
'Pergilah ke Utara, temukan aku. Kita akan menaklukkan para penjahat di dunia ini,'
Dengan langkah cepat Hera mengikuti suara itu, kakinya melangkah ke Utara. Hera masih selalu berdoa agar Yang Maha Kuasa selalu membantunya untuk menemukan titik terang kehidupannya yang pelik ini.
Hari sudah semakin petang, langit di gunung Everest berwarna orange, cuaca yang amat langka mengingat disini bukan musim panas melainkan tempat yang diselimuti salju..
Kakinya terus melangkah, hingga sesuatu dalam perutnya terasa bergerak dan menyakitkan. "Akh," ringisnya.
Hera mengusap perutnya yang entah kapan sudah agak menonjol itu. "Sayang, bantulah ibumu, kita akan berjuang bersama," ucap Hera.
Bak sebuah mantera, rasa sakit di perut Hera kini menghilang. Ia melanjutkan lagi perjalanannya, ia harus menemukan batu semedi itu.
Sedikit lagi cahaya matahari akan tenggelam, sedangkan Hera sama sekali belum menemukan tanda-tanda batu itu berada.
Hera mulai ketakutan, jantungnya berdebar kencang, bulir-bulir keringat sudah menghiasi wajahnya, rambut pirang itu kini basah akibat air keringat itu.
"Ibu! Ku mohon bantulah aku menemukan mu!" teriak Hera, diikuti air matanya yang luruh. Tinggal sedikit lagi sebelum purnama bersinar, tapi apakah ia mampu menemukan Queen of the Earth itu?
"Arghhh!"
Hera memperhatikan keadaan sekitar, itu bukan suara Jose maupun Manuwella apalagi suara dirinya.
"Ibu?!" teriak Hera. "Apakah itu kau?!" teriaknya lagi.
Sebuah laser hijau melewati Hera. Ia langsung mencari arah laser itu.
Dan di hadapannya saat ini adalah seseorang yang duduk di atas batu. Hanya tinggal kepala saja yang belum berubah, tubuhnya sudah menjadi batu hingga lumut-lumut pun sudah menghiasinya menandakan betapa lamanya ia berada di atas batu itu.
Sinar hijau tadi ternyata berasal dari matanya, wanita bermata sama seperti Hera menatap mata Hera.
"Ibu?"
Wanita itu hanya mengedipkan matanya, tubuhnya tidak bisa bergerak lagi, suaranya sudah tidak bisa dikeluarkan, hanya kelopak mata saja yang masih bisa terbuka dan tertutup.
"Ibu!" tangis Hera pecah, orang yang selama ini ia cari sekarang sudah berada di hadapannya, tetapi wanita ini tidak utuh seperti manusia lagi melainkan sudah hampir menjadi batu dan menyatu dengan batu semedi.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus apa lagi ibu? Aku sudah menemukanmu, apakah kita harus menyelesaikan misi kita sekarang? Ayo ibu, berubahlah menjadi manusia," ucap Hera ditengah isakannya.
Wanita itu tidak lagi membuka matanya, perlahan batu itu menjalar ke wajahnya hingga ke ujung kepala seiring dengan terbenamnya matahari.
"Tidak, tidak," Hera menggeleng. "Tidak, Ibu-- ibu?!"
Kini wanita itu sudah seutuhnya menjadi batu, wanita itu sudah menyatu dengan batu semedi.
Saat itu juga waktu berhenti berputar, tumbuhan tiba-tiba layu, burung-burung terbang ke langit dengan seruan kesedihan, para hewan lainnya juga ikut berseru.
Tiba-tiba suara alunan lembut mengalun di telinga Hera. Saat itu juga Hera tak langsung tak sadarkan diri.
__ADS_1
Kita sudah kalah, sayang.
∆∆∆
Peeter berdesis, ia menatap nanar orang itu. "Ares!"
"Ya Peeter, aku sudah kembali, apa kau terkejut?" tanya Ares. Sebenarnya sudah sejak lama ia pulih, tetapi Charlos tidak memberikannya untuk langsung turun ke bumi.
Tanpa aba-aba Ares langsung menghajar Peeter, ia mengeluarkan pedang berbentuk naga emas miliknya.
Ares mengacungkan pedangnya, permata yang ada di naga itu langsung bersinar merah menyala.
Ia menghunuskan pedang itu kepada Peeter, tapi dengan kekuatan vampir dan juga teleportasinya Peeter berhasil menghindar. Sehingga pedang itu hanya menancap ke tanah hingga membuat tanah itu menjadi retak.
Splash
Ares langsung terpental ke belakang karena serangan dari Peeter. Dengan berkobar amarah, Ares bangkit lalu berganti shift dengan Blacky.
Auuuuuuuuu!
Semakin keras Auman Blacky semakin besar pula tubuhnya. Kini serigala itu sudah berubah menjadi monster.
