RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS

RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS
RDWP 6.


__ADS_3


Malam hari, 16 Oktober 2013.


Tampak bulan dinodai awan, angin bersemilir pekat menusuk kulit, Keyra tengah berjalan menuju ke halaman belakang rumahnya mengenakan baju piyama.


Keyra berjalan menuju kesebuah gundukan tanah yang berpatokan batu nisan, Keyra berdiri dihadapannya, menatapnya sesaat, lalu berjongkok didekat makam tersebut.


"Keysa, kakak disini," Ujar Keyra, mengelus sebuah batu nisan yang bertuliskan nama adiknya itu.


"Maaf, kakak sudah jarang buat jengukin kamu disini, kakak Keyra lagi sibuk buat siksa anak-anak yang pernah jahat sama kamu dik." Wuuussshhh semilir angin berhembus semakin terasa dingin.


"Sekarang kakak tahu apa yang kamu rasain, ternyata sakit yah dik. Tapi tenang, sebentar lagi kamu akan bebas," Sambungnya tersenyum kecut, membayangkan tengah berbicara berdua dengan adik perempuan kesayangannya.


Apa diriku sudah gila?, berbicara sendiri dengan sebuah makam yang berisikan mayat didalamnya.


Tidak, aku bukan gila, melainkan kesepian. Hidupku berantakan seperti kehilangan arah, hatiku kosong, aku sendirian. Saudariku mati sebelum waktunya tiba, dan sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah bisa menerima kepergiannya.


...********...


Keesokan harinya, Senin 17 Oktober 2013.


"Non!. Nona Keyra, bangun non!" Terdengar suara lelaki tua tengah membangunkan Keyra dengan menepuk-nepuk pelan pundaknya.


"Hmmmm," Lenguh Keyra terbangun dari tidurnya, membuka kedua matanya yang cukup silau akibat sinar matahari, lalu menoleh kearah lelaki tua yang tadi membangunkan dirinya.


"Pak ... pak Bejo!" Kaget Keyra melihat tukang kebun rumahnya, saat ini berdiri disamping dirinya.


"Pak Bejo ngapain ada disini?" Sambung Keyra bertanya.


"Seharusnya saya yang bertanya nona, ngapain nona Keyra tiduran di sini?" Balas pak Bejo.


"Saya?" Ulang Keyra bingung, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan benar saja, Keyra sekarang masih ada dihalaman belakang rumahnya, sepertinya dia semalam ketiduran disini, di makam adiknya.


"Saya ... saya kayaknya semalem ketiduran disini deh pak."


"Nah itu makanya, saya dari kejauhan itu tadi lihat nona Keyra lagi tiduran disini. Saya pikir nona Keyra kenapa-kenapa makanya saya bangunin," Balas pak Bejo.


"Lagian juga, ngapain nona Keyra pake tidur disini?. Memang, kamarnya nona banyak nyamuknya yah?, apa ... panas non?. Perasaan Minggu kemarin AC nya habis dibetulin loh," Sambung pak Bejo.


"Enggak kok pak, saya ... cuman lagi kangen aja sama adik saya," Mendengar jawaban dari Keyra, membuat pak Bejo empati mendengarnya.


"Owh gitu yah non," Balas pak Bejo tak bisa berkata banyak, karena takut salah bicara dan malah menyakiti hati majikannya. Kehilangan seseorang itu memang sulit bukan?.


"Tapi non, lain kali jangan tiduran disini lagi yah, saya takut kalau sampai nona Keyra sakit. Hati-hati loh non nanti didatengin sama buaya," Hingga pak Bejo mencoba untuk menghibur.

__ADS_1


"Haha, memang rumah saya kebun binatang sampai ada buaya nya. Kalaupun ada, pak Bejo pasti buaya daratnya," Jawab Keyra menahan tawa.


"Sorry yah non, asal nona Keyra tahu saja, pak Bejo itu orangnya setia. Banyak cewek yang naksir sama saya, tapi semua bapak tolak. Cuman demi neng Ratih yang geulis dikampung."


"Iyah deh iyah, pak Bejo itu orangnya setia. Kok malah jadi bucin gini sih pak, udah ah saya mau mandi dulu," Balas Keyra sembari berdiri.


"Iyah non silahkan!. Eh tapi non, nona Keyra punya hubungan spesial yah sama tuan samudera, apa cuman sekedar teman aja?. Tuan samudera itu ganteng loh non, masa nona Keyra gak ada perasaan acikiwir gitu sama dia, uhuy."


"Bapak Bejo mau dipecat kapan?, sekarang?, kemasi barang-barangnya yah pak," Balas Keyra.


"Eh eh enggak non enggak!. Saya mau bekerja disini non, sumpah saya masih betaahhh banget. Jangan pecat saya yah non!. Saya minta maaf!" Ujar pak Bejo seketika ketakutan, menangkupkan kedua tangannya memohon maaf.


"Kalau sekarang saya pulang kampung, saya masih belom punya uang buat ngelamar neng Ratih non. Plis yah non jangan pecat pak Bejo!"


"Sudah akting drama Indosiar nya?. Sekarang, mending pak Bejo balik ke tugasnya bapak, dan jangan ganggu saya!" Balas Keyra.


"Siap non!" Ujar pak Bejo dengan sikap hormat.


"Kalau sampai bapak Bejo bahas soal hal itu lagi, langsung saya usir dari rumah ini!. Biarin gak ada modal buat ngelamar neng Ratih," Kecam Keyra, lalu lekas pergi dari sana.


