RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS

RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS
RDWP 11.


__ADS_3


...********...


~Di kediaman keluarga Alexander.


"Selamat datang tuan Samudera!" Sambut para pelayan menyambut kedatangan tuannya, berbaris rapi didekat pintu masuk.


"Hm," Dingin Samudera terus berjalan melewati mereka, dengan pandangan lurus kedepan.


"Mari tuan, biar saya bawakan jas anda!" Ujar salah satu pelayan.


"Terimakasih," Balas Samudera sambil memberikan jas hitam yang ia kenakan, kepada pelayan tersebut.


"Oh yah, bagaimana keadaan Lucas?" Tanya Samudera, menanyakan soal kondisi adiknya.


"Keadaan tuan Lucas sudah mulai membaik tuan. tetapi, dari tadi pagi tuan Lucas lumayan sulit untuk disuruh makan," Jawab pelayan wanita tersebut, membuat Samudera menghela nafas.


"Dasar bocah itu," Batin Samudera.


"Baiklah, dimana dia sekarang?" Tanya Samudera sekali lagi.


"Saat ini tuan Lucas sedang beristirahat didalam kamarnya tuan."


"Kalau begitu, tolong buatkan sepiring makanan untuk dia, lalu antar ke kamarnya," Pinta Samudera.


"Baik tuan, segera saya siapkan," Balas pelayan wanita tersebut, lalu segera pergi meninggalkan Samudera, menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan.


"Anak ini memang merepotkan," Sebal Samudera sambil berjalan menuju kamar adiknya.


Sekarang, Samudera sudah berdiri didepan pintu berwarna coklat, dengan terdapat tempelan stiker bertuliskan 'kamar Lucas'.


Tangan kanan Samudera memegang gagang pintu, dan membukanya. Terlihat adiknya Lucas, tengah tiduran dikasur sambil memainkan handphonenya.


"Lucas!" Panggil Samudera berjalan menghampiri adiknya itu.


"Kakak," Sahut Lucas adik dari Samudera, langsung duduk selepas melihat kedatangan kakaknya.


"Apa yang kau lakukan?" Ucap Samudera dengan nada kesal.


"Mmm maksut kakak apa yah?" Tanya Lucas bingung dengan nada bicara kakaknya.


"Kenapa kau tidak mau makan?, jangan membuat repot semua pelayan Lucas," Tutur Samudera.


"Memangnya kenapa?, mereka semua harusnya sabar, kalau orang sakit itu memang perlu diperhatiin tahu kak. Masa pagi, siang, malem disuruh makan, memangnya perut aku itu apa?, gentong gitu," Cebik Lucas.


"Tapi, kalau kamu gak makan, gimana mau cepet sembuh adiikkk," Gemas Samudera mencubit pipi adiknya yang lumayan chubby itu.


"Ish apaan sih kak, jangan cubit-cubit bukan mahram!" Sebal Lucas.


"Emang Lu pikir gua apa?, bencong!"


"Haha, kakak Samudera sendiri loh yah yang ngaku bencong, Lucas dari tadi diem loh," Balas Lucas tersenyum puas.


"Dulu bunda ngidam apaan sih, sampai yang keluar begini," Batin Samudera sempat menyesal, mempunyai adik dengan spesies seperti ini.


//Tok tok tok// Terdengar suara pintu kamar Lucas diketuk.


"Masuk!" Suruh Samudera, lalu nampak seorang pelayan wanita yang tadi sempat Samudera suruh untuk membawakan sepiring makanan.


"Ngapain kesini?, buat siapa itu makanannya?" Ujar Lucas merasa tak suka.

__ADS_1


"Ini buat tu-"


"Sudah, kemarikan makanannya, biar saya sendiri yang urus," Pinta Samudera, dan mempersilahkan pelayan wanita tersebut untuk keluar.


"Ayo makan!" Suruh Samudera mengambilkan sesendok nasi, dan disodorkan kepada Lucas.


