Queen Of The Earth

Queen Of The Earth
QotE 54 ∆Serangan Balik∆


__ADS_3

Kita sudah kalah, sayang.


Hera kembali sadar kala tangan lembut mengusap wajahnya.


"Masih ada kesempatan, lakukanlah semaksimal mungkin,"


Hera mengernyit, wanita ini mirip dengannya. Rambut pirang dan mata hijau. Tapi ia tidak tau siapa wanita ini. Kalaupun ibunya, bukankah mereka sudah kalah?


"Ibu?" ucap Hera tak yakin.


Wanita itu tersenyum. "Masih ada kesempatan, lakukanlah semaksimal mungkin," ulangnya lagi.


"Apakah kita sudah melakukan pertukaran darah?" tanya Hera.


Lagi-lagi wanita itu tersenyum. "Tanpa melakukan pertukaran darah, darah kita sudah menyatu karena kau darah dagingku," ucapnya.


Hera langsung mendekap wanita itu, air matanya tumpah. Orang yang selama ini ingin ia dekap sekarang sudah berada dalam dekapannya.


"Kau harus berpura-pura tak sadarkan diri ketika dia menyerang mu, black witch itu akan menjemputmu, pastikan dia masuk ke dalam perangkapmu,"


Hera mengangguk, dalam hati ia berdoa semoga mereka memenangkan pertarungannya.


∆∆∆


"Siapa kau?!"


Wanita di atas batu itu tertawa, tawanya membuat petir dan guntur saling bersautan. Fenomena skyquake pun muncul, bahkan dapat dirasakan seluruh makhluk dunia.


"Perlukah aku memperkenalkan diriku?" tanyanya angkuh. "Tunduk!" serunya.


Seketika itu tubuh Rexi dan para pengikutnya tursungkur karena sebuah dorongan.


"Sialan! Siapa kau?!" teriak Rexi, tiba-tiba wajah cantiknya mulai mengeriput.


Wanita itu membuka tudung kepalanya, matanya berkilat merah dan hitam. "Queen of the Earth, Queen of Darkness, Queen of your Hell!"


Setelah wanita itu memperkenalkan dirinya, Rexi langsung terlempar hingga menghantam bebatuan besar.


Meskipun sudah terhantam oleh batu, Rexi masih tersenyum miring. Ia memandang tajam wanita yang masih berada di atas batu itu.


"Luna Hera," ucap Rexi, ia tertawa. "Kau memang Queen of the earth, tetapi aku adalah Queen of the world!"


Duar!


Sebuah ledakan berasal dari arah belakang Rexi.


Tawa Rexi semakin besar, dalam ledakan itu muncul hewan-hewan aneh dalam jumlah banyak seperti beruang yang hampir mirip seperti naga, rogue, vampir liar, klan manusia, klan mermaid bahkan Merliah pun juga berada di sana. Tidak memakai ekor, melainkan kaki tanpa alas kaki.


Marianta yang nyatanya sudah musnah pun kembali hidup, entah bagaimana mereka bisa berada dalam pihak Rexi. Tetapi sesuatu yang aneh terdapat dalam diri mereka, matanya kosong, tubuhnya seperti zombie, bahkan menimbulkan bau busuk yang sangat menyengat.


Dua cahaya putih muncul di bawah batu yang Hera pijaki, cahaya itu perlahan berubah wujud menjadi Joselyn dan Manuwella.


"Serang!" teriak Rexi.

__ADS_1


Para anak buah Rexi langsung menyerang Hera, Joselyn, dan Manuwella. Joselyn menghadapi Merliah dan Marianta, Manuwella menyerang para makhluk aneh itu. Sedangkan Hera menghadapi Rexi yang sudah seperti kesetanan itu.


Dengan jumlah Hera yang hanya mereka bertiga dibandingkan Rexi yang memiliki beratus pasukan pastinya akan membuat tim Hera kewalahan. Itulah yang difikirkan oleh Rexi.


Tetapi, dengan cepat Hera membalikkan serangan dengan kekuatan yang dia miliki. Menggunakan controllernya secara bersamaan bahkan akibat perang ini bencana alam seperti banjir, angin putingbeliung, kebakaran menjadi satu di sini.


Semua makhluk masih berperang. Jose dan Wella berganti shift agar bisa lebih lincah berlari dan menerjang anak buah Rexi.


"Menyerahlah, Luna. Tidak ada yang bisa kau pertahankan lagi, matemu sudah mati ditanganku!" ucap Rexi.


"Siapa kau bilang mati? Lantas siapa orang di belakangmu?"


Rexi menoleh, dan yah di belakang sana pasukan Ares, Peeter, dan juga Mariana datang tepat pada waktunya. Bahkan pasukan malaikat yang dipimpin Charlos dan Orlando juga ikut andil untuk menetralkan fikiran mereka yang terkena sihir Rexi.


"Shit!--Akh!"


Rexi terpental karena mendapatkan serangan mendadak dari Hera.


Hera tertawa. "Kau yang harus menyerah, Rexi. Pasukanmu sudah hampir berkurang, apalagi yang kau tunggu?" ucap Hera angkuh.


Pada dasarnya Rexi memang licik, ia hanya tersenyum miring. Lagi-lagi ia tertawa. "Mari kita selesaikan semua ini, dan kau akan tau siapa yang akan menang," ucapnya.


Mereka kembali bertarung, pasukan Hera bertambah karena bantuan dari Ares dan lainnya.


Hera yang memiliki insting pengkhianat dan kelicikan langsung menyerang Beta Jack.


"Mengapa kau menyerang Jack, Sweety mate? Dia pasukan kita!" teriak Ares, ia tak menyangka bahwa Hera menyerang Jack.


