
Tak terasa...
Kita hampir mencapai di titik akhir
Dimana setiap insan saling menggenggam
Justru kita saling melepas,
Saling diam mengeluh lidah
Menurut ego tak ingin memulai
Menyalahkan diri sendiri
Atas keadaan yang terjadi
Itu dulu,
Kita tak lagi sama,
Menghindar tak ingin mengganggu
Namun hati saling memendam rindu
Sampaikan pesan lewat doa
Disetiap sujud sepertiga malam
Tenangkan hati menguat ikhlas
Untuk sebuah kenyataan
Namun? itu dulu,
Semua kenangan kita
Buatku tak ingin berpikir lagi
Hanya bayang kerinduan di mataku
Dalam benakku,
Serta iringan langkahku
Lagi-lagi keinginan bodoh,
Menggeluti hatiku
Cukup! itu dulu,
Ku tatap setiap potretmu,
Deretan kata indah mu
Terngiang dalam ingatan
Kecupan lembut di kening
Membuatku ingin memeluk erat tubuhmu
Mencium bibir mu,
Sebagai ungkapan bahagia ku
Atas miliki mu,
Lagi-lagi itu dulu,
Hah...
Anganku lagi-lagi menggoda
Membayangkan dekapan erat antara kita
Bius rayuan manja,
Jadikan sisi liar ku berfantasi akan mu,
Masih! itu dulu,
Ku hirup dalam aromamu,
Sendu menggerogoti nyaliku
Mengikis senyum sapaan merindu
Mengharap mampu membawamu kembali
__ADS_1
Dalam hariku, mimpiku, hingga hidupku
Bersama menyatu menjejal waktu
Mengarungi lautan cinta berdua
Sayang! itu dulu,
Bodoh,
Rasaku terlalu naif
Untuk menginginkan hadirmu
Rinduku terlalu menggebu
Untuk sebuah hasrat tentangmu
Bahkan tanpa kutahu,
Kau menertawakan kepolosan pikiranku
Akan semua perlakuanmu
Hah... Itu dulu,
Jujur saja,
Mencecap manis kata penuh gairah
Menjadikan imajinasi diluar dugaan
Alunan bisikan pemanis di telinga
Seolah meminta raga menyentuh
Membelai sukma tanpa jiwa
Mengikat gelora cemburu
Satukan ambisi untuk mencinta
Γmm... Itu dulu,
Ku renungkan berulang kali,
Meyakinkan pandangan akan mu,
Kebaikanmu,
Mesra suaramu,
Tutur kata sopan mu,
Segala hal tentangmu,
Hingga tak ada ruang ragu terselip
Goyahkan pendirian padamu,
Rumit! Itu dulu,
Lambat laun aku menyadari,
Semu hinggap menyelimuti
Ucapmu tak lagi sama
Sumpahmu tiada guna
Karena pada akhirnya
Menjauh menjadi kunci utama
Gambaran harapan hanya kembang
Menghias ikatan untuk bersenang-senang
Remuk! itu dulu,
Masih melekat jelas dalam ingatan,
Setiap deru napas mu,
Mengusik relung hati
Bangkitkan kembali asmara berduri
__ADS_1
Menemani hari-hari
Tanpa batas waktu tak terkendali
Berdua menyanjung api gairah
Remasan kalimat menggugah kesadaran
Romantis menarik perhatian
Lukiskan kisah kasih mendamba
Nyata! itu dulu,
Tiada penyesalan menjejaki
Bahagia pernah melintas dalam bayangan
Ikuti alur takdir menyerbu
Menjerat mengangkat bahkan menjatuhkan
Batasan menjulang tinggi sebagai peringatan
Tanpa disadari lubuk hati telah menyerah
Menerima segala macam rasa
Racun kepedihan menyerang tanpa ampun
Tertawa lepas akan kemunafikan diri
Sebejat inikah jatuhnya hati?
Haha... itu dulu,
Kegilaan akan menjamah suratan,
Memaksa penyatuan dua insan
Dimana garis hidup inginkan perpisahan
Tak jua membuat gentar hadapi dunia
Selangkah saja tak pernah mengalah
Jika bumi murka tak ingin berputar lagi
Hanya siluet cinta abadi menyertai
Mengikat memaksa hanya untuk berdua
Halangi selipan ketiga
Musnahkan rayuan memuja
Sampai mati satu nama terukir
Hmm... itu dulu,
Sayang,
Jangan tanyakan perasaanku padamu
Karena hingga detik ini
Tak ada satupun yang bisa mengalahkan hatiku untukmu
Jika angin menerpa dedaunan yang indah
Maka rindu ini menyelam memutus segala tanya
Akankah engkau merasakan hal yang sama?
Mungkinkah engkau mencoba merasakan hal yang sama?
Atau engkau acuh akan semuanya?
Duhai kelana penyejuk jiwa,
Dengarkan untaian manja akan kesepian
Merintih meminta kehadiran
Bukan sebuah ilusi akan khayalan....
Seperti dulu......
__ADS_1