
Nyonya Nia, Nyonya Rosa, dan juga Dara masih menunggu didepan ruang operasi. Dara tak berhenti berdoa untuk kesembuhan kakaknya. Sementara Nyonya Nia terlihat putus asa, dengan tatapan menyedihkan kearah ruangan operasi Dira.
Entah kenapa, tapi hati Dara sangat sakit melihat ibunya seperti itu, walau dia baru tau hari ini bahwa Nyonya Nia adalah ibunya, tapi dia begitu menyayangi ibunya.
Entah kisah apa yang tersembunyi dibalik peneror Dira dan Dara, mereka berdua selalu di teror. 2 jam sudah berlalu, ruang operasi masih tertutup. Tiba-tiba dokter keluar, mereka bertiga langsung menghampiri dokter itu.
"Dokter bagaimana dengan putri saya? " Tanya Nyonya Nia.
"Keadaan nya semakin memburuk, " Ucap Dokter dengan muram.
"Apa? Bagaimana bisa? Kau dokter kan? Lakukan sesuatu aku mohon, selamat kan putri ku.. " Nyonya Nia menyatukan tangan nya sambil menangis keras.
"Nyonya, kami akan berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan lah yang menentukan, " Ucap dokter itu lagi.
"Lakukan yang terbaik untuk kakak saya dok, " Ucap Dara.
"Kami akan berusaha Nona, " Ucap dokter itu lalu pergi.
Dara semakin khawatir, sedangkan Nyonya Nia semakin prustasi. Nyonya Rosa tak berhenti menyemangati Nyonya Nia.
𝘠𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯... 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘳𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯...
Batin Dara.
Beberapa saat kemudian Nyonya Rosa datang membawakan makanan.
"Mbak Nia, makanlah, kau belum makan bukan? " Ucap Nyonya Rosa. Nyonya Nia menggeleng.
__ADS_1
"Tidak Rosa, aku tidak lapar, " Lirih Nyonya Nia.
"Mbak, kalo mbak ga makan, bagaimana bisa mbak jadi penyemangat Dira? " Bujuk Nyonya Rosa. Tapi hasilnya nihil, Nyonya Nia tak berkutik. Dara mendekat.
"Ibu, makanlah, aku mohon, nanti ibu bisa sakit, " Ucap Dara.
"Tidak apa Dara, biarkan saja, " -Nyonya Nia.
"Ibu jangan seperti ini... " -Dara.
"Dara kemarilah, " Nyonya Rosa memanggil Dara untuk duduk di samping nya. Dara pun duduk.
"Ibumu sangat keras kepala, sekarang kau makanlah, ayo! " Nyonya Rosa menyuapi Dara, ia sangat menyayangi putri asuh nya itu.
Dara menggeleng juga "Ngga Ma, Dara tidak bisa makan sebelum ibu makan, " Ucap Dara.
"Dara, kamu sendiri yang bilang jika tidak makan akan sakit, lalu kenapa sekarang kamu mencari penyakit? Jika kau sakit maka siapa yang akan menjaga ibumu? " Nasehat Nyonya Rosa.
"Ayo, Mama tidak mau tau, makan cepat! " Nyonya Rosa menyodorkan sendok berisi nasi ke mulut Dara.
Dara membuka mulut nya dan memakan nasi itu, Dara di suapi oleh Nyonya Rosa. Nyonya Rosa tau, kita Dara sedang dilema perasaan.
Kembali dokter keluar dari ruangan nya dengan wajah cemas. Dara, Nyonya Rosa dan Nia langsung berdiri.
"Keadaan nya sangat buruk, " Ucap Dokter itu lemah.
"Apa?! " Nyonya Nia terbelalak dan langsung menerobos ruangan Dira.
__ADS_1
"Ibu... " Dara dan Nyonya Rosa ikut masuk.
"Dira... bertahan lah nak, ibu disini!! " Ucap Nyonya Nia. Dira membuka matanya sedikit, dia melirik ibunya. Tangan nya bergerak mendekati wajah ibunya.
"i-ibuu.... " Lirih Dira, hampir tak terdengar.
"Iya sayang, ibu disini, kuatlah nak! " Ucap Nyonya Nia.
Dira menatap langit langit, perlahan ia mulai kehilangan nafas. Lalu, ia menutup matanya, untuk selamanya.
"Dira? Dira!! Bangun sayang! Buka matamu!! Ayo buka matamu Diraa!!! " Teriak Nyonya Nia. Dara yang tercengang langsung berteriak.
"Dokter!!!! Dokter!!!! " Teriak Dara.
"Dira! Dira bangun nak! " Nyonya Nia menguncang guncang tubuh Dira.
"Dira buka matamu!! " Ucap Nyonya Rosa.
"Mama apa yang terjadi?? " Tanya Dara mulai menangis.
"Tenang Dara tenang! " -Nyonya Rosa.
"Diraaa!!! Ayo lihat ibu disini nak! " Nyonya Nia menangis keras.
Dokter datang dengan membawa alat alatnya. Kemudian, ia mengecek semuanya. Dokter menggeleng pada suster. Dara menatap dokter itu.
"Dokter apa yang terjadi??? " Tanya Dara.
__ADS_1
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain, Dira sudah tiada. " -Dokter.
"TIDAKKKKK!!!! DIRAA!!! " Nyonya Nia histeris.