RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS

RAHASIA DIBALIK WAJAH POLOS
RDWP 22


__ADS_3


--Kediaman Alexander--


"Lucas, ayo ikut kakak keluar sebentar," Ajak Samudera kepada adiknya yang tengah sibuk menonton televisi film ipin-upin, sambil merangkul Snack kentang kesukaannya.


"Ngapain Lo ngajak gua keluar?, kita masih musuhan yah kak," Cetus Lucas kepada Samudera, ternyata hubungan kedua kakak beradik itu masih belum juga membaik.


"Terserah Lo mau masih kesel atau marah sama gua, yang penting sekarang ayo ikut gua keluar!" Ajak Samudera sekali lagi lebih memaksa.


"Apaan sih, suruh-suruh Lucas. Keluar aja sana sendiri, ganggu orang nonton film aja."


"Ini bocah pingin gua seret sumpah, kalau bukan karena Keyra gua gak sudi lakuin ini semua," Batin Samudera merasa geram, dengan perlahan mulai berusaha untuk mengontrol emosinya.


"Lucas," Panggil Samudera kini terdengar begitu lembut dan ramah.


"Ikut sama kakak yuk keluar," Ujar Samudera sekali lagi, dengan membelai lembut kepala sang adik.


"Ngeri," Batin Lucas seketika merinding, seluruh bulu kuduk laki-laki itu berdiri. Dia merasa geli dengan sikap Samudera yang dibilang cukup aneh ini. Jarang-jarang Samudera bisa bersikap manis seperti itu kepada dirinya.


"Kakak Samudera ke sambet apaan dah," Batinnya semakin dibuat takut saat melihat Samudera tersenyum. Horor banget.


"Ya-yaudah deh Lucas ikut," Ujar Lucas menjauhkan sedikit kepalanya dari tangan sang kakak, "Kakak gua sudah gila kali yah."


"Kalau gitu, sana cepetan ganti baju. Kakak tunggu diluar yah."


"O-oke."


...--Rahasia dibalik wajah polos--...


"Kita berdua mau pergi kemana sih kak?" Tanya Lucas merasa penasaran, karena sejak awal mereka berdua masuk kedalam mobil Samudera tidak memberitahu kemana tujuan mereka pergi.


"Nanti juga kamu bakal tahu sendiri," Balas Samudera masih menutupi, pandangannya fokus kedepan melihat kearah luar kaca mobil.


"Berapa lama lagi pak?" Tanya Samudera kepada pak sopir yang duduk di tempat kemudi.


"Sebentar lagi kita sampai tuan," Jawab pak sopir sambil menyetir.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka telah sampai disebuah gedung yang terlihat cukup besar. Mobil hitam milik Samudera masuk kedalam sana menuju tempat parkir.


"Lucas, kamu tunggu disini sebentar yah, jangan pergi kemana-mana, nanti kakak bakal telepon kamu buat suruh masuk kedalam," Ujar Samudera yang hendak membuka pintu mobil untuk keluar.


"Tapi kenapa?, kenapa Lucas gak boleh ikut?" Tanya Lucas semakin dibuat penasaran.

__ADS_1


"Udah tunggu disini, jangan bandel yah!. Pak, tolong jaga adik saya sebentar," Tutur Samudera.


"Baik tuan Samudera," Balas pak sopir lalu melihat Samudera keluar dari dalam mobil, menuju masuk kedalam gedung tersebut.


"Isshh sebenarnya ada apaan sih?" Gumam Lucas merasa sebal, ia tidak suka dengan sikap sang kakak seperti menutup-nutupi sesuatu dari dirinya. Kalau memang ujung-ujungnya seperti ini, kenapa ia harus mengajak Lucas pergi.


Beberapa menit berlalu, tapi Samudera masih belum juga menelpon Lucas sampai sekarang, laki-laki itu mulai merasa bosan harus menunggu lama didalam mobil kakaknya.


"Eh, tuan Lucas mau pergi kemana?, masih belum disuruh keluar sama tuan Samudera," Ujar pak sopir melihat adik tuannya itu, memegang gagang pintu mobil.


"Lucas mau pergi keluar sebentar aja kok, gak jauh-jauh. Cuman deket-deket area sini aja, lagian pengap kalau diem disini terus," Balas Lucas.


"Tapi benar yah tuan, jangan pergi jauh-jauh."


"Isshh iyah-iyah, udah mirip bunda aja suka ngatur-ngatur," Sebal Lucas lalu segera keluar dari dalam mobil tersebut.