"Siap non siap," Mewek pak Bejo tak berdaya.


...********...


Seperti biasanya, Keyra bersiap untuk berangkat ke sekolah dengan mengenakan baju seragam SMA, ditambah dandanan cupu dan polosnya. Lalu diantar oleh pak sopir menuju ke sekolah.


Semua murid bergegas menuju kelapangan upacara, berbaris sesuai kelas mereka masing-masing. Untuk siswa-siswi yang terlambat ataupun atribut yang dikenakan tidak lengkap, harus dihukum berdiri didepan lapangan.


Akhirnya upacara bendera hari Senin pun dimulai, komandan upacara mulai memberi aba-aba. Karena tubuh Keyra yang cukup pendek, oleh sebab itu dirinya berada dibarisan paling belakang.


"Panas banget sih!" Keluh salah satu siswi dibarisan depan.


"Iyah nih, baru juga mulai udah panas banget," Tambah temannya.


"Pura-pura pingsan enggak apa-apa mungkin yah, biar bisa ngadem gitu di UKS," Ujarnya cengengesan.


"Jangan berisik!, hadap depan!" Tegur bapak guru berpatroli, memantau situasi upacara.


"Hem kena kan Lo, kan gua tadi sudah bilang, sekarang itu waktu piketnya pak Samsul dibelakang, telinganya itu tajam banget," Bisik temannya.


Suasana kembali hening, bendera merah putih sudah dikibarkan, kini waktunya bapak kepala sekolah memberikan sebuah ceramah ataupun informasi kepada anak-anak muridnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh!" Salam bapak kepala sekolah itu.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," Balas salam seluruh para peserta upacara bendera.

__ADS_1


"Yaaahhh, ini lagi pake ceramah. Udah tahu panas begini, makin ditambah lagi. Lama-lama jadi ikan asin nih gua," Sebal salah seorang siswa.


"Bagaimana kabarnya semuanya, anak-anak murid ku yang sangat bapak cintai dan bapak banggakan, bapak doakan semoga semuanya sehat selalu," Ucap bapak kepala sekolah tersebut.


"Di pagi yang berbahagia ini, bapak disini cuman ingin menyampaikan sebuah pesan, bahwa ... yang namanya kebahagiaan seorang anak didik itu sangat teramat penting. Oleh sebab itu, bapak tidak ingin kalau sampai ada kasus pembullyan disekolah ini," Sambungnya.


"Cih, bullshit banget." Batin Keyra tersenyum smirk mendengar ucapan kepala sekolah itu, yang menurut dirinya hanyalah sebuah omong kosong.


Keyra memutuskan untuk membalikkan badannya, menghampiri salah satu petugas UKS disana.


"Kak!" Panggil Keyra dengan nada polos.


"Iyah dik?" Tanya petugas UKS tersebut, yang kebetulan anak kelas 12.


"A-aku, boleh izin ke toilet sebentar enggak kak?, mau buang air kecil soalnya," Pinta Keyra.


"Owh iyah deh boleh, tapi jangan lama-lama yah!" Balas petugas UKS tersebut.


"Baik kak, terima kasih," Ujar Keyra lalu melangkah pergi dari sana.


Didalam perjalanan, ternyata Keyra tidak pergi menuju ke toilet, melainkan membelokkan arah, menuju ke salah satu kelas yang letaknya cukup dekat dengan lapangan upacara.


Darisana Keyra dapat mendengar kalau kepala sekolah masih melanjutkan pidatonya.


Keyra bersembunyi dibalik tembok kelas, mengambil sebuah pistol dari celana yang dirinya kenakan dibalik rok seragam sekolah. Lalu memasang peluru didalamnya.


"Gausah banyak bacot pak," Ujar Keyra, mencoba membidik pistolnya tepat dibagian kepala bapak kepala sekolah.


"Mending disimpen pidatonya, buat introspeksi diri," Selepas menyelesaikan kalimatnya, dor Keyra melepaskan tembakannya, peluru itu melesat tepat mengenai sisi kiri kepala bapak kepala sekolah.


"Aaaahhhhh."


"Pak, bapak, anda tidak apa-apa pak!"


"Pak bangun pak!" Semua orang terdengar histeris, melihat bapak kepala sekolah mereka terkapar ditanah dengan cucuran darah di bagian kepalanya.


Bapak dan ibu guru dengan sesegera mungkin membawa bapak kepala sekolah darisana, dan mencoba untuk menelpon ambulans. Semua murid ketakutan, berteriak-teriak, berlari-lari tidak karuan. Entah darimana tembakan itu berasal.


Sedangkan disisi lain, Keyra tersenyum dan tergelak puas, melihat sebuah ketakutan dan keributan yang ia ciptakan. Suara-suara mereka bagaikan musik indah dikedua telinganya.


"Hahahaha, hiks lucu banget sih," Tawa Keyra sampai menangis, bahkan perutnya terasa sakit.


"Kalian semua sok-sokan ceramah soal mengatasi pembullyan dan tindak kekerasan disekolah ini. Sedangkan, kasus soal adikku Keysa yang bahkan lebih penting dari itu semua malah kalian anggap sebagai sampah!"


"Jadi, tidak usah peduli dengan kasus atau apapun itu. Jika tentang adikku saja, kalian tidak pernah mementingkan soal kesehatan mentalnya," Sambung Keyra merasa marah.

__ADS_1



__ADS_2