
...𝘚𝘦𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘋𝘪 𝘒𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘟𝘢𝘷𝘪𝘦𝘳...
Dara dan Raja turun dari mobil dan masuk kedalam gedung tinggi tersebut. Mereka sampai didalam dan langsung disambut dengan pertanyaan dari manager perusahaan.
"Maaf Tuan, Nyonya, ada perlu dengan siapa? " Tanya Manager wanita tersebut.
"Kami ingin bertemu dengan Rayden Xavier, " Ucap Dara.
"Maaf, Tuan Rayden sebentar lagi ada pemotretan, tolong silahkan kembali beberapa jam lagi, " Kata Manager itu.
"Tapi kamu tidak bisa menunggu selama itu... " Ucap Dara kesal.
"Maafkan kamu Nyonya, " -Manager.
"Dengar, aku dari perusahaan GaRa Group, ayahku Harry Alderick sudah membuat janji pribadi dengan bos mu, jadi izinkan kamu masuk sebelum langsung melapor atasan mu! " Ancam Raja.
Dan benar saja, muka Manager itu langsung pucat pasi, ia langsung membiarkan Raja dan Dara masuk. Mereka naik lift untuk keatas.
"Apa ayahmu benar benar membuat janji? " Tanya Dara saat di lift.
"Tentu saja tidak, aku hanya mengada ada, " Jawab Raja terkekeh.
"Ya ampun, ada ada saja, " Kata Dara ikut tertawa.
Mereka sampai dimana lantai Rayden berada. Mereka berselisih dengan Sekretaris Rayden dan Raydennya yang hendak pergi.
"Itu Rayden! " Raja menunjuk Rayden. "Ayo! " Raja menarik lengan Dara dan mendekat ke artis pria terkenal itu.
"Maaf Tuan Rayden, bisakah kami minta waktunya sedikit? " Ucap Raja yang ngos-ngosan dan langsung the poin.
"Kalian siapa? Kenapa bisa masuk ke lantai ini? " Tanya Rayden sambil menatap Raja dan Dara.
"Saya Dara dari TVN L Penyiaran, dan ini Raja putra pemilik GaRa Group, " Ucap Dara memperkenalkan.
"Ohh, " Rayden ber'oh' dan sepertinya mengenal kedua perusahaan itu. "Aku tidak ada waktu untuk periklanan, aku ada pemotretan sebentar lagi... "
"Tuan aku mohon, kita bicarakan dulu! " Ucap Raja menahan kepergian Rayden.
"Maaf saya tidak bisa! " Rayden hendak melangkah dan pergi.
"Tunggu dulu! " Dara menghalangi langkah Rayden.
𝘚𝘪𝘢𝘭! 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘎𝘢𝘷𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘵𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬!
Batin Dara.
"Pak Rayden... Aku mohon rundingkan ini sebentar saja.... " Ucap Dara sambil mengeluarkan ekspresi imutnya yang sedang memelas.
Deg!
Jantung Rayden berdebar debar melihat tingkah Dara yang menggemaskan, pipinya merona, seketika suhu menjadi panas.
𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘮𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯
Batin Rayden.
𝘚𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘮𝘢𝘨𝘦 𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯!
Batin Dara.
𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪...
Batin Raja terkekeh.
Sedangkan Rayden menatap Dara dengan tatapan yang tak bisa dibaca.
"Aku mohon... " Sambung Dara.
"Ekhem, Nay, undur waktu pemotretan satu jam! " Ucap Rayden pada Sekretaris nya bernama Naya.
"Tapi Tuan, kita--"
"Batalkan saja! " Sela Rayden.
"Baik." Naya pergi sambil mendegus tak jelas.
"Mari ikut saya! " Rayden kembali masuk ke ruangannya.
𝘠𝘦𝘴!
Raja dan Dara saling menatap lalu saling tersenyum. Mereka masuk keruangan Rayden dan duduk.
"Ada hal apa? " Ucap Rayden memulai pembicaraan.
__ADS_1
Dara mengeluarkan berkas pelamaran periklanan.
"Kami ingin merekrut anda sebagai artis untun lounching iklan, " Ucap Dara.
"Dari perusahaan GaRa Group, " Sambung Dara. Rayden mengecek berkas pelamaran tersebut.
"Dalam bulan ini saya banyak jadwal Nona, " Rayden hendak mengembalikan berkas itu.