"Haaahhh gini kan enak anginnya segar, daripada didalem pengap bau Stella," Lega Lucas akhirnya bisa menghirup udara segar, matanya terasa jernih melihat pemandangan kota diluar sana.


"Oyy kiyomasa," Tiba-tiba terdengar suara anak kecil didekat Lucas, membuat ia menolehkan kepalanya mencari-cari darimana asal suara tersebut.


"Oyy kiyomasa," Ucap anak kecil itu sekali lagi, dengan posisi berdiri disamping Lucas sambil membawa mainan mobil-mobilan merah dikedua tangannya.


"Panggil siapa dek?" Tanya Lucas kepada anak kecil tersebut.


"Fiks bocah prik," Batin Lucas.


"Adiknya lagi panggil siapa?" Tanya Lucas sekali lagi seraya membungkukkan badan.


"Panggil kakak, nama kakak kiyomasa kan?"


"Nama kakak bukan kiyomasa dek, tapi Lucas."


"Owh kulkas, namanya aneh banget yah, gak keren sama sekali, cringe."


"Lucas dek bukan kulkas, punya kuping kan?" Jawab Lucas terdengar kesal.


"Owh kak Lucas," Ujarnya dengan senyum tanpa dosa.


"Iyah," Balas Lucas memberikan penekanan, walau bagaimanapun juga dia hanyalah seorang anak kecil, Lucas harus bisa bersikap sabar untuk menghadapi sikap jahil anak laki-laki tersebut.


"Kak Lucas, bisa bantuin aku enggak?" Pintanya dengan memasang raut muka sedih.


"Boleh, memang adik mau kakak Lucas bantuin apa?" Tanya Lucas merasa kasihan, lalu berjongkok dihadapan anak kecil itu.

__ADS_1


"Kucing aku hilang kak, sudah seminggu aku cari dia kemana-mana tapi belum ketemu juga," Ujarnya menaruh lengan kanan di wajahnya, agar terlihat seperti menangis.


"Eh aduh kasihan, kucing kamu hilang yah. Yaudah sini biar kakak Lucas bantu cariin, memang nama kucing kamu siapa?"


"Nama dia anjing," Jawab anak kecil itu sambil menurunkan lengannya kembali, selepas mendengar nama dari kucing anak kecil tersebut, membuat kening Lucas mengerut.


"Tunggu sebentar dek, kamu kasih nama kucing kamu anjing?. Emang kamu gak ada nama yang lain dek selain itu?. Kucing sama anjing itu beda jauh loh dek," Heran Lucas tak tahu lagi, apa yang ada didalam pikiran anak kecil itu.


"Iyah bener, nama kucingnya aku itu anjing. Biar beda aja sih dari yang lain, juga biar gak ada yang nyamain."


"Owh."


"Yaudah, kamu punya gambar poster kucing kamu gak?, biar kak Lucas lebih gampang lagi buat carinya," Tanya Lucas terdengar tidak yakin.


"Ada kok ada, nih aku bawa," Jawab anak kecil tersebut mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya, terlihat sebuah kertas berwarna putih keluar dari sana.


"Nih kak fotonya, tolong bantu aku cari yah," Sambungnya memberikan selembar kertas tersebut kepada Lucas, dan lelaki itu pun menerimanya.


"Oke siap," Balas Lucas lalu memperhatikan selembar kertas pemberian dari anak kecil itu dengan seksama.



"Sial, dikerjain gua," Batin Lucas merasa dipermainkan, memutuskan untuk mengembalikan kembali selembar kertas itu kepada pemiliknya. "Udah meninggal kayaknya dek."


"Yaaahhhh sudah meninggal yah kak," Ujar anak kecil itu menerima kembali kertas miliknya, dengan raut wajah kecewa.


"Iyah."


"Yaudah deh kak, makasih yah."


"Iyah sama-sama."


"Kalau begitu aku pergi balik dulu yah kak, mau nemuin mama aku disana."


"Iyah dek hati-hati yah, turut berdukacita sama kucingnya," Balas Lucas melihat anak kecil itu mulai berjalan meninggalkan dirinya.


"Papay bang Wahyu," Pamitnya melambaikan tangan, sebelum berlari pergi menjauh dari Lucas.


"Nama gua Lucas yah dek!" Teriak Lucas meluapkan emosi yang sudah ia pendam sedari tadi.


"Yahahaha Wahyu," Samar-samar masih terdengar suara anak kecil tersebut, sebelum akhirnya benar-benar menghilang.


"Sial, bocil sekarang ngeselinnya nauzubillah," Kesal Lucas berkacak pinggang.

__ADS_1


__ADS_2