
Nyonya Rosa mengebut di jalan, ia mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Dara terlihat khawatir.
"Mama pelan pelan! Jangan terburu buru! " Ucap Dara.
"Diamlah Dara! " Ujar Nyonya Rosa. Dara semakin heran, namun ia memutuskan untuk diam.
Mereka sampai di sebuah rumah sederhana bernuansa putih polos. Nyonya Rosa keluar dari mobil begitu juga Dara, ia mengikuti Mama nya dengan keheranan. Nyonya Rosa melirik Dara.
𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘋𝘢𝘳𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢!
Batin Nyonya Rosa.
Mereka melangkah masuk.
𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪?
Batin Dara penasaran.
Nyonya Rosa memencet bel rumah dengan tidak sabaran. Seorang wanita yang terlihat sebaya dengan Nyonya Rosa keluar dengan air mata yang terus mencucur.
"Rosa, " Wanita itu memeluk Nyonya Rosa tanpa memerhatikan Dara yang tertegun heran.
"Mbak Nia, apa yang terjadi? " Tanya Nyonya Rosa pada Nyonya Nia.
"Dira, dia culik! Tolong temukan dia Rosa, lakukan sesuatu aku mohon... " Ucap Nyonya Nia dengan hati yang hancur.
"Apa? Di culik? " Secara spontan kata kata itu lah yang terucap dari bibir Dara. Sontak Nyonya Nia beralih menatap Dara.
Nyonya Nia tertegun, air matanya kembali mencucur, bayangan putrinya yang di culik kini muncul dalam diri Dara.
Dia tak kuasa menahan air mata itu, pertemuan yang selama ini ia nantikan, datang secara tidak tepat waktu.
"D-Dara... Kau Dara? " Nyonya Nia memegang bahu Dara.
"Iya Nyonya, saya Dara. Bagaimana anda tau? " Tanya Dara heran.
"Ya Tuhan!! Dara putri ku, " Nyonya Nia memeluk Dara dengan erat, seolah ia menemukan kehidupan nya yang lain.
Dara semakin heran, apa yang dimaksud Nyonya Nia? Ia menatap wajah Mama nya yang sedang menyeka airmata.
𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪? 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪 𝘯𝘺𝘢?
__ADS_1
Batin Dara.
Dara melepas pelukan itu.
"Maaf nyonya apa yang kau katakan? Aku bukan putri mu! " Ucap Dara.
Sebelumnya Nyonya Nia berbicara, Nyonya Rosa menjawab pertanyaan Dara.
"Dara dia ibu mu nak, " Ucapan Nyonya Rosa sontak membuat Dara tertegun.
"Apa yang Mama katakan? Ini semua tidak benar! " Dara menolak fakta ini.
"Kau putri ku nak! Aku ibumu! " Ucap Nyonya Nia dengan air mata yang terus mengalir. Bagaimana tidak? Putrinya sendiri tak mengakuinya.
"Mama, tolong jelaskan semua ini! " Ucap Dara yang sangat bingung.
"Dara dengarkan Mama! " Ucal Nyonya Rosa. "Sebenarnya dia adalah ibu kandung mu, saat kau lahir, suami ku yang selama ini kau panggil ayah dan yang sudah meninggal itu, telah mengambil mu dari ibu kandung mu! Ibumu menitip kan mu padaku karena tak kuasa menentang suami ku karena sebuah janji, jadi aku merawat mu hingga besar atas izin ibu mu nak, jika kau tidak percaya ini foto foto dan berkas berkas kelahiran mu!, " Nyonya Rosa memberikan berkas berkas yang menyatakan bahwa orang tua Dara adalah Nyonya Nia.
Dara tak kuasa membendung air mata nya, selama ini kebenaran sebesar ini telah di sembunyikan dari nya.
"Dan alasan Mama membawamu kekota ini karena ini sayang, kau harus tau semua ini! " Sambung Nyonya Rosa.
