RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS

RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS
RDWP 18


__ADS_3


"Ca-calon suami?" Petir menyambar dengan kilatan besar tepat diatas kepala lelaki itu, hatinya terasa remuk, perasaannya hancur.


"Benar, saya adalah calon suami dari nona Keyra," Jawab Samudera.


"Ta-tapi, sejak kapan?, saya tidak pernah mendengar tentang hal ini sebelumnya, yang saya tahu nona Keyra tidak mempunyai pasangan," Genggaman tangannya meremas begitu kuat buket bunga yang dia pegang, melampiaskan rasa kecewa serta perih yang ia rasa.


"Dan sekarang kau, sudah tahu bukan?"


"Lebih baik kau segera pergi darisini, berikan saja buket bunga mu itu kepada wanita lain. Jangan ganggu calon istri saya lagi," Dingin Samudera lalu meraih tangan Keyra, mengajaknya pergi dari sana.


"Tunggu!" Teriak lelaki tersebut, spontan membuat langkah kaki Samudera dan Keyra berhenti. Dan melihatnya berjalan menghampiri mereka berdua.


"Ini," Ujarnya dengan menyodorkan buket bunga mawar yang ia pegang kepada Keyra.


"Tolong terima bunga pemberian saya ini nona Keyra, walaupun sejujurnya saya memesan buket bunga mawar ini begitu spesial hanya untuk anda, dan untuk mewakilkan rasa suka saya kepada anda," Sambungnya tersenyum tipis.


"Tetapi, ternyata semuanya tidak berjalan lancar sama seperti apa yang saya bayangkan, anda sudah bertunangan dengan lelaki yang terlihat jauh lebih baik dan tepat untuk menjaga anda."


"Drama banget sih hidupnya," Batin Samudera memutar bola matanya jengah, ia seperti hanya seekor nyamuk disana.


"Iyah, kamu juga yah, semoga dapat diberikan wanita yang lebih baik diluar sana," Balas Keyra tersenyum kaku, Gadis itu sudah merasa lelah harus pura-pura berakting seperti ini. "Samudera, lihat kau nanti," Batinnya.


"Tolong, anda terima yah nona," Pintanya sekali lagi, dan dengan segera Keyra mengulur kan tangan untuk mengambil buket bunga mawar pemberian dari lelaki itu.


"Terimakasih."


"Hm, sama-sama nona Keyra, saya pamit pergi dulu," Balasnya lalu pergi dengan langkah kaki lesu.


Selepas kepergian pria itu, Keyra langsung membuang buket bunga tersebut dan berbalik menatap kearah Samudera dengan iris mata tajam.


"Maksud kamu apa sih Samudera!" Sebal Keyra.


"Apa?" Tanya Samudera santai.


"Ngapain kamu pake ngomong sama dia kalau kamu itu calon suami aku, emang sejak kapan kamu ngelamar aku?, kita gak pernah punya hubungan sejauh itu," Pungkasnya meluapkan emosi.


"Terus?" Ujar Samudera melangkah lebih dekat dengan Keyra.

__ADS_1


"Kalau aku gak bilang seperti itu tadi sama dia, memang kamu rela mau terima perasaan dia?"


"Eng-enggak juga sih, ta-tapi kan dia kasihan," Balas Keyra masih merasa bersalah, kalaupun dirinya mau menolak setidaknya bisa menggunakan cara yang baik-baik, bukan malah membuat kebohongan seperti itu.


"Terus kamu mau jawab apa waktu dia ungkapin perasaannya tadi?, kalau kamu masih mau fokus sama pekerjaan dulu, atau kamu belum siap buat memikirkan semua itu," Ujar Samudera mampu menebak isi pikiran Keyra.


"Dengerin aku Keyra, cintanya seorang laki-laki itu kalau dia memang sudah tulus, walau kamu jawab bagaimanapun juga, dia pasti akan rela buat nunggu orang yang dia sayang sampai siap jadi miliknya. Kalau kamu jawab seperti itu tadi, sama aja kamu beri lelaki itu harapan palsu."


"Lebih baik aku jawab dia seperti itu, gua tahu itu sakit tapi mau bagaimana lagi. Lagian, Lo juga gak bakal mau kan sama dia?"


"Tapi kan, gak usah pake acara ngomong calon suami juga," Manyun Keyra memalingkan wajahnya.


"Kalau dia sampai percaya beneran, terus berusaha untuk cari informasi gimana, nanti aku bisa jawab apa?"


"Tidak mungkin, kalau dia memang bisa mengerti soal privasi orang lain, dia tidak akan mencari informasi sampai sejauh itu."