"Anda tenang saja Tuan, lounching nya bulan depan, " Dara tersenyum tipis.
𝘈𝘱𝘢?
𝘉𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯?
𝘚𝘪𝘢𝘭! 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘰𝘶𝘯𝘤𝘩𝘪𝘯𝘨 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬!
Batin Rayden.
Rayden menatap Dara dengan tatapan tak terbaca lagi. Lalu pandangannya beralih pada Raja.
"Jika bulan depan maka baiklah, " Ucap Rayden. Dara tersenyum puas, ia menatap Raja, Raja hanya mengangguk pelan dan tersenyum.
"Ini sangat bagus Tuan, terimakasih atas kerja samanya, " Seru Dara senang.
"Tentu saja, panggil aku Rayden saja, " Rayden mengeluarkan senyuman khas.
𝘗𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘋𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘩? 𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘋𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯,
Batin Raja.
"Baiklah, " Ucap Dara. "Tolong tanda tangan disini, " Rayden menandatangani berkas tersebut.
"Sekali lagi terimakasih, senang bekerjasama dengan mu, " Kata Dara seraya berdiri.
"Terimakasih, " Raja menjabat tangan Rayden.
"Iya sama sama, "
Setelah berbicara panjang lebar, mereka keluar dari ruangan Rayden, Raja dan Dara mengobrol sepanjang jalan.
"Kenapa kau melakukan hal tadi? " Tanya Raja.
"Melakukan hal apa? " Dara balik bertanya, ia lupa dengan tingkah konyol nya tadi.
"Seperti ini 'Pak Rayden... tolong rundingkan ini sebentar saja... ' " Raja menirukan aksi Dara, menirukan wajah Dara yang imut.
Dara menepuk bahu Raja. "Hentikan itu! Aku tidak berniat melakukannya, " Ucap Dara malu sambil terus berjalan.
"Hahaha! Jadi kenapa kau melakukannya? " Tanya Raja sambil menyamai langkah Dara.
"GaRa Group adalah klien penting Mamaku, dan Rayden adalah kunci agar tidak terjadi pembatalan antara perusahaan ayahmu dan Mamaku, intinya aku melakukan ini demi Mama ku, " Jelas Dara.
Raja tertegun, sekali lagi ia kagum pada tindakan Dara yang sulit ditebak. Ia tersenyum menatap Dara, hatinya terasa hangat.
"Kenapa senyum senyum seperti itu? Aneh! " Ketus Dara.
"Hahhh!! Kau ini memang tidak bisa lembut! " Raja mengacak-acak kepalanya.
"Hahaha! Memangnya aku harus selembut apa? Marshmello? " Kata Dara tertawa sambil berjalan mundur.
"Iya, harus seperti itu! Jika bisa harus lebih lembut dari sebuah Marshmello... ! " Omel Raja. Dara tertawa melihat komuk wajar Raja yang aneh.
"Yayaya baiklah, aku akan--- Aaaaaa! " Karena berjalan mundur Dara tak memerhatikan sudah berada di tepi tangga, kakinya terpeleset diujung anak tangga.
Dengan sigap Raja langsung menangkap tubuh ramping Dara, tangan Raja memegang pinggang Dara. Dara yang merasakan tak jadi jatuh membuka matanya.
Kejadian seperti ini lah yang terjadi saat pertama kali mereka bertemu.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung diantara keduanya berdebar debar, kedua bola mata itu saling memandang, memerhatikan satu sama lain. Debaran jantung yang berdetak beriringan.
"Hei nak, jika mau berpacaran carilah tempat yang wajar! " Seru seorang kakek yang melintas di dekat kantor Xavier.
Adegan mereka terhenti kan oleh teguran dari kakek itu, Raja melepaskan Dara, mereka terlihat malu karena melakukan adegan mesra didepan umum, padahal hanya ingin menolong Dara.
Pipi Dara merona karena mendapat teguran aneh dari kakek tersebut, ia melihat Raja, entah kenapa perasaan aneh saat ia bersama Raja.
"Kau ini! " Dara menepuk bahu Raja lagi. "Kau pasti mengambil kesempatan saat aku jatuh, " Ucap Dara sewot.
__ADS_1
"Mengambil kesempatan katamu? Hei! Aku baru saja menolong mu! Dan kau bahkan tidak mengucapkan terimakasih! " Balas Raja tak mau kalah.
