Queen Of The Earth

Queen Of The Earth
QotE 31 ∆Serangan Traitors∆


__ADS_3

Berry tidak tau kemana kakinya melangkah, yang terpenting adalah mereka harus pergi dari perkampungan manusia itu.


Hingga akhirnya kaki Berry berhenti di sebuah bibir pantai. Berry berpandangan dengan serigala milik Manuwella, sedangkan Joselyn masih belum sadarkan diri.


Serigala yang beberapa waktu lalu tumbang itu adalah serigala milik Jose.


Berry berubah menjadi Hera, begitupun dengan Manuwella.


"Joselyn kehilangan banyak darah," kata Manuwella. "Saya akan mencari tanaman herbal, Luna."


"Tidak perlu," langkah Manuwella berhenti. Ia menoleh ke asal suara.


"Aku yang akan mengobati Jose,"


Lalu Hera mengedarkan pandangannya untuk mencari beberapa tanaman Herbal yang berada di sini, setelah menemukan beberapa tanaman herbal liar yang ada, ia memfokuskan fikirannya pada kesembuhan Joselyn.


Hera memejamkan matanya. "Therapéfste to," lalu perlahan sinar hijau menutupi luka di tubuh Joselyn. Hera tidak mengeluarkan banyak tenaga karena lukanya tidak terlalu parah.


Manuwella hanya bisa bergumam 'wow' ketika melihat kekuatan langka yang dimiliki Luna nya ini.


"Kenapa kalian mengelilingiku?" tanya Jose heran. Ia bangun dari rebahan nya, matanya menelisik tempat dimana mereka berada ini. "Pantai?" kening Jose berkerut. "Mengapa kita di sini?"


"Daripada di perkampungan laki-laki cabul itu, argh sial!" umpat seseorang.


Joselyn terkejut begitupun dengan Manuwella. Mereka memandangi Hera yang mengeluarkan umpatan itu, benarkah seorang Hera mengumpat?


"Suaramu, ke-kenapa berbeda? Kau terkena serangan? Atau kepalamu terbentur hingga membuatmu seperti ini?" tanya Joselyn sambil menatap Hera.


Hera memutar bola matanya. Tanpa mereka sadari warna mata Hera tidak lagi hijau. "Kau ingin mengataiku gila? Dasar penyihir,"


Lagi lagi mereka terkejut mendengar ucapan Hera. "He-hera?"


"Aku bukan Hera!"


Joselyn memandang Wella yang masih memandangi Hera dengan kening berkerut. "Wella, apa yang terjadi?"


Manuwella menggeleng. "Siapa kau? Apa yang kau lakukan di tubuh Luna? Di mana Luna?" tanya Manuwella beruntun. Ia merasakan Luna-nya masih berada di sini.


'Berry, sudah.'


'Aku belum puas,'


Hera yang terperangkap di dalam sana hanya bisa berdecak kesal. 'Lain kali aku tidak akan mengijinkan mu lagi memakai tubuhku!'


Dengan dongkol Berry pun mengikuti ucapan Hera.


"Dia Berry, serigala ku," kata Hera menjelaskan setelah dirinya kembali memegang kendali tubuh itu.


"Huh wajar saja, mana mungkin seorang Hera bisa mengumpat seperti itu." Ungkap Jose.


"Aku juga bisa mengumpat, apa kau mau dengar?"

__ADS_1


Jose menyilangkan tangannya. "Tidak usah," lalu ia memurus lengannya kedinginan, tentu saja karena bulan masih bertugas menyinari sebagian dari bumi.


Jose mengambil kayu yang hanyut terbawa ombak lalu ia mengandalkan sihir apinya untuk menghidupkan kayu yang basah itu.


"Kaméni," laku kayu itupun terbakar dan menciptakan api unggun.


Hera langsung mendekat ke arah api tersebut guna menghangatkan tubuhnya. Diikuti Manuwella yang duduk disampingnya. "Wajar saja kau bisa menghidupkan api dengan sekali gesekan batu, ternyata di bantu dengan yang lain juga." Gumam Hera mengingat tempo Hari ia takjub akan Jose yang bisa menghidupkan api hanya dengan sekali gesekan batu.


Jose terkekeh, ia mengingat kembali kejadian beberapa saat lalu yang mereka lalui. "Mengapa klan manusia itu menyerang kita? Padahal kita sudah membayar sewa yang tidak bisa dikatakan sedikit," gumam Jose.


"Dan anehnya di sana hanya ada terdapat laki-laki, apakah tidak ada perempuan?" sambung Hera.


"Ada, tetapi saya juga tidak tau mengapa hanya ada para laki-laki. Aku setuju dengan Berry, mereka benar-benar cabul!" kata Manuwella.


"Hera, sebelum aku pingsan aku melihat sebuah cahaya berwarna orange memerangkapi kita, dan aku juga melihat kau berlari sangat cepat. Apa itu ada kaitannya dengan setitik cahaya orange di peta itu?" tanya Joselyn penasaran. Manuwella pun menganggukkan kepala nya ia juga penasaran bagaimana ketika Berry membawa serigalanya dan serigala Jose, Berry bisa berlari seperti kecepatan cahaya? Bukankah untuk seekor serigala betina itu mustahil mengingat ia juga membawa beban yang lumayan berat.


"Timmy Controller," Hera memandang Jose dan Wella, "kekuatanku yang ke tiga." Lalu ia melihat liontinnya yang sudah terisi tiga permata; Emerald (Hijau), Amethyst (Ungu), dan Garnet Orange. "Lihatlah, liontin ku sudah terisi tiga," Hera menunjukkan liontinnya.


