Queen Of The Earth

Queen Of The Earth
QotE 42 ∆Melemahnya Perisai Orlando∆


__ADS_3

Selamat Malam!


Maafkan saya yang selalu lama update, karena otak lagi beku, sebeku pandangan doi.


Mau dipaksain update takutnya feelnya hancur. Jadi saya ingin hibernasi sejenak hehe.


Dan saya juga enggak jamin chapter ini feelnya dapet, tapi saya harap pembaca terhibur dengan ini ehehe luv u all😘


Happy Reading :)


***


Hera dan teman teman sudah sampai di daerah gurun. Ya perjalanan mereka selanjutnya adalah melewati gurun.


Sekarang sudah hampir petang jika dilihat dari matahari yang nampak bertengger itu. Mungkin sekarang sudah pukul empat atau lima. Waktu seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk berjalan melewati gurun karena sinar matahari tidak terlalu menyengat.


"Untung saja kita membawa bekal air," ucap Jose. Ia meminum air yang ia tampung di dalam ruas bambu itu.


Mereka sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk melewati gurun ini. Sebab Owlye sudah memberi tahu bahwa mereka akan melewati gurun. Beruntunglah Hera memiliki Natthy Controller dengan begitu mereka akan mendapatkan bambu yang sesuai keinginan mereka.


"Menurutku, kita beristirahat jika matahari sudah naik saja. Malam ini kita akan berjalan demi menghemat air," saran Hera.


Ia berfikir jika perjalanan malam akan sangat bagus demi menghemat persediaan air mereka, karena jika mereka berjalan di siang hari maka akan banyak kesulitan yang akan mereka lalui, sebut saja salah satunya adalah fatamorgana.


"Aku juga berfikiran seperti itu, semoga saja tidak ada kesulitan lain yang akan kita hadapi disini," ucap Jose.


"Aku harap juga begitu," ucap Hera juga berharap agar mereka tidak memiliki hambatan yang terlalu besar.


"Luna, bukankah di peta terlihat bahwa ada setitik cahaya biru namun disertai sebuah pusaran seperti angin. Saya berfikiran bahwa tanda tersebut adalah tantangan kita,"


Hera kembali membuka peta tersebut, dan benar. Memang ada tanda seperti pusaran angin.


"Aku yakin ini pasti badai, karena pusaran angin identik dengan badai, aku berharap ini bukan tornado tetapi badai saja," ucap Jose.


"Aku berharap ini bukan badai atau tornado melainkan angin biasa saja," ucap Hera menyeletuk.


Tiba-tiba Jose terkekeh mendengar ucapan Hera. "Ya kau benar. Wella, kau tidak ingin menyerukan harapanmu?"


Wella mengangguk. "Aku hanya berharap meskipun topan, ****** beliung sampai tornado yang akan kita hadapi, kita bisa melewatinya bersama-sama dan kita bisa sampai ke gunung Everest tepat waktu."


Hera dan Jose berdecak kagum.


"Wow! Aku sangat bangga padamu, Wella," kagum Hera.


Wella tersenyum. "Saya lebih kagum terhadap Anda."


"Tidak usah merendah, Wella."


"Nanti kau akan semakin pendek," kelakar Jose.

__ADS_1


Tidak terasa hari pun menjadi malam. Bulan membulat sempurna karena hari ini adalah ke empat belas mereka menjelajah, dan juga malam ini merupakan bulan purnama.


Bulan bertengger manis seakan mengatakan, tidak akan terjadi apa-apa. Para bintang bertaburan bak batu permata itu semakin membuat kesan indah gurun ini berada pada malam hari, berbanding terbalik pada siang hari yang membuat satu makhluk pun enggan hidup di sini.


Hera tersenyum menikmati pemandangan gurun pada malam hari ini, menikmati setiap langkah yang ia lewati, menikmati angin sepoi berembus membelai wajah putihnya. Sungguh, ia ingin bulan lebih lama bertugas dibandingkan matahari.


Fiuuuhhhh ...


Tiba-tiba langkah kaki Hera berhenti hingga membuat Jose dan Wella mengernyit bingung.


"Kenapa, Hera?" tanya Jose.


"Apa kalian mendengar sesuatu?" tanya Hera karena tadi telinganya menangkap sedikit suara.


"Tidak, aku tidak mendengar apa-apa. Apa kau mendengar sesuatu, Wella?"


Wella menggeleng, ia menatap Hera. "Saya hanya mendengar suara angin yang berhembus, Luna."


Hera mengangguk, mungkin hanya perasaannya saja. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya lagi.


Fiuuuhhhh ...


Fiuuuhhhh ...


Lagi-lagi Hera mendengar suara itu. Dan kali ini suasana di sini agak dingin mungkin karena hari semakin larut jadinya udarapun semakin dingin.


"Kalian tidak mendengarnya?" tanya Hera lagi.


"Tidak, Luna."


Aneh, bahkan suara itu terasa jelas ditelinga Hera. Ia ingin mengabaikannya tetapi suara itu semakin nyata dalam pendengarannya.


