
Deras air mata kembali menetes
Menatap seribu langkah melepas
Hanyut ke dalam buaian pilu
Dermaga menjadi saksi senja berlalu
Ukiran nama terpahat jauh
Bayang angan seolah bunga mimpi
Menghantui hati juga diri
Memeluk erat enggan terbuang
Memekik menolak pergi
Harapan hanya kembang asa
Penguat raga untuk menapak
Jurang pemisah terlalu dalam
Keinginan tak lagi berarti
Paksaan penatua tak mampu melanggar
Kerelaan jiwa merapat menahan amarah
Ego ini semakin lemah
Pendirian prinsip mulai sirna
Haruskah jejak kaki patah?
Cukup!
Segalanya kembali pulang
Rumah bukan persinggahan
Jika lari hal yang mustahil?
Mungkinkah kematian menghampiri?
Bila kah dapat mengakhiri penderitaan ini?
Diam terpaku menelan kepahitan
Kandas berujung saling membalikkan badan
Sisi hati telah mati
Keyakinan ini tidaklah murni
Gerimis mencekam berulang kali
Sunyi dingin meresap mencecap
Berupaya keras untuk menutupi
Jiwa yang telah lama sepi
Tawa di kesendirian bumi
Maaf!
Tak ingin mengulang nasib
Biarlah cakrawala mencecar
__ADS_1
Iri dengki sudah tak peduli
Memandang untuk menyudahi
Sampai angin mengerti
Sukma telah jauh mengalah
Akhir akan bahagia
Esok akan terang
Senyum tersungging penuh kesenangan
Bebas menembus nirwana
Kepakan sayap tinggi ke angkasa
Menggambar untaian doa
Tuhan...
Kini hati telah tiada.....
Masihkah ada yang tidak menerima
Tubuh kotor penuh hina
Tertutup dosa penuh darah
Mengubur perih meremas jantung
Menyakitkan...
Mencoba melerai perasaan
Waktu menyibak isyaratkan salah
Tak mungkin lagi berputar menukar ego
Betapa pusara menunggu kunjungan
Kematian teristimewa...
...----------------...
Aku masih di sini meratap nasib menunggu senja
Satu kesalahan di masa lalu akankah bisa sirna di telan waktu?
Uluran tangan menarik diri dari jurang kesakitan
Kau penghilang luka dalam hati
Satu sosok memberi nyaman
Kau laksana lentera di ruang gelap ku
Hatiku kembali berdebar aku tersipu malu
Apakah aku jatuh cinta?
Ah, aku sudah gila
Ini tidak boleh!
Tapi, aku suka
Logika ku lumpuh karena sebuah rasa
Satu kesalahan dengan sadar ku buat
__ADS_1
Dia pemilik raga dan kau pemilik hati
Dia memberi luka dan kau adalah obatnya
Tubuh lusuh di jerat rantai besi sungguh menyiksa
Lepaskan aku!
Aku pernah mencintai dia manusia paling egois
Jerit tangis pilu tak di dengar
Meratap nasib kian hari kian menyiksa batin dan raga
Aku ingin bahagia
Rantai besi sukar di lepas
Tolong aku!
Engkau hadir tidak ku minta
Uluran tangan menggenggam erat
Menarik diri dari dasar jurang
Engkau ada untuk pelipur lara
Semangat jiwa kembali membara
Hujan adalah saksi cerita kita
Tak apa walaupun kau bersandiwara aku tetap suka
Kata putus asa jiwa yang sudah lama menahan lara
Merindukan bahagia walaupun semu
Kau hadir beri warna penyemangat jiwa
Aku terlena...
Jangan tinggalin aku!
Boleh kah, aku merengkuh mu?
Aku ingin menangis bahagia di dada bidang mu
Aku ingin kau cium kening ku dengan lembut
Aku ingin...
Rasa apa ini?
Aku sadar dan aku salah
Tuhan...
Satu kesalahan aku buat dan tidak akan pernah menjadi benar
Dosa mengguyur raga tak terelakkan lagi
Bahagia dari satu kesalahan apakah akan berakhir baik?
Raga ku terikat tapi hati ku pergi di ujung harap
Aku menggenggam sebuah ilusi
Melepas jerat cerita cinta tak berujung
Perasaan sepi menghantui jiwa
__ADS_1
Sendiri meratap nasib menanti waktu senja hingga tutup usia.