Beta Jack tertawa, ia dan beberapa pasukan dari Blood Dark beralih ke pasukan Rexi. "Luna, ternyata Anda sangat teliti," ucapnya.


Kini Beta Jack yang awalnya menyerang Rexi sekarang menyerang Hera dan Ares.


Ares menggeram, entah apa alasan Jack berkhianat. Tapi apapun alasannya, pengkhianat tetap pengkhianat, Ares akan memusnahkannya.


Keadaan dan suasana sudah mulai tidak kondusif, Hera tidak mampu mengendalikan ini meskipun sudah dibantu dengan Ares dan juga Mariana juga beberapa para malaikat turun.


Ares dan Hera berpandangan, hal yang harus mereka lakukan sekarang adalah menyatukan kekuatan mereka.


Hera mengambil pedangnya, begitu pula dengan Ares. Pedang Qufeerth dan juga pedang naga itu bersatu menciptakan kekuatan besar. Kekuatan yang mampu mengendalikan setiap otak makhluk yang berada di sini.


Pasukan Hera dan Ares mundur, menyisakan pasukan lawan yang masih menyerang.


"Bersatu dan hancurlah para pengkhianat, beserta berotak jahat!"


Seketika itu mereka yang memiliki niat jahat langsung merasakan kepalanya mendidih.


"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Rexi, ia menahan rasa sakit dari tubuhnya yang mulai mengeriput. Sebuah cahaya mulai melingkupi tubuhnya sehingga membentuk sebuah bola cahaya.


Hera dan Ares masih menyatukan kekuatan mereka hingga para makhluk pengikut Rexi satu persatu mulai menjadi abu, bola cahaya yang berisi Rexi masih terbentuk setengah lingkaran.


"Bagaimana dengan Merliah?" tanya Joselyn pada Manuwella. Mereka berada di kejauhan menyaksikan secara langsung bagaimana Hera dan Ares di atas sana menyatukan kekuatan untuk menghabisi Rexi.


"Dia bukan Merliah, wanita itu hanyalah ilusi yang dibuat Rexi untuk mengelabui kita," ucap Wella. "Aku bersyukur, kemenangan sudah di depan mata, aku sangat bangga pada--"

__ADS_1


"Lova ... " alunan suara lirih itu memotong ucapan Wella. Seketika itu pula tubuhnya terasa seperti tersengat aliran listrik namun sengatan itu sangat menyenangkan. Penciumannya langsung mencium aroma yang sangat hangat dan menenangkan. Serigala dalam tubuhnya terasa seperti sangat liar.


Wella berbalik, dibelakangnya seorang pangeran vampir tengah menatapnya penuh rindu. Ah bukan, lebih tepatnya memandang orang yang di samping Wella.


Dan sekarang fokus Wella pada orang di belakang pangeran vampir itu, makhluk yang memiliki sayap putih dengan itikad baik itu juga sedang menatapnya dalam.


"Mate,"


∆∆∆


"Ares, aku tidak mampu lagi mengeluarkan kekuatan," ucap Hera, tubuhnya sudah lemah bahkan rasanya untuk menggerakkan tangannya saja ia tidak kuat.


"Bertahanlah, Sweety mate, penyihir itu sebentar lagi akan tamat. Kita harus bertahan," ucap Ares.


Kembali mereka menambah kekuatan, tinggal sedikit lagi bola cahaya itu akan membulat sempurna menutup Rexi.


Ares memperhatikan bulan purnama, ayam hutan mulai berkokok tanda sebentar lagi matahari akan datang.


Hera dan Ares menghirup udara sebanyak-banyaknya, dengan bersamaan mereka menghembuskan nafasnya.


"HAAAAAAA!!"


Bola cahaya itu tiba-tiba melambung lalu meledak ke atas langit dengan Rexi di dalamnya, diikuti para pengikut Rexi yang langsung rata menjadi abu. Meledaknya Rexi dan bola cahaya menandakan peperangan sudah selesai. Kekacauan akibat peperangan langsung berangsur-angsur membaik ketika matahari mulai naik.


Semuanya kembali normal, tidak ada lagi Rexi yang selalu membuat masalah bagi semua klan.


Hera menatap Ares yang juga menatapnya hangat, betapa ia sangat merindukan orang ini.


"Aku lebih merindukanmu,"


Mereka berpelukan dengan keadaan masih melayang di atas ketinggian. Ciuman hangat disaksikan matahari yang seakan-akan sejajar di antara mereka.


Semua yang berada di sana bertepuk riang, para makhluk yang ikut dalam peperangan merasakan kebahagiaan yang sama seperti pemimpin mereka.


Sekarang, pengorbanan Hera dan teman-teman sudah terbayarkan. Benar, hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Sebesar apapun rintangan pasti akan terlewati selama kita masih bisa berusaha, berdoa, dan ikhlas dengan segala hal.


Tamat.


∆∆∆


Alhamdulillah, akhirnya Queen of the Earth selesai. QotE merupakan novel kedua saya yang telah tamat.


Terima kasih kepada reader yang telah membaca, memberikan jempol, komen, dan dukungan dari awal cerita ini dibuat hingga tamat.


Saya berharap, cerita ini bisa menghibur kalian. Sekali lagi terima kasih banyak, I Love You all😘😘😘


Nantikan ekstra chapter nya ya :) insya Allah saya saya bakal bikin ekstra chapter, paling tidak satu chapter 🤗🤗


Oh iya, jangan lupa mampir ke cerita saya yang lain, di WP saya juga ada bikin cerita tapi genre romantis. Mohon untuk dukungan kalian agar saya sukses dalam dunia kepenulisan 🙏🙏


See you😘


Ketapang, 13 April 2020.

__ADS_1


__ADS_2