RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS

RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS
RDWP 19.


__ADS_3


Quotes RDWP:


"Sekarang kita hidup di zaman, dimana yang lemah akan di tindas. Dan mereka yang kuat bisa berkuasa."


--Keyra Galaxia Putri--


"Ingat woy, mereka cuman bisa bacot. Dan Lo yang berhak akan takdir Lo sendiri, so believe in yourself."


--Kyler Lucas Alexander--


"Jangan pernah menuntut orang untuk menjadi sempurna. Ingat!, manusia hanyalah tanah yang diberi nyawa."


--Jax Samudera Alexander--


...********...


"Tenang saja bapak, nasib malang mu juga akan segera tiba," Ujar Keyra dengan nada mengerikan, mengambil langkah pergi meninggalkan area tersebut.


Sebuah kelas yang terletak paling ujung dekat koridor, saat ini kondisinya sangat bersisik dan ramai, akibat tidak ada guru dikelas mereka, membuat semua murid bebas melakukan apa saja.


Ada yang nyanyi-nyanyi tidak jelas, dengan beberapa temannya memukul-mukul meja sebagai instrumen pengiring lagu. Ciwi-ciwi gosip di pojokan, ada yang tiduran saking gabutnya, dan paling mirisnya si ketua kelas yang pasrah karena kondisi sudah tidak dapat ia kondisikan.


"Assalamualaikum!" Salam Keyra sambil membuka pintu kelas, kedatangan dirinya seperti sebuah peredam. Mampu membuat seisi kelas diam seketika.


Seluruh pasang mata tertuju kepada Keyra, sampai gadis itu sudah duduk ditempatnya. Keadaan meja Keyra sungguh kotor, terdapat banyak sekali coretan bolpoin, dan juga tipe x, serta lebih parahnya lagi dibawah kursinya ada beberapa tempelan permen karet.


"Ini pasti ulah mereka," Ujar Keyra dengan membaca segala tulisan yang teman sekelasnya tulis diatas meja kayu tersebut.


"Beban."


"Dasar cupu, sok polos!"


"Gak cocok sekolah disini, pindah gih!"


"LOSER."


"PRIIKK!!"


"Jelek, nolep pantesan gak ada temen."


Sejujurnya, masih ada banyak lagi cemooh yang terpampang begitu jelas disana, tetapi mata dan hati Keyra sudah tidak sanggup untuk membaca itu semua. Intinya, mereka semua tidak suka kalau ia satu kelas dengan mereka.

__ADS_1


"Eh tas aku kemana?" Tanya Keyra melihat tas ranselnya menghilang, yang sebelumnya sudah ia gantungkan di cantolan samping meja.


Mata Keyra terus mencari-cari dimana keberadaan tasnya, sambil sesekali bertanya kepada anak-anak disekitarnya, tetapi mereka lebih memilih acuh atau pura-pura tuli daripada menanggapi omongan gadis tersebut.


"Rara," Panggil salah satu anak menarik pelan lengan baju Keyra.


"Apa?" Tanya Keyra menoleh kearah anak perempuan itu, dan melihatnya menunjuk kearah suatu tempat.


Keyra mengikuti kemana arah jari telunjuk anak perempuan itu pergi, betapa terkejutnya sebuah tas ransel berwarna biru laut milik Keyra sudah tergeletak diatas almari kelas.


"Maaf Rara, padahal aku sudah berusaha buat halangin mereka. Tapi mereka malah marahin aku," Ujar gadis itu dengan nada takut.


"Ini sudah keterlaluan!" Batin Keyra berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak apa-apa, terimakasih sudah memberitahu ku Leondra," Ujar Keyra melirik kearah nama dada yang tertempel dibaju seragam siswi tersebut.


Tanpa pikir panjang, Keyra langsung mengambil kursi duduknya, dan mengangkatnya menuju almari kelas, menggunakan kursi tersebut sebagai bantuan agar Keyra dapat mengambil kembali tas ranselnya yang terletak diatas almari kelas.


Disaat Keyra sudah berhasil mengambil kembali tas ranselnya, tiba-tiba kursi tersebut goyah akibat ditendang oleh seorang siswi sampai membuat Keyra terjatuh kelantai, mengakibatkan lengan dan bokong Keyra terbentur cukup keras. "Achhss," Ringis nya kesakitan.


Alih-alih mereka memberikan sebuah pertolongan, yang Keyra dengar hanyalah gelak tawa dan cercaan.


"Hahahaha," Tawanya begitu puas, menyaring dikedua telinga Keyra.


Kini sisi iblis Keyra sudah muncul, tiada satupun anak yang berani maju untuk menolong siswi tersebut, mereka dibuat takut oleh sikap Keyra saat ini.


"Kalau kau mau mati sekarang, katakan. Akan ku kabulkan," Ujar Keyra terdengar tajam.


"Ra-Rara, ma-maafin aku, plis le-lepasin!" Pinta siswi tersebut kesulitan untuk berbicara, sebab cekikan Keyra yang begitu kuat mencengkram lehernya.