"Tapi kan-"


"Memangnya kenapa sih?, kamu kecewa karna yang tadi barusan itu cuman bohongan, kamu maunya yang beneran?"


"Yaudah, pulang nanti aku bakalan beliin undangan atas nama kita berdua yah, sama aku persiapkan semuanya."


"Hh iyah-iyah, aku cuman bercanda kok, jangan marah."


"Aku balik dulu yah," Pamit Samudera kembali beraut wajah dingin.


"Kemana?" Tanya Keyra.


"Kembali menemui Lucas, dia pasti sudah mencari ku sekarang, kau sendiri kan yang mengatakan kalau aku harus segera memperbaiki soal hubunganku dengannya," Jawab Samudera.


"Iyah," Angguk Keyra, melihat Samudera berjalan beberapa langkah melewati dirinya, dan berdiri tepat disamping tubuhnya menepuk bahu kanan gadis itu.


"Apa kau masih akan melanjutkan rencana balas dendam mu?" Tanya Samudera terdengar berbisik.


"Tentu saja, masih ada 500 siswa yang belum aku cicipi suara jeritan kesakitan mereka," Balas Keyra dengan suasana atmosfer yang berbeda.


Samudera tersenyum smirk, "Baiklah, semangat, semoga lancar," Ujarnya lalu menepuk bahu Keyra sekali lagi dan berlalu pergi.


"Sebelum sekolah itu hancur, maka rencana balas dendam ini akan terus berlanjut!" Gumam nya mengepal erat kedua tangannya.

__ADS_1


"Satu nyawa harus dibalas dengan seribu nyawa."


~Keyra Galaxia Putri.


..."Jangan bermain-main denganku sayang, nanti kau akan terluka."...


...--Rahasia dibalik wajah polos--...


Keesokan harinya ....


Di SMA Pancasila, lebih tepatnya dikantor dewan guru sedang diadakan sebuah rapat, yang mana seluruh pengajar SMA Pancasila beserta wakil kepala sekolah tengah menghadiri acara tersebut.


"Bagaimana ini pak!" Protes salah satu guru laki-laki sambil menggebrak meja, terdengar menggema merambat keseluruh ruangan.


"Murid kita di SMA Pancasila semakin menipis, sekolah kita sedang kekurangan anak saat ini. Sebagian banyak sekali dari mereka yang keluar mengundurkan diri, sebab alasan yang sama sekali tidak masuk akal, dan selebihnya siswa-siswi hilang lenyap entah kemana."


"Dan sekarang juga, kemana bapak kepala sekolah?, selepas tragedi penembakan di acara upacara bendera hari Senin lalu, beliau masuk kedalam rumah sakit, dan sampai sekarang masih belum juga beliau kembali."


"Benar pak," Tambah salah satu guru mengeluarkan suara, membuat seluruh perhatian tertuju kearahnya terutama bapak wakil kepala sekolah.


"Dan sampai sekarang juga, kita masih belum tahu siapa dalang dibalik penembakan itu yang sampai membuat kepala bapak kepala sekolah terluka serius," Ucapnya.


"Saya hanya merasa khawatir, dengan dugaan saya saat ini pak," Sambungnya menjeda kalimatnya.


"Dugaan tentang apa pak?" Tanya bapak wakil kepala sekolah merasa penasaran.


"Apa bapak ibu semua yang hadir didalam rapat ini tidak pernah merasa?, kalau setelah tragedi beberapa tahun lalu, seorang siswi yang ditemukan mati dengan berlumur darah didekat air mancur sekolah, sejak peristiwa itu sekolah kita mulai bermunculan banyak sekali masalah," Jawabnya dengan raut wajah gelisah.


"Saya hanya takut pak, karena kita menutup kasus tentang anak siswi itu me-"


"Sudah pak," Potong bapak wakil kepala sekolah.


"Anda telah berpikir terlalu jauh, tenangkan saja dulu pikiran anda saat ini, menurut saya kasus ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tragedi tersebut."


"Baiklah kalau begitu, sekian untuk rapat pagi ini saya tutup, terimakasih kasih atas kehadirannya bapak ibu guru pengajar, kalian sudah boleh kembali bekerja."


Akhirnya rapat pun ditutup, guru-guru mulai membereskan barang-barang mereka, dan kembali mengajar sesuai dengan jam masing-masing.


Sedangkan tanpa sadar diluar ruang kantor dewan guru, disana terdapat seorang siswi bersandar di dinding, dia mendengar tentang semuanya hal apa saja yang sedang mereka bahas. Terutama soal, tragedi mengerikan itu.

__ADS_1


__ADS_2