"Wow, kau benar. Sangat indah," kata Joselyn. "Setelah ini kita ke arah mana lagi?"


Hera membuka peta tersebut. Sekarang di peta itu tertulis jika mereka tengah berada di tepi pantai samudra Atlantik Utara. Dan peta tersebut mengarahkan mereka harus menyebrangi samudra Atlantik Utara tersebut, setelah itu mereka akan melewati samudra Atlantik Selatan, kemudian samudra Hindia.


Jose menggeleng seraya berucap, "Yang benar saja, kita akan menyebrangi dua samudra?"


"Aku tidak tau, peta ini menunjukkan seperti itu."


"Mengapa harus laut? Mengapa tidak melewati daratan saja?" kata Manuwella bingung. "Bagaimana kita menyebrangi dua samudra yang sangat luas ini?"


"Hera, Wella, lihat!" Seru Jose. Ia menunjuk  sebelah timur pantai. "Sunrise!"


Lalu mereka memandang matahari yang perlahan naik ke permukaan air pantai. Hera berdecak kagum karena menyaksikan secara langsung bagaimana sang mentari menampakkan dirinya. Benar benar kekuasaan yang indah tiada tara.


∆∆∆


Nampak seorang pria sedang berlari untuk mencari seseorang. "Sayang!"


Orang yang di panggilnya sayang itu menoleh lalu tersenyum, namun rautnya berubah ketika suaminya terlihat sangat khawatir. "Ada apa?"


"Sayang, kau harus membawa para wanita dan anak-anak ke tempat aman, sekarang keadaan sedang tidak terkendali, Ares pun belum kembali dari perjalanannya."


"Apa yang terjadi, Zeus?"


"Aku tidak tau, tetapi aku mendapatkan kabar bahwa bagian barat pack sudah diserang oleh Traitors!" jelas Alpha Zeus.


Luna Meghan menutup mulutnya. "Cepat amankan para wanita dan anak anak,"


Luna Meghan mengangguk. "Kembalilah dengan selamat, sayang."


Alpha Zeus menatap istrinya lembut, lantas ia mengangguk meskipun ia tak yakin bahwa ia akan pulang dengan selamat.


∆∆∆

__ADS_1


Keadaan di sebelah barat sangat kacau, mayat serigala sudah di mana mana, namun tak menghentikan semangat Gamma beserta warrior yang masih tersisa guna mempertahankan pack nya.


Prang


Prang


Sring


Srak


Suara dentingan pedang masih saling bersahutan, suara kulit terkoyak, bahkan suara auman pun juga saling bersahutan.


"Grrrr, langkahi mayatku sebelum kau menyentuh pack kami!" geram serigala Gamma Eric.


"Gamma, aku salut padamu. Kau sangat memuja Alpha lemah itu, lebih baik kau ikut denganku dan merampas pack ini," tawar Rydoch.


"Tch! Sampai mati pun aku tidak sudi! Grrrrr!" Gamma Eric lalu menghajar kembali Rydoch hingga serigala berwarna hitam dengan sedikit corak coklat membantunya.


"Alpha Zeus,"


"Wow sekarang ayah dari Alpha lemah itu juga turun? Lalu dimana Alpha itu? Bersembunyi?"


"Diam Rydoch! Sekali pengkhianat tetap pengkhianat!" geram serigala Alpha Zeus. Dulu Rydoch merupakan Gamma dari Alpha Zeus oleh karena Rydoch berkhianat Alpha Zeus mengusir Rydoch keluar dari pack.


"Banyak bicara!" Rydoch lalu menyerang Alpha Zeus.


Cabikan dan koyakan sudah tidak terelakkan lagi.


Rydoch sudah hampir tumbang jika saja tidak ada bantuan dari para vampir yang entah kenapa tiba-tiba berbondong-bondong datang menyerang para warrior Ares.


"Alpha, kita sudah kehilangan banyak warrior, tidak mungkin kita bisa melawan dengan jumlah yang sedikit ini ditambah lagi para vampir itu terus berdatangan," kata Gamma Eric. Sekarang mereka sudah dikepung oleh vampir dan traitors.


"Sial! Vampir sialan itu ternyata dalang dari semua ini!" desis Alpha Zeus.


"Sudah ku bilang, kalian tidak akan bisa melawanku!" kata Rydoch. Laki-laki itu sudah dipenuhi banyak darah namun tidak sedikitpun kejahatan luntur darinya.


Lagi-lagi Rydoch dan para vampir menyerang Alpha Zeus dan Gamma Eric beserta para warrior yang masih tersisa. Alpha Zeus hanya bisa berdoa, semoga saja Alpha Ares dapat kembali sebelum semuanya tumbang.


∆∆∆


Di atas langit, di sebuah tempat di mana para klan malaikat berkumpul, seorang pria sedang memperhatikan sebuah kolam yang mana kolam tersebut langsung terhubung ke bumi. Kolam tersebut menampilkan sebuah peperangan yang terjadi.


Ia menatap kolam itu dengan tenang meskipun tersimpan raut khawatir di wajah itu.


"Ayah," panggil seorang laki-laki yang memiliki paras hampir mirip dengannya.


"Ayah, kita harus bertindak. Aku tidak mau lagi membiarkan adikku menderita, Ayah. Ijinkan aku untuk turun ke bumi," ujar laki-laki itu lagi.


"Orlando, tunggulah waktu yang tepat. Tidak hanya kau, tetapi Ayah juga akan turun,"


∆∆∆

__ADS_1


Tetap stay dengan cerita ini ya🤗


__ADS_2