Dara menatap Nyonya Nia yang dari tadi menangis. Reflek Dara memeluk Nyonya Nia, ia tak menyangka semua ini.
"Ibuu.... " Ucap Dara dalam pelukan Nyonya Nia.
"Dara anakku, " Nyonya Nia tak berhenti menciumi kepala Dara. Momen yang sudah ia nanti nantikan selama bertahun-tahun. Dara menyeka airmata nya.
"Lalu, siapa Dira? Siapa yang meculik nya? " Tanya Dara.
"Dira, dia adalah saudara kembar mu nak, " Ucap Nyonya Nia yang membuat Dara menganga kembali, ia tak menduga punya saudara kembar.
"S-saudara kembar? " Tanya Dara dengan lidah kelu.
"Iya nak, dia adalah kakak mu, seseorang telah menculik Dira, " Ucap Nyonya Nia dengan airmata yang mengalir terus.
"Kita harus mencari nya bu, ayo ma, " Ucap Dara. Mereka mengangguk dan mulai mencari Dira.
Mereka masuk ke mobil, diperjalanan Nyonya Rosa memanggil polisi untuk membantu pencarian.
"Ibu, apa Dira punya musuh? " Tanya Dara pada Nyonya Nia.
__ADS_1
"Iya Dara, selalu ada orang yang ingin mencelakai Dira, berusaha menyakiti nya, " Jelas Nyonya Nia.
𝘋𝘪𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘶?
Batin Dara.
Di luar negeri, Dara juga seringkali di ganggu oleh beberapa gerombolan bertopeng. Namun, karena Dara pintar bela diri, seringkali gerombolan bertopeng itu KO melawan Dara.
Dara tak menyangka saudara kembarnya Dira juga selalu di teror seperti nya. Apa peneror nya seseorang yang sama? Atau gerombolan bertopeng itu sengaja di bayar? Apa seseorang berniat balas dendam? Atau ada yang benci pada mereka?
Pertanyaan inilah yang muncul di otak Dara sepanjang perjalanan, karena keahlian nya sebagai detektif swasta, ia jadi terbiasa akan hal hal seperti ini. Karena tak terlalu tau jalan jalan di kota AD, Dara jadi kesulitan mengendarai mobil.
Mereka mencari keseluruhan kota dengan bantuan polisi, semua tempat yang selalu di datangi Dira di periksa. Juga sebuah cafe tempat Dira bekerja.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 . Mereka hampir putus asa, tiba tiba Nyonya Nia teringat sesuatu.
"Oh iya! Dira pernah bilang orang-orang yang berusaha menyakiti nya pernah menyakiti nya di jalan F.I.L dekat toko buku, " Ucap Nyonya Nia tersentak.
"Dimana lokasi nya bu? " Tanya Dara yang langsung tancap gas.
Mereka tiba di lokasi, tempat nya sangat sepi, hanya beberapa kendaraan cepat yang melintas. Saat Dara dan Nyonya Nia keluar dari mobil mereka mendengar teriakan wanita.
"I-itu suara Dira!! " Pekik Nyonya Nia. Dara lebih menajamkan pendengaran nya.
"Ibu tenaglah! " Ucap Dara.
Suara jeritan wanita itu semakin keras, Nyonya Nia semakin panik hingga berteriak.
"DIRAAA!!! KAMU DIMANA?!?? " Teriak Nyonya Nia seraya berlari kearah gedung kosong itu.
"Ibu!!! " Pekik Dara sambil mengejar Nyonya Nia.
"AAAAAAAAAAA!!!! " Suara jeritan Dira terdengar keras. Nyonya Nia dan Dara tertegun menatap sebuah mobil yang menabrak seorang wanita yang tak lain adalah Dira.
Dira bersimbah darah di jalan.
"DIRAAA!!! " Nyonya Nia berlari kearah Dira, begitu juga dengan Dara.
BERSAMBUNG.......
𝗠𝗮𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗰𝗮, 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝗷𝗲𝗷𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮 𝘆𝗮🥰
__ADS_1