Blacky langsung menerjang Peeter hingga Peeter terpental. Blacky terus menghabisi Peeter berserta vampir lainnya.
Peeter sudah melemah, ia memanggil Rexi untuk membantunya.
Peeter tertawa dibalik kesakitannya.
"Uhuk!" Cairan pekat berwarna hitam keluar dari mulut Peeter. "Kau akan kalah, Ares! Dan akhirnya dendamku terbalaskan!" ucap Peeter.
Dengan sisa-sisa kekuatan, Peeter kembali memanggil sekitar seratus vampir petarung yang masih tersisa.
Blacky bertukar shift dengan Ares. Ares langsung menyerang vampir dan juga black witch.
Mariana, Manos dan juga Orlando kini juga ikut berperang karena pasukan Ares sedikit demi sedikit sudah mulai berkurang. Black witch merupakan makhluk terkuat, yang membantai habis klan white witch adalah black witch, padahal black witch dan white witch merupakan saudara witch. Ya, Mariana dan Rexi adalah saudari kandung, tetapi karena sifat sejarah Rexi, ia memutuskan untuk tidak berhubungan darah lagi dengan Mariana.
"Dimana Rexi?" tanya Manos heran. Pasalnya, yang ada di sini hanyalah para anak buah Rexi, vampir dan juga para penduduk pack yang berkhianat.
"Aku tidak tau, kita harus cepat menghabisi mereka," ucap Orlando.
Namun tiba-tiba gerakan Orlando terhenti. Ia merasakan sakit di bagian dadanya, saat ia memperhatikan bulan ternyata bulan purnama biru sudah bersinar namun adiknya belum kembali. Harusnya sebelum bulan itu bersinar, Hera sudah berada di sini. Apa yang terjadi? Apakah ini tandanya mereka kalah?
Di sisi lain, Ares juga merasakan hal yang sama seperti Orlando. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang dan itu sangat menyakitkan. Ia merasakan kesedihan yang amat sangat, ia tau ini bukan berasal dari perasaannya melainkan perasaan matenya. Melakukan hal yang sama, Ares menatap langit. Langit sudah gelap dengan cahaya bulan purnama biru yang sangat terang.
Tumbuhan disekitar mereka tiba-tiba layu, para burung gagak bertehamburan ke atas langit. Satu hal yang Ares takuti, ia tidak bisa bertemu dengan matenya.
Disaat Ares lengah, Peeter menghantam punggung Ares dengan benda tajam. Saat itu pula Ares merasakan punggungnya basah. Ia berbalik menatap Peeter.
__ADS_1
Rasa kebas di punggungnya tidak ia perdulikan, saat ini yang paling penting adalah mencari mate. Ares tau, jika Hera gagal maka para makhluk serakah akan mengambil Hera darinya. Ares menggeleng, tidak! Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Peeter menghalangi jalan Ares untuk mencari matenya, ia kembali menyerang Ares yang akan meninggalkan medan perang.
"Pecundang!" desis Peeter.
Kembali perang itu terjadi, segerombolan black witch terus berdatangan.
Peeter mengernyit bingung ketika menangkap hal aneh disini. "Mengapa kalian menyerang pasukan kita?!" teriak Peeter.
Para black witch masih menyerang vampir dan juga klan serigala. Hingga satu persatu klan vampir mulai menjadi abu.
"Argh!" / "Argh!"
Teriak Peeter dan Ares bersamaan. Entah mengapa Peeter juga merasakan hal yang sama seperti Ares. Dadanya tiba-tiba terasa bergetar, padahal vampir tidak memiliki jantung yang hidup, dalam artian mereka tidak memiliki detak jantung.
Dalam kondisi perang yang masih berlangsung, Ares kembali menerjang para vampir dan black witch. Ares merasakan ada sesuatu yang aneh, mengapa black witch ini seakan membantu pasukannya untuk menyerang klan vampir? Mata Ares membola, tidak! Bukan membantu, tapi--
"SIALAN! BLACK WITCH PENGKHIANAT!"
"BLACK WITCH MENGADU DOMBA!"
Teriak Peeter dan Mariana secara bersamaan.
Sring!
Srak!
Arghhh!!
Tiba-tiba saja klan vampir dan werewolf seperti terkurung dalam sebuah sangkar tak kasat mata, bahkan para petinggi werewolf juga masuk dalam kurungan itu. Mereka semua seakan terkumpul menjadi satu.
"Ha ha ha ha! Akhirnya aku yang memenangkan perang ini, dunia akan menjadi milikku!" ucap seseorang dari arah kejauhan.
Seketika itu pula mereka melihat sumber suara itu.
Di sana, seseorang menggunakan jubah hitam terbang dengan tiga wanita yang tidak sadarkan diri bersamanya.
"HERA!"
"Lova?!"
"Kalian semua kalah! Ucapkan selamat tinggal pada ketiga wanita ini,"
TIDAK!
∆∆∆
__ADS_1
Sudah hampir tamat guys :))