Dara terdiam, rasa malu bercampur kesal menyatu. Ia masih menatap pria yang ada di sampingnya itu.
"Baiklah, baiklah terimakasih, " Dara menyatukan tangannya.
"Nah seperti itu lebih baik, " Raja terkekeh. " Ayo pulang! Ini sudah hampir malam, " Ajak Raja.
Dara mengangguk, ia mengikuti Raja ke parkiran, mereka masuk ke mobil lalu pergi meninggalkan perusahaan Xavier.
"Kau mau aku antar kemana? Perusahaan? Atau langsung ke rumah? " Tanya Raja di perjalanan.
Dara berpikir sejenak. "Rumah saja, seperti nya Mama sudah pulang dari kantor, " Kata Dara.
"Oke, "
Tak banyak obrolan sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Sesampainya dirumah Dara, Dara keluar dari mobil Raja, dan hendak masuk ke rumah.
𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪! 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘢𝘴𝘪 𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘸𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬,
Batin Raja kesal.
Raja hendak pergi.
"Raja! " Panggil Dara.
Raja menoleh. "Iya? Ada apa? ".
" Kau tidak mau masuk? " Tawar Dara.
𝘏𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶?
Batin Raja.
Raja tersenyum. "Lain kali saja ya, kak Gavin pasti sudah menunggu ku, " Ucap Raja.
"Baiklah, hati hati dijalan! " Pesan Dara.
Raja tersenyum lagi, hatinya menghangat.
"Terimakasih, " Kata Raja lalu pergi.
Dara melambai, walau mungkin Raja tak melihatnya, tapi ntah kenapa tangannya bergerak untuk melambai pria itu.
Dara melihat tangannya sendiri lalu memukul nya.
"Sial! Kenapa kau melambai? Tangan payah! " Dara mencerocos tak jelas pada tangannya sendiri. Lalu ia masuk kedalam rumahnya.
Dirumah terlihat sepi,
"Mama!! Ibu!!! " Dara memanggil, namun tak ada jawaban.
"Non Dara, Non Dara sudah pulang? " Hanya Bibi ijah yang tergopoh gopoh keluar dari dapur.
"Bibi? Dimana Mama? " Tanya Dara.
"Nyonya Rosa belum pulang Non, " Kata Bibi ijah.
"Apa? Belum pulang? " Tanya Dara heran, padahal ia pikir Mamanya sudah berada dirumah.
"Iya Non, Nyonya Rosa belum pulang, " Jawab Bibi ijah lagi.
"Lalu ibu dimana? " Tanya Dara.
"Nyonya Nia dikamar Non, dia sedang tidur, " Jawab Bibi ijah. Dara langsung masuk kekamar Nyonya Nia, ia melihat ibunya tertidur dengan wajah damai.
Dara mengelus rambut wanita yang melahirkan nya itu, ia mengecup kening ibunya. Beberapa hari terakhir kondisi kesehatan ibunya menurun, ia sangat khawatir, ia sudah memberikan perawatan terbaiknya dan perawatan medis terbaik.
Ia berharap ibunya akan cepat sembuh. Bibi ijah melihat Dara dari ambang pintu kamar.
"Bibi, apa ibu sudah makan? " Tanya Dara.
"Sudah Non, " -Bibi ijah.
"Sudah makan obat? " -Dara.
"Sudah juga Non, " -Bibi ijah.
Dara hanya mengangguk dan masih menatap ibunya yang tersenyum damai.
"Non Dara, sebaiknya Non mandi lalu makan, atau nanti Non yang sakit... " Nasehat Bibi ijah. Dara mengangguk lalu tersenyum, dan mengecup kening ibunya lagi.
"Baik Bi, " Dara keluar dari kamar ibunya dan masuk ke kamarnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
...𝗛𝗮𝗶 𝗥𝗲𝗮𝗱𝗲𝗿𝘀...! 𝗡𝗮𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗗𝗮𝗿𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗷𝗮 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗻𝗷𝘂𝘁𝗻𝘆𝗮 𝘆𝗮...! 𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝗟𝗶𝗸𝗲 + 𝗞𝗼𝗺𝗲𝗻 + 𝗦𝗵𝗮𝗿𝗲 𝗱𝗮𝗻 𝗙𝗼𝗹𝗹𝗼𝘄 𝘆𝗮...! 𝗠𝗮𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗰𝗮...! 🥰...