"Gak!, aku udah kenyang," Tolaknya.


"Emang habis makan apa kenyang itu?" Tanya Samudera.


"Ituu!" Balas Lucas sambil menunjuk kearah tong sampah yang berada disudut ruangan, disana banyak sekali tumpukan sampah snack kentang kesukaannya.


"Kamu itu sakit dek!, gak boleh makan begituan dulu."


"Terserah aku lah, mulut-mulut aku. Lagipula enakan itu ketimbang ini, sopnya gak enak, asem," Balas Lucas menjulurkan lidahnya tepat di kata 'asem'.


"Makan gak!, kalau tetep gak mau makan. Kakak ambil paksa kartu black card kamu," Kecam Samudera semakin merasa kesal dengan sikap adiknya itu.


"Kok ancemannya gitu sih!, gak adil!"


"Yah makanya ayo makan!" Suruh sang kakak sekali lagi.


Beginilah drama sinetron antara Samudra dan adiknya Lucas, mereka memang sulit untuk akur. Padahal cuman masalah soal makanan, menjadi panjang seperti ini.


"Hm iyah-iyah," Balas sang adik dengan nada terpaksa.


"Padahal dia kakak aku, kok aku mikirnya kemana-mana yah," Batin Lucas merasakan desiran aneh di hatinya. Sedangkan Samudera, masih sabar menunggu sesuap nasinya itu dimakan oleh adiknya.


"Buka mulutnya Lucas!. Gimana mau masuk kalau mulutnya ditutup," Mendengar sentakan dari kakaknya, membuat Lucas terkejut dan langsung melahap sesuap nasi dari kakaknya itu.


"Nah, gini kan pinter," Tambah Samudera.


"Ish, jantungan gua. Kira-kira bunuh kakak sendiri dosa gak yah," Batin Lucas sambil menatap kearah Samudera.


"Makasih," Balas Lucas lalu meminum segelas air tersebut.


"Kakak habis ini mau pergi kemana?" Tanya Lucas seraya mengelap bibirnya dengan tisu.


"Mau istirahat sebentar, terus pergi ke konser musiknya Keyra," Jawab Samudera kembali dingin.


"Owh ke konser musiknya kak Keyra, Lucas boleh ikut gak?"


"Kamu masih sakit, mending dirumah aja," Larang Samudera.


"Loh kok gak boleh sih kak, aku kan juga pingin refreshing bentar, nenangin pikiran," Protes Lucas merasa tidak terima.


"Haaahh, iyah deh boleh. Tapi sebelum berangkat, kamu harus makan lagi sepiring terus minum obat, biar cepet sembuh."


"Iyah-iyah," Angguk Lucas hanya bisa menuruti permintaan Samudera.


"Oh yah ini!" Ucap Samudera sambil memberikan sebuah buku cukup tebal kepada adiknya.


"Buku apa ini kak?, komik yah!" Lucas pun menerimanya dengan perasaan senang, akhirnya kakaknya itu bisa memberikan sesuatu yang ia sukai.


"Bukan," Jawab Samudera lalu berdiri dari duduknya, dan berjalan menuju pintu kamar.


"Tapi buku rumus matematika, menurut yang kakak tahu, membaca buku itu dapat membuat pikiran seseorang menjadi lebih tenang dan juga senang, so jangan lupa dibaca yah!" Sambungnya dengan senyuman, lalu pergi dari dalam kamar adiknya.


"KAKAK SESAAATTT!!!" Teriak Lucas hingga terdengar sampai keluar kamar.


"Mana ada orang sakit malah disuruh baca rumus matematika jadi rileks pikirannya," Ujar Lucas langsung melempar buku itu, menjauh dari hadapannya.

__ADS_1


...********...


...~Flashback~...


Beberapa tahun yang lalu, didepan gedung seni musik.


"Woaaahhh kak Keyra lihat!. Besar banget yah kak gedungnya," Kagum Keysa sewaktu kecil dulu, bersama dengan Keyra kakaknya berdiri didepan sebuah gedung seni musik yang sangat megah itu.


