
--Ruang BK--
"Baiklah, sekarang saya mau kalian bertiga ceritakan, sebenarnya apa yang sudah terjadi saat dikelas tadi?" Tegas ibu guru, melihat kearah ketiga muridnya duduk disebuah sofa berhadapan dengan dirinya, dengan kepala menunduk.
"Kenapa kalian bertiga hanya diam saja?, kalian ini mendadak bisu apa bagaimana?" Geramnya, lalu melihat si ketua kelas perlahan memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya.
"Bi-biar saya saja bu yang menjelaskan," Ujar si ketua kelas terbata-bata.
"Baiklah, apa?" Balas ibu guru mempersilahkan.
"Jadi begini bu, anak-anak satu kelas me-mereka berniat untuk membully Rara dengan mengotori tempat duduknya dan juga menaruh tas ransel dia diatas almari kelas," Ucap si ketua kelas berusaha untuk menjelaskan semuanya, terutama pada saat Keyra sampai berani mencekik leher Mey.
"Ja-jadi kurang lebih seperti itu bu," Pungkas si ketua kelas selepas selesai menceritakan segalanya, sedangkan reaksi ibu guru terlihat begitu marah, dia tidak bisa memberikan respon apapun kecuali menggelengkan kepala.
"Lalu apa gunanya kamu sebagai ketua kelas?" Dingin ibu guru merasa kecewa, bukankah pemimpin itu dipilih agar bisa menjaga dan juga mengayomi orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.
"Sa-saya ... saya terlalu takut bu untuk memberi tahu mereka, saya tidak mau kalau nanti sampai dibenci oleh anak-anak hanya karena membela dia," Balas si ketua kelas, membuat ibu guru menghela nafas kasar.
"Itu berarti sudah menunjukkan, kalau kamu memang tidak pantas untuk menjadi seorang ketua. Pemimpin itu seharusnya mempunyai mental yang kuat, dia tidak akan membiarkan salah satu temannya dibully sampai separah ini. Dimana sikap jiwa pemimpin kamu?" Ujar ibu guru.
"Kalau kamu mau berani memarahi mereka, menasihati mereka, Rara tidak akan sampai dibully seperti itu, dan juga Mey dia tidak mungkin dicekik oleh temanmu. Ini semua terjadi karena apa?, karena kamu tidak becus. Tidak ada sifat ketegasan didalam diri kamu."
"Nanti saya akan rombak kembali tatanan pengurus kelas, dan kamu saya akan turunkan dari jabatan sebagai ketua kelas," Ujar ibu guru kini memusatkan perhatiannya kepada Keyra.
"Untuk kamu Rara, kenapa kamu tidak melaporkan saja kasus pembullyan ini kepada guru BK atau kepada guru-guru yang lain nak?. Kenapa kamu hanya diam saja?" Tanya ibu guru merasa kasihan.
__ADS_1
"Buat apa bu?" Tanya Keyra melihat wajah ibu guru, membuat mata mereka saling bertemu.
"Buat apa saya harus melaporkan, soal perbuatan buruk yang sudah mereka lakukan kepada saya?" Balas Keyra.
"Bukankah, pembullyan itu sudah menjadi seperti tradisi didalam sekolah ini?. Mereka sudah terbiasa, memukul, menjambak, melukai, mencerca, mengolok-olok kepada anak murid yang menurut mereka terlihat lemah. Itu sudah menjadi makanan sehari-hari bukan?" Ujar Keyra membuat ketiga manusia itu terbungkam. Perkataan Keyra diibaratkan sebuah belati yang tajam, menusuk dalam jiwa mereka hingga tembus.
"Jadi untuk apa saya harus melaporkan perbuatan keji mereka?, sampai suara saya serak, tenggorokan sakit dan terluka, sekolah ini tidak akan pernah mau mendengar jeritan hati saya."
"Itu tidak benar Rara, bagaimanapun juga kalian adalah anak murid di SMA Pancasila, orang tua kalian menitipkan kalian semua disini agar kami didik supaya memiliki kepribadian yang baik. Apapun masalahnya, kami para guru pasti akan mendengarkan semua keluh kesah anak-anak kami, sekaligus berusaha untuk menyelesaikannya," Balas ibu guru menepis halus pernyataan yang Keyra beri.
Karena perkataan itu, suasana menjadi hening, ibu guru bingung harus berkata apa sekarang, perkataan Keyra sudah mampu menghipnotis mereka semua, membuat ketiga orang itu tenggelam didalam rasa bersalah.
