
Mengikat janji di simpul asa
Terlalu erat sesak kan dua hati dalam untaian angan
Pada akhirnya aku dan kamu tidak pernah jadi kita
Maaf...
Aku belum bisa lupa
Rindu masih menderu di kalbu
Bayang wajahmu menari indah di khayalan semu ku
Ku tumpahkan tangis rinduku
Bahkan di malam yang sunyi ku serukan namamu
Semakin ku cegah, rasa kian membuncah
Raungan harap mengikat rasa, bibir menolak hati meminta
Dua rasa luluh lantah di atas derita
Ini kah yang namanya cinta sendiri
Malam ini hujan dan itu membuatku semakin rindu
Ingin aku ceritakan hariku seperti dulu
Tapi kau tak ada lagi di sisiku
Ku bisikkan kata kepada angin malam
Aku masih rindu aku masih menunggu
Namun apakah dia mau datang kembali
Egois kah, aku?
Sekali lagi maafkan aku yang tidak tahu diri
Puisi cinta yang kau tulis masih kuingat setiap bait nya
Air mata menetes kala itu, dan hujan sebagai saksi bisu
Si lemah yang payah mudah tersentuh hanya sedikit kata mesra
Ku pikir puisi itu pelipur lara dan pembangkit jiwa
Tapi kenyataannya puisi itu membunuhku
Bunga yang layu tak bisa mekar lagi
__ADS_1
Hati yang patah ke sekian kali apakah bisa di sambung lagi?
Air mata putus asa pendamping di kala malam
Raga bak manikin di siang hari
Kenyataannya yang pergi tak akan pernah kembali
Sesakit inikah aku mencintaimu
Tak apa karena aku suka dan aku terima
Walaupun mungkin semua hanya sandiwara
......................
Masih di jalan yang sama merajut asa
Langkah berat tentukan pilihan
Jalan mana yang harus di ambil?
Pergi dengan sejuta luka dan semua cerita
Menetap meratap nasib di atas puing cinta yang sudah luluh lantah
Bimbang melanda hati
Semua terlihat sukar walaupun sebenarnya mudah
Hati kenapa seperti ini?
Orang bilang jatuh cinta itu rasanya bahagia
Namun kenyataannya yang ku dapat sedih dan kecewa
Tak layak kah aku bahagia?
Harap di masa depan tinggal angan saja
Terbang tertiup sebuah dusta
Sendiri akan jadi pilihan dan bersama adalah sebuah putus asa
Ku gambar indah harapan masa depan
Namun tetes hujan membasahi
Bersama tapi sudah terasa beda
Atau sendiri meratap nasib di sisa puing cinta
Mengusik hati runtuh kan jiwa.
__ADS_1
......................
Kata orang waktu mampu mengubah segalanya
Tapi tidak dengan hatimu
Satu pertanyaan lagi, seberapa sakit lukanya dulu?
Aku dan dia berbeda
Kenapa kau menganggapnya sama?
Sepotong hati dan sebuah rasa kuberi
Tak cukupkah itu, tuan?
Aku mohon pandanglah aku sekali saja dengan tatapan sayang
Masih menghitung hari yang berlalu pergi
Rasa sayang tak kunjung datang hanya sisa kebencian
Kenapa harus aku?
Apa salahku dulu?
Aku dan dia berbeda, tapi kau menganggapnya sama
Sungguh tak adil yang ku rasa
Bibir bungkam hati menjerit
Rinduku berlabuh kepada bayu
Rasaku lebur di gulung ombak
Sia-sia ku berikan seluruh rasa untuk dia
Bersimpuh memohon telah ku lakukan
Hati keras tak akan jadi lunak
Yang membenci tetap akan benci
Walaupun seribu usaha diraih
Dan yang jauh tak akan jadi dekat
Maafkan aku yang tidak tahu diri
Saat aku pergi, ingatlah semua rasaku tulus
Dan nyatanya waktu tidak bisa mengubah rasamu padaku.
__ADS_1