"Iyah dik besar," Balas Keyra, kedua kakak beradik itu tak henti-hentinya memandang gedung tersebut.


"Wah kak lihat!" Tunjuk Keysa, kearah salah satu poster disana dengan terpampang sebuah gambar seorang gadis pemain biola. "Dia cantik banget yah kak," Sambung Keysa melihat sesosok wanita berbalut gaun putih.


"Iyah Keysa, cantik."


"Emmm Keysa suka yah sama dia?" Tanya Keyra kepada adiknya.


"Iyah kak, dia itu idola Keysa. Namanya Venus, dia seorang violinis," Jawab Keysa.


"Keysa suka sama biola?" Tanya Keyra sekali lagi.


"Iyah, Keysa suka sama biola. Karena menurut Keysa, siapapun yang memainkan biola dia adalah orang yang anggun dan percaya diri. Mampu mengekspresikan perasaannya melalui sebuah nada."


"Memangnya kenapa, kakak Keyra juga suka?" Sambung Keysa berbalik bertanya.


"Entah," Balas Keyra mengangkat bahunya.


"Ah apaaa, kakak Keyra juga ingin jadi seorang pemain biola?" Tanya Keysa sekali lagi kini lebih antusias.


"Kalau itu tidak mungkin Keysa, aku tidak pandai memainkan alat musik apalagi biola."


"Itu tidak benar kak. Kakak Keyra pasti bisa kalau kakak mau melakukannya, tidak ada kata gagal dalam dunia ini kak, kalau kita mau berusaha," Sahut Keysa memberi semangat.


"Kenapa, disaat aku mengatakan soal biola, Keysa menjadi begitu bersemangat," Batin Keyra menatap mata adiknya yang masih berbinar.


"Baiklah, aku sudah memutuskan."


"Kalau aku, akan menjadi seorang violinis dan berdiri dipanggung besar itu suatu hari nanti," Sambung Keyra dengan nada semangat.


"Woaaahhh beneran kakak!" Ujar Keysa merasa tidak percaya.


"Yah, tentu saja," Yakin Keyra.


"Baiklah, kalau begitu Keysa juga akan dukung kakak!" Balas Keysa tak kalah semangatnya.


"Suatu hari nanti, kakak Keyra akan berdiri dipanggung besar didalam sana, dan memainkan biola seperti seorang bintang," Sambung Keysa dengan menunjuk kearah gedung konser musik tersebut.


"Keysa akan menonton konser kakak, dan selalu menyemangati kakak Keyra nantinya. Serta menunjukkan kepada dunia kalau kakak Keysa adalah seorang pemain biola."


"Yah Keysa, terimakasih," Senang Keyra karena adiknya sangat mendukung keinginannya.


...********...


~Didalam mobil, dalam perjalanan menuju ke gedung seni musik.


"Sebentar lagi, kakak akan berdiri dipanggung besar itu adik," Ucap Keyra sedih, sambil memegang sebuah kalung berbentuk hati, yang terdapat foto Keysa didalamnya.


"Semuanya sudah siap, mimpi kita berdua akan segera menjadi kenyataan. Hanya, kehadiranmu saja yang kurang," Padahal Keyra sudah menyisakan satu bangku VIP untuk duduk Keysa nanti. Tetapi sekarang, itu hanyalah menjadi sebuah bangku kosong tak berpenghuni.


"Keysa, kakak rindu kamu adik," Gumamnya sambil memeluk kalung tersebut, mencurahkan rasa sedihnya didalam sana.


Sedangkan sekretaris Albert, merasa kasihan melihat raut wajah nonanya Keyra dari kaca spion tengah mobil. Semenjak berangkat dari rumah tadi, Keyra memang sudah tidak bersemangat, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

__ADS_1


"Semoga anda baik-baik saja nona," Batin sekretaris Albert.



__ADS_2