RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS

RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS
RDWP 23


__ADS_3


Pesan WhatsApp:


Kak Samudera: "Dek, ayo cepetan kamu masuk kesini, kakak tunggu."


Lucas membaca pesan singkat yang ia dapat dari Samudra, dan segera pergi masuk kedalam gedung tersebut menemui kakaknya.


"Selamat datang tuan Lucas," Sambut para pelayan berbaris rapi didekat pintu masuk menyambut kedatangan Lucas, "I-iyah," Balas Lucas canggung.


"Kok mereka sudah pada tahu namaku sih?" Batin Lucas merasa bingung. "Tapi gak heran juga sih, orang tampan macam gua mana ada yang gak kenal coba."


"Mari tuan Lucas, biar saya antar anda menemui tuan Samudera," Ujar salah satu pelayan terdengar ramah kepada Lucas.


"Baiklah," Angguk Lucas dan diantar pergi oleh pelayan tersebut menuju kesebuah tempat.


"Ini ruangannya?" Tanya Lucas yang sudah sampai didepan pintu coklat dengan gagang pintu berwarna emas, pintu itu terlihat begitu besar.


"Iyah tuan Lucas, biar saya membantu membukakannya untuk anda," Balas pelayan itu membuka pintu coklat tersebut, "Silahkan masuk tuan Lucas, kakak anda sudah menunggu anda didalam sana," Sambungnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Lucas.


Dengan pikiran yang dipenuhi tanda tanya, Lucas mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam sana, ternyata isi didalam ruangan tersebut tidak kalah mewah dari luarnya saja. Begitu banyak sekali rak-rak buku besar, meja-meja sebagai tempat untuk membaca, serta beberapa jendela memberikan tempat untuk angin sejuk masuk dari luar.


Lucas yang memang memiliki hobi membaca, menganggap tempat ini sebagai surga dunia. "Gila, keren banget," Batin Lucas terkagum.


"Gimana?, suka enggak?" Terlihat Samudera menyandarkan tubuhnya pada salah satu rak buku, sambil membawa sebuah buku disalah satu tangannya.


"Suka," Balas Lucas tidak bisa memberikan jawaban apapun selain itu.


"Kalau kamu suka berarti," Ujar Samudera berjalan menghampiri sang adik. "Masalah kita sudah clear dong yah."


"Masalah?" Ulang Lucas berusaha untuk mencerna kata-kata yang Samudera berikan.


"Oooohhhh, jadi kakak Samudera ngotot ngajak aku kesini buat sogok aku biar gak marah lagi," Ujar Lucas setelah terdiam beberapa detik. Maklum ngelag sebentar.


"Iyah, kakak minta maaf yah," Balas Samudera mengulurkan tangan sebagai tanda permintaan maaf kepada Lucas.


"Iyah-iyah, Lucas maafin," Ujar Lucas melirik kearah lain, tanpa menerima jabatan tangan tersebut. Biasa, gengsi teman-teman.


"Terima tangan gua adek, jangan dikacangin!" Gemas Samudera mengacak-acak rambut Lucas sampai berantakan, membuat anak itu mendengus sebal.


"Iiihhh iyah-iyah, gitu aja marah," Kesal Lucas berusaha untuk merapikan kembali tatanan rambutnya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, kak Samudera dapet darimana tempat sebagus ini?, kok Lucas gak pernah tahu yah, kalau ternyata ada perpustakaan sebesar ini di kota Y," Tanya Lucas.


"Ada deh, mending kamu gak usah pikirin semua itu. Tugas kamu disini cuman, baca, duduk, makan. Sebentar lagi pelayan-pelayan akan datang sambil bawa beberapa troli makanan," Jawab Samudera.


"Wah beneran kak?"


"Iyah."


"Tapi kok, tempat ini sepi banget sih kak?. Harusnya tempat sebagus ini kan rame, kok dari awal Lucas masuk sampai sini cuman ada kita berdua aja?"


"Karena kakak sudah sewa satu gedung ini cuman buat kamu Lucas, biar kamu tenang baca bukunya," Jawab Samudera membuat kedua bola mata Lucas membulat.


"Sultan mah bebas yah bund," Batin Lucas menelan ludah, untuk menyewa gedung sebesar ini pasti memerlukan biaya yang banyak, uang jajan Lucas setahun mungkin belum cukup.


"Ya sudah, kakak tinggal pergi dulu yah," Pamit Samudera.


"Eh kakak Samudera mau pergi kemana?"


"Ada urusan penting dikantor Lucas, kamu disini aja, kalau sudah selesai kamu bisa telepon kakak. Nanti aku jemput," Balas Samudera lalu pergi menuju pintu keluar.


"Kak!" Panggil Lucas membuat langkah Samudera berhenti di ambang pintu.


"Iyah?"


