Queen Of The Earth

Queen Of The Earth
QotE 41 ∆Manuwella∆


__ADS_3

Wanita itu membungkuk. "Hormat saya, My Queen. Hamba adalah Nesoilterry Controller, kekuatan Anda yang ke lima. Kekuatan pengendali tanah seperti kekuatan milik golem, tetapi saya memiliki level lebih tinggi daripada dia."


Nesoilterry Controller berubah menjadi cahaya coklat lalu masuk ke dalam liontin Hera. Sekarang permata itu sudah ada lima ditambah dengan batu permata Painite.


Hera memperhatikan keadaan sekitar. Karena sedikit perkelahian tadi ekosistem di sini harus ikut rusak juga. Hera harus bertanggung jawab, sebab ialah yang membuat keadaan di sini menjadi kacau.


Perlahan Hera memejamkan matanya, ia memikirkan bahwa tempat ini kembali lagi seperti sedia kala. Cahaya hijau mulai melingkupi daerah yang terkena kerusakan itu.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Hera. Kakinya melangkah mendekati Jose dan Manuwella berdiri.


"Kepalaku masih terasa pusing, aku mau muntah, huek!" Jose memuntahkan apa yang ada dalam perutnya, tetapi yang keluar hanyalah angin saja.


"Kita harus istirahat terlebih dahulu,"


"Tapi, Luna--"


"Wella, aku tau tubuhmu masih lemah. Jangan membantahku, aku juga ingin istirahat." Putus Hera, ia langsung berjalan menuju pohon rindang yang baru saja ia tumbuhkan itu.


"Baiklah," pasrah Wella, ia mengikuti Luna-nya untuk berteduh di pohon rindang itu.


"Dimana bekal kita?" tanya Hera. Karena bekal buah-buahan itu tidak berada padanya.


"Astaga, maafkan saya, Luna. Bekal itu tertinggal di lumpur penghisap. Saya akan mengambilnya sekarang," Wella pun bangun untuk mengambil bekal yang tertinggal itu.


"Aku akan menemanimu, Hera kau bisa menjaga dirimu kan?" tanya Joselyn.


Hera menggeleng. "Tidak perlu, aku akan menyuruh Owlye saja, aku yakin dia akan membantu kita," ucap Hera.


"Saya yang akan--"


"Jangan membantahku, Wella. Beristirahatlah kalian, aku tidak mau kalian melanjutkan perjalanan ini dalam keadaan sakit," ucap Hera.


Tidak berapa lama Owlye datang membawa buah-buahan bekal mereka tadi, bahkan lebih banyak dari itu.


"Salam, My Queen. Ini adalah bekal Anda," Owlye menyerahkan tumpukan buah-buahan itu.


"Ini bukan bekal kami," ucap Hera. Karena bekal mereka sudah agak layu mengingat buah-buahan itu adalah buah yang kemarin.


"Hamba baru memetiknya, My Queen. Beristirahatlah, hamba ijin pamit." Lalu Owlye masuk ke dalam tubuh Hera.


"Kau sangat beruntung memiliki guardian, aku sangat iri," ucap Jose. Ia memakan buah-buahan itu.


Hera terkekeh. "Ingat, iri tanda tidak mampu,"


Jose tertawa. "Aku memang tidak mampu, jika itu aku maka aku akan menyerah. Aku tidak mampu melanjutkan ini lagi,"

__ADS_1


Hera mengangguk membenarkan. "Sebenarnya aku juga tidak mampu, tetapi sudah takdirku seperti ini aku tidak bisa mengelaknya," ucap Hera. Sebenarnya ia sudah lelah seperti ini, ia ingin bertemu Ares. Rasanya rindu ini sangat membuncah dadanya, ia tidak sabar lagi untuk pulang dan bertemu keluarganya di sana.


"Jangan sedih, Luna. Saya akan selalu berada di samping Anda," ucap Manuwella mengetahui raut kesedihan sang Luna. Wella tidak tega melihat Luna yang masih berusia belia ini sudah menanggung tanggung jawab yang berat seperti ini. Bagi kaum immortal umur dua puluh satu adalah usia yang sangat muda. Karena mereka dapat hidup sampai beribu-ribu tahun, bahkan ada yang hidupnya kekal jika tidak terbunuh.


"Aku juga akan selalu mendampingimu, bukankah kau pernah bilang ingin menjadi adikku? Dan sekarang kau adalah saudariku," ucap Joselyn.


Mata Hera memanas, ia bergerak memeluk Joselyn dan Manuwella. "Aku menyayangi kalian," ucapnya disertai isakan yang ia keluarkan.


Jose dan Wella berpandangan lalu mereka tersenyum. "Kami juga menyayangai Anda, Luna."


Tangis Hera semakin pecah.


"Hei kenapa semakin menangis? Sebegitu terharu nya kau dengan kami?" ucap Joselyn, kepalanya menggeleng. Bukankah Hera ini wanita yang kuat? Mengapa seperti ini saja ia menangis? Yang benar saja.


"Aku--aku merindukan Ares," lirih Hera. Ia masih berada dalam pelukan Joselyn.


Oh Jose mengerti sekarang, ternyata Hera sedang merindukan si Bayi besar itu? Wajar saja sewaktu mereka masih bersama Alpha Ares sama sekali tidak kan membiarkan Hera berada jauh darinya. Jose yakin Alpha Ares juga sedang menahan rindu dengan mate nya ini juga.


