
"Itu tidak benarrr!!! Putriku masih hidup!!! " Nyonya Nia menangis. Suara teriakan Nyonya Nia sampai ke ruang ruang sebelah.
Dara tertegun, airmata nya meleleh, tak ada suara. Sedangkan Nyonya Rosa menenangkan Nyonya Nia yang masih tak percaya.
"Rosa!! Anakku masih hidupp, tolong katakan ini semua tidak benar!! " -Nyonya Nia.
"Mbak Nia, mbak yang tabah, ini semua kehendak Tuhan, Tuhan tak ingin Dira tersiksa lagi... " -Nyonya Rosa.
"Tidak! Tidak benar, putriku masih hidup!! " Nyonya Nia terus memeluk mayat Dira.
Hari itu hujan mengiringi tangisan keluarga Dara. Dira dimakamkan secara tertutup, hanya tetangga, dan teman teman dekat kampus Dira lah yang hadir.
Dara masih tak percaya, saudara kembarnya telah meninggal kan. Hari itu Dara memerhatikan proses pemakaman Dira dari jauh, lumayan banyak orang yang datang.
Rata rata anak dari kampus Dira lah yang mengunjungi, Dara tak mau mereka bertanya tanya atas kehadiran nya. Sudah cukup ia memikirkan kematian Dira. Ia tak ingin menjawab semua pertanyaan pertanyaan yang muncul.
Hari ini Dara duduk di kamar nya, beberapa hari ini ia tinggal di rumah Nyonya Nia. Kamar yang Dara tempati adalah kamar Almarhum Dira. Dara menyapu pandangan nya di kamar itu.
Terlihat kamar Dira begitu berbeda dengan kamar nya, kamar Dira penuh harmonisasi kehidupan. Hidup yang cerah, kamarnya melambangkan semua itu.
Sangat berbeda dengan kamar Dara sewaktu diluar negeri, kamar Dara cenderung lebih ke hitam hitaman. Bukan berarti kehidupan Dara suram, tetapi Dara suka corak yang lebih gelap. Itulah salah satu perbedaan Dira dan Dara.
Disaat lamunannya terbang kemana mana, Mama nya masuk dengan seorang perempuan, yaitu Chelsea. Chelsea adalah salah satu rekan kerja atau lebih tepatnya senior Dara. Dara langsung bangkit dari duduknya.
"Mama? Chelsea? " Tanya Dara heran.
"Hai Dara, lama tak bertemu, " Chelsea menyinggung senyuman khas nya.
__ADS_1
"Hai juga Chel, " Ucap Dara dingin.
"Oke, the poin aja, Mama menyuruh Chelsea jauh jauh dateng kesini untuk membantu penyelidikan tentang kasus Dira, " Ucap Nyonya Rosa yang juga paham tentang kasus kasus kriminalisasi.
Dara langsung teringat, bahwa kematian Dira bukannya kematian yang wajar. Dira diculik sebelumnya, dan bisa jadi dia dibunuh.
"Ayo Dar, kamu ikut Mama dan Chelsea, " Ajak Nyonya Rosa.
"Kemana Ma? " Tanya Dara.
"Markas rahasia kita di kota AD, " Ucap Nyonya Rosa dengan pelan. Dara langsung mengerti dan mengangguk. Nyonya Nia ditinggal di rumah dengan asisten rumah tangan.
Sebelum nya rumah Nyonya Nia tidak memiliki asisten rumah tangga, tetapi Nyonya Rosa mempekerjakan seseorang untuk menjaga Nyonya Nia dikala ia dan Dara tak di rumah.
Nyonya Rosa menyetir mobil kesebuah bangunan kecil yang agak jauh dari kediaman Dara dan ibunya. Mereka masuk kerumah itu, rumahnya sudah di renovasi persis seperti kantor pribadi Dara di luar negeri. Mereka memulai pembicaraan.
"Menurut dari pernyataan Mbak Nia, Dira selalu di teror seperti yang kamu alami Dar, tetapi karena Dira tak pintar bela diri, Dira selalu di aniaya, kata Mbak Nia, Dira tak jarang selalu pulang dengan keadaan babak belur, tapi Mbak Nia tak berani meminta bantuan polisi karena takut lebih membahayakan Dira, " Jelas Nyonya Rosa.
Dara terdiam, tak di sangka keadaan kakaknya lebih buruk dari pada dirinya. Saat Dara di keroyok oleh gerombolan bertopeng itu, Dara selalu di bantu teman temannya. Tapi Dira? Apa dia tidak punya teman? Hal ini lah yang ingin di ketahui mereka.
"Menurut dari fakta teman temannya, Dira juga pernah terlibat konflik di kampus nya, jadi dugaan ku pasti salah satu pelaku nya berasal dari kampus itu, " Ucap Chelsea berasumsi.
"Mungkin itu benar, karena semalam banyak siswa-siswi dari kampus nya datang, pasti salah satu dari mereka berniat mengecek keadaan Dira, bukan berbelasungkawa, " Asumsi Dara.
"Benar, jadi Mama memutuskan kamu untuk menyelidiki di kampus Universitas Valdezh, kami akan menyiapkan semua kebutuhan mu, semua indentitas mu tak akan di ketahui siswa-siswi kampus, " Ucap Nyonya Rosa.
"Kamu harus menemukan semua bukti bukti yang kita perlu kan, karena dengan bukti itulah kita bisa membawa kasus ini ke jalur hukum, " Tegas Chelsea.
__ADS_1
Dara teringat kata kata polisi yang menuntut bukti atas laporan dari Nyonya Rosa. Dara memang berniat besar untuk mengungkap siapa dibalik semua ini.
"Baiklah Ma, Chel, aku akan melakukan nya, " Ucap Dara penuh keyakinan.
"Bagus, aku sudah menyiapkan semua keperluan mu, ini kartu Identitas mu di kampus, dan ini alamat kampus nya, kau bisa masuk minggu depan setelah surat penerimaannya kuterima, " Jelas Chelsea.
Dara mengangguk mantap.
Flashback off.
Dara menyeka airmatanya, tangisan ibunya saat kehilangan Dira masih bergema di telinga nya. Tekad nya untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan Dira mendorong nya untuk melakukan misi ini.
Dara datang sebagai siswi ke kampus itu, ia melangkah masuk ke kampus. Dara sudah memantapkan hati nya.
Dara manaiki tangga, langkah demi langkah di lalui, ia menyapu pandangan kampus tersebut. Dara berjalan melalaui koridor koridor.
Dara melewati sebuah ruang kelas, Dara melirik dan melanjutkan langkah nya. Tanpa Dara sadari lantai yang ia lalui basah karena baru saja di pel.
Dara kaget dan tak bisa mengendalikan tubuh nya, ia terpeleset. Dara berpikir akan terjatuh kelantai, Dara memejamkan matanya. Namun ia salah, ia merasakan seseorang menolongnya dan menangkap tubuh ramping nya.
Dara tersadar ia tak jadi mencium lantai, ia membuka matanya. Dara melihat sosok pria yang tengah menatap nya sambil menegang pinggang nya agar tak jatuh.
Mata Dara dan pria itu saling berpandangan, Dara akui pria itu sangat tampan. Pria itu tak berhenti menatap Dara seolah mengenalinya.
"Dira? " Ucap Pria itu.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1
𝗠𝗮𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗰𝗮, 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝗷𝗲𝗷𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮🥰