
Diakhir ini...
Lelah tak terelakkan lagi,
Senyum pahit menemani
Iringan langkah penuh derai air mata
Tak kuasa membendung sesak
Mencabik-cabik daya kekuatan jiwa
Raga tak lagi menerima
Mengaku kalah pada luka
Terlalu dalam kesakitan
Memberatkan hati untuk bertahan
Kerelaan melepas pergi
Menuai kritik penuh dosa
Aku kalah...
Sebesar apapun cinta
Ego menyambar kebahagiaan jua
Tak sedikit pula tangisan menghujani
Membasahi sepi dalam diri
Ucapan setia hanya pemanis
Bodohnya dua insan saling berkata
Mencoba mendahului takdir
Kini berakhir saling membelakangi
Sesulit ini untuk memiliki
Hanya karena kasta tak sebanding
Pukulan materi mencekik nasib
Membawa titik rendah harga diri
Menguasai nurani menabur emosi
Kepastian kebersamaan hanya intonasi
Menyakinkan bahwa ini sebuah ilusi
Mendekat junjung tinggi netralitas
Tiada daya untuk memilih
Keterpaksaan membawa petaka
Mengumbar senyum nestapa
Menutupi rasa akan lara
Keangkuhan logika menampar kesadaran
Segala tersimpan indah menjadi kenangan
Ikhlas terucap sebagai ketegaran
Berpisah sudah menjadi suratan
Pergilah...
Jika meninggalkan membuat bahagia
Ketika melupakan menjadikan kesenangan
Tak perlu ditahan lagi
Diri telah benci
Sayatan menumbuhkan derita
__ADS_1
Membuka bayang akan nostalgia
Walau tak akan pernah terlupa
Pilihan telah tercipta
Memastikan bahwa kewarasan telah tiada
Untuk menghapus semua ikatan cinta
Kediaman mengasah pertahanan
Berusaha menelan kepahitan amarah
Sembilu menusuk jantung
Karatan noda hitam mengingat asmara
Terkubur dalam di dasar lautan
Hilang sirna terbawa gelombang
Tak ada lagi percaya
Semua telah ternoda
Melebur berkeping menjadi butiran abu
Tertiup angin menyapu ragu
Ini jalan terbaik
Kenyataan menyikat bukti
Ketika segalanya telah mati..
Leburan nikmat mencengkeram
Menerpa keheningan sunyi
Menyeret kaki dalam tapak kabut
Tak berjejak, tak tergambar
Menuai kejelasan asal diri
Guguran daun pelambang isyarat
Tubuh tak mampu menopang
Darah merah bukan darah biru
Kau madu aku racun menyayat kalbu
Tidakkah kau tahu,
Langit bahkan menolak menyatu
Bumi pun gentar mempertemukan
Kekosongan permata menjadi pertimbangan
Anugerah nyawa tiada arti bagi insan manusia
Semua menyebut dusta,
Hanya tolak ukur tak bernilai
Alunan kebangkitan menggerogoti nyali
Pasrah...
Kekangan asa menumbuk tanya
Pantaskah aku bernafas?
Sedangkan noda dan dosa mengundang bencana
Putus asa menjadi keharusan
Lemah terkulai,
Sekedar menatap tak ingin
Kepingan yang hancur tak mungkin kembali
__ADS_1
Sudut mata berembun
Menyesali perbuatan mencinta
Separah ini kerendahan derajat
Luka bertindih kebencian
Nanar mendera mengucap kata
Lidah menyerah tak sanggup mengecap
Biarlah mengalah...
Seiring waktu akan terlupa
Mencintai tak harus bersama
Kumpulan impian biar menjadi cerita
Menguras rindu menikam perih
Bahagia lah walau terpisah
Doa mengalun indah di setiap sujud
Memohon ampun tangis pilu
Kebodohan terlepas belenggu
Hadirmu cukup mengubahku
Setiap lantunan merdu
Ingatkan syahdu pandangan
Menguar membakar gelora
Paras rembulan menyinari mata
Remang-remang meniup siluet cinta
Mencekam meremas gundah gulana
Menyadarkan lamunan akan angan
Mencubit menggelitik sukma
Tak khayal tinggal runyam
Gambaran harapan kepedihan
Mengorek cinta terlena
Ungkapan memuja pelik melanda
Menebas hinaan akan keadaan
Cukup sudah,
Kepiawaian mengelak merusak logika
Menyurut dahaga tumbuhkan dendam
Tuntutan balas tak terelakkan
Menodai ikatan membuang waktu
Sia-sia menyerap lindungan kasih
Torehan luka menyala
Mengurai rengkuhan kehangatan
Menepis tanggapan persamaan
Tanpa kata tanpa rasa
Ketegasan hati mengobati diri
Mengatakan lantang dengan tabah
Setidaknya sempat bersama
Walau berakhir jurang pemisah
__ADS_1