"Kalau begitu saya rasa, peringatan hari ini sudah cukup. Sekarang kalian bertiga sudah boleh kembali ke kelas, dan juga besok mohon ajak orang tua kalian untuk datang ke sekolah jam delapan, saya tunggu di ruangan saya," Ujar ibu guru lalu mempersilahkan ketiga anak itu, keluar dari dalam ruang BK.
"Tapi bu, kenapa harus memanggil orang tua?" Tanya Keyra.
"Karena masalah kalian tadi cukup serius Rara, saya pikir pemanggilan orang tua juga perlu dalam kasus ini. Saya ingin semuanya selesai dengan baik-baik," Balas ibu guru.
"Gawat, mana mungkin kan aku bawa bunda sama ayah dateng kesini besok," Batin Keyra berpikir keras. Bunda dan ayah Keyra memang tidak pernah mengetahui kalau anak putrinya saat ini bersekolah di SMA Pancasila, bekas dimana anak kedua mereka menuntut ilmu.
Mereka berdua hanya tahu kalau Keyra sedang sibuk dengan karirnya sebagai violinis, jadi bisa disimpulkan kalau kedua orang tua itu sama sekali tidak tahu soal rencana balas dendam yang gadis itu lakukan.
... ---Rahasia dibalik wajah polos---...
Akhirnya, Keyra, Mey, dan juga si ketua kelas kembali menuju ke kelas mereka bersamaan dengan bunyi bel pulang.
--kelas 11 MIPA 2--
__ADS_1
Keyra berserta kedua temannya itu, baru saja menginjakkan kaki mereka diambang pintu, sudah terlihat anak-anak tengah sibuk membersihkan meja mereka dari buku-buku, memasukkannya kedalam tas, bersiap untuk pulang.
Beberapa saat kemudian, kini kelas sudah dalam keadaan sepi, hanya tersisa dua anak disana yaitu Keyra tengah sibuk menyapu lantai melaksanakan piket kelas. Dengan satu anak lelaki duduk bersandar di kursinya dengan kaki diletakkan diatas meja.
"Haaahhh, capek," Hela Keyra mengelap keringat dengan punggung tangan, selepas selesai melaksanakan piket nya, ia pun segera pergi mengambil tas dan berjalan menuju pintu kelas.
Tetapi, disaat Keyra hendak keluar tiba-tiba //bam// pintu tersebut ditutup dengan bantingan keras oleh anak lelaki itu.
Mendengar suara itu membuat Keyra terkejut, menutup matanya karena takut. Ia mendapati seorang remaja lelaki berdiri dihadapannya, memblokir jalan Keyra agar tidak bisa keluar dari dalam kelas.
"Ka-kamu mau apa?" Tanya Keyra dengan nada gemetar, memasang face polosnya.
"Gua?" Ujar anak tersebut, lalu meludah ke sembarang tempat, kembali menatap Keyra dengan tatapan tajam. "Udah mulai kurang ajar Lo sekarang," Ujarnya mengambil beberapa langkah mendekati Keyra.
"Ma-maksut kamu apa?" Tanya Keyra seraya mundur beberapa langkah.
"Maksud gua apa?, haha," Balasnya tergelak tawa. "Berani-beraninya Lo cekik si Mey brengsek!!!" Pungkasnya melayangkan pukulan kearah kepala Keyra.
"Aghh," Darah segar berwarna merah, keluar menetes dari dalam perut anak tersebut, hingga menimbulkan bekas di baju seragam putihnya.
Ternyata, Keyra sudah bersedia sebuah pisau lipat didalam saku roknya, menusukkannya tepat diperut lelaki itu, dari awal Keyra sudah merasa ada yang tidak beres dari dirinya.
Keyra menarik pisau lipatnya yang sudah berlumur darah, anak remaja lelaki langsung jatuh kelantai dengan posisi memegangi perutnya.
"Kenapa?, Lo gak terima gua cekik pacar Lo?" Ujar Keyra memegang sebilah pisau lipat bercucur darah tersebut, semakin menambah aura mengerikan memancar dari dalam diri Keyra.
"Cewe sama cowonya sama aja, sama-sama sampah," Sarkas Keyra mendorong kepala anak itu menggunakan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Tadi sebenarnya gua bisa aja sih, cekik si Mey sampai dia meninggal. Tapi gua kasihan," Ucap Keyra menjeda kalimatnya, melihat wajah teman lelakinya itu nampak kesakitan, karena darah yang tak kunjung berhenti keluar dari dalam perutnya.
"Gua kasihan, kalau cowo songong kayak Lo jadi sad boy nantinya. Tapi tenang aja, gua akan segera bawa Lo bersatu sama tuan putri Lo itu dipenjara tikus gua," Sambung Keyra tersenyum jahat.