RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS

RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS
RDWP 16


__ADS_3


Sedangkan diarea belakang panggung, terdapat Keyra yang sudah duduk disalah satu sofa dengan sekretaris Albert berdiri disampingnya, sebentar lagi giliran gadis itu untuk tampil akan segera tiba.


"Apa anda merasa gugup nona?" Tanya sekretaris Albert, melihat Keyra hanya duduk terdiam sambil menangkupkan kedua tangannya, menatap kosong kebawah lantai.


"Sedikit Al," Balas Keyra.


"Tidak perlu merasa takut begitu nona Keyra, semuanya pasti akan baik-baik saja. Setelah anda perform nanti, akan ada banyak sekali tepuk tangan meriah yang ditujukan untuk anda."


"Bukan itu maksud ku Al, ini adalah pertama kalinya bagiku berdiri dipanggung sebesar itu, ini adalah momen yang selama bertahun-tahun akhirnya impian ku bersama Keysa bisa terwujud. Aku takut, kalau nanti semuanya tidak akan berjalan dengan lancar, dan Keysa akan merasa kecewa ketika melihat kakaknya dari atas sana."


"Tenanglah nona Keyra, yakinlah dengan kemampuan anda," Balas sekretaris Albert.


"Saya bisa mengerti perasaan apa yang sedang anda rasakan saat ini, kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, semua itu bercampur menjadi satu didalam hati anda. Dan juga menjadi beban didalam pikiran anda."


"Bagaimana kau bisa tahu Al?, hihi apa sekretaris ku ini adalah cenayang?" Balas Keyra merasa kagum, karena sekretaris Albert mampu menebak dengan benar bagaimana isi pikirannya saat ini.


"Karena, saya juga pernah mengalaminya nona."


"Benarkah?, apa kau bisa menceritakan sedikit mengenai kisahmu itu kepadaku?"


"Tentu saja nona, dengan senang hati saya akan menceritakan hal tersebut kepada anda."


"Dulu, sewaktu saya masih duduk dibangku SMA kelas 12. Kelas kami mengadakan praktek memasak untuk penilaian akhir semester, saya dan kelompok saya yang beranggotakan lima orang bersepakat untuk membuat jamu," Ujar sekretaris Albert mulai menceritakan soal pengalaman masa lalunya.


"Membuat jamu?, kenapa harus jamu?, kenapa tidak memilih menu yang lain saja?" Tanya Keyra.


"Karena kebetulan anggota kami pada waktu itu semuanya adalah laki-laki nona, tidak ada yang bisa memasak diantara kami berlima. Kalaupun ada mungkin hanya telor mata sapi saja, tapi ... apa istimewanya?"


"Lalu, akhirnya giliran kelompok kami untuk maju kedepan pun tiba, perasaan saya begitu campur aduk, telapak tangan saya basah mengeluarkan keringat dingin. Kami mempresentasikan proses membuat jamu itu dihadapan seluruh anak dan juga para guru-guru."


"Lalu?"


"Lalu, sebenarnya ini juga kesalahan kami sekelompok karena terlalu mengentengkan, didepan sana kami berlima sama sekali tidak tahu bagaimana cara jamu itu buat. Hingga saya menyuruh untuk mencampurkan saja semua bahan-bahannya kedalam panci."


"Kami tahu kalau hal itu salah, tapi yang kami berlima pikirkan saat itu hanyalah ingin cepat-cepat selesai dan kembali duduk. Apa anda tahu nona?, warna jamu yang kami ciptakan berwarna keruh, dan menimbulkan bau yang aneh."


"Apa kau sudah mencoba untuk mencicipinya terlebih dahulu?" Tanya Keyra.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada yang berani mencoba jamu tersebut diantara kami berlima. Jadi, kami langsung menadahkan jamu buatan kami itu kedalam sebuah gelas, dan diberikan kepada guru untuk dinilai."


"Heeee yang benar saja Al, kau memberikan jamu kepada para guru, yang bahkan dirimu dan anggota kelompok mu sendiri tidak mau mencobanya karena kalian tahu rasanya pasti mengerikan. Lalu, bagaimana tanggapan mereka?"


"Inilah bagian paling memalukannya nona Keyra, akibat jamu buatan kami berlima itu. Guru-guru menderita sakit perut, ada yang bilang sampai muntah-muntah, dan juga diare. Bahkan kelas kami kosong selama tiga hari karena guru pengajar kami sakit," Ucap sekretaris Albert sontak membuat Keyra tertawa terbahak-bahak sampai keluar air matanya.


"Hahahaha Al, astaga hahahaha," Tawa Keyra kesulitan untuk mengatur nafasnya, "Astagfirullah perut aku sakit."


"Kau telah melakukan kesalahan besar Al, kau telah meracuni orang-orang itu."


"Saya juga berpikir seperti itu nona, hingga kami berlima harus meminta maaf kepada guru-guru itu satu persatu. Tapi untungnya, kami hanya diberi peringatan saja, karena mereka tahu kalau kami tidak bermaksud buruk. Hanya karna faktor kelalaian saja."


"Permisi, mohon maaf mengganggu perbicangan kalian berdua, nona Keyra lima menit lagi giliran anda, mohon bersiap-siap," Ucap salah satu staf tersebut kepada Keyra.


"Baik," Balas Keyra lalu mendapati staf tersebut pergi meninggalkan mereka.