"Iyah sama-sama," Jawab Samudera merasa senang, akhirnya hubungan persaudaraan mereka kembali seperti semula. //Klep// pintu pun tertutup.


"GAS BACA BUKUUU," Teriak Lucas menggema seisi ruangan, hatinya merasa begitu gembira, ia tidak pernah menyangka bahwa Samudera bisa memberikan sebuah kado yang sangat ia sukai.


Didalam sana, Lucas seperti sibuk dengan dunianya sendiri, laki-laki itu hanya membaca buku komik dan juga novel, kecuali untuk buku berbau-bau pelajaran Lucas tidak melirik atau menyentuhnya sama sekali.


...--Rahasia dibalik wajah polos--...


--Kediaman Keyra--


"Kalau begitu saya rasa, peringatan hari ini sudah cukup. Sekarang kalian bertiga sudah boleh kembali ke kelas, dan juga besok mohon ajak orang tua kalian untuk datang ke sekolah jam delapan, saya tunggu di ruangan saya."


Perkataan ibu guru sewaktu di ruang BK tadi, kembali terputar didalam otak Keyra. Gadis itu merasa cemas dan juga bingung, siapa yang harus dia bawa besok kesekolah.


"Aku harus bawa siapa?" Tanya Keyra kepada dirinya sendiri.


"Apa aku minta tolong sama Samudera aja?, tapi gak mungkin sih wajah dia masih muda, pasti guru itu curiga."

__ADS_1


"Terus siapa, masa aku harus bawa ayah sama bunda, sama aja bunuh diri dong kalau gitu," Ucap Keyra semakin pusing.


"Eh apa mungkin. BI HANAA!!!" Teriak Keyra memanggil nama seseorang.


"Iyah nona?" Tanya bi Hana yang sudah berdiri didepan Keyra, baru saja berlari dari arah dapur.


"Aku mau minta tolong sama bi Hana boleh enggak?, tapi tolong panggilin pak Bejo dulu yah bi, suruh kesini," Pinta Keyra kepada pelayanannya itu.


"Baik non, saya panggil dulu sebentar yah," Balas bi Hana lalu lekas pergi ke taman rumah, untuk memanggil pak Bejo. Dan beberapa menit kemudian, bi Hana pun kembali dengan sudah membawa pak Bejo di sampingnya.


"Ini non, pak Bejo nya," Ujar bi Hana.


"Yah non, nona Keyra ada perlu apa yah panggil saya?" Sahut pak Bejo sambil mengelap keringat di keningnya.


Keyra diam sejenak, ia tidak langsung menjawab pertanyaan pria tersebut. Keyra melihat kedua orang itu, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Sip," Batin Keyra tersenyum.


"Bi Hana, pak Bejo. Kalian besok ikut Keyra kesekolah yah, pura-pura jadi orang tua kandung aku," Ujar Keyra sontak membuat kedua manusia itu berteriak. "APAAAA!!!"


"Kok malah kaget sih?"


"Non, sampeyan yang bener aja non. Wajah saya sama nona Keyra beda jauh banget loh non, nanti sampai sana nona Keyra malah dikira anak tiri saya non," Ucap bi Hana.


"Apalagi bapak nya modelan kayak gini, waduh gak cocok banget non," Sambung bi Hana sambil menunjuk kearah pak Bejo.


"Eehhh bi Hana kalau ngomong tinggal ceplos aja yah, saya tua-tua gini mudanya itu ganteng banget loh bi. Jadi primadona saya dulu dikampung," Balas pak Bejo merasa tidak terima.


"Halah modus," Celetuk bi Hana.


"Hh, udah-udah, gak usah berantem gitu, perut aku udah sakit nih ketawa terus."


"Plis yah bi, pak. Tolong, satu kali iniii aja. Besok ikut Keyra yah, pura-pura jadi orang tua kandung aku. Tenang aja, Keyra sudah siapin kertas kok, disana sudah Keyra tulis bi Hana sama pak Bejo harus ngomong apa aja, gampang banget loh," Pinta Keyra memohon.


"I-iyah deh non, bibi jadi gak tega kalau nona Keyra sampai mohon-mohon gitu," Balas bi Hana.


"Iyah non pak Bejo juga, jangan sedih lagi yah non, kita pasti bantu kok."


"Makasih banyak yah, kalian berdua memang baik banget sama Keyra."


"Tapi non sebelum itu, pak Bejo boleh tanya sesuatu gak non?"


"Iyah boleh silahkan?"

__ADS_1


"Gurunya nona Keyra laki-laki apa perempuan?, kalau perempuan masih single gak non?, kali aja mau gitu sama saya."


"Wuuuhh buaya, pantesan aja neng Ratih di kampung gak mau sama pak Bejo," Ledek bi Hana.


__ADS_2