Lalu mereka berjalan lagi, kali ini medan yang harus mereka lewati adalah pasir yang sangat dalam hingga mereka harus memiliki kekuatan ekstra dalam melangkah demi langkah. Untung saja mereka adalah werewolf yang memiliki kekuatan lebih besar dibanding manusia pada umumnya. Kalau tidak, mungkin persediaan air yang mereka miliki sudah habis mengering.


Fiuuuhhhh ...


Lagi, Hera mendengar suara itu lagi. Untuk ketiga kalinya Hera bertanya kepada Jose dan Wella. "Apa kalian tidam mendengarkan apa yang aku dengar lagi?"


Dan kali ini mereka mengangguk meski tidak yakin.


"Saya mendengar sesuatu yang berdesir, Luna."


"Aku mendengar itu juga, tetapi samar-samar," ucap Jose. "Mengapa tubuhku tiba-tiba merinding?" ujar Jose. Ia mengusap bahunya yang terasa dingin hingga menyucuk tulang itu. 


"Disini tidak ada makhluk halus seperti di dunia manusia, jika itu yang kau fikirkan," ucap Hera. "Jadi aku berfikir itu hanyalah angin saja,"


"Hei aku tidak mengatakan suara itu adalah makhluk halus," delik Jose.


Hera mengendikkan bahunya acuh, lalu ia melangkah lagi dengan perlahan.

__ADS_1


"Luna, benda apa itu?" tanya Manuwella, jarinya menunjuk ke arah belakang yang sudah mereka lewati.


Sontak Jose dan Hera menoleh arah tunjuk Wella.


Dikejauhan sana terdapat seperti kabut, namun kabut itu seperti kabut pasir. Dan anehnya kabut itu sedikit demi sedikit membesar.


"Mengapa kabut itu membesar?" tanya Hera bingung.


"Sialan!" umpat Jose. "Itu bukan kabut, itu tornado! Dan dia tidak membesar melainkan mendekat ke arah kita, lari!" teriak Jose.


Pergerakan tornado itu sangat cepat sehingga membuatnya semakin cepat mendekat ke arah mereka. Pasir disinipun sudah mulai berterbangan karena tempiasan angin dari tornado itu.


"Kita harus berpencar!" kata Hera. "Aku akan berjalan maju, kalian harus membelok ke arah yang lain!" katanya lagi.


"Tidak, Luna! Itu akan membahayakan Anda!" tolak Wella tegas. "Biar saya yang akan berjalan maju, Anda harus melindungi diri Anda!" katanya lagi. Karena besar kemungkinan tornado itu akan berjalan maju.


"Ini perintah, Wella!" tegas Hera.


Wella menggeleng. "Dan kali ini saya melawan perintah Anda, Luna." Lagi-lagi Wella berkata tegas, ia tidak akan membiarkan Hera mengambil langkah maju.


"Hera, Manuwella benar! Kau ikut kami, jangan berjalan maju! Kemungkinan besar tornado itu juga akan bergerak maju, dan kau akan habis!" ucap Jose.


Ia heran mengapa di saat seperti ini Hera tidak memikirkan nyawanya? Ia malah memikirkan orang lain. Jose sangat benci sifat Hera yang satu ini.


Hera memejamkan matanya mengabaikan ucapan Wella dan Jose, ia berkonsentrasi untuk menggunakan Timmy Controller guna memperlambat waktu. "Cepatlah! Waktuku tidak banyak untuk kita berdebat! Kalian harus mengikuti perintahku!" Perintah mutlak disertai sedikit dorongan itu membuat Wella dan Jose tidak bisa berkata apa-apa, jika ia melanggar maka ia juga akan melanggar perjanjian yang pernah ia lakukan dulu untuk tidak melanggar perintah sang Luna terutama bagi Wella yang pernah melakukan perjanjian tersebut.


Akhirnya mereka berlari kearah yang berbeda. Tornado itu semakin mendekat, benar kata Joselyn dan Manuwella. Tornado tersebut berjalan maju, dan otomatis Hera juga tersapu tornado itu.


"HERA!" / "LUNA!"


Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Manuwella ia mengeluarkan air matanya dan itu untuk sang Luna.


∆∆∆


Di Blood Dark Pack,


"Ada apa, Orlando?" tanya Luna Meghan ketika melihat keresahan di wajah orang yang menjelma menjadi Alpha Ares itu.


"Saya tidak tau, Luna. Perasaan saya tidak enak sekarang ini," jawab Orlando. Perasaannya mengatakan telah terjadi sesuatu. Tetapi entah apa ia pun tidak tau.


Luna Meghan, memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar. Dia juga merasakan perasaan tidak enak, semoga saja tidak terjadi apa-apa.


"Luna, ada hal yang ingin saya beri tahu," ucap Orlando.


"Katakan,"


"Perisai yang saya buat sudah semakin melemah, dan kapan saja perisai itu akan hancur jika semakin besarnya sihir hitam yang mencoba menerobos perisai itu,"


∆∆∆

__ADS_1


Gantung ya? Emang sih, rasanya belum puas kan bacanya hmmmmnn


Meskipun begitu tunggu kelanjutannya ya, saya usahakan updetnya enggak lama, tapi enggak janji nih


__ADS_2