
Menatap langit berawan gelap
Rintik mulai membasahi bumi
Tetesan air menyentuh raga
Kecupan hangat menyapa jiwa
Basah tak lagi menjadi ancaman
Tadahkan telapak tangan
Meresapi dinginnya senja
Mengusik ketenangan relung hati
Pelukan erat sebagai penguat diri
Semua hanya sebuah ilusi
Lihat!
Deras hujan seolah sebuah kesedihan tak berarti
Isak tangis bukan jalan menenangkan pikiran
Kekuatan perlahan menghilang
Lemah lunglai menjadi teman kesendirian
Kerinduan hanya sebuah kesepian
Biar diri menanggung tanpa keluhan
Luka sudah biasa menapaki
Kehilangan bukan lagi penyesalan
Jangan lagi pejamkan mata
Tatap kedua mata indah nirwana
Rasa cinta tak berkobar menyala
Memendam seiring langkah menepi
Padam lentera tinggal sepi
Sujud telah menjadi sandaran
Merayu pada sang kuasa
Harapan kebahagiaan tak akan sirna
Tertanam dalam di ujung sanubari
Memiliki adalah anugerah terindah
Akankah takdir berpihak?
Suratan menentang kebersamaan
Meminta terhapus asa
Sayatan cinta menggores perpisahan
Kehadiran hanya lukisan kenangan
Pengingat hati sebuah harap
Doa penyerta di samping angan
Bayangan khayalan pemicu keegoisan
Sukar terurai melepas belenggu
__ADS_1
Hapus air mata
Mencintai telah menjadi kata
Perjuangan merubah keyakinan
Pengorbanan menguasai lara
Hanya meratap menikam dusta
Masa tertukar kecewa
Berakhir hina menyudutkan ingatan
Ribuan kilauan pemanis perjalanan
Tetap satu nama mengacu haluan
Retakan kerak menguliti pijakan
Jatuh kembali tertelan lubang sama
Perubahan datangnya kuncup bunga
Menderita redam resah gelisah
Pijaran godaan merayap menjerat
Tumpuan perlahan tenggelam
Tak lagi kokoh menjejak batin
Akhir sendiri menjadi pilihan
Lelah menyerah ter patah cinta
Hadir menjadi penerang jiwa
Hilangkan dahaga hati yang lara
Putus di telan kecewa
Wahai engkau pemilik hati
Awal mengiba bujuk rayu dalam bayang sendu
Torehkan tinta harap penenang jiwa
Bait indah menyapu gelisah
Penenang hati penyejuk raga
Kau yang ku cinta dengan segala rasa
Torehkan bahagia dan luka
Sang mega menutup warna
Lagi...
Malam sunyi penenang jiwa yang lemah
Tetesan air mata saksi bisu dalam ruang hampa
Jatuh ku menelan kecewa
Bangkit ku ilusi semata
Raga memelas pada sang pencipta
Hati merintih lelah ingin pergi
Cinta...
Kenapa sesakit ini?
__ADS_1
Kamu adalah bahagia yang kurasa
Sakit adalah hiasan sebuah cerita cinta
Aku terima keduanya
Kertas putih kembali kosong
Kau yang tinggi tetaplah tinggi
Jarak jauh langkah kaki
Berharap pada pemilik hati
Kau semu di ujung rindu
Kau nyata dalam khayalan senja
Warna indah penenang hati yang lara
Sunyi, sepi dan sendiri lagi
Harap pada dia yang tinggi
Genggaman tangan terlepas oleh rasa
Ragu kah engkau?
Timbul tanya dalam benak
Jawaban sukar di dapat
Sebuah rasa hilang di telan langit malam
Satu putusan penenang jiwa
Lagi...
Aku sendiri tanpa dia dan cintanya
Raungan putus asa memohon mengiba
Kepada pemilik hati yang tak bisa dimiliki
Aku mohon, genggam lagi tanganku!
Jatuhkan ego ke dalam lautan cinta
Sesak dirasa diujung harap
Tangis pilu menyayat hati
Mata memerah menahan amarah
Raga luruh di atas tanah
Hati lemah memelas kasih
Rasa apa ini?
Mana yang harus aku ikuti?
Senja di kala itu mengingatkan aku
Kau yang jauh tak akan jadi dekat
Kau tinggi tetaplah tinggi
Aku mencintai tapi, tidak dicintai
Aku memberi tidak diberi
Sekarang aku sadar diri
Wahai hati, jangan jatuh lagi ke hati yang salah
__ADS_1