"Kakak Keyra, lepaskan dia," Sekelibat terdengar suara Keysa melintas didalam pikiran Keyra, spontan membuat Keyra langsung melepaskan cekikannya dari leher anak itu.


"Ke-Keysa, a-apa yang sudah ku lakukan?" Batin Keyra seperti orang tidak sadar, melihat kearah seluruh anak yang sedang memandanginya dengan tatapan ketakutan.


Dengan segera, Keyra langsung memungut kembali tas ranselnya, kembali duduk ditempat duduknya. "Gawat, apa yang sudah kulakukan. Kalau seperti ini, mereka akan menyadari kalau aku hanya berpura-pura selama ini," Batin Keyra merasa resah, ia takut kalau rencana yang sudah dirinya susun selama bertahun-tahun akan hancur seketika.


"Eh kamu enggak apa-apa?" Beberapa anak terlihat bergerombol menghampiri siswi yang sempat dicekik oleh Keyra, anak itu hanya bisa menggeleng sambil memegang lehernya, dengan luka bekas berwarna merah.


"Rara serem banget sih."


"Iyah, aku jadi takut buat deket-deket sama dia."


"Ada apa ini?" Tanya ibu guru yang sudah berdiri diambang pintu kelas dengan menenteng tas ditangan kirinya, melihat keadaan kelas begitu kacau.

__ADS_1


"Eh ada guru ada guru," Seluruh anak langsung panik dan bergegas untuk duduk di kursi mereka masing-masing.


"Saya tadi diluar dengar suara ribut-ribut, apa yang sudah kalian lakukan, sewaktu saya tinggal pergi rapat sebentar?" Tanya ibu guru berdiri didepan papan tulis, menghadap keseluruh murid.


"Hei nak!, saya ini tanya sama kalian, kok pada diem semua, ketua!. Saya kan sudah minta tolong sama kamu, jaga kelasnya, jangan ramai, sekarang ceritain ke saya, tadi ada apa, suara kalian itu sampai kedengaran disana loh nak," Ujar ibu guru.


"A-anu bu, tadi itu ada-" Balas ketua kelas ragu-ragu.


"Semua ini salah Rara bu!" Sahut seorang siswa seraya berdiri menunjuk kepada Keyra.


"Iyah bu, ini semua salah dia!" Tambah temannya, dan jawaban yang lain semakin bersahutan menyalahkan Keyra.


"Rara?, memangnya dia salah apa?" Tanya ibu guru cukup heran, karena menurutnya Keyra adalah salah satu siswi yang pendiam dan juga pintar.


"Dia sudah cekik si Mey bu."


"Ce-cekik?"


"Mey, apa benar yang teman kamu katakan?, kamu dicekik sama Rara?" Ujar ibu guru kepada Mey yang duduk di kursi paling depan.


"I-iyah bu," Angguk Mey sedikit takut, lalu dengan langkah kaki marah bercampur rasa tidak percaya ibu guru berjalan menghampiri tempat duduk Keyra.


"Rara, apa benar yang teman kamu katakan nak?, kamu habis cekik si Mey Rara?" Tanya ibu guru dengan nada lembut, berharap kalau hal itu salah, dan Keyra dapat memberikan jawaban lainnya.


"Iyah bu, itu benar. Saya baru saja sudah berbuat hal buruk kepada teman saya," Jawab Keyra dengan kepala tertunduk kebawah, dan kondisi rambut acak-acakan.


"Ta-tapi, tapi kenapa Rara?, setahu ibu kamu itu anak yang baik nak, kamu tidak mungkin melakukan hal jahat seperti itu," Balas ibu guru.


"Karena saya ingin melindungi diri saya bu, saya ingin membela diri saya sendiri," Jawab Keyra terdengar sedih.


"Rara, lengan kamu kenapa?" Tanya ibu guru menggenggam lengan Keyra, dengan terdapat luka lebam kebiruan.


Tak sampai disitu saja, dia juga baru menyadari rok seragam Keyra yang terlihat kotor, terdapat banyak sekali coretan cemoohan di mejanya, serta beberapa sisa-sisa permen karet.


"Siapa yang sudah melakukan ini di tempat duduk Rara?!" Bentak ibu guru kepada semua anak.


"Kalian tidak mau menjawab?" Sambungnya karena tidak mendapatkan respon sama sekali dari mereka.


"Rara, sekarang kamu ikut sama ibu ke ruang BK, Mey kamu juga. Dan ketua, kamu juga ikut sebagai saksi dan ceritakan tentang semua yang barusan terjadi sebelum ibu masuk ke kelas ini!" Ujar ibu guru meminta ketiga anak itu untuk pergi keruang BK bersama dengan dirinya.


"Kita selesaikan semuanya disana, dan untuk kalian semua saya minta untuk tidak berisik dan tetap tinggal didalam kelas," Pinta ibu guru.


__ADS_1


__ADS_2