Memang tak cukup, dan aku tidak akan pernah puas jika kau masih bisa bernafas dengan tenang! Aku akan membalas semua perbuatanmu!" tunjuk Peeter ke wajah Ares.


Brakkk


Peeter terjungkal karena mendapatkan serangan tiba-tiba dari Ares. Peeter mengangkat tangannya ketika Edward--pengawal Peeter-- ingin menyerang Ares dan Beta Jack.


"Vampir bodoh! Bukan aku yang melakukannya, sialan!" murka Ares lagi, tidak bisakah sedikit saja vampir ini menggunakan otaknya? Entah dibawa atau tidak benda lunak itu.


"Ya, bukan kau. Tetapi iblis dalam tubuhmu!"


Ares ingin menyerang Peeter lagi, tetapi perkataan Peeter membuatnya terdiam.


"Aku akan membuat kau merasakan apa yang ku rasakan! Aku akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya kehilangan mate!" lalu Peeter menghilang digantikan dengan asap hitam. Sialan! Vampir sialan!


∆∆∆


"Mengapa kau memanggilku, Mariana?"


Mariana membungkuk hormat. "Maafkan saya, Luna. Karna saya sudah lantang menyuruh Anda untuk menemui saya,"


Hera tersenyum. "Tidak apa-apa, jangan sungkan padaku,"


"Ada apa?" tanya Hera lagi.


"Luna, apakah Alpha sudah memberi tahu Anda sesuatu?"


Hera mengernyit bingung. "Sesuatu? Apa itu?"

__ADS_1


Mariana menghela nafas, mungkin Alpha Ares tidak sempat memberitahu matenya mengingat ia harus pergi bertemu dengan vampir itu.


"Waktu Anda hanya tinggal 27 hari untuk melakukan perjanjian darah dengan Queen of the Earth, Luna." Jelas Mariana.


Hera termenung. Ya ia tau bahwa waktunya tinggal sedikit, tapi bukankah Ares akan menemaninya? Maka dari itu ia akan menunggu Ares datang terlebih dahulu.


"Maafkan hamba, Luna. Namun alangkah lebih baik jika Anda tidak menunggu Alpha, karena beliau masih menyelesaikan masalahnya. Kita tidak tau kapan Alpha akan kembali," kata Mariana lagi.


"Mariana, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tau apapun, tolong bantu aku." Hera hampir menangis memikirkan ini, kenapa ia harus jadi lemah seperti ini? Tidak bisakah ia kuat seperti orang lain?


Mariana tersenyum, ia memaklumi sifat Luna Hera ini. Meskipun ia juga makhluk immortal tetapi jangan lupakan bahwa Hera pernah tinggal di dunia manusia.


"Manuwella akan membantu Anda, Luna. Tidak hanya Manuwella, tetapi Joselyn juga akan menemani Anda."


"Joselyn?"


"Hai," sapa seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam percakapan mereka.


Hera lagi-lagi mengernyit dengan kedatangan orang ini, dari mana saja dia?


"Benar, karena Anda akan butuh penyihir api untuk melakukan perjalanan di tengah-tengah salju,"


"Ya, saya akan dengan senang hati membantu Anda, Luna." Joselyn membungkuk hormat


"Jose, biasa saja," kata Hera ia lalu menarik Joselyn agar berdiri di sampingnya.


Mariana tersenyum. "Luna, saya yakin Anda dapat melewati semua ini. Makhluk immortal mempercayakan semuanya pada Anda,"


"Mariana, apa yang terjadi jika aku gagal?"


"Pilihan Anda hanya ada dua, dikalahkan atau mengalahkan," kata Mariana seraya menatap mata Hera.


Hera mengangguk, kehancuran dan kemakmuran dunia berada di tangannya, maka dari itu ia harus melewati semua ini meskipun nyawa menjadi taruhannya.


Jose mengusap bahu Hera. "Kita akan berpetualang lagi, dan kali ini aku yakin akan menjadi pertualangan yang akan sangat menyenangkan. Dan kita juga akan ditemani Manuwella. Kau siap?"


Hera tersenyum menanggapi ucapan Jose. "Ya aku siap," kata Hera mantap.


Ya dia sudah siap apapun rintangan yang harus ia, Jose, dan Manuwella nanti hadapi.


∆∆∆


350 tahun lalu.


Terlihat beberapa darah dan mayat di sana, karena beberapa menit yang lalu baru saja terjadi peperangan antara klan Vampir dan klan Black Witch. Entah apa yang membuat klan yang sama-sama keras itu mengibarkan bendera perang. Tidak ada yang mengetahui selain pemimpin dari kedua klan tersebut.


Sudah banyak korban yang gugur di sana termasuk para klan werewolf yang saat itu bersahabat baik dengan klan vampir.


"JORDAN!!!"


Peeter memandang nanar mayat saudara laki-laki nya itu.


"SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN!" Peeter murka, terlebih lagi tersangka  pembantaian Jordan adalah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Aku?" tanya orang itu seraya berdiri, mayat Jordan sudah menjadi abu dan terbang bersamaan dengan angin yang berhembus.


Splash


Peeter mengandalkan kekuatannya untuk mendekati orang yang sudah membunuh saudaranya. Ia mencekik leher orang itu. "Aku tidak menyangka sahabatku sendiri dengan teganya membunuh saudaraku," desis Peeter tajam.


Orang itu tersenyum. "Kau menuduhku? Ternyata persahabatan kita tidak cukup kuat--"


"Lantas siapa?! Aku? Aku yang membunuh saudara dan mate ku sendiri?!" kata Peeter lagi.


Orang itu terkejut, Peeter sudah menemukan matenya? Mengapa ia tidak tau?


"Aku tidak pernah membunuh mate mu!" kata orang itu.


"Sayangnya aku lebih percaya mateku dari pembunuh sepertimu!"


Splash!


"Akhhhh,"


Orang itu melayang ketika Peeter menyerangnya.


Amarah Peeter kembali tersulut mengingat kembali kata-kata terakhir matenya yang mengucapkan nama sahabatnya ini.


"Pe-eter,"


"Lova, ku mohon bertahanlah," Peeter memangku kepala matenya, ia menggenggam tangan belahan jiwanya itu, Danilova. Ia mencoba untuk tidak menangis tetapi sayangnya air mata itu dengan kurang ajar nya jatuh di pipi pucat nya itu.


"A-ares, di-a dia telah--"


Peeter menggeleng. "Jangan bicara lagi, aku akan menyembuhkan mu, bertahanlah untukku."


Lova menggeleng. "Wa-ktuku ti-dak banyak ... Jordan-- selamatkan dia--Ares akh!"


"DANILOVA!!!"


Peeter memejamkan matanya ketika melihat hembusan nafas terakhir matenya itu.


Dan pada saat itu ia akan membalas semua yang Ares lakukan padanya.


"Aku tidak pernah membunuh mate mu!" kata Ares, sungguh ia berani bersumpah ia tidak pernah membunuh mate Peeter.


"Tapi nyatanya kau membunuh mateku dan Jordan!"


"Bukan aku, sialan!"


"Aku bersumpah akan membantai habis semua klan serigala! Camkan itu!"


Lalu Peeter dengan amarahnya mengibarkan bendera perang kepada Ares beserta klan nya.


∆∆∆


**Happy new year🎆🎇🎊🎉

__ADS_1


Semoga di tahun 2020 dan seterusnya Novel ini akan semakin maju, aamiin.


Harapan kalian apa readerku? Yang penting adalah semoga kalian sehat selalu ya** :)


__ADS_2