Jose mengusap punggung Hera. "Alpha juga pasti merindukanmu juga, Hera. Aku sangat yakin itu."


Hera melepaskan pekukannya, ia menatap Jose dan Wella bergantian. "Aku ingin mandi dan berenang!" serunya. Ia lalu berlari ke tepian danau.


Jose mengernyit, cepat sekali perubahan mood Hera ini.


Manuwella mengangguk. "Sudah hampir dua hari aku tidak mandi," ucap Manuwella mereka langsung menyusul Hera.


Jose sudah melepaskan pakaiannya, tinggal Manuwella saja.


"Mengapa kau tidak melepaskan pakaianmu?" tanya Jose, ia mengernyitkan dahinya bingung.


Tiba-tiba wajah Manuwella menjadi panas. "Aku mandi dengan pakaian saja,"


Mata Jose memincing. "Kau malu pada kami?"


Pipi Wella semakin memerah. "Aku hanya tidak biasa membuka baju di hadapan orang," ucapnya.


Hera membulatkan matanya. "Benarkah?" tapi sedetik kemudian matanya memincing. "Apa jangan-jangan kau laki-laki?"


"Tidak! Saya perempuan, Luna," kata Wella.


"Jadi, mengapa kau malu? Kita memiliki bentuk yang sama," kekeh Joselyn.


Manuwella membuka bajunya dengan gugup, seumur hidupnya ia tidak pernah membuka bajunya dihadapan orang meskipun dihadapan wanita.


"Wow kau memiliki bentuk tubuh yang bagus, Wella!" seru Hera.

__ADS_1


Pipi Manuwella semakin memanas. "Luna, jangan seperti itu. Saya semakin malu,"


Hera dan Jose tertawa mendengar penuturan Wella. Benar-benar lucu sekali.


∆∆∆


"Wella aku tidak pernah mendengar ceritamu," tanya Hera sambil merendam tubuhnya. Mereka hanya menimbulkan kepalanya saja di permukaan.


"Maksud Anda, Luna?"


"Maksudku, aku tidak pernah mendengar cerita tentang kehidupan mu sebelum kita bertemu. Seperti keluargamu, asal-usul mu, matemu dan sebagainya. Ares pun tidak pernah memberi tahuku,"


Wella menerawang kehidupannya sebelum bertemu Alpha Ares dan juga Luna Hera. Dia juga memiliki masa lalu, sama seperti orang-orang lain. Bukankah tanpa adanya masa lalu, masa depan tidak akan pernah terbentuk?


"Dulunya saya sama seperti Anda, saya adalah manusia di dunia manusia."


"Benarkah?!" seru Hera dan Jose bersamaan.


"Benar, tetapi saya hidup di dunia manusia pada zaman firaun Minephtah menguasai Mesir. Saya aslinya adalah orang Mesir," ucapnya.


Manuwella memang merupakan rakyat Mesir yang dulunya dipimpin oleh Firaun Minephtah, Firaun yang terkenal akan kekejamannya hingga mengaku dirinya sebagai Tuhan. Firaun Minephtah sangat berbeda dengan Firaun sebelumnya, Ayahnya-- Ramsess II terkenal akan kebaikannya sebagai Firaun. Karena kekejaman Minephtah itulah membuat Manuwella bisa sampai ke sini. Namun ia sangat mensyukuri hidupnya di sini, dengan begitu Wella dapat merasakan kehidupan yang sesungguhnya.


"Pada waktu itu telah terjadi perang yang menghancurkan tempat tinggal saya, saya yang baru berusia sepuluh tahun diselamatkan oleh Mariana, lalu dibawa ke dunia immortal. Pada saat itu Alpha Ares belum lahir, setelah sampai di dunia ini saya mengetahui bahwa ternyata saya juga merupakan kaum serigala, saya diajarkan banyak hal oleh Alpha Zeus hingga ia menemukan Luna Meghan. Berkat kebaikan Alpha Zeus saya bisa hidup sampai sekarang,  oleh sebab itu cita-cita saya ketika dewasa adalah menjadi pengawal untuk Alpha Ares-- Anak dari Alpha Zeus," jelas Wella.


"Wow, wajar saja kau seperti berbeda dari yang lainnya, ternyata kau orang Mesir."


Wella tersenyum. "Benar, Luna."


"Lalu bagaimana dengan matemu?" tanya Jose.


Wajah Wella menjadi sendu. "Aku belum menemukan mateku, tetapi pada saat aku mengikuti perang 300 tahun lalu aku sempat mencium aromanya, namun hanya sebentar lalu aroma itu menghilang."


"Tidak apa-apa, Wella. Kau akan menemukan matemu lagi," hibur Hera. "Lalu bagaimana denganmu, Jose? Apa kau sudah menemukan matemu?"


"Jika aku sudah menemukannya, tentu saja aku tidak akan kesepian sekarang," ucap Jose jengah.


Hera tertawa, ah ya dia lupa Jose tidak pernah terlihat dekat dengan seorang pria. Tentu saja karena ia belum menemukan pasangannya.


∆∆∆


Mengenai Firaun itu saya membacanya dari beberapa artikel. Terus saya juga baca komiknya Pharaoh's Concubine, bukab komiknya doang tapi komentarnya yang banyak menjelaskan tentang firaun itu.


Sengaja chapter ini digunakan untuk perkenalan Manuwella hehee


Semoga terhibur yaa :)

__ADS_1


__ADS_2