
Tuhan...
Dalam diam aku bertanya!
Mengapa sesulit ini untuk melupakan?
Dalam ruang kehampaan aku berfikir,
Apakah tak layak jika diri mencinta?
Semua yang ada dalam dunia,
Seolah menolak kehadiran raga tak bernilai ini
Tuhan...
Jika keadilan itu memang ada!
Bolehkah aku meminta hal yang mustahil?
Saat tubuh kehilangan arah akan rasa,
Mencoba menggapai bayang cinta,
Namun jiwa terbang melambai pergi meninggalkan
Apa salahku, Tuhan?
Tidakkah aku bisa mempertanyakan?
Mungkin luka fisik bisa ku tahan,
Bagaimana jika itu hatiku yang dihancurkan?
Aku berusaha membiarkan segala hal terjadi,
Memungkiri setiap tarikan nafas tak berarti
Hanya demi sebuah cinta...
Tuhan...
Bahkan air mata yang menetes,
Ibarat tawa kesakitan hatiku
Menjadi ejekan dalam kesendirianku
Mengikis kebahagiaanku
Merusak logikaku untuk berfikir,
Lelah, Tuhan...
Ingin aku menyerah saat ini juga...
Berulang kali aku mencoba melupakan
Segala kesedihan dalam angan-angan
Mengupas seluruh harapan
Menggilas mimpi tak nyata untukku
Sesak,
Kini yang tersisa..
Aku rindu tentangmu
Cumbu rayumu
Serta kecupan hangatmu
Sesaat aku terpaku
Mengapa hanya aku yang merasa rindu
Kenapa bukan kamu?
Selalu aku, hanya aku, tetap aku
Lemah ku akan hadirmu
Menampar benteng keteguhanku
Untuk membinasakan mu dalam otakku
__ADS_1
Tuhan...
Apakah ini sebuah hukuman bagiku?
Ataukah sebuah pelajaran hidupku?
Bahkan karma yang menyeret kakiku
Karena melawan haluan garis takdir?
Sayang dengarkanlah...
Rasakan peliknya keinginan hatiku
Resapi remasan pedihnya khayalanku
Di sudut nafsu aku memburu
Membingkai indah paras mu
Mendekap erat relung jiwamu
Aku milikmu,
Rengkuh ke dalam hangatmu
Belai dengan kelembutan mu
Aku masih milikmu...
Sayang renungkan lah...
Sayatan tajam menggores perpisahan
Menguak kejam membelah cinta kita
Tusukan pilu menyayat sukma
Bahkan aku rapuh untuk meratap dunia
Aku terlalu naif,
Tak menerima nasib diri
Tak rela membiarkan merpati pergi
Menatap lekat ciptaan ilahi
Kau milikku,
Egois ku...
Katakanlah sayang...
Jangan biarkan aku meronta
Merintih sapuan lembut kasih sayang
Mendamba rasa penuh gairah
Menyatukan kita tanpa kata pisah
Arungi indahnya senja berdua
Hanya ada kita...
Katakan...
Katakan...
Katakan sayang...
Kita di ciptakan untuk bersama
Kita di ikatkan takdir cinta
Aku dan kamu,
Sayangku...
Hilangkan ragu mu atasku
Buang pemikiran negatif mu terhadapku
Manjaku hanya kepadamu
Hanya kau yang mampu memilikiku
__ADS_1
Penguncian atas satu nama di hati
Bukti hembusan kecintaanku akan datangmu
Janjiku,
Sekali saja,
Lihat ke dalam mataku
Begitu banyak cinta dan rindu melebur menjadi satu
Mengakibatkan rasa menggebu akan dirimu
Sentuhan mu,
Mengusik ketenangan ku
Masih teringat dalam ingatanku
Aku dan kamu bercumbu dalam kata
Mengerang menahan hasrat
Mencinta dan memiliki...
Kisah ini...
Cukup meredam liku-liku syahdu
Akan kerinduan mendalam
Menggertak menekan kembali pulang
Menarik nyawa untuk tersadar
Menggeser ribuan ilusi mimpi
Hadirnya tak lagi sunyi
Sapaan memuja menyudut sepi
Menukik menerangi hati
Diri tak harus sendiri
Menanti menggali nyali
Bahwa aku bisa berdiri
Tanpa pijakan
Tanpa tuntunan,
Apalagi hinaan manusia keji
Akan harga diri...
Tuhan...
Ketika aku telah mengalah
Menerka rajaman panah kebencian
Menancap menembus kekokohan psikis
Mengulurkan jemari bertaut dingin
Aku sadar...
Tak segala hal terpenuhi
Ada yang datang dan pergi
Tanpa tahu sakit dalam penglihatan diri
Namun aku bahagia...
Setidaknya banyak kenangan Tercipta
Selayaknya pungguk menanti datangnya bulan,
Walau hanya sebuah peribahasa
Itulah isyarat cinta dalam nyata...
Tersayang...
__ADS_1