"Baiklah Al, sebentar lagi giliran ku," Ujar Keyra sambil berdiri dari duduknya, dan mengambil sebuah biola yang terletak diatas meja.


"Apa anda sudah baik-baik saja nona Keyra?" Tanya sekretaris Albert.


"Yah Al, terimakasih yah, karena cerita lucu mu tadi mood ku kembali membaik. Aku tidak pernah menyangka, ternyata seorang sekretaris yang tegas dan juga dingin seperti mu, bisa mempunyai pengalaman kocak seperti itu," Jawab Keyra dan namanya mulai dipanggil untuk segera bersiap-siap naik keatas panggung.


"Ini semua untuk mu Keysa, semua ini untuk mu," Ujar Keyra berada didekat tangga, yang nanti akan menghubungkan dirinya dengan dunia berbeda, bertemu dengan ribuan penonton yang sudah siap untuk menyaksikan pertunjukkannya.


Entah mengapa, setiap kali diriku menutup mata, kenangan indah itu kembali terekam, memori manis itu kembali terngiang seperti nyata adanya.


Suaranya, senyumnya, wajahnya, matanya, dan, tingkah laku menggemaskannya, Keysa ... kakak rindu kamu sayang.


...********...


"Itu dia," Gumam Samudera melihat Keyra naik keatas panggung dengan riuh tepuk tangan dari para penonton, sekilas Keyra melihat kearah Samudera tengah duduk menatap dirinya di tribun penonton.


Samudera mengedipkan matanya, untuk memberikan sebuah tanda kalau semuanya pasti akan baik-baik saja. Keyra membalasnya dengan senyuman, lalu kembali menghadapkan pandangannya lurus kedepan, mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


Alunan musik mulai terdengar, gesekan biola mulai dimainkan. Seluruh penghuni gedung terdiam, mereka semua serasa terhipnotis oleh seorang dewi dengan begitu anggun dan menawannya memainkan sebuah biola seperti ratu diatas sana.


...--Flashback on--...


"Keysa, nanti kamu pulang sekolah nya jam berapa?" Tanya Keyra kepada sang adik yang sedang memasang sepasang sepatu diruang tamu.

__ADS_1


"Mungkin agak telat an kak, kakak Keyra jemput jam empat sore aja kak," Balas Keysa yang sudah selesai, mengambil tas ranselnya yang tergeletak disofa sebelah ia duduk.


"Yaudah, kamu hati-hati yah, yang pinter sekolahnya."


"Siap kak Keyra, kalau begitu Keysa berangkat dulu yah, assalamualaikum!" Pamit Keysa dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Selepas melihat kepergian sang adik, Keyra menggerogoh saku celananya mengambil sebuah benda gepeng bernamakan ponsel, "Kira-kira, hadiah apa yang cocok untuk Keysa saat ulang tahunnya nanti?" Pikir Keyra sambil melihat-lihat beberapa barang menarik di aplikasi belanja online.


"Sebaiknya aku mencari tahu terlebih dahulu, lagipula ulang tahun anak itu masih beberapa bulan lagi," Sambungnya kembali memasukkan ponsel tersebut kedalam sakunya.


...--Rahasia dibalik wajah polos--...


"Bunda, Keyra berangkat dulu yah, mau nyusul adik di sekolahannya," Pamit Keyra diteras rumah sambil menaiki sepeda motornya.


"Iyah hati-hati yah sayang," Sahut ibunda dari dalam rumah.


Mesin motor pun menyala, dan melaju menuju ke SMA Pancasila untuk menjemput sang adik Keysa.


"Ko-kok sepi yah, sekolahnya," Heran Keyra melihat keadaan disana sudah kosong tidak ada orang, suasananya terasa begitu mencekam.


Ia memutuskan untuk pergi memeriksa kedalam, melihat pintu gerbang sekolah yang sedikit terbuka. Terlihat seorang siswi dengan posisi tengkurap didekat air mancur sekolah. "Eh, ngapain anak itu tiduran disana?"


"Dik, adik, ngapain kamu tiduran disini, ayo bangun!, nanti bisa sakit loh," Tutur Keyra kepada anak tersebut, tetapi tidak mendapatkan respon sama sekali.


"Kondisi dia, kenapa berantakan banget?"


"Dek!" Kedua tangan Keyra mencoba untuk membalikkan tubuh gadis itu agar menghadap kearah dirinya.


"Ke-Keysa!" Kejut Keyra melihat sang adik bersimbah darah, dengan kondisi sudah tidak bernyawa. "KEYSA!"


...--Flashback off--...


"Kakak Samudera, kenapa nada musik kak Keyra terdengar marah?" Tanya Lucas merasa bingung dengan perubahan alunan musik secara tiba-tiba yang dimainkan oleh Keyra.


"Itu bukan marah Lucas, kalau kau bisa memahami, itu sebenarnya adalah suara jeritan dari hati sang pemain violinis itu sendiri," Jawab Samudera tersenyum kecil.


"Hah?" Bingung Lucas karena tidak bisa mengerti arti dari perkataan yang kakaknya itu ucapkan.


"Yang jahat harus diberi hukuman, hidup mu sudah cukup tersiksa Keysa, biar kakakmu ini yang membalaskan dendam," Batin Keyra dengan linang air mata, dan pada saat yang bersamaan pertunjukan dia sudah selesai.

__ADS_1


Seluruh penonton langsung berdiri dari tempat duduknya, untuk memberikan sebuah tepuk tangan yang meriah kepada Keyra.


__ADS_2